
"Neng! Aa tahu Aa sudah nyakitin neng. Tapi neng coba berpikiran sedikit saja. Aa juga ngga mau di posisi seperti ini. Sssshhh...."
Aku melihat Alby yang meringis. Mungkin lukanya kembali terbuka. Dengan setengah hati aku membimbing Alby duduk di ranjang. Dia mendongak menatap ku.
"Aa tahu, neng masih peduli sama Aa!", katanya dengan yakin.
Bagaimana aku tak peduli dengan suami ku sendiri?
"Aku ke minimarket depan. Mau beli kaos dalam buat Aa!", kataku sambil berdiri. Piyama Alby sudah kotor oleh darah yang merembes tadi.
Baru saja akan melangkah, Alby meraih tanganku.
"Apalagi?"
"Jangan lama-lama! Aa ngga mau neng jauh-jauh dari Aa lagi!", katanya. Wajahnya pucat sekali. Jangan bilang ia kehabisan darah! Tapi ... sepertinya tidak. Aku terlalu berlebih-lebihan jika mengkhawatirkan keadaan Alby. Buktinya ia bisa sampai menyusul ku kesini. Padahal aku berharap dia tak tahu tempat ini. Bagaimana aku akan pulang ke kampung untuk mengurus beberapa hal kalo Alby justru ngendon di sini.
"Ya!"
Setelah itu aku keluar dari kamar. Aku memesan makanan dari GoFood biar langsung di antar ke kamarku.
Sejahat-jahatnya aku, setidak peduli nya aku, bahkan sesakit apapun perasaan ku, aku masih belum bisa tega begitu saja pada Alby. Ya, inilah kelemahan ku. Aku mudah sekali kasian!
Langkah ku tak terlalu cepat mengingat kondisi ku juga belum terlalu pulih. Bahkan seharusnya aku masih bedrest. Sayang nya aku malah sudah pecicilan.
Di kamar nya, Alby nampak bingung akan melakukan apa. Lukanya memang sakit tapi lebih sakit lagi saat melihat istrinya bersama pria lain. Bahkan pria itu mantan kekasihnya! Padahal dari awal pertemuannya dengan Febri, Alby sudah menyakiti dirinya bahwa istri nya hanya mencintai suami nya. Tapi hati seseorang siapa yang tahu. Bagaimana tidak goyah, mereka dekat setiap waktu. Lagi pula, kisah cinta mereka sebelumnya belum usai karena Bia yang memilih untuk tidak melanjutkannya dan memilih Alby sebagai pasangan hidup nya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang pria berjaket hijau menyerahkan makanan pada Alby.
"Pesanan atas nama Shabia Ayu?", tanya pengantar makanan itu.
"Iya benar!"
Si pengantar makanan pun menyerahkan kantong keresek itu.
"Terimakasih, sebentar saya ambil uang dulu!"
Beberapa saat kemudian, Alby menyerahkan uang itu pada si pengantar.
"Terimakasih, kembali nya ambil saja!", kata Alby.
"Terima kasih pak!", kata pria berjaket hijau itu.
Alby hendak masuk lagi ke kamar sampai ada seseorang yang menegurnya.
"Maaf!", kata orang itu yang tak lain adalah Dewi.
"Ya?", Alby mengerutkan keningnya.
"Ya Tuhan...ada cowok seganteng ini?", gumam Dewi tapi masih sempat Alby dengar. Alby yang merasa di puji seperti itu merasa biasa saja. Ini bukan pertama kalinya di puji seperti itu.
"Mba ada perlu sama saya?", tanya Alby lagi. Dewi menggeleng.
"Nggak! eh... maksud saya iya. Eum... bukannya ini kamar udah di sewa sama Bia, kok yang menghuni malah laki-laki genteng sih?", tanya Dewi ceplas ceplos.
"Mba kenal sama Bia? Bia istri saya!", sahut Alby.
"What??? Serius?", pekik Dewi.
Lebay banget sih nih cewek! Batin Alby.
__ADS_1
"Iya, istri saya sedang ke minimarket."
"Oh...gitu! Oh ya kenalin, saya Dewi. Dulu pernah kerja dan kost bareng Bia."
Alby pun menerima uluran tangan Dewi."Alby!", lanjutnya.
"Heum? Alby yang dari kota G itu?", tanya Dewi lagi yg masih penasaran.
"Iya."
Dewi manggut-manggut.
"Gila sih Bia. Yang deketin kelas dewa semua. Ganteng-ganteng lagi!", gumam Dewi dan lagi-lagi Alby mendengar gumaman itu. Entah disengaja atau tidaknya Alby tak tahu.
"Ada lagi mba?", tanya Alby.
Dewi menggeleng.
"Ngga, gampang nanti kalo Bia udah pulang!"
Alby mengangguk",Kalo begitu, saya masuk!"
"Iya silahkan!", jawab Dewi kikuk.
Gila si Bia selera nya ngga kaleng-kaleng! Dokter, tentara, nag... ternyata lakinya ganteng akut. Tapi tuh orang kerja nya apa ya? Kalo biasa aja, rugi Bia dong. Nolak para pria mapan cuma buat cowok kere yang menang tampan? Ckkkk mikir apa sih Lo Dewi! Bukan urusan Lo! Dewi bergelut dengan pemikiran nya sendiri.
.
.
"Pokoknya Silvy ngga mau tahu. Silvy mau Alby secepatnya balik ke sini. Papa kerahin dong anak buah papa!"
"Kenapa papa sekarang belain Bia terus! Papa beneran udah ngga sayang aku!", kata Silvy menangis di atas brankar nya. Hartama mendekati putrinya yang sedang merajuk itu.
"Dengarkan papa nak. Semakin kamu mengekang Alby, Alby semakin ngga respek sama kamu Vy. Jadi papa mohon, sedikit saja kamu rubah perlakuan mu sama suamimu."
Silvy diam di atas brankarnya.
"Aku mau Alby cuma buat aku Pa!", kata Silvy. Titin hanya memandangi bingung pada dua orang yang berhubungan dekat dengannya. Anak dan mantan suami.
"Kamu tahu konsekuensinya Vy. Jadi papa harap jangan ada drama antara kalian."
"dulu papa bilang sama aku, kalo papa mau papa bisa saja menjadikan Silvy istri satu-satunya Alby. Tapi ini apa ????"
"Iya, sebelum papa tahu kalo Bia anak mendiang Sahabat papa. Papa akan selamanya merasa bersalah pada papanya Bia."
"Papa emang udah ngga sayang aku lagi!", Silvy menutup wajahnya dengan selimut. Terdengar isakan kecil Silvy.
Hartama yang membuat keputusan salah. Seharusnya putrinya masih berbahagia menikmati masa mudanya dengan para teman kampusnya. Tidak terjebak oleh masa sulit ini.
Enggan mendengar ocehan Silvy, Hartama pun keluar dari ruangan itu. Ia akan kembali ke kantor karena ada urusan bisnis.
.
.
Aku kembali dari minimarket. Ku berikan kaos tipis ****** juga beserta kolor.
"Mau mandi apa cuci muka saja?",tanyaku.
__ADS_1
"Di seka aja. Sama kamu ya neng!"
"Ngapain diseka. Bukankah bisa dari rumah sakit ke kosan itu jauh! Kamu kuat. Kenapa di di sini mendadak biasa saja."
"Aa lemes neng."
Lagi-lagi dengan terpaksa aku pun menuruti nya. Alby masih terus memandangi wajah istrinya yang dekat dengan wajahnya.
"Udah, makan lah!", ujarku sambil menyerahkan makanan itu.
"Neng, Aa kangen sepiring berdua sama neng!", kata Alby.
"Maaf, aku belum beli apa-apa."
"Oh ya neng, tadi Aa ketemu Dewi. masih pakai seragam minimarket."
"Ngomong apa Dewi?"
"Ngga ngomong apa-apa!"
Kami pun makan malam dengan lauk seadanya. Hari sudah berlanjut malam, aku pun ingin sekali beristirahat.
"Kalo neng capek, tidur aja dulu!", kata Alby padaku.
"Iya, aku bakal tidur di sini!", aku merebahkan diri di sofa. Alby bangkit mendekati ku.
"Kenapa harus di sofa? Ranjang itu cukup untuk kita berdua!"
Aku yang tadinya berbaring sekarang duduk lagi.
"Aku masih mau mengurus Aa yang sakit seperti sekarang, itu hanya karena bakti ku. Aku masih istri sah mu. Tapi sepertinya Aa salah menafsirkan apa yang ku lakukan. Maaf, aku sudah tak bisa lagi melanjutkan pernikahan kita A. Ngga bisa!"
Alby membeku di hadapan ku. Alby pikir, Bia masih bersedia mengurusnya bahkan menyiapkan kebutuhannya karena Bia masih peduli dan mencintai nya. Tapi ini apa? kenapa Bia secepat ini berubah?
"Neng! Lihat Aa!", Alby memaksa ku untuk menghadapnya. Mata kami saling beradu. Wajah pucat Alby masih mendominasi. Iya, Alby ku belum cukup sehat. Tapi aku berusaha sebisa ku untuk tidak lagi goyah dengan keputusan ku. Biarlah langkah yang ku ambil hanya akan menyakiti ku, tidak... perpisahan ini pasti juga menyakiti Alby.
"Katakan kalo neng masih cinta sama Aa!", wajahnya begitu dekat. Bahkan aku merasakan hembusan nafasnya tepat di depan wajah ku.
"Ya, aku masih cinta sama Aa. Tapi aku lebih memilih menjaga kewarasan ku dari pada aku tersiksa didalam pernikahan yang sudah tidak sehat."
Tak ada sahutan apapun dari Alby hingga detik berikutnya mataku membola, terkejut dengan apa yang Alby lakukan padaku.
Aku sempat tak menguasai keadaan. Tapi setelah itu, aku membiarkan Alby mengeksplor sesuka hatinya. Yang harus digarisbawahi, aku tak membalasnya seperti selama ini. Hingga akhirnya, Alby lelah sendiri. Meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga. Aku tahu dia sangat kecewa! Ia menatap ku begitu tajam! Marah? Ku rasa iya!
"Kenapa neng ngga balas ci*** Aa?", tanyanya tepat di depan wajahku.
"Karena aku tak ingin!", jawabku lirih.
Alby menjauhkan wajahnya dari ku perlahan dia pun berdiri lalu beranjak ke ranjang.
"Tidur lah!", pinta nya. Aku pun kembali merebahkan diri. Kali ini aku berusaha tidur menghadap ke punggung sofa. Tanpa aba-aba, air mataku meleleh begitu saja. Betapa tersiksanya hati ini! Sesulit ini rasanya harus terpaksa berpisah????
Alby memandangi punggung istri nya yang bergetar di atas sofa. Badan kecilnya tenggelam di sofa yang cukup besar itu. Alby tahu kebimbangan yang istrinya lakukan! Tapi sebagai seorang suami sekaligus calon ayah, dia sendiri merasa bingung! Serba salah! Kebodohannya menyakiti banyak orang! Bahkan istrinya yang sangat ia cintai pun menjadi korban kebodohannya.
*****
Semoga di ACC KK Mimin, buat bekel malam mingguan hihihihi....
makasih yang udah mampir dan setia lanjut baca tulisan receh mamak yang jauh dari kaya berkualitas. Mon maap, silent reader dan para pembaca kesayangan yang mau menge-like & komen tulisan receh mamak ini Jan lupa masukin karya mamak ke favorit ya 😁😁😁😁🤭🤭🤭
__ADS_1
Hatur nuhun pisan 🙏🙏🙏🙏