
"Kamu lagi?"yang
"Heheh mungkin ini yang dinamakan jodoh itu ga kemana!", kata William sambil nyengir sok imut.
Aku hanya menggeleng pelan. Gak habis pikir kenapa harus bertemu dia lagi. Untuk menghindari ocehan tak penting darinya, aku memilih memasang headset saja.
Waktu yang harus ku tempuh untuk sampai ke kota Surabaya sekitar tiga jam. Setelah itu aku harus langsung ke bandara. Untung aku sudah memesan tadi saat masih di mobil. Jadi setelah sampe stasiun Surabaya, aku langsing menuju bandara.
William mengamati perempuan yang ada di sampingnya. Terlihat sekali bahwa Bia sama sekali tak menyukai kehadirannya. Wajah Bia tertutup masker, lalu matanya terpejam.
Huffft....kenapa sih ketemunya dia udah ada yang punya? Batin William.
.
.
Akhirnya aku sudah berada di pesawat, bocah tengil itu tak lagi bersama ku. Mungkin dia melanjutkan dengan tiket kereta api tujuan Jakarta. Sekitar satu setengah jam aku berada di pesawat.
Sekeluarnya dari bandara, aku memilih untuk langsung menuju ke rumah sakit. Tapi aku tidak langsung ke ruangan Alby, melainkan ke musholla.
.
.
Jam delapan malam, aku berdiri di depan pintu ruangan Alby di rawat. Sakti sudah memberi tahu di mana Alby di rawat. Kenapa ngga dari tadi aku masuk ke dalam ruangan Alby? Sebenarnya tadi aku ingin ke sana sebelum petang. Tapi ternyata ada Silvy dan Mak di sana, di temani teh Mila.
Jujur, aku kangen sama Mak. Kangen bercandanya. Tapi apa lah dayaku, semua sudah berubah. Silvy lebih berhak untuk mendapatkan kasih sayang Mak.
Aku duduk di lorong yang berbeda. Tapi ketika nanti Silvy keluar, aku bisa melihatnya. Dan aku bisa kang ke kamarnya. Kok kesannya aku yang kaya selingkuhan takut kepergok istri sah ya...???
Ketiga perempuan itu keluar, melewati lorong yang aku duduki. Setelah memastikan mereka benar-benar pergi, aku pun menuju kamar Alby.
Ceklek....
Aku membuka pintu kamar Alby. Ku lihat wajah pucat Alby memejamkan matanya. Ada rasa nyeri melihat kekasih hatiku seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi sampai dia mengalami hal ini. Kenapa Alby ditinggal sendirian?
Ku hampiri brankar alby. Tak terasa air mataku menetes melihat keadaannya sekarang. Ingin ku tanya apa yang sedang ia rasakan. Sesakit apa ? Kuusap perut ku yang sudah mulai menunjukan pesonanya. Jika tak salah hitung, saat ini hampir mendekati dua belas Minggu.
Nak, ayahmu sakit! Kamu doakan ayah cepat sehat ya sayang! Aku masih mengusap perut ku. Ku genggam tangan Alby yang tidak terkena infus. Tangannya dingin. Ku kecup punggung tangannya. Saat di perjalanan tadi, aku merasa tak terlalu mengkhawatirkan nya. Tapi setelah melihat ia terbaring lemah hingga bibirnya pucat seperti itu, hatiku langsung iba. Seolah rasa benci, marah dan semua hal yang buruk tentangnya mendadak pudar. Rasa cinta ku padanya justru semakin besar.
"A, maaf!", kataku lirih. Tiba-tiba, pintu terbuka. Aku yang terkejut langsung memalingkan wajah ku. Seorang pria berdiri di belakang ku. Mata kami saling beradu.
"Bia!", ucap pria itu. Aku pun segera bangkit dari bangku yang tadi ku duduki. Kuusap air mataku.
__ADS_1
"Maaf, saya lancang masuk ke kamar ini tanpa ijin!", kataku. Pria itu mendekati ku. Ya, siapa lagi jika bukan tuan Hartama.
"Kenapa harus ijin? Toh dia masih sah suami mu!"
Aku mengernyitkan alisku. Apa pria ini sudah berubah? Tapi sepertinya tidak mungkin! Pria arogan sepertinya tidak mungkin semudah ini menjadi baik.
"Maaf!", kata Hartama. Lagi-lagi aku tertegun mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya.
"Kalau begitu saya permisi!", ujarku. Tapi dia menghalangi ku.
"Tidak usah! Kamu saja yang menjaga Alby. Sepertinya dia lebih membutuhkan mu dibandingkan dengan siapa pun!"
"Benarkah? bukankah Anda yang akan menjaga Alby?", tanyaku.
"Tadi nya iya, tapi melihat kamu ada di sini. Lebih baik saya yang keluar."
Aku mematung di tempat ku. Apa seorang Hartama kesurupan jin baik?
"Tidak apa saya keluar, lagi pula saya sudah melihat keadaan Alby."
"Alby kehilangan banyak darah. Operasi nya memang berhasil. Tapi luka tusukannya cukup dalam, melukai dinding lambung."
Aku hampir tak percaya saat tahu kenapa Alby bisa terbaring seperti ini.
"Tertusuk?", tanyaku membeo. Hartama yang biasa arogan dan sombong kali ini nampak berbeda.
Flashback
Pisau itu menancap tepat di perut Alby. Darah segar keluar dari sana.
"Aaah ....hubby!", pekik Silvy. Teriakan Silvy mengundang atensi Hartama yang berada di tangga. Dia kebetulan memang ingin memanggil Alby.
Hartama sedikit berlari menghampiri kamar putrinya. Pintu tidak terkunci, Hartama dengan mudahnya memasuki kamar Silvy.
"Astaga! Alby!", pekik Hartama menghampiri Alby yang memucat. Darah itu masih keluar dari perut Alby.
"Sapto...Sapto!!!", panggil Hartama.
Beberapa menit kemudian Sapto berhasil sampai di kamar Silvy.
"Astaghfirullah! Alby!", pekik sapto. Keduanya memapah tubuh tinggi Alby yang sudah lemas. Postur tubuh Alby yang tinggi membuat kedua orang tua yang sudah mulai berumur itu kepayahan.
Titin histeris melihat keadaan Alby. Ia menghampiri anaknya yang sudah terluka parah.
__ADS_1
Mila yang tak melihat keberadaan nonanya langsung berlari ke atas. Dia terkejut melihat Silvy yang termangu menatap tangan yang berlumuran darah.
"Astaghfirullah,non!",Mila mendekap tubuh nonanya yang membeku di tempat.
"Non, istighfar non!", kata Mila.
"Bik, aku udah celakain Alby bik!", kata Silvy dengan suara bergetar.
"Duduk dulu non!",Mila mengajak Silvy duduk di ranjangnya. Lalu dengan cekatan, Mila memberikan air putih pada Silvy.
"Minum dulu non, biar tenang!", Mila meminumkannya pada Silvy karena dari tadi Silvy hanya bengong.
Setelah minum, barulah Silvy bersuara.
"Silvy ngga sengaja bik!", kata Silvy tergugu. Detik berikutnya, Titin masuk ke dalam kamar.
"Ada apa Vy? Kenapa bisa terjadi begini?", tanya Titin sambil mengusap air matanya. Hartama melarang Titin ikut ke rumah sakit sekarang. Dia diminta untuk menemani Silvy di rumah.
"Ini, salah Silvy. Alby mau ninggalin aku. Aku ngga mau. Makanya aku mau mencoba bunuh diri. Tapi Alby malah mau merebut pisaunya dari aku. Tapi...malah pisau itu nusuk ke Alby hiks...hiks...!"
"Astaghfirullah!", ucap Mila dan Titin bersamaan.
" Kita susul Alby kerumah sakit. Kamu bebersih saja dulu!", pinta Titin pada Silvy. Silvy pun mengangguk mengiyakan.
Titin tidak berani menyalahkan, mentang-mentang anak sendiri di belain. Bukan seperti itu. Tapi yang terjadi benar-benar tanpa kesengajaan.
Setelah memperoleh informasi dari Hartama, ketiga perempuan itu pun menuju rumah sakit.
Flashback off
"Jadi, Silvy yang melakukannya?", tanyaku.
Hartama mengangguk. Aku tahu harus bicara apa lagi, kenyataannya Silvy tidak sengaja menusuk Alby. Alby hanya berusaha agar Silvy tidak melakukan hal bodoh seperti itu yang membahayakan dirinya dan juga calon anaknya yang tidak bersalah.
"Saya akan menjaga Alby, Tuan!", kataku.
"Jangan panggil saya Tuan, Bi!", kata Hartama.
Aku tersenyum sinis. Sekarang dia bisa berbicara selembut ini. Dia tak ingat saat berbicara dengan pongahnya saat itu padaku.
Aku tak menanggapinya lagi, aku langsung duduk di samping Alby lagi.
***
__ADS_1
Maapkeun telat apdet. Si bungsu lagi gak enak body dari semalam. Harap maklum 🙏🙏🙏🙏.
Terimakasih yang sudah berkenan mampir dan nunggu apdetan mamak selanjutnya. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏