
Aku sudah pulang dari rumah sakit. Kedua mertua ku dan kedua lek ku juga ikut pulang ke rumah kecil kami.
Kami hanya memiliki dua kamar, akhirnya ya...ibu dan lek Dar tidur di kamar ku dengan si kembar. Sedang para bapak, memilih tidur di ruang tamu. Hehe, tak pernah memikirkan hal ini sedikit pun. Dulu, cuma mikir yang penting rumah nya minimalis dan ga terlalu besar biar ga susah bersihin nya. Eh, ternyata! Di saat seperti ini, kami baru menyesali. Punya lahan yang cukup untuk membuat bangunan yang lebih luas, kenapa harus buat yang kecil seperti ini?
Mungkin hanya aku, usai melahirkan hawanya ngantuk pakai banget. Beruntung dua nenek si kembar berbaik hati mau membantu ku merawat mereka berdua. Benar-benar di manja heheheh
Lek Dar masak, ibu nyuci baju! Dasar menantu tak sopan ya! Tapi, cuma beberapa hari kok. Setelah aku mulai pulih, aku juga akan mengerjakan sendiri. Kuusahakan merawat si kembar tanpa pengasuh. Bismillah saja! Bukan mau pelit, tapi apa salah nya mencoba. Yang jadi pembanding, tentu saja orang jaman dulu. Meski semua sudah berubah. Tapi kan kita juga sekarang sudah lebih beruntung kan?
Masak ada magic com, nyuci ada mesin cuci, mau makan tinggal pesan! Tak mau terlalu mendramatisir. Selama kita mau mencoba, tidak ada salahnya bukan?
Kecuali nanti kalau memang aku sudah kerepotan, baru kami pikirkan kedepan nya seperti apa.
"Nduk, maem sit!", kata lek Dar.
"Iya lek!",aku bangun dari ranjang lalu berjalan ke ruang makan. Dua bayiku di gendong oleh dua kakeknya.
"Bia makan sendiri toh?",tanyaku.
"Iya, makan aja dulu Nduk!",kata Ibu. Mas Febri sendiri sudah berangkat dinas sejak sehari aku pulang dari rumah sakit.
Aku pun menuruti apa kata mertuaku. Makan selagi lapar.Memang hawanya lapar terus, mungkin karena menyusui dua bayi. Sayurnya pun tidak hanya sayur katuk melulu, lek Dar variatif memberikan ku makanan. Yang penting bergizi dan aku doyan. Satu lagi, tidak pedas.
Setelah makan, aku kembali ke kamar. Dua putriku masih bobo nyenyak.
"Udah Bu, lek! Fesha dan Ribi sama Bia aja. Lek sama ibu makan, terus istirahat. Kalian juga capek!"
"Iya, kamu jangan langsung tidur ya!"
"Iya lek!"
Sepeninggal mereka berdua, aku memilih memainkan ponsel ku. Baru di pegang, ponsel ku berdering. Siapa lagi kalo bukan pak suami??? Panggilan video lagi.
[Assalamualaikum mas?]
[Walaikumsalam]
[Kenapa mas?]
[Kangen sama kamu dan si kembar heheh]
Aku menatap wajah nya yang tersenyum di seberang sana.
[Baru berapa jam ngga ketemu mas?!]
[Ya namanya excited jadi ayah mungkin kaya begini!]
[Heum, mungkin!]
[Udah makan nduk?]
[Udah lah, jam segini udah makan yang ketiga kalinya. Makan nasi lho ya! Belum ngemil buah, biskuit, cake. Pokok nya mah aku banyak makan. Pasti makin gendut ntar]
[Emang harus makan yang banyak! Kan ngasih asi buat si kembar. Wajar kalo bentar-bentar laper! Ngga usah mikirin gendut kurus, yang penting kamu sama anak-anak sehat! Ya?]
[Iya]
Aku mengarahkan kamera ku pada dua gadisku. Fesha memakai baju serba pink, sedang Ribi memakai warna baby blue. Imut-imut sekali mereka berdua.
[Mas, udah makan? solat?]
[Udah sayang]
[Oh, syukurlah kalo begitu]
[Iya nduk. Oh ya, buat aqiqah mas ngundang temen-temen mas. Ngga apa-apa ya?]
[Ya ngga apa-apa lah mas]
[Ya udah, mas ada tugas lagi. Mumpung anak-anak bobo, kamu juga istirahat ya Nduk]
[Iya mas. Ya udah ya, assalamualaikum]
[Waalaikumsalam]
Aku yang tadinya ingin main hape, mendadak ngantuk. Jadi ya....aku merebahkan diri di samping bayi-bayi ku. Memanfaatkan kesempatan untuk banyak tidur siang karena malam hari, aku begadang.
.
.
Hari yang di nanti sudah tiba. Acara aqiqah untuk kedua bayi kembar ku di laksanakan hari ini. Kami memakai jasa katering yang biasa menangani aqiqah. Begitu pula untuk makanan lainnya.
Bisa saja aku mengandalkan lek Dar. Beliau jago masak. Masalahnya, dapur ku tak cukup besar jika harus memasak sebanyak itu. Lek Dar juga tak sempat lah, kan ikut ngurusin si kembar. Kalo ibu lebih sering merawat Fesha, tentu saja lek Dar memegang Ribi. Dua wanita semok itu antusias sekali merawat cucu mereka.
Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Rekan-rekan mas Febri pun datang. Tak ketinggalan juga sahabat kami.
"Mas, ngundang Alby. Tapi kok ngga dateng ya?",gumam Febri.
"Sibuk kali mas!",kataku sambil menyusui Fesha.
"Apa ...dia ngga mau datang ya?"
"Ya udah sih, kalo emang ga mau datang ya gapapa. Lagian, ngga dia dateng atau ngga acara kita sudah selesai."
Mas Febri berjongkok di hadapan ku. Dia mengusap kening ku yang berkeringat karena memang cuaca cukup panas. Apalagi aku juga sedang menyusui Fesha.
"Mas harap, kamu sudah ngga benci lagi sama dia nduk? Ya, memang sih apa yang Alby lakukan dulu...pasti sangat menyakitkan buat kamu. Mas paham. Tapi... sekarang kita juga bahagia kan, dengan kehidupan baru kita? Mau sampai kapan kamu mau menyimpan perasaan sakit itu?"
__ADS_1
Aku menghela nafas ku. Sekalipun suatu saat nanti aku bisa memaafkan Alby sepenuhnya, tapi tidak akan mungkin aku bisa melupakan rasa sakit itu. Rasa sakit dan kecewa itu terlalu melekat di dalam hati ku.
"Bicara memang mudah mas, tapi buat melakukannya itu sulit!"
Dia mengusap bahuku dengan pelan.
"Assalamualaikum!", sapa seseorang.
"Walaikumsalam!", sahut kami berdua. Amara yang datang berkunjung. Aku sempat tak percaya jika....itu Amara.
"Amara?"
"Hai Bi? Mas Febri! Maaf telat ya, tadi di kantor sibuk banget soalnya."
''Ngga apa-apa Mara!", kata Mas Febri. Mara menatap ku yang sedang bingung.
"Alhamdulillah aku sudah mualaf sejak beberapa bulan lalu Bi dan aku keluar dari instansi lamaku terus ya...melanjutkan perusahaan papi ku."
Aku mengangguk paham. Tapi ko mas Febri ngga pernah cerita ya???
"Selamat ya, buat kelahiran si kembar. Cantik-cantik. Namanya juga cantik! Mirip sama ayah ibunya", puji Amara.
"Makasih Tante!", kataku.
"Semoga, kelak jadi anak-anak yang Sholeha, pinter, bikin bangga orang tua, sukses dunia akhirat. Pokoknya yang baik-baik lah."
"Aamiin....!",sahut aku dan mas Febri. Selang beberapa menit kemudian, orang yang tadi ku bicarakan datang. Ya, Alby datang dengan anak lelakinya serta Mak. Sudah sekian lama aku baru bertemu dengan Mak lagi.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam. Masuk By, Mak!", pinta Febri. Aku mencoba tersenyum. Amara yang tadi duduk di hadapan ku bergeser duduk di samping ku.
"Neng?"
"Iya Mak!", beruntung Fesha sudah selesai menyusu. Mak Titin menghampiri ku, aku menyalami beliau. Dia mencium pipi kan kiri ku. Matanya berkaca-kaca menatap ku.
"Selamat ya Nduk. Nak Febri! Semoga putri-putri kalian jadi anak-anak yang shalihah!"
"Aamiin. Makasih Mak!", kata mas Febri.
"Aamiin." Hanya itu sahutan ku. Mak mengusap pipi Fesha.
"Cantik, kaya kamu neng!", puji Mak. Aku mengangguk tipis dan tersenyum.
"Makasih Mak!"
"Maafkan semua yang sudah terjadi ya neng. Ini semua salah Mak. Mak yang paling bersalah di sini! Mak minta maaf!", kata Mak menunduk.
"Udah Mak. Mak ngga usah bicara seperti itu. Semua yang terjadi ada hikmahnya Mak. Alhamdulillah, Bia sekarang sudah bahagia. Jadi Mak ngga usah merasa bersalah lagi. Bia baik-baik saja."
Alby bergeming menatap kami. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu.
Mak sibuk sendiri dengan Fesha. Dia sebahagia itu???
Andai kamu masih bersama Alby ya neng! Batin Mak. Disela tawa Mak, dia meneteskan air matanya.
"Oh ya By, Mak, Mara silahkan di cicipi hidangan nya!", kata mas Febri mempersilahkan.
Mereka hanya mengangguk.
"Maaf, Bi. Mau ijin ke belakang ya?", kata Amara.
"Iya, silahkan!"
Amara pun berdiri. Saat Amara berdiri, mata Alby pun mengikuti ke arah Amara berjalan.
Aku dan mas Febri saling berpandangan. Mungkin pertanyaan dalam hati kami sama, mereka bermasalah????
Hampir jam sembilan malam, tamu-tamu kami pun pulang. Tersisa keluarga kami saja.
Karena sudah mulai larut, kami pun beristirahat. Kali ini, mas Febri tidur di kamar. Lek dan dan ibu juga. Bapak mertua dan lek Sarman yang ada di ruang tamu.
Sebelum kami tidur, aku dan mas Febri menyempatkan untuk mengobrol banyak hal.
"Ada yang mau mas sampai kan nduk?", kata mas Febri yang berbaring di sebelah ku. Tangan kanannya menumpu kepala, sedang tangan kirinya bertengger cantik di perut ku yang masih bergelambir.
"Apa?", tanyaku. Bukannya menjawab, sempat-sempatnya menc*** ku. Dasar omes!!! Tapi aku juga tak melarangnya. Toh hanya seperti itu.
Dia terkekeh sendiri usai mencuri start tadi. Aku hanya mencebikkan bibirku.
"Tiga bulan itu lama lho nduk!"
"Ngga lah."
"Ih, lama tahu!",katanya manja sambil menciumi pipi yang sekarang semakin tembem.
"Ya sabar atuh, dua tahun aja tahan kok. Masa tiga bulan ngga? Aneh!!"
"Ya beda lah nduk. Dulu kan ga ada partner nya, main solo melulu. Nah sekarang, ada partner nya tapi ga bisa diajak. Masa solo lagi!"
Aku memencet hidung nya yang tak terlalu mancung juga tak pesek itu.
"Makin ke sini, ini isinya cuma mesum mulu!",aku mengusap keningnya.
"Biarin, sama kamu ini!"
"Iya lah, berani macem-macem sama yang lain, siap-siap hekkk! Tek sunat ulang ntar?!"
__ADS_1
"Hyuuuu....abis dong? Ntar kamu nasibnya gimana?"
"Lho, kok aku???"
"Iya lah, nanti kamu sendiri yang rugi. Ngga bisa naninu lagi. Ya kan?"
Aku menjewer telinganya.
"Awssshhh...sakit Nduk!"
"Lagian ini nih....!", aku mencomot bibirnya dengan jari.
"Lemes banget nih mulut ya!"
"Nduk! Dari pada pake jari mending kaya gini!",dia kembali menc*** bahkan lebih brutal dari tadi. Huffft....🙄🙄🙄🙄
Aku menepuk bahu nya sedikit keras.
"Kamu bener-bener ya mas!"
"Habisnya kamu mancing mulu nduk!"
"Mas aja yang kelewatan napsuan sekarang!"
"Habisnya kamu tuh gemesin tahu nduk." Dia kembali menguyel-uyel pipiku.
"Bilang aja aku makin montok! Ya kan?"
"Makin seksi malah nduk, mas suka!"
"Yakin suka?? Aku makin gendut lho, makin jelek, makin ga sempet ngurus badan karena sibuk sama dia bocilmu! Nanti kamu di luaran sana, tiap hari ketemu cewek cantik yang...."
"Sssst....jangan pernah mikir yang iya-iya seperti itu! Mas ngga akan macem-macem. Kamu mau kaya apa pun ,mas makin cinta. Apalagi kamu sudah memberikan dua bidadari cantik buat Mas."
"Tapi kalo aku gendut...?"
"Ngga apa-apa lah, jadi enak di peluknya!", dia memeluk ku dari samping. Bibirnya menyunggingkan senyuman khasnya.
"Makasih ya mas. Makasih udah hadir dalam kehidupan ku. Aku beruntung banget, Allah menjodohkan kita berdua. Janji, jangan pernah khianatin aku! Kamu tahu aku seperti apa. Kalo aku salah, tegur aku. Gimana pun juga, aku masih harus banyak belajar. Aku ngga sabaran. Aku...!"
"Mas aja susah dapetin kamu nduk. Mana mungkin mas mau sia-siain perjuangan mas selama ini? Ya kan?"
Aku mengangguk dalam dekapannya. Saat kami mau c**** lagi, si kembar Fesha Ribi terbangun bersamaan.
Gagal deh acara romantis-romantisan Mak bapak nya hehehheh....
Aku mengambil Ribi, mas Febri mengambil Fesha. Keduanya mungkin kehausan di waktu yang sama. Alhasil, aku menyusui dua bocil ku bersamaan. Tahu kan seperti apa posisinya....???? Ada di buku panduan KIA yang berwarna ping hehhehe
Mas Febri membantuku memposisikan Fesha Ribi.
"Kayanya kamu lebih ahli gendong bayi deh mas?",kataku saat menyusui Fesha dan Ribi di kanan kiri ku. Sesekali aku meringis karena ulah duo bayi cantik ku.
"Iya harus lah. Nanti kalo nenek dan kakeknya anak-anak pada pulang, kan mas harus bantu kamu."
"Huum. Makasih!",kataku.
"Sudah kewajiban mas sayang! Setelah mereka pulang, tugas kamu cuma urus anak-anak. Masak, bersih-bersih, cuci-cuci biar jadi urusan mas."
"Capek di kamu lah mas. Di rumah sibuk ngurusin pekerjaan rumah, belum bantu aku kalo malem ikut begadang, siang nya kerja."
"Kan udah kewajibannya begitu sayang....?"
"Tapi kamu kasian lah mas."
Dia duduk di samping ranjang sambil menatap ku dan dua anak-anak ku yang menyusu. Ribi lebih dulu melepaskannya, Mas Febri mengangkat Ribi lalu menepuk-nepuk punggung nya biar sendawa. Sedang Fesha memang sedikit lebih kuat di banding Ribi.
"Ga ada istilah capek. Ini kewajiban mas. Bikinnya aja bareng-bareng, ngurusin nya juga harus bareng dong!", dia menaik turunkan alisnya.
Aku tersenyum melihat dia sesemangat itu. Semoga dia tetap begitu. Selalu seperti itu. Alhamdulillah, terimakasih atas kebahagiaan yang yang Engkau berikan.
Setelah semua kepahitan dan kekecewaan di masa laluku, kini aku sudah menemukan kebahagiaanku. Suami yang perhatian dan penyayang. Dan juga anak-anak ku yang lucu-lucu.
Tidak ada kesempurnaan dalam hidup. Semua akan saling mengisi dan saling melengkapi. Jika dulu aku tersakiti, saat ini banyak hal yang harus ku syukuri. Mungkin, jika saat itu aku tak melewati fase tersulit dalam hidup ku belum tentu aku akan sebahagia sekarang.
Berumah tangga itu, harus ada komunikasi yang baik dan keterbukaan antara suami dan istri. Karena suami/istri itu bukan hanya teman tidur. Tapi teman hidup.
Happy ending buat Febia 🥰🥰.
TAMAT
______________________________________________
Terimakasih yang udah mengikuti perjalanan cinta Febia dan Albia ✌️🤭🙏✌️
Maaf kalo endingnya B aja. Tapi gimana ya, mereka bakal sesekali muncul di lapak sebelah. Meskipun ga sering lah. Kan lapak sebelah punya si Aa kasep.
Makasih buat semua para reader's yang sering semangatin mamak. Yang ga bisa di sebut satu/satu. Mbok mamak ada yang kelupaan sebut, malah nganan eh ...ngiri. 🤭🤭
Ngga Ding...kalian semua baik sama mamak si othor receh ini. Kritik dan saran kalian jadi semangat mamak biar bisa memperbaiki apa yang harus mamak perbaiki.
Makasih....makasih buat kalian semua
I love You 😘😘😘😘😘😘🥰🥰
Tanpa kalian siapakah mamak ini.
Terimakasih semuanya 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Lanjut di lapak ' Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek ' Makasih semuanya