
Hari ini hari sibuk! Setelah ikut kegiatan di kantor mas Febri, aku ada jadwal rapat pertemuan pemegang saham di kantor HS grup yang kebetulan sebelahan dengan kantor dimana mas Febri dinas.
"Maaf, mas ngga bisa nemenin kalian masuk!", kata mas Febri.
"Kalian?", tanyaku. Dia mengangguk.
"Iya, ibu dan anak-anak ayah!", katanya sambil nyengir.
Aku hanya tersenyum mendengar ocehan nya yang sering kali membuat ku melting. Ya, meski dia memang tak romantis tapi cukup lah ya bikin hati adek meleleh.
Sekalinya romantis, eh... ujung-ujungnya absurb! Seringnya sih begitu.
Mas Febri mengusap perut ku yang ternyata sedikit membuncit meski belom terlalu kentara sih. Tapi seragam hijau ku cukup terasa sesak. Hahaha... percaya diri sekali saat itu aku membuatnya dengan ukuran ku yang kecil. Tapi ya... saat itu aku memang tak kepikiran jika akan hamil secepat ini. Mungkin akan ku agendakan untuk membuat seragam baru, di luar budget dari pemerintah tentunya.
"Udah, ayah tenang aja. Ibu sama anak-anak cuma mau rapat, bukan mau perang ke Palestina!", kataku.
Mas Febri memanyunkan bibirnya.
"Tapi nanti disana ketemu mantan suami. Ganteng lagi!", kata Mas Febri merajuk.
"Masa sih?", kataku mencolek pipinya.
"Iya, emang dia ganteng toh?"
"Ya kan emang laki mah ganteng mas, masa cantik!", kataku lagi.
"Jangan tergoda sama duda ganteng itu ya Bu!", katanya dengan nada mengancam.
"Eum...gimana ya? Kalo mendadak aku ngidam pengen di elus perutnya sama dia, gimana?", ledekku.
"Hah? Ngga! Nanti ayah omelin nih dua calon anak ayah. Kalo mau ngidam sama ayah aja. Jangan orang lain!"
"Hahaha iya mas iya. Aku bercanda. Udah ah sana balik ke kantor! Jangan makan gaji buta!"
"Kejam amat mbak yu....!", katanya mencubit pipi ku.
Aku meraih punggung tangannya untuk ku cium, bukan bersalaman. Tapi kami memang saling mencium punggung tangan kami masing-masing.
"Nanti mas jemput ya, kabarin aja kalo udah selesai rapat."
Aku mengangguk.
"Iya mas!"
Mas Febri pun meninggalkan ku di dekat loby. Ternyata dari tadi kami jadi pusat perhatian yang ada di sana. Aku tersenyum tak enak. Meski tak semua nya mengenal ku sebagai salah satu pemegang saham di HS grup apalagi mantan istri Alby, tetap saja seragamku menjadi salah satu perhatian mereka semua.
Aku pun dengan percaya diri menghampiri resepsionis.
"Siang mba!"
__ADS_1
"Siang, eh...nyonya Shabia? Silahkan langsung ke lantai dua puluh nyonya. Rapat sudah akan di mulai."
"Oh, iya terima kasih mba!", resepsionis memberi ku card tanda pengunjung.
Aku pun berjalan menuju lift umum. Tapi sayangnya, lift umum itu masih mengantri. Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku.
"Neng!", aku sedikit tersentak.
"Aa!", kataku spontan memanggilnya seperti itu. Sontak kami kembali jadi pusat perhatian.
Aku tahu itu Alby, meski dia mengenakan masker apalagi parfum nya.
Eh??? Ya Allah, kok masih aja mikir begitu. Lupain Bia! inget udah di ancem bojomu tadi!
"Kenapa antri di sini, sini sama kami!", kata Alby. Ternyata dia bersama seorang lelaki yang ya... lumayan ganteng juga sih! Dia sedikit memberikan senyuman nya padaku, sekedar menyapa.
Eh...! Tuh kan! Spontan aku mengusap perut ku.
Andai anak ku laki-laki semoga ganteng kaya mereka! Astaghfirullah! Ya jangan dong, ntar ga di akuin sama mas Febri lagi. Gak...doaku di ralat ya Allah. Udah, mirip Bapak nya aja juga ganteng. Pokoknya laki-laki terganteng cuma suamiku!
"Neng?", Alby mengibaskan tangannya di depan wajahku.
"Ah, iya!", kataku. Akhirnya aku bertiga berada dalam lift yang sama.
Tak ada obrolan apapun antara aku dan Alby. Kami...berusaha menjadi orang asing meskipun kami pernah menyatu sebelumnya.
Lift berhenti di lantai dua puluh. Kami bertiga pun masuk ke ruangan itu. Ternyata sudah ada para pemegang saham yang lain, yang sudah ada di sana.
Alby membuka rapat hari ini. Aku akui, dia pantas menjabat seperti ini. Wajahnya berkarisma, terlihat betapa ia berwibawa.
Tanpa sadar aku tersenyum miris. Mungkin benar kata orang, istri itu pembawa rejeki. Saat dia menjadi suamiku, dia hanya buruh pabrik yang beralih profesi jadi kuli bangunan yang sebenarnya kelewat cakep jadi kuli bangunan. Ingat ya kuli, bukan tukang. Meski aku tak pernah mempermasalahkan itu. Dia tetap memberikan nafkah dan kehidupan yang layak untuk ku.
Dan ya... menikah dengan Silvy, rejeki Alby berubah. Dia bisa seperti sekarang ini! Dari segi penampilan, kedudukan bahkan secara finansial dia pasti sangat terpenuhi.
Apa aku menyesal? Tidak! Aku bahkan sekarang jauh lebih bahagia bersama Febri. Meski aku sadar, sebagai istri abdi negara aku harus siap seandainya suatu hari nanti aku di tinggal tugas untuk waktu yang lama.
Aku mengikuti rapat itu dengan pikiran yang tak fokus. Benar kata mas Febri, dia takut aku bernostalgia dengan masa lalu ku bersama Alby 😄😄
Rapat itu berakhir, kami pun saling bersalaman satu sama lain. Tapi ... aku tidak. Aku cukup menakupkan kedua tanganku di dada. Meskipun aku belum sepenuhnya berhijrah, tapi kalau untuk menyalami mereka satu per satu aku tak bisa.
"Neng di jemput Febri teu?", tanya Alby padaku.
"Muhun A. Ngke urang telpon mas Febri heula!", jawabku.
(Iya A. Nanti aku telpon mas Febri dulu)
Azmi yang baru menyadari jika perempuan yang bersama atasannya itu mantan istrinya pun hanya sanggup membatin.
'Gareulis geuningan. Pantes we susah move on!', batin Azmi.
__ADS_1
Aku pun menghubungi mas Febri. Di panggilan pertama, dia langsung mengangkat.
[Assalamualaikum Nduk]
[Waalaikumsalam. Aku udah beres mas. Peyan wes pan muleh?]
(Kamu sudah mau pulang?]
Azmi yang tadi mengira mantan istri bos nya orang satu daerah dengan nya pun kini jadi bingung. Sebenarnya, dia orang mana sih? Tapi Azmi tak berani bertanya langsung.
[Mas wes Nang ngarep nduk!]
(Mas sudah di depan)
[Oh Yo wes nek ngono. Aku mrono dilut neh]
( Ya udah kalo gitu. Aku kesitu sebentar lagi)
[Yo. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
Aku pun undur diri dari ruangan tapi ternyata Alby mengikuti ku menuju ke lift. Bedanya, dia sudah tak bersama pria tadi.
"Neng!", dia memegang pergelangan tangan ku. Meski hanya ada kami berdua disana, aku tetap tak enak.
"Jangan kaya gini A. Tolong lepas!", kataku pelan.
"Kamu bahagia sama Febri?"
"Kenapa setiap kita bertemu Aa selalu bertanya seperti itu?"
"Aa cuma mau memastikan nya neng?"
''Buat apa?"
Alby tak menjawabnya, dia justru terdiam.
"Aku bahagia dengan kehidupan baruku. Kami akan segera... memiliki anak. Kami tidak akan menundanya jika memang sudah rejeki kami."
Bagai di hantam ribuan pukulan di dada Alby. Mungkin Bia tak berniat untuk menyindir nya karena dia pernah meminta mantan istrinya untuk menunda kehamilan sampai dua tahun. Tapi akhirnya justru dia memiliki anak dengan perempuan lain, dan anaknya bersama Bia justru meninggal.
"Aku...bisa turun sendiri. Gak perlu mengantarku A. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam"
****
Penyesalan selalu di belakang ya A Alby, karena sudah jelas kalo di depan arana mah pendaftaran ✌️✌️✌️
__ADS_1