Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 8


__ADS_3

Mobil yang Albu kendarai masuk ke dalam garasi, setelah itu ada mobil tuan Hartama menyusul di belakangnya. Silvy pun turun dari mobilnya.


"Papa...!", sapa Silvy riang.


"Sayang, kamu sudah pulang? Katanya mau ke toko buku?", tanya Hartama sambil berjalan beriringan menuju rumah nya. Alby pun masuk ke rumah majikannya, hanya saja lewat pintu belakang.


"Males lah pa!", sahut Silvy. Kini keduanya duduk di ruang tengah.


"Capek ya?", tanya Hartama.


"Huum. Lumayan!", jawab Silvy.


"Papa masih usahakan kok mencari dokter yang bisa sembuhin kaki kamu!", kata Hartama mengelus rambut putri tunggalnya .


"Iya pa, makasih!", sahut Silvy riang.


"Roman-romannya ada yang lagi bahagia nih?", tanya Hartama. Belum juga Silvy menjawab, teh Mila datang membawakan minuman untuk kedua majikannya.


"Silahkan tuan, non!", kata teh Mila. Keduanya hanya mengangguk pelan.


"Bisa di bilang iya, bisa juga ngga!", kata Silvy.


"Kok gitu?"


"Tadi Malvin dan Vega ledekin Silvy pa. Mana ngatain cowok ngga bakal ada yang mau sama cewek cacat kaya aku."


Hartama menghembuskan nafas kasar.


"Tapi...untung ada Alby pa."


"Alby kenapa?", tanya Hartama.


"Di depan Malvin dan yang lain, aku minta Alby berperan jadi calon suami ku pa. Ngga malu-maluin kok penampilan nya. Aku bilang aja di staf di kantor papa."


Hartama tersenyum tipis. Tapi tidak dengan teh Mila yang tak sengaja mendengar obrolan bapak dan anak itu.


"Kamu suka sama Alby?"


"Hahaha...papa pikir??? Oke lah Alby ganteng, ganteng banget malah. Tapi...dia kan cuma supir pa!", sanggah Silvy.


"Kalo dia bukan supir?", tanya Hartama lebih intens.


"Bukan supir pun, dia itu suami orang pa."


"Oooh... karena dia suami orang, jadi kamu nahan diri ngga naksir sama dia?", ledek Hartama.


"Apaan sih papa. Ngga lucu deh! Udah ah, aku mau ke kamar aja. Dah papa!", Silvy pun beranjak ke kamar nya di lantai dua.


Hartama mengulas senyum smirk.


Apa pun yang kamu ingin kan akan papa penuhi sayang, termasuk lelaki yang kamu sukai. Terlepas dia milik orang lain atau bukan, papa pastikan dia akan menjadi milikmu. Batin Hartama.


.


.


.


Mila menghampiri Alby yang sedang ngopi di taman dapur.


"Jang!", panggil teh Mila.


"Naon teh?", tanya Alby balik. Saat ini ia sudah memakai kaos oblong, tidak lagi memakai kemeja pemberian bos nya.


"Maneh tos baraha tahun nikah jeng pamajikan?"


(Kamu sudah berapa tahun nikah sama istrimu?)


"Aya dua arek tilu tahun mereun teh. Kunaon teh?", tanya Alby meletakkan cangkir nya di meja lagi.


"Can bogah budak?", tanya Mila lagi.

__ADS_1


"Di tunda teh, KB alami. Tapi kalo emang rejeki di kasih mah alhamdulilah. Tapi karunya pamajikan Mun hamil ayeuna, sibuk ngurusin Mak saya yang sakit."


"Owh...gitu!", ujar Mila.


Apa harus gitu aku ceritakan soal non Silvy tadi?


"Kenapa memangnya teh?"


Belum sempat Mila menjawab, ponsel Alby bergetar. Dia tersenyum melihat siapa yang menghubungi nya. Mila pun nampak heran.


[Assalamualaikum, Bia nya aa]


Alby menyapa ku.


[Walaikumsalam, lagi sibuk ngga A?]


[ngga sayang, lagi ngopi. Nih ditemenin teh Mila]


A Alby menyodorkan ponselnya ke arah teh Mila. Kulihat seorang perempuan gemuk tersenyum kepadaku.


[Teh....]


Aku menyapa teh Mila.


[Eh...iya neng. Aishhh....si njang, meuni gareulis pisan pamajikan maneh teh. Pantas wae kos barudak ABG kasmaran , ternyata dapat telpon ti pamajikan]


(Eh, iya neng. Aishhh...si njang istri mu cantik banget. Pantas aja kaya anak abg kasmaran ternyata dapat telpon dari istrinya)


[Hehehe teteh,jangan berlebihan gitu mujinya. Ntar saya terbang di puji kaya gitu. Siapa yang mau nangkep coba, Aa nya di situ]


[Hahaha nyatanya kamu emang cantik kok sayang...]


Alby kembali memujiku.


Teh Mila meninggalkan sepasang suami istri yang sedang saling merindukan itu.


[Mak ke mana?]


[Lagi ke musholla,tadi di samperin sama teman-teman ngajinya. Mau di larang takut Mak kecapekan, tapi ngga enak. Mau ikut ke mushola tadi udah ketinggalan rombongan]


[Iya A]


[Oh iya neng, masih punya peranan buat belanja ngga?]


[Alhamdulillah masih A. Yang penting udah bayar listrik sama persediaan buat beli obat Mak besok ke apotek]


[Syukur atuh. Insyaallah Aa besok mau transfer neng. Ada rejeki]


[Aa baru kerja kemarin A, mending simpan sama Aa dulu. Buat keperluan Aa di situ]


[Kebutuhan Aa di sini udah di penuhin kok neng tenang aja]


[Oh...ya sudah kalo begitu. makasih sebelumnya]


[Ya sayang]


[Oh iya A, besok aku di minta bantuin masak di rumah teh Salamah. Mau pengajian setahun meninggalnya bapaknya teh Salamah]


[Oh...ya udah ngga apa-apa. Yang penting Mak di perhatian ya neng]


[Ya iya lah sayang, sebelum aku ke rumah teh Salamah yang pasti urusan Mak udah beres heheheh]


[Hehehe iya....]


Obrolan masih berlangsung sampai Silvy mendengar obrolan sepasang suami istri itu.


Silvy yang tak sengaja mendengar obrolan Alby dan istri nya pun merasa iri.


Prang!!!


Silvy menjatuhkan gelas di tangannya. Alby yang sedang asik bercengkrama dengan istri nya pun memutuskan panggilan video callnya lalu menghampiri Silvy yang berada di dapur.

__ADS_1


"Non, non Silvy ngga apa-apa?" tanya Alby.


"Ngga!", sahut Silvy ketus, dia berlalu dari dapur.


"Kenapa non Silvy marah kaya gitu ya teh", tanya Alby pada teh Mila. Tapi Mila hanya mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya pun tak tahu.


Teh Mila membersihkan pecahan beling bekas gelas Silvy.


Mila yang memperhatikan anak majikannya kesal seperti itu pun paham.


Masa iya non Silvy marah gara-gara mendengar Alby video call dengan istri nya?


Batin Mila.


.


.


"Kenapa sayang?", tanya Hartama.


"Ngga pa!", sahut Silvy singkat.


"Kamu cemburu mendengar Alby menghubungi istrinya?"


"Apaan sih pa. Ya ngga lah!", sahut Silvy ketus.


"Yang bener?", tanya Hartama lagi. Lalu ia merangkul bahu putrinya.


"Apa pun akan papa lakukan untuk kebahagiaan putri kesayangan papa!", kata Hartama tersenyum penuh arti.


Silvy menatap mata papanya. Tapi setelah itu, ia pun membalas senyuman papanya. Dia paham apa yang papa nya maksud.


"Makasih pa!", Silvy memeluk papanya.


"Sama-sama sayang, pokoknya kebahagian kamu itu mutlak buat papa."


"Apa pun itu pa?", tanya Silvy manja.


"Sure! Alby, akan menjadi milikmu!"


Silvy menyunggingkan senyumnya.


"Tapi ...memangnya Alby mau?", tanya Silvy.


"Kalo dia ngga mau, ya papa paksa sampai mau lah sayang!"


"Tapi...dia sudah beristri!"


"Istri nya kan cuma jadi perawat Mak nya yang sakit, biarkan saja. Yang penting Alby bersama mu di sini."


"Tapi pa...gimana caranya???", tanya Silvy manja.


"Pelan-pelan sayang, jangan biru gitu. Udah, kamu percaya saja sama papa."


"Ahhh...papa, Silvy makin sayang sama papa!"


"Tentu sayang, kebahagiaan mu adakah segala-galanya buat papa!", Hartama mencium kening putrinya.


Astaghfirullah! Teh Mila yang tak sengaja mendengar obrolan sepasang bapak Dan anak itu hanya mampu beristighfar.


"Kamu ngapain disitu Mila?", bentak Hartama.


"Ah...ngga tuan!", sahut Mila gugup. Lalu Hartama mendekati Mila.


"Kamu nguping pembicaraan kami?", tanya Hartama pelan tapi mematikan.


"Ngga...ngga kok tuan!", sahut Mila gagap.


"Yakin? Awas aja kalo rencana saya bocor, itu pasti karena kamu. Dan saya akan pastikan, saya akan memecat kamu. Setelah itu, tidak akan ada lagi yang mempekerjakan mu di mana pun. Camkan itu?!", ancam Hartama.


"I...iya tuan!", sahut Mila takut.

__ADS_1


"Udah sana!", usir Hartama. Mila pun kembali ke kamar nya di belakang. Tanpa sengaja Mila melewati kamar Alby. Di lihatnya Alby yang sedang tadarus di dekat pintu kamarnya.


Aku harus gimana? Batin Mila.


__ADS_2