
Aku pulang ke rumah lek Sarman setelah bertemu dengan Bu Sri. Meski lumayan jauh, kaki ku masih mamu berjalan ke warung ku.
Alhamdulillah, kondisi warung semakin ramai saja apalagi di jam makan siang seperti ini. Meski tidak di pusat kota, tapi lokasi warung ku memang cukup strategis. Apalagi, lek Sarman memang pintar mengembangkan warung kami.
Aku mengangguk tipis kepada para pekerja warung sebagai sapaan. Mereka pun melakukan hal yang sama padaku. Kaki ku berjalan pelan menuju ruang kantor lek Sarman. Dia sedang bersibuk ria di penghujung bulan ini. Tepat seminggu sudah aku keguguran, itu artinya... aku masih harus menunggu beberapa waktu lagi agar bisa mengajukan gugatan pada Alby.
Apakah... dengan waktu yang selama itu aku tidak akan berubah pikiran lagi? Apakah Alby akan kembali memperjuangkan ku?
Lek Sarman menatap ku yang melamun di depan pintu.
"Nduk, kenapa di situ! Masuk!", pinta lek Sarman. Aku sedikit terkejut mendengar panggilan lek Sarman. Aku sedang melamun.
Aku pun memajukan langkah ku mendekati lek Sarman yang sudah berdiri di belakang mejanya. Dari sikap nya, sepertinya lek Dar sudah menceritakan semuanya pada lek Sarman.
"Kenapa kamu pulang ke rumah sana, ngga kesini?", tanya lek Sarman lembut.
"Bia sampe udah malem banget lek. Ngga mau merepotkan kalian."
"Merepotkan gimana sih? Mana ada orang tua yang direpotkan sama anak sendiri!"
Aku menghambur memeluk lek Sarman. Dia mengusap puncak kepalaku.
"Sudah nduk, sudah....ngga perlu di sesali. Keputusan yang sudah kamu ambil benar kok. Ngga usah takut, nanti anak lek mu kan juga bisa bantu jaga dan rawat anak mu."
Aku menghapus air mataku. Lalu menggeleng.
"Ngga lek, bayiku udah ngga ada lek. Makanya...sudah ngga ada lagi alasan Bia bertahan sama Alby."
Lek Sarman memegang kedua bahu ku.
"Maksud nya apa???", tanya lek Sarman terkejut.
"Bia keguguran seminggu yang lalu lek!"
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Kenapa kamu ngga cerita nduk? gimana bisa? siapa yang merawat kamu selama kamu sakit di sana?", cerca lek Sarman dan kembali memeluk ku.
Sepertinya dia juga ikut sedih, apalagi dia juga tahu rasanya kehilangan anak semata wayangnya yang sangat ia sayangi. Anak nya meninggal saat ada wabah covid kemarin. Yang bahkan aku tak bisa pulang saat itu. Melihat dari kejadian itu, sepertinya lek Sarman sangat protektif padaku.
"Mungkin memang kandungan bia lemah lek. Makanya bisa keguguran!"
__ADS_1
Tak mungkin aku menceritakan tentang alasan yang sebenarnya. Aku terlalu stres menghadapi masalah rumah tangga ku ini.
"Terus kamu sama siapa? Kamu pulang ke sana karena Alby sakit kan? Terus siapa yang rawat dan nemenin kamu?"
Aku menarik nafas panjang.
"Kadang mas Febri, kadang mas sakti. Mak juga menemani Bia sebentar. Soalnya...istri Alby juga di rawat di ruangan yang sama dengan Alby."
Lek Sarman mengusap kasar wajah nya sendiri.
"Febri, lek tahu. Tapi sakti itu siapa?"
"Mas sakti itu dokter lek. Ayahnya mas sakti atasannya mas Febri."
Lek Sarman mungkin bingung mendengar penjelasan ku. Dia memilih duduk kembali ke kursinya.
"Kamu belum jadi janda saja udah banyak yang antri nduk. Gimana kalo udah resmi sendiri? Harus pandai-pandai jaga diri!"
"Ya Allah lek, seperti ini bukan prestasi kali lek. Bia juga pengen punya rumah tangga yang utuh dan harmonis. Sakinah mawadah warahmah. Ngga pernah sedikitpun Bia berpikiran sampai harus merasakan seperti ini lek!", aku ikut duduk di hadapan lek Sarman.
"Tadi lek udah telpon Alby!"
Deg ! Sepertinya kinerja jantung mulai tak menentu.
"Iya. Lek bilang kamu udah disini. Dan kalau dia memang laki-laki sejati, seharusnya dia menggembalikan kamu baik-baik setelah dia tak membutuhkan mu, seperti saat dia meminta mu."
Aku menghela nafas. Sepertinya ucapan itu tak berpengaruh pada Alby. Karena dia pasti kekeh ingin mempertahankan hubungan kami.
"Tapi...nduk, kamu sedang masa nifas!"
"Iya lek. Bia tahu. Dan...Bia akan di sini sampai waktu itu tiba untuk mengajukan gugatan pada Alby. Kalau perlu pakai pengacara ya lek. Biar lebih cepat prosesnya."
"Proses nya sama saja nduk. Cuma kamu nya yang tidak harus terlalu ribet sendiri."
Aku pun mengangguk.
"Tapi...kali ini kamu benar-benar sudah menyerah? Tidak menyesal? Apalagi sebenarnya kalian saling cinta?"
Kenapa pertanyaan nya kaya lek Dar sih????
__ADS_1
"Insyaallah lek!", jawabku mantap.
"Masih ada waktu untuk memikirkan nya nduk. Lek ngga mau kamu sedih nantinya. Cari kebahagiaan kamu! Ya?"
Aku mengangguk. "Ya lek!"
"Oh ya lek, tadi...Bia ketemu Bu Sri."
"Bu Sri?"
"Iya, ibunya mas Febri."
"Kok iso? Dia ngomel lagi?", tanya lek Sarman antusias.
"Awalnya iya lek."
"Lain kali mending tinggal aja. Jangan tanggepin kalo Bu Sri bikin ulah."
"Ngga lek. Justru Bia aja kaget, Bu Sri mendadak baik sama Bia. Malah....."
"Malah apa nduk?"
"Bu Sri tahu soal Bia sama Alby lek. Katanya tahu dari mba sus. Apa mba sus tahu dari ibu atau dari mas Febri , Bia ngga tahu."
"Terus?"
"Masa... katanya Bu Sri restuin Bia sama mas Febri."
Lek Sarman melongo.
"Ya Allah nduk, ngga usah di dengerin deh! Kamu fokus sama urusan kamu saja dulu. Nantinya kamu bakal sama Febri atau ngga, urusan yang diatas."
"Ngga lah lek. Bia sama mas Feb cuma temenan."
"Sekarang teman, ngga tahu besok. Atau.... jangan-jangan kamu juga masih ada rasa sama Febri ya?"
"Ya Allah lek, nggak!"
Lek Sarman tersenyum tipis.
__ADS_1
"kalo bisa, jangan dulu ya Nduk. Dosa! Kamu masih istri Alby."
"Iya lek, iya!"