
Aku kembali ke ruangan Mas Febri. Ternyata...dia sedang sibuk dengan para rekannya. Aku memilih untuk duduk di luar saja.
Ku pikir, dia kerjaannya santai. Ga tahunya bisa sibuk juga heheh....
Karena bete, aku pun berjalan-jalan ke sekitar taman yang teduh, pinggir lapangan apel maksudnya.
Saat aku sedang mengamati beberapa bunga, aku seperti mendengar suara seseorang yang ku kenal. Ya, itu suara Alby. Tapi mau apa dia di sini?
Atau Alby yang di maksud Amara tadi Alby ini juga? Oh...iya. Aku lupa! Bahkan waktu itu Alby mengajak Amara pulang dari rumah ku!
Aku menepuk kepala ku sendiri.
"Kok ya lupa!", gumamku. Tapi justru setelah itu ada yang menepuk bahuku.
Pukkk!
"Astaghfirullahaladzim!", kataku terjengkit. Aku menoleh, ku lihat wajah Amara yang tersenyum kikuk.
"Maaf ngagetin ya? Ngapain di sini?"
''Heuh? Ngadem aja. Di ruangan mas Febri lagi banyak yang ngumpulin apa gitu!", jawabku dan aku juga melirik kertas yang Amara pegang.
"Oh iya, kami akan mengumpulkan formulir."
Aku mengangguk saja. Toh aku kan orang awam, tak tahu apapun tentang pekerjaan mereka.
"Eum, di depan ada Alby. Nyariin kamu Ra! Apa kalian???", kata ku menggantung pertanyaan.
"Gak. Kami ngga ada hubungan apa-apa!", jawab Amara acuh. Tapi justru mimik wajah nya menunjukkan ada kekecewaan di dalamnya.
"Apa dia menyakiti mu?"
Amara tersenyum tipis.
"Kami tak ada hubungan apapun, bagaimana ada istilah saling menyakiti di antara kami? Kamu lucu!", kata Amara lagi.
"Ngga usah bohongi diri kamu sendiri. Kalo kamu butuh teman bicara, aku mau kok dengerin! Siapa tahu aku bisa bantu!", tawar ku. Amara menatap ku begitu intens.
"Kamu baik ya Bi. Pantas jika mereka sangat mencintai mu! Kamu gampang sekali akrab dengan orang baru! Kamu orang yang menyenangkan!",puji Amara padaku.
"Ish...ngomong apa sih? Aku lagi bahas kamu, kenapa malah memujiku yang melebar ke mana-mana. Allah masih mau menutupi aib ku, kamu ngga tahu jelek nya aku kaya gimana. Maknanya kamu bisa ngomong kaya begitu."
__ADS_1
"Tapi kenyataannya begitu kan? Buktinya Febri setia nunggu kamu selama ini, dan Alby masih gagal move on dari kamu!", kata Amara dengan nada sendunya.
"Apa ini karena Alby? Dia bilang masih cinta sama aku? Terus... nyakitin kamu? Begitu?"
Amara menggeleng.
"Ngga kok. Bukan apa-apa!"
"Kamu suka sama Alby?", cerca ku. Dia menoleh.
"Kenapa kamu bisa bertanya begitu?",tanyanya balik.
"Kenapa ya?", aku mengetuk-ngetuk daguku dengan telunjuk.
"Bia....!"
"Amara, kalo memang kalian ada masalah kenapa tidak ngobrol aja. Jangan malah saling menghindar begitu!"
"Kamu lagi jadi tutor ku karena udah jadi alumni nya Alby?", tanyanya.
Aku terkekeh pelan.
"Bisa jadi. Tapi tenang aja. Aku benar-benar sudah move on kok dari Alby!", aku menepuk bahu Amara.
"Boleh gue cerita?", tanyanya.
"Baiklah! Aku dengarkan!"
Amara menceritakan semuanya dari awal sampai akhir serta ide yang Azmi katakan. Dan selesai curhat, aku hanya mendengar ******* nya.
"Bisa duduk di sana aja kan? Kayanya kamu pegel Bi!"
Aku pun mengangguk lalu duduk di bangku kecil. Yang tertutup oleh rimbunan tanaman perdu yang sengaja di rawat. Lha???
"Aku malu, Bi! Mungkin urat malu ku udah putus!", kata Amara.
"Memang kenapa?"
"Ya...Alby kan tanya, apa aku suka sama dia? Ga salah dong kalo aku jawab apa adanya. Tapi ya gitu lah! Aku sudah biasa di tolak jadi ga kaget. Kaya lagu siapa itu, terlatih patah hati!"
"Ga gitu juga kali."
__ADS_1
"Ya gimana ga? Seolah-olah aku yang mengungkapkan perasaan ku, meski awalnya dia cuma tanya. Andai dia ga tanya kaya gitu, mungkin perasaan ini aku pendam aja."
"Lho, kok gitu? Ngga enak kali memendam perasaan. Aku sudah khatam kok rasanya sakit hati, jadi ya...gini lah."
"Heum. Aku ngga tahu masa lalu mu dengan Alby, Bi. Tapi ya sudah lah. Toh aku bisa apa? Dia masih belum bisa lupain kamu. Dunia sudah terbalik, aku sebagai cewek ga tahu malu ngejar cowok mulu. Dulu suami mu, sekarang mantan suami mu!",Amara menepuk dahinya sendiri.
"Kalo kamu mau tahu ya, dulu... Baginda Rasulullah Muhammad Saw juga di lamar sama ibunda Siti Khadijah lho! Jadi jangan berpikir bahwa dunia sudah terbolak balik. Dari dulu juga ada kaya begitu kok. Buktinya... Baginda Rasulullah menikah dengan bunda Siti Khadijah bahagia bahkan punya putra putri juga. Jadi...ya...."
"Aku nonis, tapi aku juga pernah mendengar soal itu!", kata Amara.
Oh, ya Allah! Ini mulut lemes sekali? Main cerita aja sih!
"Maaf Mara aku pikir....!"
"Ngga apa-apa Bi. Lagian aku juga sudah lama tertarik kok sama keyakinan kalian itu. Bahkan jauh sebelum aku kenal Alby!"
"Oh, gitu! Ya udah, aku cuma mau bilang! Selesaikan dulu. Jangan buru-buru pergi, apalagi memutuskan sesuatu saat sedang emosi. Dari pada nantinya menyesal sendiri??? Ya kan?"
Amara tak menjawab.
"Eh, udah mau jam sebelas. Aku ada jadwal check kandungan nih. Aku balik ke mas Febri dulu ya!"
Amara mengangguk.
Hufttt....berasa jadi orang bijak gue! Kataku dalam hati. Setelah mengintip ruangan Mas Febri sepi, aku pun masuk.
"Sayang? Kamu ke mana aja?"
"Di depan mas. Tadi rame banget!"
"Iya sih! Tadi juga...Alby sempat ke sini?!"
"Oh, ngapain?", tanyaku pura-pura. Padahal aku mah tahu, Alby pasti mau cari Amara.
"Tahu tuh nyariin Amara. Pas di samperin ke ruangan nya, Mara nya ngga ada."
"Ohhh...!", hanya itu sahutan ku. Aku memilih tak bercerita tentang curhatan Amara pada Febri.
"Berangkat sekarang kan?", tanya Febri. Aku pun mengangguk lalu kami pun berangkat ke rumah sakit.
*****
__ADS_1
Lanjut nanti lagi ya makasih,🙏🙏✌️✌️