
"Sha, gathering sama karyawan HS grup udah di atur buat hari Minggu kan?", tanya Alby pada sekretarisnya.
Alby memang melanjutkan kegiatan rutin tahunan yaitu mengadakan gathering karyawan dan keluarganya ke wisata keluarga. Dan kali ini, rencananya kegiatan itu akan di laksanakan di **fan mengingat yang turut berpartisipasi juga anak-anak.
"Sudah mas!", jawab Marsha. Alby kekeh tak ingin di panggil pak, kecuali di depan rekan bisnisnya.
"Kalo rapat direksi gimana?", tanya Alby lagi.
"Juga sudah mas, dan sepertinya mba Bia juga ada rencana ke mari."
"Benarkah?"
"Iya mas. Dan kebetulan juga... mereka liburan di tempat yang sama dengan acara gathering kita."
"Mereka?", tanya Alby lagi.
"Iya, mba Bia bilang mau mengajak semua karyawan dan keluarganya untuk... berlibur ke ***fan mas!"
Alby menghela nafasnya. Harusnya dia senang bisa bertemu dengan Bia lagi, tapi... entah kenapa Alby justru merasa malu kali ini.
Lihatlah, tanpa dirinya, Bia justru semakin bersinar! Dia menunjukan kemampuannya. Apa yang pernah ia berikan pada Bia selama menjadi istrinya dulu? Hanya hidup pas-pasan! Tapi sekarang? Bahkan dia mampu untuk mengajak liburan seluruh karyawannya!
"Kenapa mas?", tanya Marsha lagi.
"Dia tahu kapan pertemuan nya?"
"Tahu mas, Senin siang dia akan ke kantor ini."
Alby mengangguk pelan.
"Sha!"
''Ya mas?"
"Aku tak punya muka untuk bertemu dengan Bia sekarang!", kata Alby sambil memainkan pulpennya. Marsha yang tadinya akan keluar, kini malah duduk lagi di kursi. Berhadapan dengan Alby di mejanya.
"Memang kenapa?"
"Kamu lihat kan? Betapa hebatnya dia sekarang? Setelah lepas dari ku, dia semakin sukses. Aku malu...malu sekali Sha. Dulu, aku menolak bantuannya karena mempertaruhkan harga diri ku. Tak ingin di cap sebagai laki-laki yang memanfaatkan harta istriku. Tapi kenyataannya apa? Aku malah terperosok ke dalam kubangan yang membuat ku justru tak memiliki harga diri sama sekali!"
"Sudah mas, ngga ada lagi yang perlu kamu sesali. Itu memang sudah jalannya mas. Semua akan bahagia sesuai waktu yang sudah di tetapkan. Melihat orang yang di cintai bahagia, kita pasti ikut bahagia. Begitu pun sebaliknya kan?"
Alby tersenyum tipis.
"Makasih sha, sudah menjadi sahabat ku sekaligus partner kerja yang baik buat aku. Andai kamu mau, kamu bisa saja berada di posisi ku saat ini. Kamu tahu segalanya tentang perusahaan ini."
"Aku ngga tertarik mas heheh. Biarlah aku hidup seadanya. Tuhan melihat apa pun yang aku lakukan di dunia ini. Karena suatu saat nanti aku akan bertanggung jawab atas apa yang kulakukan. Aku belum jadi orang yang baik, tapi aku berusaha untuk melakukan hal yang baik."
"Sekali lagi terimakasih Sha!"
Marsha mengangguk tipis dan tersenyum.
"Oh iya, bagaimana acara pertunangan mu Sha?"
"Masih bulan depan mas, santai saja. Lagi pula, Jonathan masih sibuk di kantor cabang kan heheh!"
"Ga nyangka aja gitu, kamu bisa serius sama si Jo!"
"Kalo cocok ya...ngapain lama-lama kan mas?"
"Heum! Iya, niat baik memang sebaik di segerakan. Ya udah, kamu balik ke ruangan mu deh!"
"Oke mas! Jangan lupa solat. Udah mau jam dua belas nih?!"
"Iya, Sha? Nanti solat dulu baru makan siang!"
Marsha pun keluar dari ruangannya. Alby memutar kursinya menghadap ke dinding kaca yang menghadap ke luar gedung. Dia berdiri menatap sibuknya jalanan ibu kota dari lantai dua puluh.
Bagaimana keadaan kamu sekarang Bi? Benarkah kamu sudah bahagia, tanpa aku?
.
.
Aku sudah bersiap di halaman parkir warung. Dengan menyewa bus pariwisata, kami berangkat menuju ke ibu kota. Jika kami berangkat sekarang, perkiraan sebelum tengah hari besok kami sudah sampai di sana.
Yang pasti, sudah di siapkan penginapan dan segala akomodasinya. Jadi, sesama di sana merupakan bisa istirahat lebih dulu. Barulah ke pusat ibu kota. Dan paginya ke **fan. Setelah puas bertualang, lanjut pulang. Tapi aku belakangan, sebab aku di hubungi oleh Marsha yang mengatakan bahwa akan di adakan rapat direksi. Aku yang memiliki saham lima belas persen di sana diminta hadir. Meski sebenarnya...aku enggan!
__ADS_1
Aku takut jika bertemu dengan Alby lagi. Takut jatuh cinta lagi??? Bukan! Takut terkenang dengan masa-masa indah kami yang seharusnya ku lupakan.
Aku memilih duduk di depan bertiga dengan kedua lek ku tentunya. Kami akan melakukan perjanjian panjang ke barat. Tapi bukan sun go kong ya mencari kitab suci ya 😆
Kampung halaman ku hampir diujung Jawa timur. Ssttt...tak usah di bayangkan seperti apa suasana perjalanan kami nanti.
Kenapa aku tak mengajak keluarga Ibuku? Mereka yang tak ingin ikut, karena merasa sudah ada rencana ke rumah Oma Marini beberapa Minggu yang akan datang.
Kami berangkat setelah sholat ashar. Dan nanti akan istirahat saat waktu magrib tiba. Lanjut lagi isya nanti jika sudah masuk tol Jawa tengah.
Rencana nya seperti itu, semoga saja terealisasikan. Apalagi kami tidak pakai bus umum yang harus berhenti di pull tertentu. Jadi, kami bisa istirahat kapanpun dan di manapun.
Awalnya suasana ramai sekali di dalam bus ini. Tapi setelah di atas jam tujuh malam, suasana mulai lengang. Hanya suara musik koplo yang di nyalakan pak supir agar tak mengantuk.
Aku yang tak terbiasa naik bus sebenarnya merasakan mual di perut ku, tapi sebisa mungkin ku tahan. Apalagi ini belum ada seperempat perjalanan.
Sayangnya, aku justru semakin tak enak badan. Dengan sedikit terburu-buru aku masuk ke dalam toilet. Untung kok ya ada toilet! Dasar orang kampung aku ini, naik bus elit aja mabok genjer!
Setelah mengeluarkan isi perut ku, lek Dar memijat tengkuk ku dengan minyak angin. Sedikitpun lebih nyaman. Setelah itu, lek Dar pun istirahat dan tidur sambil memeluk lengan suaminya. Uuuh... romantis banget!
Aku memilih duduk di pijakan dekat pintu yang tak jauh dari kenek duduk.
"Kok duduk sini toh mba?", tanya pak kenek.
"Iya mas, pengen lurusin kaki!'', kataku. Padahal aku hanya ingin menghirup udara malam. Udara AC dan pewangi ruangan membuat perut ku tak nyaman.
"Ooh...masih jauh lho mba!", katanya lagi.
'' Iya, gampang nanti balik ke bangku lagi!", jawabku.
Setelah itu, supir dan kenek kembali mengobrol.
Aku memilih memainkan ponselku sambil menikmati angin malam dari celah jendela. Celah yang sangat kecil tapi cukup membuat ku nyaman.
Aku mengunggah foto kebersamaan ku dengan anak-anak warung sebelum kami berangkat dan juga video perjalanan menuju ke ibukota.
.
.
Para pejuang itu masuk ke bilik masing-masing, tak terkecuali para kowad. Mereka pun ke Mess yang sudah disediakan tak jauh dari markas.
"Uuuh...wes jam satu Feb!", ujar Seto sambil meletakkan ranselnya dan juga senjatanya.
"Iya, gue mau bebersih dulu terus sholat. Lo juga, jangan langsung tidur!"
"Ya ntar Febri, gue masih capek!"
Febri pun melenggang menuju ke kamar mandi. Sebagian ada yang langsung beristirahat, ada yang mandi seperti dirinya dan ada juga yang menghubungi keluarganya jika mereka semua sudah tiba di tanah air lagi.
Usai bebersih dan sholat isya, Febri melanjutkan sholat sunahnya. Toh sepanjang perjalanan mereka sudah tertidur.
Dilihatnya Seto yang sudah mendengkur. Benar-benar kelelahan bocah satu itu!
Febri menyalakan ponselnya. Mengubah ke mode kartu SIM +62 lagi.
Sudah hampir jam dua, biasanya di jam segini ibunya sudah bangun untuk solat malam.
Febri pun menghubungi ibunya lebih dulu.
[Assalamualaikum Bu?]
[Walaikumsalam, udah sampai kamu Le?]
[Alhamdulillah sudah Bu. Ibu habis solat malam kan? Febri ngga ganggu ibu kan?]
[Udah Le. Bapak juga malah udah tidur lagi]
[Oh...ya udah kalo gitu ibu istirahat saja. Yang penting Febri udah kabarin kalo Febri sudah sampai Jakarta]
[Oh, turun di Jakarta toh? Bisa ketemu Bia dong Le?]
[Bia di Jakarta Bu?]
[Iya, ngajak liburan anak buahnya. Ibu juga sebenarnya di ajak tapi males ah, mabok kalo naik bus]
[Ooh...gitu, ya udah Febri hubungi Bia saja Bu]
__ADS_1
[Iya, ya wis kamu istirahat saja. Telpon Bia besok saja, takut nya dia lagi tidur. Kan masih di jalan ke sana, masih di bus!]
[Iya bu. Febri tutup ya Bu, Assalamualaikum]
[Waalaikumsalam]
Febri pun mengutak-utik ponsel nya. Benar saja, sang pujaan hati aplot story wa dalam perjalan menuju ke ibu kota.
.
.
Sesuai prediksi, bus kami sampai ke ibukota menjelang tengah hari. Kami langsung menuju ke penginapan daerah Ci*****.
Sesampainya di sana, kami masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan. Tentu saja di Pisahkan antara kamar karyawan laki-laki dan perempuan. Yang spesial tentu saja aku, dan juga yang sudah berkeluarga.
Aku memilih kamar sendiri. Sesampainya di kamar, aku langsung bersih-bersih solat dhuhur dan langsung tidur. Badanku sudah tak bisa di ajak kompromi. Melihat kasur, bawahannya pengen rebahan.
Sekitar jam lima sore, kami sudah bersiap menuju lokasi pertama, Monas!
Kebetulan ini hari Sabtu, suasana Monas sangat ramai. Sayangnya aku tak bisa mengajak mereka ke puncak. Karena sudah di tutup sejak jam empat sore. Tapi sepertinya mereka tak kecewa. Ada air mancur bergoyang yang menjadi opsi kunjungan mereka.
Aku membagi masing-masing lima orang perkelompok. Kaya anak sekolah ya?
Huum! Biarpun mereka sudah dewasa, tapi aku yang sudah mengajak mereka ke sini. Jadi sudah sepantasnya aku bertanggung jawab atas mereka.
"Kalian jalan aja. Aku mau ke pasar itu dulu. Nanti jam delapan kumpul di sini lagi ya!", ujarku.
Ada tour guide juga yang di fasilitasi oleh travel dong....
Tapi...aku memilih untuk jalan sendiri karena ini sudah ke sekian kalinya aku menginjakkan kaki di sini.
Karena aku sendiri, aku memilih memakai masker ku. Tak lupa jaket Hoodie. Meski bawahanku gamis, tapi aku nyaman memakainya Hoodie seperti ini.
Aku memilih beberapa cendera mata yang cukup unik. Sambil berjalan-jalan saja sambil melihat-lihat dagangan orang hehehe.
Bruggg...
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
"Maaf!" ujarku pelan.
"Ngga apa-apa mba, saya juga salah. Ngga lihat-lihat!", kata cewek itu.
"Kenapa sayang?", tanya seseorang yang mendekat pada cewek itu.
Kok aku kaya kenal?
Lampu nya memang tak terlalu terang. Wajar jika aku tak jelas menatap wajah orang yang ku tabrak tadi.
"Ngga apa-apa mas."
"Bina? Mas Sakti??", tanyaku. Aku membuka masker ku.
"Bia???",pekik Bina. Ia langsung memeluk ku.
"Kok kamu di sini?", tanya nya.
"Apa kabar Bi?", sapa Sakti.
"Alhamdulillah baik, aku lagi liburan sama anak-anak warung. Hari ini jadwalnya ke sini, besok pagi baru ke **fan."
"Oh ya? Wah... asiknya! Mas, besok kita ke sana juga ya mas! ajak Adek juga! Pasti dia seneng banget ketemu sama mbak kesayangan nya!"
''Hahaha bisa aja kamu Bina."
Kami pun akhirnya jalan bertiga, hingga akhirnya kami harus berpisah karena aku sudah wanti-wanti jam delapan berkumpul di tempat tadi.
*****
Makanya yang udah setia baca sampai di sini! Yang nanya silvy gimana??? Oke! Mak kasih tahu! Dia ga meninggal!
Tapi nanti ya....belum saatnya! 🤭🤭🤭
Yang ngga sesuai harapan reader's, moon maap ✌️✌️✌️✌️ maapin maapin maapin mamak ya ,🙏🙏🙏🙏
Hatur nuhun 🙏🙏✌️✌️
__ADS_1