
Sebelumnya...
"Aku mau pergi Tin, tolong jaga cucuku selama aku tidak ada", ucap Hartama.
"Nabil juga cucuku mas, tak perlu di ingatkan seperti itu pun aku akan menjaga Nabil!", kata Titin sambil menatap sang cucu dari luar kaca. Hartama pun melakukan hal yang sama.
"Memang mas mau ke mana?", tanya Titin.
Hartama menoleh.
"Kesuatu tempat!", jawabnya singkat lalu kembali menatap sang cucu.
"Iya, kemana? Jangan jauh-jauh, nanti kalo Silvy bangun mencari mas bagaimana?", tanya Titin.
Hartama tak menjawab apa pun.
.
.
Malvin menjenguk Silvy di rumah sakit. Dia datang seorang diri ke sana. Ada perasaan bersalah menyeruak di dalam dada seorang Malvin yang terkenal player itu.
Mata Malvin mengembun menatap perempatan yang pernah ia cintai. Tapi penyesalan terbesar nya adalah....dia lah salah satu penyebab kenapa Silvy bisa memilih kehidupan dengan pernikahan yang mungkin menyiksanya.
Andai Malvin tak selingkuh dan mengkhianati Silvy. Gadis itu mungkin tak mengalami kecelakaan yang membuat kakinya cacat. Merubah sikap dan sifat cerianya menjadi arogan dan pemaksa.
Memaksa kan kehendaknya untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan, sekalipun suami orang.
Malvin tak bisa berkata apa-apa lagi. Hingga ia menyadari keberadaan seseorang di belakangnya.
"Mas Alby!", sapa Malvin.
"Terimakasih sudah menjenguk istriku!", kata Alby. Malvin mengangguk tipis.
"Semoga Silvy cepat bangun ya mas!", ujar Malvin. Alby mengiyakannya.
"Iya, insyaallah Silvy akan segera bangun dan melihat putranya yang tampan."
Malvin menatap suami dari mantan kekasihnya itu.
"Laki-laki?", tanya Malvin.
"Iya, namanya Nabil. Silvy yang memberikan nama itu!", jawab Alby.
"Mas Alby sudah bisa mencintai Silvy dan Nabil?", tanya Malvin. Alby menoleh pada cowok ABG yang menuju dewasa itu.
"Aku menyayangi mereka."
Malvin cukup paham akan jawaban Alby. Mungkin benar dia sayang, tapi bukan mencintai layaknya ia mencintai Bia.
"Kamu sendiri?", tanya Alby.
"Huum! Libur semester mas, anak-anak pada liburan!", kata Malvin.
"Kamu sendiri ngga liburan?", tanya Alby.
"Ada rencana mau ke tempat om Anton, tapi....!", Malvin menggantung kalimatnya.
"Tapi kenapa?"
"Aku ingin liat Silvy bangun mas!", kata Malvin.
"Kalo mau libur, ya liburan saja. Nanti aku kabari keadaan Silvy saat dia terbangun nanti!", Alby menepuk bahu bocah itu.
Siapa sangka hubungan keduanya kini membaik.
"Aku juga liat story wa Anika. Dia sedang berada di kampung om Anton bersama kakak dan kakak iparnya."
"Ooh...!", hanya itu sahutan Alby. Lalu keduanya tampak kembali menatap Silvy yang terbaring lemah dengan nafasnya yang terlihat naik turun.
.
.
Hartama berjalan memasuki area pemakaman di antar oleh seseorang tukang ojek.
"Terimakasih pak!", kata Hartama.
"Sama-sama pak!"
Setelah itu, Hartama berjalan menuju ke komplek pemakaman muslim. Kebetulan ada laki-laki paruh baya yang sepertinya selesai membersihkan makam.
"Permisi pak!", sapa Hartama.
"Iya, ada apa ya pak?", tanya si bapak yang pegang cangkul.
"Bapak pengurus pemakaman ini?", tanya Hartama. Si bapak pun mengangguk.
"Saya mau mencari makam teman saya, namanya Salman Abdullah. Bapak tahu di mana lokasinya?", tanya Hartama.
"Pak Salman pemilik warung itu kan?", tanyanya. Hartama mengangguk.
"Mari saya antar!", ujar si bapak. Dengan tertatih Hartama pun mengikuti langkah kaki si bapak.
"Bapak dari kota ya pak?", tanya si bapak pada Hartama.
"Iya, saya dari Jakarta!"
Si Bapak mengangguk lalu berhenti di sebuah makam bertuliskan nama Salman Abdullah.
"Ini pak makam pak Salman. Almarhum orang yang baik, hampir semua orang kampung sini dan kampung sebelah mengenal beliau!", kata si bapak. Hartama mengangguk.
"Iya, dia sahabat saya. Dia memang orang yang sangat baik!", ujar Hartama.
"Kalo begitu saya permisi ya pak!", ujar si bapak. Tapi sebelum si bapak pergi, Hartama menyalaminya sambil menyelipkan selembar uang berwarna merah pada si bapak.
"Ngga usah pak!", kata si bapak.
"Tolong terima pak, sebagai ucapan terimakasih saya sama bapak sudah mengantar saya ke mari."
Akhirnya, si bapak pun menerimanya lalu pergi dari area itu.
Tinggallah Hartama yang duduk disamping nisan Salman. Ia membacakan alfatihah untuk almarhum sahabatnya itu.
"Man, maafin gue!", Hartama mulai berbicara sendiri di hadapan nisan itu.
"Gue udah cari keberadaan Lo. Tapi gue malah nemuin Lo udah menghadap yang maha kuasa."
"Kenapa Lo ngilang gitu aja sih Man? Lo bilang gue sahabat baik Lo, tapi Lo ninggalin gue bahkan di saat gue udah sukses ingin membalas kebaikan Lo dan juga utang gue ke Lo!"
"Lo tahu Man, gue jahat! Gue udah bikin kesalahan fatal. Gue udah nyakitin anak Lo, yang harus nya gue sayangi seperti anak gue sendiri. Tapi gue justru nyakitin anak Lo!"
"Gue sadar, sekalipun gue mencium kaki anak Lo, gua ga bakal bisa balikin kebahagiaan dia. Gue udah rebut kebahagiaan dia! Gue yang udah bikin dia menderita Man! Maafin gue!"
Hartama tergugu di samping pusar sahabatnya.
"Andai kan semua harta gue berikan untuk anak Lo, tidak akan pernah bisa menebus semua kesalahanku."
Dada Hartama naik turun. Jantung nya berpacu lebih cepat. Ia memejamkan matanya, mendongak, menadah langit yang cukup cerah. Beruntung, makam Salman di bawah pohon yang rindang.
Hartama makin merasakan nyeri di dalam dadanya. Suasana pemakaman sangat lah sepi. Rasa nyeri itu kian menyerang dan membuat Hartama terkulai tepat di atas nisan sahabatnya.
.
.
Prank....
Titin menjatuhkan gelas yang tak sengaja ia senggol. Perasaan nya tiba-tiba tak enak.
"Biar saya yang bersihin Bu!", kata Mila. Titin memilih duduk. Dia sedang bersiap menuju ke rumah sakit untuk melihat anak dan cucunya. Tapi entah kenapa seolah perasaan nya tidak tenang.
"Kenapa Bu?", tanya Mila.
"Sapto mana ya Mil?", tanya Titin. Mila pun memanggil suaminya.
"Ada apa ya Bu?", tanya Sapto.
"To, mas Tama ada bilang dia mau ke mana?", tanya Titin. Sapto menggeleng.
"Tidak Bu, tuan terlihat terburu-buru. Saya menawarkan untuk menemani tapi tuan menolaknya."
"Kemana dia ya!", kata Titin lemas.
.
.
Hari sudah menjelang sore, aku dan Anika serta Bina memilih mengeksekusi sayuran yang ada di kulkas. Dimas sendiri sudah kembali ke kota dimana ia tugas.
"Mas Sakti biasanya di masakin apa Bin?" tanyaku pada Bina.
"Dia gak pemilih setahuku sih. Apa pun yang aku masak, dia selalu makan."
__ADS_1
Aku mengangguk tipis. Anika sendiri malah memilih duduk di meja makan. Dia memang tak begitu tertatih dengan urusan masak memasak.
"Terus ibu kamu sama siapa di rumah?"
"Mas sakti ngasih art buat nemenin ibu, kami berdua tinggal di apartemen."
"Oh, gitu! Ibu mu sehat kan?"
"Alhamdulillah, Bi. Ibu udah operasi. Itu juga karena bantuan mas sakti. Beruntung banget aku bisa menjadi istrinya."
"Iya, kalian sama-sama beruntung kok!", kataku.
"Bi...!"
"Heum, kamu pernah pacaran lama sama mas Febri?"
"Dulu...dulu banget jamannya masih putih abu-abu sampai....ya... sebelum kenal suami mu!", kataku tersenyum.
"Semoga kalian berjodoh ya, meskipun kalian harus melewati banyak rintangan. Menjadi pasangan orang lain dulu, baru bersatu!",kata Bina.
Aku mengangguk tipis dan hanya bisa tersenyum.
"Kira-kira kapan kalian akan menikah? Kami juga mau menghadiri pernikahan kalian lho!"
"Aku belum tahu Bina. Kan baru kemarin juga pak Bambang meminta ku jadi menantunya. Belom ada pembicaraan ke arah sana. Lagi pula, aku belum lama sendiri. Apa kata orang nanti!"
"Iya sih."
"Lagian, mas Febri juga sedang tugas negara. Mana mungkin dia tiba-tiba cuti mau menikah di saat tugasnya belum kelar."
Bina berdehem kecil. Ia menengok ke meja makan. Ternyata Anika sudah tak ada di sana, justru dia malah duduk di teras belakang.
"Dulu, salah satu alasan gue ga mau lanjut sama Dimas, juga karena itu Bi."
"Maksud nya?"
"Gue ngga siap kalo harus di tinggal-tinggal tugas. Apalagi kalo keluar negeri kek gitu, perang beneran! Gue ngga mau!"
"Keluar negeri?", tanyaku.
Bina menelan ludahnya pelan-pelan. Sepertinya ia keceplosan.
"Eum, ya kan emang kadang tugasnya kek gitu Bi!", Bina mencoba mengelak.
"Apa Mas Febri tugas ke luar negeri? Dia bilang sama Dimas, lalu dia bilang ke kalian semua? Tapi ngga bilang aku?", tanyaku.
Aku meletakkan pisau di talenan. Lalu mencuci tangan ku.
"Bi...aduh...Bi, maaf! Febri ngga maksud buat....!"
Aku meninggalkan Bina di dapur. Lalu beranjak ke halaman rumah. Duduk di bawah pohon mangga yang sudah mulai berbuah.
Bina menghampiri suaminya yang ada di dalam kamar, lalu menceritakan semua yang sudah terjadi di dapur tadi.
Bina meminta Sakti untuk membujuk Bia agar ia tak salah paham.
"Bi...!"
Aku menoleh pada suara yang memanggilku. Tapi setelah itu aku kembali memalingkan mukaku.
Sakti duduk di batu yang ada dihadapan ku.
"Maafin istriku!", kata Sakti.
"Bina ngga salah!", sahutku.
"Tapi dia merasa bersalah, udah bikin kamu kaya gini", kata Sakti lagi.
"Kenapa kalian harus rahasiain kaya gitu?", aku menatap sakti.
"Kami hanya ingin menjaga perasaan mu Bi. Kami tahu, kamu belum sepenuhnya bisa menerima Febri dalam hati mu. Tapi bukan berarti kamu ngga peduli dengan nya. Dan ya...kami yakin, kamu akan seperti kalo tahu."
Aku memandang arah lain ke depan sana.
"Dia di kirim ke daerah konflik itu?", tanyaku pada Sakti tanpa menoleh ke arahnya.
"Iya. Kita doakan dia baik-baik saja di sana! Dan dia akan kembali, buat kamu!", kata Sakti.
Sakti memang paling dewasa di antara mereka. Dia selalu bisa mengayomi kami yang lebih muda darinya. Tapi tetap saja, aku merasa kecewa.
"Febri bukan ngga mau bilang ke kamu Bi. Dia bahagia bisa bertemu kamu lagi sekaligus melamar kamu. Tapi dia juga sedih, ternyata di saat bahagianya...dia harus bertugas karena tanggung jawab nya pada negara sesuai sumpah nya dulu."
Aku mendesah pelan. Benar? Apa hakku marah ???
.
.
.
"Kenapa Nur?"
"Itu pak, ada laporan dari warga."
"Laporan apa?", Anton menutup kembali pintu mobilnya.
"Ada warga yang meninggal."
"Siapa? Di mana?"
"Di pemakaman pak!", sahut Nur.
Anton menghirup nafasnya dalam-dalam.
"Di pemakaman memang tempat orang meninggal Nur. Udah ah, saya mau pulang. Jangan bercanda di waktu yang ngga tepat Nur!", kata Anton sambil membuka kembali pintu mobilnya.
"Saya ngga bercanda pak. Ada orang meninggal di atas nisan pak Salman!", kata Nur.
"Hah?", pekik Anton.
"Iya pak, saya ngga lagi ngeprank kok. Beneran kok!", kata Nur meyakinkan.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Terus, sekarang gimana? Udah ada yang urus?"
Nur mengangguk.
"Sudah di bawa ke puskesmas pak."
"Ada identitasnya, buat menghubungi keluarga nya?"
Nur mengangguk.
"Polisi sudah mengurus nya pak."
"Oh, syukurlah."
"Pak!"
"Apalagi Nur??"
"Bapak kenal sama almarhum kayanya deh pak!",kata Nur.
"Warga kita?", tanya Anton.
"Kerabat mas Salman?", tanya Anton lagi.
Tapi nur menggeleng.
"Itu pak, mertuanya mantan suami mba Bia."
"Hahhhh???", kali ini pekikan Anton lebih keras.
"Ya udah, kamu ikut saya ke Puskesmas. Kenapa kamu ngga bilang dari tadi? ngomong muter-muter Mulu!"
"Ngga apa-apa sih pak heheh! Pak, saya beneran ikut ke puskesmas?"
Anton menatap salah satu pekerja balai desa.
"Iya Nuryanto!!!", sahut Anton. Nur pun mematuhi perintah atasannya.
.
.
.
[Hallo]
[Selamat sore, dengan pak Alby?]
[Benar, dari mana ini?]
[Kami dari Polsek xxxx kab. Xxx Jatim pak]
__ADS_1
Kampung Bia? Ya Allah, semoga tak terjadi apa-apa dengan Bia ku. Alby langsung bangkit dari duduknya. Bersamaan dengan Marsha yang masuk ke dalam ruangan Alby. Mereka memang sudah bersiap untuk pulang.
[Ada apa ya pak?]
[Maaf pak, salah satu warga kami menemukan jenazah laki-laki dewasa yang teridentifikasi atas nama Hartama Adi Bahtiar berada di atas nisan bapak Salman Abdullah]
Alby terdiam tak percaya. Bagaimana bisa papa mertua nya berada di atas nisan mantan mertua nya juga????
[Bag...bagaimana bisa pak?]
[Jenazah di bawa ke rumah sakit kabupaten setelah di bawa ke puskesmas tadi. Pak lurah Anton, kebetulan turut membantu mengurus almarhum untuk di tindak lebih lanjut untuk mengetahui sebab kematian pak Hartama]
[I...iya...pak, kebetulan...kami kerabat pak Anton]
[Kiranya hanya ini yang bisa kami sampaikan pak Alby, kami harap anda bisa segera kesini untuk mengkonfirmasi dan menindaklanjuti proses pemulasaraan jenazah pak Hartama]
[Baik pak, terimakasih. Saya akan segera ke sana]
Alby terduduk di bangku nya. Memijat kepalanya yang semakin berdenyut. Istrinya masih belum bangun dari koma, putra masih di rawat di NICU sekarang justru papa mertua meninggal di tempat yang cukup untuk di jangkau.
"Ada apa mas?", tanya Marsha merapikan beberapa map.
"Polisi bilang, papa di temukan meninggal di atas nisan bapaknya Bia."
Marsha yang tadinya fokus dengan map nya kini justru menjatuhkan mapnya.
"Apa?", tanya Marsha terkejut.
"Aku harus ke sana Sha, tapi... bagaimana dengan Mak ku? Dia pasti sangat kehilangan papa. Bagaimana juga dengan Nabil? Siapa yang akan menjaga Nabil kalo kondisi Mak pasti akan terpuruk?"
"Mas, jangan pesimis begitu. Aku akan menghubungi anak-anak di kantor cabang sana untuk mengurusi semua keperluan yang berhubungan dengan tuan Hartama sampai kamu berada di sana."
"Makasih Sha, aku harus ke rumah sakit dulu!", kata Alby. Dia langsung meluncur ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, dia mendapati Mak yang sedang duduk di bangku tunggu tapi dengan wajahnya yang tak tenang.
Apa Mak sudah tahu? Batin Alby.
"Mak?", panggil Alby.
"Jang!"
"Mak kenapa?"
"Papa ngga bisa di hubungi sejak pagi Jang. Perasan Mak ngga enak!", kata Titin. Alby langsung memeluk Mak nya.
"Alby harap, Mak sabar ya Mak!" kata Alby. Titin melerai pelukannya.
"Sabar? Aya naon Jang?"
Alby menarik nafas nya. Sulit saat ia harus mengatakan hal itu pada maknya.
"Katakan jang, Aya naon?"
"Papa...papa di temukan meninggal di atas nisan bapaknya Bia."
"Apa??? Ngga Jang! Tadi pagi papa baik-baik saja!",kata Mak menggeleng.
"Tapi itu kenyataan Mak. Pak Anton, bapak sambung Bia pun membantu mengurusi nya."
"Benar seperti itu Jang??", tanya Titin dengan air matanya yang meleleh. Begitu pula dengan Mila dan Sapto.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!"
"Mak, Alby akan bawa jenazah papa pulang. Mak di sini saja ya. Tolong titip Silvy sama Nabil ya Mak!", kata Alby. Titin mengangguk pelan.
"Mang, titip keluarga saya ya mang!" kata Alby pada mang sapto.
"Biar mamang temani By!", kata Sapto.
"Jangan mang, Alby titip mereka ya mang! tolong!", kata Alby meyakinkan mereka.
Alby menyerahkan kunci mobil pada mang Sapto. Dia langsung menuju ke bandara karena Marsha sudah memesan tiket pesawat untuk nya.
.
.
Aku dan yang lain makan malam dengan makanan yang Bina masak. Aku yang tadi sempat terbawa emosi pun sudah kembali normal.
Tok...tok.
"Ada tamu kayanya, aku buka pintu dulu ya?", kataku pamit pada para tamu ku.
"Assalamualaikum!", sapa orang dari luar pintu.
"Walaikumsalam, bapak?"
"Kamu lagi ada tamu nduk?", tanya Anton.
"Hah, iya pak. Teman-teman Bia dari Jakarta. Masuk pak!"
Anton pun masuk ke dalam ruang tamu.
"Sebentar pak, Bia buatkan minuman dulu?!"
"Ngga usah Nduk!"
Aku pun kembali duduk ke sofa.
"Kok kamu ngga cerita sama kami kalo Febri melamar kamu?", tanya Anton. Aku mendesah pelan.
"Belum melamar secara resmi kok pak. Makanya Bia ngga bilang sama ibu dan bapak."
"Ya udah, lain kali kita bahas Nduk. Ada yang lebih penting."
"Ada apa toh pak?", tanyaku penasaran.
"Ada warga yang menemukan jenazah pak Hartama di makam bapakmu nduk!"
"Hah? Jenazah? Innalilahi wa innailaihi Raji'un!", aku menutup mulut ku.
"Jenazah sedang di bawa ke rumah sakit kabupaten."
Aku membeku. Apa ini? Haruskah aku senang, laki-laki yang udah menghancurkan rumah tangga ku bersama Alby kini sudah mendapatkan karmanya!? Tapi kenapa secepat itu mati??? Kenapa ngga di siksa dulu di dunia ini sebelum ia mendapatkan hukuman nya di alam sana?? Eh???
Astaghfirullah! Kenapa aku sejahat itu! Apa bedanya aku dengan nya jika pikiran ku seperti ini?
"Nduk!", panggil Anton. Dan suara Anton mengagetkan ku.
"Kamu baik-baik saja?"
"Bia ngga apa-apa pak."
"Ya udah, kalo begitu bapak pulang dulu."
"Iya pak."
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Setelah bapak pulang, aku kembali ke meja makan. Yang lain sudah selesai makan. Bina sedang mencuci bekas kami makan.
"Siapa mba?", tanya Anika.
"Bapak ku!"
Mereka paham siapa yang ku maksud.
"Tuan hartama di temukan meninggal di makam bapakku."
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!" , kata mereka kompak.
"Ya udah kalian istirahat saja. Adek kalo mau langsung istirahat masuk ke kamar saja ya, mba ga kunci pintu nya kok!"
"Iya mba!", sahut Anika.
Di saat seperti ini, aku malah memikirkan Alby. Entah bagaimana dia menghadapi situasi ini.
Istri nya koma, kondisi anaknya belum stabil dan sekarang papa mertua nya meninggal. Pasti Alby sangat terpuruk!
Ponsel ku berdenting. Hanya chat dari Febri. Dia sudah take off sejak sejam yang lalu.
Aku bingung dengan perasaan ku!
Di satu sisi, aku ingin memberi dukungan moril pada Alby. Tapi di sisi lain, aku juga merasa cemas pada Febri yang akan bertugas di tempat yang rawan konflik negeri orang sana.
Ya Allah! Berilah kesabaran untuk Alby agar ia bisa melewati semua masalah yang ia hadapi.
Semoga...Febri di beri keselamatan dan kesehatan serta selalu di lindungi di mana pun dia berada dan kembali padaku dengan selamat.
*****
__ADS_1
Setelah memenuhi target, segera tamat pokoknya ✌️✌️✌️
Makasih, maaf kalo banyak typo 🙏🙏🙏