Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 17


__ADS_3

"Sayang, kok sendiri sih? Silvy mana?", tanya Vega padaku Malvin yang baru sajikan menghampiri nya.


"Gagal Beib. Dia ga mau di ajak!"


"Kok gagal sih??? Terus rencananya kita gimana dong beib?"


"Ya...ya...kita pikirkan rencana lain lagi lah sayang. Silvy udah ngga sebodoh dulu, mungkin bergaul sama cowok yang di bilang calon suaminya itu kali."


Wajah Malvin berubah kesal.


"Kok muka kamu kesal gitu sayang? Jangan bilang kamu masih ada rasa sama Silvy? Iya?", tanya Vega.


"Wajar kalo gue masih ada rasa sama dia, dua tahun gue pacaran sama dia."


"Kok 'gue' lagi sih beib???", kata Vega dengan suara manjanya.


"Sorry...dari pada ngurusin Silvy mending kita main!", Malvin menaik turunkan alisnya.


Vega yang paham pun tersenyum sambil mengangguk.


"Di hotel mana beib?", tanya Vega pelan di samping telinga kekasihnya itu.


"Di rumah, ortu lagi ga di rumah."


"Okey!", sahut Vega girang. Keduanya pun menuju kediaman keluarga Malvin.


.


.


Silvy turun dari mobilnya, sedikit bergegas...tak sengaja ia hampir jatuh saat akan menaiki pijakan teras. Tapi dengan sigap Alby menangkap nya.


"Makasih A!", ucap Silvy.


Alby yang tulus berniat membantu nya pun hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum.


Tapi baru akan melangkah, Silvy memekik kesakitan.


"Awww...!", pekik Silvy.


"Kenapa non?", tanya Alby.


"Kayanya gue keseleo deh!", ucap Silvy. Sebenarnya dia tak sakit, hanya caper pada Alby.


"Pelan aja non ke kamar nya!", kata Alby menasehati.


"Anterin gue ke kamar dong?", kata Silvy manja. Alby yang sudah merasa ada 'sesuatu' pun jadi berpikir.


"Ya udah sebentar non, saya panggil Mang Sapto dulu. Biar bisa bantu saya bawa non ke dalam!" Alby hendak melangkah ke belakang.


"Ngga usah! Gue bisa sendiri!", sahut Silvy ketus meski tertatih seperti biasanya bukan karena keseleo.


Alby menghela nafasnya, di saat yang bersamaan mang Sapto pun keluar dari pintu belakang.


"Kenapa By?", tanya mang Sapto.


"Ngga apa-apa mang!", sahut Alby. Padahal Mang Sapto mendekati kejadian tadi.


"Ya udah, mau masuk dulu?", mang Sapto mempersilahkan. Alby bingung menimbang-nimbang kegiatan selanjutnya. Jadi, mau tak mau Alby menghubungi Tuan Hartama.


[Iya, halo! Kenapa?]


Tanpa salam , Hartama langsung menyahuti telpon dari Alby.


[Tuan, saya sudah mengantar Non Silvy, apa saya harus kembali ke kantor?]


Hartama melirik jam tangannya. Saat ini sudah jam satu lewat.

__ADS_1


[Tidak usah, kamu di rumah saja. Barangkali Silvy membutuhkan mu untuk bepergian!]


[Baik tuan]


Sambut itu langsung diputus sepihak oleh Hartama.


Alby menyusul mang Sapto ke dapur. Pria sebaya yang mungkin seumuran dengan bapaknya, sedang merapikan alat-alat yang digunakan untuk mengurus kebun dan taman pak Hartama.


"Mau ngerjain apa mang?", tanya Alby.


"Oh...ini. Mau bebersih aja sih di teras atas, yang dekat sama kamar nya non Silvy."


Alby hanya mengangguk, lalu setelah itu ia kembali ke kamar nya. Ia melihat teh Mila yang sedang menyetrika pakaian majikannya di dekat pintu kamarnya.


"Balik Jang?", tanya Alby.


"Ya Teh!", jawab Alby lalu masuk ke kamarnya. Tak berapa lama ia keluar lagi sudah memakai kaos oblong usai melepas kemejanya.


"Teh?", panggil Alby. Mila yang sedang menyetrika pun menengok ke arahnya.


"Naon Jang?", tanya Teh Mila.


Alby memijat pelipisnya. Terlihat betapa pusing nya kepala Alby dengan raut wajah seperti itu.


Tak mendengar jawaban dari Alby, Mila pun menghentikan aktivitasnya lalu menghancurkan Alby yang sedang duduk di bangku belakangnya.


"Kenapa?", tanya Mila pelan.


"Alby pusing teh! Apa...Alby resign aja ya teh?"


"Kamu kenapa By?", tanya mang Sapto yang sekarang sudah duduk di hadapannya.


Akhirnya Alby menceritakan semuanya kepada dua orang yang lebih dewasa darinya.


"Saya cuma takut, setelah saya menolak permohonan tuan , Mak saya benar-benar di tolak di semua rumah sakit. Saya sadar diri, saya orang susah. Pasti Tuan dengan mudah melakukannya teh...mang!", suara Alby terdengar putus asa. Mila yang sudah terlanjur tidak ingin 'mengiyakan' permintaan tuannya pun hanya memilih diam. Berbeda dengan mang Sapto.


Alby masih terpekur dengan pemikirannya sendiri. Apa yang di katakan mang sapto benar! Egois sekali jika ia mengorbankan perasaan isterinya demi pengobatan ibunya?


.


.


.


Deru mobil berhenti tepat sebelum azan magrib. Setelah mendengar panggilan dari yang kuasa, kami pun mendirikan tiga rakaat kami. Tapi kali ini, kami berdua memilih solat berjamaah.


Kami pun berzikir dan tilawah sambil menunggu azan isya. Setelah selesai solat isya, barulah aku menyiapkan makanan untuk kami berdua.


Makan malam kami berlalu tanpa obrolan hingga aku menyadari satu hal.


"Astaghfirullah!"


"Kunaon neng?", tanya Mak.


"Hehehe...punten Mak, lupa belum bungkus makanan buat komandan!", kataku pelan.


Mak menggeleng pelan tapi selanjutnya ia tersenyum tipis.


"Ya udah bungkusin ,nanti Mak yang anterin!", kata Mak. Aku sedikit terkejut mendengar ucapannya.


Mak yang anterin???


"Mak tahu , kamu merasa ngga nyaman kan malem-malem ke sana? Walaupun cuma samping rumah?", tanya Mak.


"Kok Mak tahu sih?", tanyaku pelan.


"Tahu lah, kaya Mak baru kenal neng aja!"

__ADS_1


Aku jadi menggaruk leher ku yang tak gatal sebenarnya.


"Udah siap Mak?", kataku.


"Sini, Mak yang bawa!", kata Mak.


"Tunggu Mak!", kataku menahan langkah Mak.


"Naon deui?", tanya Mak memicingkan matanya.


"Kalo Bia membiarkan Mak anterin sendiri ke sana, itu artinya Bia udah zolim sama Mak. Udah nyuruh-nyuruh Mak."


"Heheheh...neng...neng...zolim apa nya sih? Nya enteu neng! Kan Mak mau sendiri, engga di suruh."


"Tapi tetep aja Mak, ada Bia yang muda yang lebih sehat masa nyuruh Mak yang anterin. Mana gelap lagi. Udah, gini aja! gimana kalo kita berdua yang anterin?"


Mak menggeleng pelan.


"Ya udah ayok...!", ajak Mak. Aku pun mengangguk lalu menuruti ucapannya.


Rumah mas Febri hanya beberapa meter jaraknya. Bisa di hitung pake langkah kaki malahan.


Tok...tok...


Aku mengetuk pintu rumah mas Febri.


"Assalamualaikum!", sapa kami berdua. Terdengar sahutan dari dalam meski samar.


"Walaikumsalam. Eh...nduk!", sapa Febri. kok cuma aku yang di sapa???


"Eh...Mak Titin?", tanya Febri sedikit kikuk. Dia pikir aku datang sendiri kali ya.


"Ganggu ya Ndan?", tanya Mak.


"Jangan Ndan dong Mak, Febri saja!", katanya sambil tersenyum.


"Hehehe iya Jang, sok poho Mak teh!" sahut Mak. Febri hanya senyum tipis.


"Poho itu artinya lupa!", aku menegaskan ucapan Mak. Barulah Febri mengangguk.


"Oh...kirain opo nduk! Eh....enek opo kok bengi-bengi do Rene?", tanya Febri padaku.


(Ada apa kok malam-malam pada ke sini)


"Iki mas, anterin lauk buat makan malam."


"Oh ..kirain mulai besok Nduk?"


"Hah? Moso sih?"


Febri yang melihat ekspresi lucu mantan kekasih bingung itu pun tak tahan untuk tidak tertawa.


"Maaf...maaf!", Febri menghentikan tawanya. Mak yang awalnya hanya memperhatikan kami akhirnya buka suara.


"Lamun tos beres, geura balik neng. Mak tunduh!" ucap Mak.


(Kalo sudah beres, cepetan balik. Mak ngantuk)


"Oh... iya Mak. Sekali lagi terima kasih!", kata Febri tulus. Aku pun merangkul bahu Mak.


"Nduk, enteni sedilu!" pinta Febri padaku.


"Apa?", tanyaku datar.


"Bagi nomor wa, biar mas gampang hubungi kamu."


Aku meminta persetujuan Mak, Mak pun mengangguk. Setelah itu aku dan mas Febri bertukar nomor wa. Dan akhirnya...kami berdua pun pulang.

__ADS_1


__ADS_2