Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 41


__ADS_3

Jika harus memilih, aku lebih memilih kehidupan ku yang dulu sebelum aku berangkat merantau. Batin Alby.


Beberapa saat sebelum Alby menemui Bia di rumah....


Sepasang pengantin baru memasuki hotel yang tak jauh dari lokasi rumah sakit. Perhatian khalayak fokus kepada dua orang yang berpakaian rapi ala pengantin.


Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian? Pria tampan yang dewasa berjalan berikut dengan gadis cantik yang masih muda tapi...dengan kaki yang terpincang-pincang mengikuti langkah sang pria.


Senyum sumringah menghiasi wajah gadis cantik itu. Tangannya melingkar mesra pada lengan sang suami yang nampak datar-datar saja dari tadi.


Saat ini, keduanya memasuki sebuah kamar di hotel itu. Meski tak semewah hotel yang biasa Silvy singgahi, tapi setidaknya hotel ini cukup nyaman.


Silvy masih menggandeng lengan sang suami sampai mereka benar-benar berada di dalam kamar.


Usai menutup pintu dan menguncinya, Alby melepaskan tangan Silvy dari lengannya.


"Maaf non!", ujar Alby.


"Hei? Aa lupa? Aku sekarang istri mu!", kata Silvy.


Alby menghela nafas sambil menyugar rambutnya. Bagi silvy, penampakan Alby seperti itu sungguh sangat seksi.


"Tolong jangan panggil saya seperti itu. Cukup Bia yang memanggil Aa padaku."


"Owh...oke, aku akan memanggil mu hubby? Bagaimana?", tanya Silvy sambil mengusap pipi Alby. Tapi usapan Silvy di hentikan oleh tangan Alby.


"Maaf Non, saya...."


"Apa sih hubby? Kita ini suami istri sekarang. Kamu juga milikku! Apa ada yang salah jika aku menyentuh milikku sendiri heum?", Silvy kembali mengusap rahang kokoh Alby.


"Anda tahu, pernikahan kita hanya kesepakatan. Saya mencintai Bia."


Silvy menggeram pelan tapi setelah itu ia bisa menguasai dirinya.


"Ya...aku tahu, tapi kamu juga tahu kan kalo posisi dan hakku juga sama seperti Bia atas dirimu?", tanya Silvy tepat didepan wajah Alby. Gadis cantik yang tinggi semampai itu tak menyerah begitu saja.


"Saya tidak bisa."


"Benarkah?"


Alby terdiam.


"Anda adalah anak ibuku tiri saya ,itu artinya anda adalah adik saya."


"Hahahaha tapi bapak mu kan udah almarhum, itu artinya kamu udah ngga punya keterikatan apa pun sama mama ku."


Alby membenarkan ucapan Silvy di dalam hatinya. Tapi saat ini ia benar-benar hanya memikirkan perasaan Bia. Pasti hatinya sangat terluka.

__ADS_1


"Kamu mau menemui Bia ,hubby?", tanya Silvy.


Alby langsung menatap wajah Silvy. Mencari tahu apa maksud ucapannya.


"Anda mengijinkan saya bertemu dengan Bia sekarang?", tanya Alby.


"Berhenti lah bicara formal. Aku ini istri mu, bukan nona mu lagi."


Alby tak lagi menyahuti ucapan Silvy. Hingga Silvy kembali mengucap kalimatnya.


"Aku mengijinkan mu bertemu Bia setelah ini. Tapi ..."


"Tapi apa?", tanya Alby.


"Pertama. Setelah mama sembuh, kita ke kota. Bawa mama juga. Meski sudah operasi, mama pasti akan tetap melakukan perawatan intensif. Fasilitas rumah sakit di kota lebih terjamin bukan? Dan...ajak Bia tinggal bersama kita. Bagaimana?",Silvy menego kesepakatan.


"Saya tidak yakin kalo Bia mau tinggal bersama kita."


"Terserah!", silvy mengedikkan bahunya.


"Saya akan usahakan untuk bicara pada Bia."


"Huum oke. Lalu yang kedua!"


"Apa?", tanya Alby.


"Penuhi kewajiban mu padaku sekarang. Setelah itu, kamu baru boleh pergi menemuinya. Karena... setelah ini, kamu hanya punya waktu satu Minggu untuk menemuinya dalam setiap bulan. Walaupun aku tahu, kesepakatan di awal tadinya dua bulan. Tapi aku masih berbaik hati kok sayang. Apalagi dia sedang mengandung. Itu pun jika memang Bia tak mau tinggal bersama kita di kota."


Alby membeku di tempat.


"Bagaimana mungkin saya menyentuh mu jika saya saja tidak ada perasaan apa pun padamu."


"Ccckk! Kau menolakku?", tanya Silvy.


"Maaf."


"Baiklah, itu artinya... kita akan secepatnya kembali ke kota. Dan jangan harap kamu bisa menemui Bia lagi. Aku akan bilang ke papa jika kita akan segera pulang. Awalnya, aku tak ingin melibatkan papa dalam urusan yang satu ini. Tapi nampaknya, kamu lebih menghargai papa dibandingkan aku istri mu sendiri."


"Tolong jangan mengancam saya!"


"Aku tidak mengancamnya sayang."


Cup...Silvy mengecup pipi Alby.


"Lakukan!", bisik Silvy di samping telinga Alby.


Alby mendongak dan menahan segala emosi yang ada dalam dadanya. Bagi pria lain, mungkin ini kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan. Tapi bagi pria yang menjujung rasa setia, ini bukanlah kesempatan tapi sebuah awal dari kehancuran.

__ADS_1


Alby langsung meraih bibir mungil Silvy yang dari tadi terus menggodanya. Dengan terpaksa, Alby menuruti keinginan Silvy meski ia melakukannya tanpa cinta. Bahkan di dalam pikirannya, ia sedang melakukan hal itulah bersama Bia.


Tidak adil memang, tapi ini bukan keinginan Alby. Dia selalu berada di posisi yang tak pernah menguntungkan. Lepas dari Silvy sangat sulit, terlebih lagi melepaskan Bia. Itu justru lebih sulit.


Hampir setengah jam pertempuran sengit itu berlangsung. Alby bangkit dari kasur nya lalu duduk di tepi ranjang. Silvy melingkarkan tangannya di pinggang Alby.


"Terimakasih sayang!", Silvy mengecup punggung suaminya.


Alby bergeming. Setelah itu ia bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tubuh tegap itu berdiri di bawah guyuran shower. Wajahnya menengadah merasakan siraman air.


Maafkan Aa Bia, maaf!


Alby meremas rambutnya yang basah terkena sapuan air. Cukup lama ia berada di salam kamar mandi. Hingga akhirnya ia keluar sudah dengan celana panjang dan kaos oblongnya.


Silvy masih duduk bersandar di headboard ranjang sambil tersenyum.


"Kemari sayang!", Silvy memanggil Alby. Alby pun mendekati Silvy. Lalu duduk di tepi ranjang. Tangan Silvy mengusap punggung kokoh Alby yang sudah memakai kaos itu.


"Kamu boleh menemui Bia. Ku beri kamu waktu untuk menghabiskan Minggu ini. Tapi setelah itu, kamu kembali ke kota. Dan...selama di sana, kamu hanya milikku!", kata Silvy. Setelah itu, ia mengecup singkat bibir suaminya.


"Terimakasih untuk pengalaman baru yang kamu berikan Hubby. Pantas saja Bia tak rela berbagi dengan ku. Ternyata karena kamu selain tampan, juga...very hot!", kata Silvy.


Wajah Alby masih saja datar. Seolah tak ingin menanggapi ucapan Silvy.


"Pergilah! Tenang saja, aku tak sejahat yang kamu pikirkan kok sayang!", lagi-lagi Silvy mengecup bibir seksi Alby.


"Saya pergi."


Alby langsung berdiri dan meninggalkan Silvy begitu saja. Ada seringai licik di wajah Silvy.


Aku baik bukan By? Masih mengijinkan mu menemui Bia? Tapi.... setelah ini, kamu akan tetap bersamaku. Milikku. Yah ...aku masih punya nurani, andai aku mau aku hanya ingin kamu selalu di samping ku By. Tapi sebagai sesama wanita yang mencintai pria yang sama, aku tak keberatan Bi. Karena nantinya waktumu akan jauh lebih banyak untuk ku. Silvy bermonolog dalam hatinya.


.


.


Febri memarkirkan mobilnya di halaman seperti biasa. Tapi ada hal yang berbeda. Sebuah mobil sedan terparkir di depan rumah Bia.


Apa itu mobil Alby?


Febri sebenarnya merasa cemas ingin menemui Bia setelah mengantar Bia tadi sore. Tapi ...dia hanya takut akan ada prasangka buruk yang merusak citra Bia karena suaminya tak ada di rumah.


Pandangan Febri tertuju pada lampu kamar yang ada di dekat jalan. Mungkin itu kamar Bia, karena lampu yang lain tak menyala.


Febri menghela nafasnya. Dia sadar diri, dia bukan siapa-siapa Bia dan tak berhak tahu apa yang Bia alami saat ini.

__ADS_1


__ADS_2