
Azan subuh sudah lewat beberapa menit yang lalu, aku dan mas Febri pun sempat istirahat sebentar ke masjid untuk melaksanakan dua rakaat ku. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.
Perlahan, matahari mulai bersinar. Mobil kami masuk ke sebuah kampung yang tak terlalu dekat dengan jalan protokol. Tapi jalan tersebut masih bisa di lalui mobil dua arah.
Mobil mas Febri berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan cat berwarna misti dan dark grey.
"Ayo turun!", ajak mas Febri. Aku pun turun dari mobil. Ia menurunkan barang-barang kami dari bagasi. Aku pun melakukan hal yang sama. Membantu barang bawaan kami yang sebenarnya tak terlalu banyak. Hanya ada beberapa tas yang berisi seragam mas Febri.
Mas Febri membawa ku menuju ke teras yang tak terlalu lebar. Hanya teras kecil yang di isi dengan dua buah bangku dan meja kecil.
Suamiku berjongkok, mengambil kunci di belakang salah satu bangku. Lalu ia membuka pintu ruang tamu.
"Assalamualaikum alaina waala ibadilahishalihin!", ucap kami serempak.
"Alhamdulillah, sudah sampai nduk!", kata Mas Febri menurunkan bahunya. Seperti nya ia sangat lelah.
"Iya mas. Alhamdulillah!", kataku.
Setelah itu, ia mengajakku duduk di sofa. Kami duduk bersebelahan.
"Maaf, kalo rumah kita kecil!", katanya.
"Nggak apa-apa lah mas. Gede juga buat apa, kita cuma berdua!"
"Eum, kapan mas nyiapin tempat ini? Kayanya baru dibersihin ya?"
"Iya, ada tetangga sini yang bersihin kemarin."
Aku mengangguk tipis sambil menatap ke sekeliling.
"Kamu istirahat dulu deh mas. Aku mau liat-liat dulu sebentar."
"Iya!", jawab mas Febri. Dia merebahkan diri di sofa. Aku masuk ke dalam ruangan demi ruangan. Benar, rumah ini memang tak besar. Hanya ada dua kamar di rumah ini.
Satu kamar yang cukup besar, sepertinya yang akan kami gunakan untuk kamar utama. Di depan kamar, ada dapur yang terhubung langsung dengan ruang makan. Sedang di belakang ada kamar mandi dengan sedikit ruang yang ada mesin cuci sekaligus tempat menjemur pakaian.
"Ada ya kontrakan yang mau menyediakan sampai segini detail?", gumam ku.
Aku pun langsung menuju ke dapur yang masih sangat bersih. Peralatan dapur pun sepertinya belum pernah digunakan. Aku menyalakan air di bak cuci piring, airnya juga jernih dan lancar. Setelah itu, aku menuju ke pintu dapur. Ternyata, hanya ada tembok keliling yang sepertinya membatasi antara rumah kami dengan tetangga belakang.
Sekecil apa pun, aku harus mensyukuri apa yang mas Febri berikan. Toh, dia sudah berusaha memberi yang terbaik untuk ku.
Setelah mengunci pintu dapur, aku menuju ke kamar mandi. Aku pun mencuci muka ku untuk menyegarkan kulit wajah yang pasti sangat kusam apalagi setelah perjalanan panjang.
Aku kembali ke ruang tamu, mas Febri tertidur pulas di sofa. Dengan pelan aku memindah tas-tas berisi pakaian ke dalam kamar.
Membersihkan kamar yang akan kami tempati. Lalu membereskan beberapa pakaian ke dalam lemari. Sedang untuk seragam mas Febri masih ku biar kan di luar karena nanti akan ku setrika. Aku belum hafal seragam mana yang akan dia pakai besok saat pertama masuk kerja.
Setelah berkutat dengan segala keriwehan di kamar, aku bersiap untuk mandi. Beruntung rumah ini sudah bersih tanpa drama nyapu ngepel segala.
Tapi sebelum aku mandi, aku melihat mas Febri lebih dulu. Di tambah lagi, pintu ruang tamu kami terbuka. Meski bukan jalan yang ramai, tapi alangkah tak etis nya jika ada yang melihat suamiku tertidur seperti itu.
Aku menguncinya lebih dulu. Suamiku benar-benar kelelahan rupanya. Sudah satu jam posisi tidur nya seperti itu.
"Kamu ngga capek posisi nya kaya gitu toh mas?", tanyaku sambil membenarkan posisi kakinya yang menggantung salah satu. Badan nya gede tinggi tidur di sofa sependek itu, wajar kalo ngga muat.
"Mas, pindah di kamar yuk? Aku udah beresin."
Mas Febri hanya melenguh sedikit lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Mas ...!", aku mengusap pipinya. Barulah dia berusaha membuka matanya.
__ADS_1
"Heum?"
"Pindah ke kamar. Capek posisi tidur nya kayak gitu. Aku udah beresin tadi. Udah bisa buat rebahan."
"Iya nduk!", kata nya sambil duduk. Mungkin mengumpulkan nyawanya. Dia menoleh padaku.
"Apa?", tanya ku heran.
"Mau mandi?"
Aku mengangguk.
"Iya, baru sempet kan. Habis mandi aku ke warung. Katanya nanti sore temen mu pada dateng."
"Ngga pesan aja nduk? Kamu kan juga capek."
"Kalo bisa sendiri ngga usah pesan lah mas. Lagian peralatan dapur nya juga lengkap. Apa salahnya masak kan?"
Febri merangkul bahuku.
"Kamu ngga capek?", tanya nya lagi.
"Ngga mas. Gampang nanti kalo capek ya tinggal istirahat, malem juga kan pada ke sininya? Berapa orang?"
"Eum, paling abis isya. Ga tahu, sekitar sepuluh atau lima belas orang kayanya."
"Eum, lumayan ya?"
"Makanya, ngga usah masak deh ya Nduk! Lagian peralatan makannya juga belom lengkap. Masih dikit! Udah di periksa belum!?"
"Iya sih mas. Aku ngga tahu kalo bakal segitu banyak yang dateng."
Febri memainkan rambut ku.
"Apa?"
"Kok bisa sih orang ngontrakin rumah sampe seisinya lengkap begini?"
Bukan menjawab justru Febri malah tersenyum. Jarinya masih bermain di rambut ku.
"Bisa lah."
"Baik bener ya mas yang ngontrakin. Aku mau bilang makasih, udah mau ngontrakin rumah ini sampai selengkap ini."
"Ya, kembali kasih!", celetuk Febri.
"Kamu yang mau mewakili nya mas?? Ada-ada aja!"
Mas Febri memelukku lebih erat sekarang.
"Maaf mas, aku bau acem. Tadi abis beres-beres kan? Keringetan nih!"
"Biarin!"
"Mas, aku mau mandi!"
"Ya udah mandi bareng aja!", kata Febri dengan entengnya.
"Nggak ah, malu lah!"
"Dih, ngapa malu? Naninu aja ngga malu, kenapa mandi bareng malu?"
__ADS_1
"Ya beda konsep mas!"
"Disamain lah, sekalian mandi sama ibadah juga!"
Aku mendengus kesal. Mencubit bibirnya yang sok imut.
"Gerah ah mas, aku mau mandi!"
"Iya... iya!", ia pun melepaskan pelukannya dari ku.
"Mas mau tanya dulu sebentar!"
"Apa ?"
"Kamu suka rumah ini?"
"Heum? Alhamdulillah suka."
"Kalo aku bilang ini... almarhumah Aisyah yang mendesain nya, kamu marah nggak?"
Aku terdiam.
Jadi, rumah ini memang bukan kontrakan? Ini memang rumahnya dengan Aisyah? Kok aku merasa sesek napas ya??
"Nduk!", katanya mengusap kepala ku.
"Jadi, rumah ini milikmu dan Aisyah?", tanyaku. Febri menggeleng.
"Ini rumah kita!", ia mengusap kepala ku dengan pelan, berniat mencium kening ku, aku bangkit dari sofa.
"Maaf mas, aku...mau mandi!", kataku sambil berusaha melangkah menuju ke kamar mandi belakang.
Tapi Febri keburu mendekapku.
"Jangan marah!", katanya.
"Nggak!", jawabku tenang. Tapi entah kenapa malah mataku berair, tak sampai menangis sih.
"Tapi, kami belum pernah tinggal di sini!", katanya.
"Mau kalian tinggal di sini pun, ngga apa-apa. Kan ini rumah kalian sebelumnya!", kataku sambil menatap ke arah lain.
Febri mengecup puncak kepalaku dari belakang. Dia masih memeluk ku begitu erat.
Perlahan aku melepaskan pelukannya.
"Aku mau mandi!", kataku sedikit memaksa Febri untuk melepas tangan nya dari pinggang ku.
"Nduk...!", dia hanya memanggil ku, itu yang ku dengar. Karena setelah itu, aku menyalakan kran air hingga tak mendengarkan suara dari luar.
Aku melepaskan pakaian ku satu persatu. Menyiram tubuh ku yang terasa lengket dan lelah.
Aku berdiri di depan bak. Yang aku pikirkan sekarang adalah....kenapa aku harus seemosional ini? Meski marah ku tak meledak-ledak tapi dadaku bergemuruh ingin berteriak.
Memang apa salahnya jika ini rumah mereka sebelumnya? Kenapa aku harus marah? Bukankah kami sama-sama tahu kalo kami punya masa lalu sebelumnya? Lalu apa yang membuat ku marah?
Apa aku masih pantas cemburu pada almarhumah Aisyah? Atau aku marah karena dia tak berbicara jujur padaku sebelumnya?
Dia tahu aku menginginkan segala sesuatu nya baru seperti hubungan kami yang juga baru di mulai!!!?
Huffft! Sabar Bia, sabar! Gitu aja mau marah! Inget, nanti malam teman-teman nya datang! Jangan mempermalukan suamimu!
__ADS_1
Aku berusaha menenangkan hatiku!