
Galang dan Surya kembali ke meja sebelumnya yang sedang di duduki anak-anak mereka.
"Lho, dek mas mu mana?", tanya Galang pada Anika.
"Ke toilet Yah!", jawab Anika. Kanaya masih setia menunduk. Dia sadar jika dirinya memang tidak akan pernah layak bagi dokter Sakti.
"Bagaimana kenalan nya Nak Naya?", tanya Galang.
"Kami memang sudah kenal om!", jawab Kanaya.
"Oh, bagus dong kalo gitu!", ujar Surya.
"Pa, maaf! Naya sama dokter Sakti hanya berteman pah!", kata Naya pada Surya. Surya hanya tersenyum.
"Iya, maka dari itu... karena kalian berteman, papa sama om Galang ingin menjodohkan kalian."
Naya *******-***** jemarinya. Anika sepertinya terlalu peka dengan kegelisahan Naya.
"Eum..om, maaf kalo Ika ikut campur", sela Anika.
"Dek?", Galang menggelengkan kepalanya tanda melarang Anika ikut campur.
"Maaf Yah, om! Anika cuma mau meluruskan di sini." Anika mengambil nafas sesaat.
"Kak Naya sudah punya pacar om, yah!"
Kanaya membelalakkan matanya. Tak di sangka sama sekali jika seorang Anika akan berbicara selancar ini.
"Oh, ya? Kok om ngga tahu?", tanya Surya lalu menatap wajah putrinya. Naya sendiri hanya terdiam.
"Adek, ngga usah macam-macam ya!", Galang lagi-lagi memperingati Anika.
"Yang adek bilang bener kok Yah!", tiba-tiba Sakti kembali dari toilet.
"Mas, kamu tahu juga?", tanya Galang pada si sulung.
"Tahu lah Yah, kan pacar nya Kanaya anak buah ayah!", sahut Sakti lagi. Galang mengernyitkan alisnya.
"Siapa?", tanya Galang penasaran. Begitu pula dengan Surya.
"Kak Seto yah! Siapa lagi!", jawab Anika enteng. Galang mengerjapkan matanya.
"Masa Dimas, bisa di gigit sama adek ntar!", ledek Sakti. Kanaya baru tahu jika kakak adek itu bisa bercanda separah itu.
"Sembarangan ya mas!", Anika mencubit lengan kakaknya itu.
"Seto itu siapa?", tanya Surya.
"Eum...salah satu ajudan saya yang saya tugas kan untuk menemani Anika."
Surya mengangguk paham."Kok Naya ngga pernah cerita sama papa?", tanya Surya pada Naya.
Naya sendiri diam seribu basa. Andaikata Naya bilang sama papanya belum tentu papanya setuju.
"Maaf Pah!", ujar Naya. Surya menghela nafas.
"Mumpung kita ada di sini semua kenapa tidak panggil saja yang namanya Seto, papa mau kenalan sekalian!", ujar Surya.
Mata Anika dan sakti berpandangan. Sungguh, ini semua di luar perkiraan.
Begitu pun dengan Naya, sama terkejutnya. Papanya tak semenyeramkan yang dia pikirkan. Biasanya polisi kan tegas dan wibawa bahkan seperti nya menakutkan bagi sebagian orang, tapi tidak dengan papanya saat ini.
"Adek telpon kak Seto aja ya yah!", kata Anika semangat. Galang hanya menarik nafas pelan melihat tingkah si bungsu.
"Iya, lakukan saja!", perintah Galang. Anika pun menghubungi Seto.
Di sisi lain....
Tiga pria gagah itu masih duduk di taman restoran. Seto duduk di apit oleh Dimas dan Febri.
"Sabar To... mungkin belum jodohnya sekarang!", kata Dimas menepuk bahu sahabatnya itu.
"Maksud mu?", kini Febri yang bertanya.
"Gak entuk prawan'e sopo ngerti sesuk entuk rondone. Kaya koe lho Feb!", celetuk Dimas. Spontan , Seto dan Febri melotot tajam pada Dimas.
(Gak dapat gadisnya siapa tahu besok dapat jandanya. Kaya kamu lho Feb)
"Lha... deneng malah melotot kaya kue son???? Mbokan bener, sapa ngerti kan. Siki Naya jodohnya mas Sakti, tapi ngesuk jodohe Seto. Ora salah kan aku ngomong? Ya... barangkali kisah cinta mu mirip-mirip kaya kisahnya Febri dan Bia!", celetuk Dimas lagi tanpa dosa. Padahal dia sendiri sudah punya rencana dengan Anika sebelumnya, dan tentu saja atas ijin Sakti.
(Kok malah melotot begitu??? Kan benar, siapa tahu kan. Sekarang Naya jodohnya mas Sakti, tapi besok jodoh nya Seto. Ngga salah kan aku ngomong?)
"Kayaknya kamu lebih baik diam Dim! Ngga kasian apa sama teman mu ini. Lagi ngenes iki atine!", kata Febri bermaksud menghibur tapi bagi Seto yang lagi baper, ucapan itu seperti ledekan.
"Wis...wis, koe cah loro podo ae!", kata Seto kesal.
(Sudah, kamu berdua sama saja)
Dimas dan Febri saling melemparkan pandangan, Febri mengangkat bahunya dan Dimas menghela nafas. Biasa nya, Seto tidak pernah seperti ini. Dia selalu ceria dan hobi meledek orang, eh...ngga tahunya sekali galau, galaunya udah melebihi tingkat kecamatan.
Tak ada obrolan yang keluar dari mulut ketiga ajudan itu, sampai ponsel Seto bergetar. Ada panggilan dari Anika.
"Kie bocah lha poh nelpon aku, ngopo ga nelpon awakmu toh Dim!", kata Seto sewot.
(Ini anak kenapa nelpon aku, kenapa ngga nelpon kamu Dim)
"Sapa? Dek ika ya? Ya mbuh, angkat Bae lah To. sapa tahu penting!", sahut Dimas.
Ya emang penting! Penting untuk keberlangsungan hidup dan matimu To...hahahah...batin Dimas. Febri curiga melihat gelagat sahabat nya yang satu itu. Tapi dia menahan sebisa mungkin untuk tidak bertanya di depan Seto.
Dengan malas Seto mengangkat panggilan Anika.
__ADS_1
[Hallo dek, kenapa?]
Tanya Seto dengan nada lesu.
[Kok lesu sih jawabnya kak Seto? Biasanya juga lantang plus cengengesan!]
[Lagi bad mood, ada apa dek?]
[Kak Seto masuk ya, di tunggu ayah sama om Surya]
Anika memasang wajah sok imutnya pada orang-orang di depannya.
[Apaan sih dek, serius kali ini kak Seto lagi bad mood, kalo ada kepentingan mending sama Febri apa pacarmu ini]
[Dih, baperan deh! Buruan masuk, orang ayah maunya kak Seto kok. Kak dimas sama mas Feb biarin aja di situ.]
[Ngga ah, ngapain aku kesitu. Suruh liatin....]
Samar-samar Seto mendengar Anika yang mengadu pada ayahnya.
[Yah, kak Seto ngga mau di suruh kesini...]
Anika pura-pura berkata seperti itu pada ayahnya.
[Oke...oke..kak Seto ke situ!]
Sambungan itu langsung di matikan! Sopan sekali ya ajudannya bertingkah seperti itu pada anak atasannya.
"Di suruh apa sama Anika?", tanya Febri.
"Mbuh, kon melbu Rono Saiki. Sakjane muales tenan aku kie. Sakno awakku Iki, nyawang gendaanku pan rabi Karo majikanku", kata Seto sambil berlalu dari kedua temannya itu.
(Gak tahu, di suruh masuk sana sekarang. Sebenarnya males banget aku ini. Kasian aku, liat pacarku mau nikah sama majikan ku)
Febri melihat temannya dengan prihatin,tapi tidak dengan Dimas. Sepeninggal Seto, Dimas justru terbahak-bahak.
"Cah edan!", seru Febri.
(Anak gila)
"Kamu ngga tahu sih, apa yang udah terjadi di dalam Feb!", kata Dimas setelah tawanya mereda. Dimas pun menceritakan kejadian di dalam seperti yang Anika sampaikan tadi.
"Heum, Seto kudu siap-siap ini!", kata Febri.
"Hooh, sebagai sahabat yang baik, kita dukung Seto dan Naya, oke???", kata Dimas sambil menunjukkan jempol nya. Febri mengangguk samar.
Di dalam sana, tepat seperti prediksi...
"Jadi, kamu pacar anak saya?", tanya Surya pada Seto. Seto melirik pada Kanaya yang sama-sama saling melempar pandangan.
"Iya, om."
"Terus, setelah tahu kalo Naya mau saya jodohkan, kamu terima begitu saja? Ngga mau memperjuangkan Naya?", tanya Surya lagi.
"Maaf om, bukan saya pasrah seperti itu. Tapi...saya hanya tidak mau jika Naya jadi anak yang durhaka om. Bagaimana pun, om itu papanya Naya. Pasti tahu yang terbaik buat Naya."
"Jadi, kamu merasa tidak layak buat Naya?", Surya memicingkan matanya.
"Maaf...om!", kata Seto lirih.
"Asal kamu dari mana?", tanya Surya lagi.
"Dari kota B, Jawa timur om."
"Kalo saya tantang kamu, buat kamar putri saya, kamu sanggup nya kapan?", tanya Surya.
Seto mendongakan kepalanya,tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Lamar?", Seto membeo.
"Iya, kamu serius tidak dengan anak saya? Kalo tidak, saya akan Carikan laki-laki yang lain buat Kanaya."
"Jangan om, insyaallah saya sanggup om. Saya akan memberitahu orang tua saya. Saya serius dengan Kanaya om."
"Bagus! Saya tunggu keseriusan kamu!", Surya menyandarkan punggungnya ke bangku.
"Insyaallah om, saya serius dengan Kanaya om. Kami sudah saling mengenal sejak masih di perbatasan dulu."
"Heum, baiklah! Saya percaya!", sahut Surya.
"Jadi, bagaimana ini Jenderal Galang?", lanjut Surya lagi.
Tanpa amarah, Galang pun mengangguk.
"Seto juga sudah saya anggap anak saya kok Kapten Surya! Jadi, saya juga serahkan kepada anda."
Kedua lelaki itu pun sepakat untuk membatalkan perjodohan antara Kanaya dan Sakti. Dan...ya...Seto akhirnya tak lagi galau, begitu pula dokter Sakti yang sekarang jauh lebih tenang karena bisa menolak perjodohan ini.
Hari sudah malam, mereka semua kembali ke rumah masing-masing.
.
.
"Si Alby ke mana sih?", monolog Silvy sambil mondar mandir dengan kakinya yang tertatih.
"Masih di rumah kali nak. Mungkin masih capek!", kata Titin.
"Tapi ini udah mau jam sepuluh malam. Masa belum sampai sini juga sih! Ngapain aja!", Silvy mendengus kesal.
"Lebih baik kamu duduk dulu ya, Nak!", pinta Titin lagi. Sedangkan Mila dan Sapto hanya melihat keduanya saja dari bangku yang lain.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Silvy merasakan kram di perutnya.
"Sssshhh...", desis Silvy.
"Kenapa nak?", Titin menghampiri Silvy.
"Sakit!", keluh Silvy.
"Ayo duduk dulu. Kan ibu bilang, jangan capek-capek. Kasian calon bayi kamu nak."
Silvy menurut apa yang ibunya katakan, dia duduk di sofa.
"Alby kemana sih Bu?", tanya Silvy lirih.
"Sekarang kamu tidur saja dulu, nanti kalo Alby datang, ibu bangunin ya!"
Dengan terpaksa Silvy pun menurut. Dia merebahkan diri di sofa.
Setelah memastikan Silvy tidur, Titin pun beranjak ke bangku lagi. Dia pun sama herannya, kenapa Alby belum datang. Kalau pun tidak datang, setidaknya mengabari ke dirinya.
Alby mengendarai mobil nya sambil melamun. Pikiran nya banyak bercabang. Keinginan untuk tetap bersama dengan Bia sepertinya akan semakin sulit.
Argggggghhhh....! Alby memukul setirnya, karena tak konsentrasi dia hampir menabrak seseorang.
"Aaaaaah....", pekik seseorang yang hampir tertabrak Alby. Alby pun menghentikan laju mobilnya lalu menghampiri orang yang hampir tertabrak.
"Maaf! Saya ngga sengaja!", Alby berjongkok di depan orang itu.
''Lain kali hati-hati dong...pak..mmmaas!", kata gadis itu sambil mendongak. Gadis itu terkesima dengan wajah tampan Alby.
"Kamu ngga apa-apa? Kalo ada yang sakit, sekalian ke rumah sakit. Saya mau ke sana!", kata Alby.
"Ngga usah mas. Ngga apa-apa!", kata nya sambil berusaha berdiri.
"Beneran?", ulang Alby.
"Iya."
"Baik lah kalo begitu, sekali lagi saya minta maaf!", kata Alby sopan.
"Iya mas. Ngga apa-apa."
Alby pun meninggalkan gadis itu.
"Ngimpi apa aku semalam ya? Dari tadi ketabrak orang ganteng Mulu!'', gumam Sabrina. Dia pun bangkit dari duduknya lalu beranjak menuju ke rumah nya yang masih berjarak sekitar dua kilometer lagi.
Alby sampai ke rumah sakit sudah cukup malam. Saat masuk ke kamar papa mertua nya, semua sudah tertidur kecuali mang Sapto.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, By!", Mang Sapto membenarkan posisi duduknya.
"Udah, memang tidur saja."
Sapto menggeleng.
"Nanti saja, kamu dari mana?"
"Dari rumah mang." Hanya itu jawaban dari Alby. Mungkin karena rasa lelahnya, Alby pun tertidur Beberapa saat kemudian di bangku sebelah Sapto. Sapto memandangi menantu majikannya itu dengan iba. Awal ia mengenal Alby, Alby merupakan sosok yang ceria dan ramah. Tapi sekarang, dia nampak kusut. Hidupnya tak lagi bergairah. Apalagi setelah prahara yang menimpa pernikahan dengan istri pertamanya. Sapto melihat seorang Alby seperti kehilangan pegangan hidupnya.
.
.
Febri merebahkan dirinya di kasur. Dia berada di kamarnya sendirian. Berbeda dengan Dimas, sedang Seto menginap di rumah dinas karena tadi 'bapak' minta langsung di antar ke sana.
Febri baru ngeuh, ternyata Febri mematikan data seluler nya. Pantas tidak ada notifikasi aplikasi hijau. Setelah ia menyalakannya, chat masuk dari Bia membuat ia tersenyum.
Kenapa aku cengar-cengir sendiri??? Gumam Febri.
Maaf ya Bia...Alby, maaf mendoakan hal buruk pada kalian. Aku sadar aku salah saat mengharapkan kalian berpisah. Tapi...aku rasa itu keputusan terbaik, dari pada nanti nya rasa sakit hati itu kian menyerang hati dan psikologis Bia.
Ingin sekali Febri menghubungi Bia, tapi saat ia melihat jam dinding sepertinya tidak etis sekali menelpon istri orang. Ya, walaupun ia tahu Alby tidak bersama Bia saat ini. Febri hanya mengirimkan pesan pada Bia, dia akan menghubunginya besok pagi. Karena di rasa, Bia sudah tidur di malam yang cukup larut ini.
.
.
Aku sudah membolak-balik badanku mencari posisi ternyaman. Nyatanya aku masih tetap tak bisa memejamkan matanya.
Ponselku bergetar, ada chat dari Febri. Aku tersenyum membaca chat dari Febri. Tapi... setelah itu aku menggelengkan kepalaku.
Ini ngga bener Bia! Monolog ku.
Bagaimanapun saat ini, Alby masih suamiku. Rasa benci dan kecewa ku nyatanya hingga saat ini belum mampu mengikis rasa cinta dan sayangku pada Alby.
Aku sengaja memblokir nomor Alby agar aku bisa melupakannya perlahan, agar aku tidak lagi beruban pikiran. Alby tahu sekali apa kelemahanku. Ya, tidak tegaan!
Semoga... keputusan ku sudah tepat, tak lagi goyah sekalipun Alby mendatangi ku.
*****
Alhamdulillah 😉😉😉🙏🙏🙏🙏
Mau spil endingnya gimana kira2???? Apa Bia bakal balikan atau sama Febri atau malah sama Sakti????
Yang baca prolog nya pasti bisa nebak hehehehe....✌️✌️✌️✌️
Kenapa njlimet plus muter-muter Bae sih???? Ya kan judul nya mah emang bertahan atau Lepaskan, jadi...harap sabar ya Mak 😅😅🤗
Makasih yang udah mampir ke sini.🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Maafkeun ya kalo banyak typo, sebenarnya udah di up dari semalam, cuma belum lolos review sama kk Mimin 😅😅😅