Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 118


__ADS_3

Aku sudah selesai merapikan diri, bersiap untuk pulang eh ... maksud ku keluar dari rumah sakit ini. Tak jadi pasien lagi.


Tas kecil ku yang hanya berisi dompet serta charger ponsel ku yang selalu kubawa ke mana-mana.


Pintu ruangan ku terbuka, dua pria tampan yang katanya ngefans berat sama aku pun tersenyum. Menampilkan senyum menawan. Febri yang gagah dengan wajah tegasnya pun tersenyum manis. Tak jauh berbeda, Sakti yang berkaca mata minus itu terlihat tampan di tambah lesung pipi di salah satu pipinya.


Hah!!!! Tapi setampan apa pun mereka, suamiku masih jauh lebih tampan. Buktinya, Silvy saja sampai rela jadi istri keduanya. Resiko punya suami ganteng. Tapi aku tulus mencintai Alby, tak semata-mata karena rupa nya. Karena aku mengenal Alby saat kami sama-sama menjadi seorang karyawan rendahan.


"Sudah siap?", tanya Sakti. Aku mengangguk.


"Sudah mas!", jawabku singkat.


"Biar aku antar nduk, ngga usah naik taksi."


"Emang kamu ngga nugas lagi Feb! Ika gimana?", tanya sakti.


"Ngga usah mengalihkan perhatian ku Sa, gue tahu Lo mau nganterin Bia kan? Ngga usah, gue aja. Lagian Lo ga tahu kosan Bia."


"Ya gue bisa nanya sama Bia kalo Feb!"


"Udah....ngga ada anter-anteran. Aku naik taksi aja!", kataku sambil menenteng paperbag yang Febri beri tadi.


"Berapa belanjaan baju ku mas?", tanya ku pada Febri.


''Emang kenapa?"


"Aku ngga mau bayar kok, nanya doang!"


Sakti menahan tawanya karena celetukan ku. Aku masih ingat, Febri paling tidak suka jika dia memberikan sesuatu pada seseorang tapi orang itu berniat membayarnya.


"Heum! Udah kebaca kok dari dulu begitu!", kata Febri santai.


"Ehem! Ngga usah nostalgia juga kali!", Sakti memanyunkan bibirnya.


"Kalian kerja yang bayar rakyat lho? Kenapa kalian malah kerja nya bercanda begini? Di luar sana banyak yang serius nyari kerjaan!"


"Bia, aku bukan PNS. Aku kerja sesuai SOP. Udah selesai jam kerja ya udah aku nyantai wajar dong. Dia tuh yang di bayar sama rakyat! Beban negara!", kata Sakti tanpa di ayak.


''Sembarangan beban negara? Kami ini pelindung negara lho. Jangan main-main Sa, ngga inget kamu jadi dokter siapa yang biayain? Bapak kan? Bapakmu kerja apa coba???", balas Febri lagi. Aku benar-benar tidak sanggup melihat perdebatan tak penting mereka berdua.


"Au ah lap!"


Mereka berdua memang konyol. Siapa yang bakal nyangka dua orang yang biasa serius bekerja bisa bercanda garing seperti mereka.


"Udah lanjut aja debatnya. Aku keluar dulu ya. Makasih buat semua yang kalian lakuin buat aku selama aku sakit."


Dengan santai aku meninggalkan mereka berdua.


Setelah berada di luar bekas kamar rawat ku, aku berusaha menyiapkan diriku. Ku hirup udara sebanyak-banyaknya. Aku harus menyiapkan mentalku.


Ya, aku menuju ke kamar Alby dan silvy. Sedangkan dua orang pria yang berprofesi lumayan itu pun menyadari bahwa Bia sudah tak ada di ruangan itu. Mereka berdua keluar dari ruangan itu. Keduanya mengikuti Bia yang masih terlihat tak jauh dari kamar sebelumnya.

__ADS_1


Dugaan mereka sama, Bia pasti akan masuk ke kamar alby. Akhirnya, kedua pria mapan itu memilih duduk di bangku tunggu.


Aku langsung masuk ke dalam kamar alby. Kulihat alby dan Silvy terbaring di brankar yang bersebelahan. Ada teh Mila dan Mak di antara mereka berdua.


"Assalamualaikum!", sapaku. Perhatikan mereka semua beralih padaku.


"Walaikumsalam!", jawab mereka kompak, minus silvy. Mungkin dari kecil ia tak di ajari bagaimana cara membalas salam kali ya. Atau mungkin karena aku yang mengucapkan nya?


"Neng!", Alby bangkit dari rebahannya. Mengubah posisinya menjadi duduk. Ku hampiri brankar Alby.


"Neng udah sehat sayang?", tanya Alby penuh perhatian padaku. Kulihat Silvy dengan ekor mataku, dia tampak mencebikkan bibirnya.


Iri bilang bos????!


"Alhamdulillah."


Mak dan teh Mila tampak tersenyum padaku. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini.


"Aku cuma mau pamit pulang A. Dan...aku minta ijin. Aku akan ke kampung, mengambilnya sepeda motor ku dan beberapa barang ku yang ada di rumah mu."


Alby memperbaiki posisi duduknya.


"Kamu itu ngomong apa sih neng? Sudah aa bilang, ngga ada pisah-pisahan. Ngga ada yang namanya perceraian di antara kita!'', nafas Alby memburu.


"Cukup! Aku hanya minta ijin memasuki rumah mertuaku. Itu saja. Karena... setelah itu, ada orang lain lagi yang berhak di sana dan mengganti kan tugas ku!"


"Shabia Ayu!", bentak Alby dengan lantang.


"Bia!"


"Berhenti berteriak A. Aku tidak tuli! Kamu lihat di sana, ada istrimu yang sedang sakit. Istri yang akan menjadi ibu dari darah daging mu sendiri!"


Tanpa ku sadari, air mataku lolos. Pertahananku runtuh di depan alby. Padahal aku sudah menyiapkan diri sekuat mungkin sejak tadi sebelum ku pijakan kaki ku di sini.


"Neng, aku akan bertanggung jawab atas anakku dan juga Silvy. Tapi neng juga tetap tanggung jawab Aa!"


"Aku udah ngga butuh tanggung jawab apa-apa dari mu A. Aku udah capek , mengatakan berulangkali bahkan hampir di setiap episode pertengkaran kita. Aku tidak mau di madu! Dan aku juga tahu bahkan sangat tahu, kamu berat meninggalkan Silvy karena anakmu. Jadi, lebih baik aku yang mundur. Tidak ada lagi alasan aku bertahan di sini!"


"Sebegitu mudahnya neng bicara seperti itu? Neng....!"


"Semudah Aa menitipkan benih Aa di rahim Silvy!"


Alby menggeleng perlahan.


"Dari awal neng udah tahu kenapa Aa melakukan itu."


Alby berusaha meraih bahuku tapi aku sedikit memundurkan badanku agar tak tergapai olehnya.


"Beri aku kesempatan untuk bahagia dengan cara ku melepaskan mu A. Hanya itu! Aku capek kalau harus terus menerus seperti ini. Kamu cinta sama aku, tapi kamu juga ngga bisa pisah dari Silvy. Aku sudah ngga mau denger janji apa pun dari mulut kamu. Kamu hanya cukup menepati janji mu untuk tetap bertanggung jawab pada anakmu."


"Sudah aa bilang, Aa ngga bakal lepasin neng!"

__ADS_1


Aku tak menghiraukan ucapan Alby lagi. Kulangkahkan lagi kaki ku menuju brankar Silvy.


Dia sedikit terkejut melihat ku yang mungkin di hadapannya seolah bersikap tenang. Padahal dalam dadaku aku merasa ingin meluapkan emosi ku pada gadis kecil di hadapan ku. Ralat! Dia bukan lagi gadis, tapi perempuan yang mengandung benih suami ku.


Kuulurkan tanganku di hadapannya. Tapi Silvy tak menanggapi uluran tangan ku. Perlahan aku pun mengurungkan niatku untuk bersalaman dengan nya. Sombong sekali dia!


"Ehm! Aku cuma mau bilang, apa yang kamu dan papa mu harapkan akan secepatnya terkabul. Aku memenangkan hatiku dengan cara melepas Alby untuk mu."


Tak ada reaksi apa pun dari seorang Silvy. Aku sedikit membungkukkan badanku mendekati telinganya.


"Mungkin dengan merebut milik orang lain, ada kepuasan tersendiri buatmu. Meski kamu mendapatkan dengan cara terpaksa. Tapi nikmati sisa ku! Aku harap suatu saat nanti kamu akan bahagia dengan apa yang kamu dapatkan. Percaya lah, doa orang terzolimi lebih diijabah oleh yang maha kuasa!"


Usia membisikkan kalimat itu, aku pun menjauhkan kepalaku dari telinga Silvy. Wajah Silvy semakin muram. Mungkin dia sedang merekam ucapan ku barusan.


Akhirnya, keluar juga kata-kata menyakitkan itu.


"Mak, Bia pamit. Maaf, kalo selama ini Bia belum bisa menjadi anak dan menantu yang baik buat Mak."


Aku dan Mak saling berpelukan.


"Jangan bicara seperti itu neng. Tolong pikir kan lagi. Mak tahu kalian masih saling mencintai."


"Dan Mak tahu sendiri kalo Bia ngga bisa berbagi."


"Astaghfirullah neng!", Mak memelukku begitu erat. Padahal setelah ini kami masih bisa bertemu lagi.


Usai melerai pelukan bersama Mak, aku beralih ke teh Mila.


"Titip Mak ya teh!", ujarku. Teh Mila mengangguk pelan.


Alby masih berusaha menguasai dirinya yang di penuhi emosi karena drama yang ku lakukan tadi.


Tanpa berpamitan pada Alby, aku pun melangkah keluar kamar rawat mereka.


"Setelah Aa keluar dari sini, kita akan bicara neng. Tapi asal neng tahu, sampai kapanpun Aa ngga akan pernah melepaskan neng!"


Aku berhenti sesaat setelah mendengar ucapan Alby yang ku dengar untuk ke sekian kalinya.


"Terserah Aa saja. Assalamualaikum!", kataku langsung ngeloyor keluar.


Setelah pintu benar-benar ku tutup, aku tak bisa lagi menahan tangisku. Ternyata pura-pura kuat itu menyakitkan ya???


Febri dan sakti masih mengobrol berdua di bangku yang agak jauh dari kamar Alby.


Usia ku hapus air mataku yang pasti membuat wajahku semakin hancur, suara seseorang menyadarkan ku.


"Mba Bia?", sapanya. Aku mendongak keatas asal suara itu.


*******


keep calm beib! 🤗🤗😁😁

__ADS_1


__ADS_2