Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 28


__ADS_3

"Bibik!", panggil Silvy pada teh Mila. Suaranya menggema memenuhi rumah megah ini.


"Iya non!", sahut Mila sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.


"Kok sepi? Papa udah berangkat?"


"Tuan dan suami saya sedang ke kota G, Non."


"Kota G? Ngapain?", tanya Silvy yang sekarang memilih duduk.


"Kurang tahu non."


"Ya udah lah. Aku mau sandwich, cepetan!"


"Baik non!", Mila pun bergegas menyiapkan makanan untuk majikannya itu.


Ngapain sih papa ke kota G?


Silvy menekan nama papa nya di benda pipih berlogo apel di gigit.


[Hallo pa, papa di mana?]


[Lagi jalan pulang ke kota kok sayang]


[Memangnya dari mana? Bibi bilang, papa dari kota G. Ngapain?]


[Ngurusin sesuatu hal penting sayang. Untuk kamu, princess papa.]


[Kota G? Itu kota nya A Alby?]


Ada tawa di wajah Silvy saat menyebut nama itu.


[Heum. Iya sayang. Dan...papa rasa, waktu dua hari cukup untuk menyiapkan acara pernikahan kalian.]


[Menikah? Tunggu pa? Secepat ini?]


[Tentu saya nak. Bukankah kamu menginginkan nya?]


[Ya dong pa. Lebih cepat lebih baik. Tapi... bagaimana dengan istri A Alby? Dia mau tanda tangan?"


[Semua beres kok sayang.]


[Papa memang the best deh, love you papa]


[Love you more baby]


Papa dan anak itu mengakhiri sambungan teleponnya.


Pria berjas hitam yang masih tampak gagah di usia tuanya, menatap deretan hamparan sawah di kota G tersebut.


"Sapto!", panggil Hartama.


"Ya ,tuan."


"Sepertinya kamu itu bersimpati sekali dengan Alby. Dia bukan siapa-siapa mu, bahkan kalian baru saling mengenal!"

__ADS_1


"Maaf tuan jika saya lancang."


Sapto masih fokus mengendarai mobil yang di tumpangi majikannya itu. Meski hanya tukang kebun, Sapto memang sesekali di minta menjadi supir oleh Hartama. Sapto sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun pada majikannya itu hingga memperistri Mila.


"Katakan!"


"Sepertinya...kali ini, apa yang anda lakukan salah tuan. Saya tahu, anda memikirkan kebahagiaan non Silvy. Tapi... untuk memenuhi keinginan putri anda, kenapa harus mengorbankan perasaan orang lain?"


Hartama terkekeh.


"Tahu apa kamu soal berkorban?", tanya Hartama.


"Maaf tuan. Non Silvy masih muda harusnya ia bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Alby. Selain mapan, juga derajat yang setara."


"Kamu tahu kalau aku paling tidak suka membicarakan kesetaraan bukan? Aku memang suka mengatakan kamu bekerja untuk ku, tapi apa pernah aku merendahkan mu?"


Sapto menghela nafas.


"Coba bayangkan tuan, andai saja posisi non Silvy ada di posisi Neng Bia sekarang. Apa anda tega?"


"Hehehe bukti nya, saat ini Silvy di posisi yang kedua kan? Aku bisa saja kejam, membuat mereka berdua pisah sampai putri ku menjadi satu-satunya Nyonya Alby. Tapi...aku masih berbaik hati memberikan kesempatan untuk nya berbagi bukan?"


"Astaghfirullah!", gumam Sapto sambil menggeleng pelan.


" kamu mau tahu kenapa aku melakukannya!?"


"Maksud tuan?"


"Ada alasan di balik semua yang Alby alami."


"Memang nya ada apa tuan?", Sapto semakin penasaran.


"Dendam? Tapi...anda saja baru mengenal Alby tuan."


"Ya, tentu saja. Tapi karena bapaknya lah, istri ku meninggalkan ku dan memilih bapaknya Alby."


Sapto tercengang beberapa saat mendengar ucapan majikannya itu.


"Tuan... maksud anda?"


"Titin Zulaikha, ibu tiri Alby. Kamu mengenal nya bukan?"


"Ja...jadi...ibu nya Alby itu ..nyonya Titin tuan?"


"Iya. Usai membaca CV Alby. Aku mencari tahu segala sesuatunya. Hingga akhirnya aku menemukan Titin. Awalnya aku hanya ingin tahu seluk beluk orang yang akan bekerja padaku. Tapi saat aku tahu jika Alby adalah putra dari laki-laki yang sudah membuat istri ku pergi dariku, sejak saat itu juga aku ingin membuat Titin dan Alby merasakan betapa kesakitan ini masih tersisa."


Sapto lagi-lagi menghela nafasnya.


"Tapi...di sini Neng Bia yang jadi korban tuan."


"Heh! Itu bukan urusan ku!"


Ya Allah, seperti ini rupanya orang jika sudah merasa dendam dan sakit hati.


"Kamu mau menceritakan semua ini? Silahkan! Tapi nanti setelah Silvy dan Alby benar-benar sudah resmi menikah."

__ADS_1


Sapto tak menjawab ucapan majikannya yang arogan itu.


.


.


.


Silvy berjalan tertatih menuju kampus nya. Dia memang ada jadwal kuliah jam tiga sore. Untuk menuju ke kampus, Silvy memilih menggunakan taksi


"Vy...!", Anika memanggil Silvy yang sedang berjalan sendiri menuju kelas.


"Hai...!", sahut Silvy datar.


"Kenapa Lo? Ngga semangat amat!"


"Heum...laki gue lagi pulang kampung!"


"Maksud Lo? Mas Alby?", tanya Anika.


"Ya iyalah,siapa lagi?"


"Jadi Lo galau gitu di tinggal mudik?"


"Bisa iya bisa ngga. Tapi dia mudik juga karena ngurusin suatu hal!", kata Silvy tersenyum.


"What?", tanya Anika penasaran.


"Dia lagi ngurusin surat buat kita nikah lah!", sahut Silvy santai tanpa beban.


"What? Nikah? Gila Lo? kapan? Ngga! Lo jangan bercanda deh!"


Sontak semua mata tertuju pada kedua gadis cantik itu, tak terkecuali Malvin dan Vega yang duduk tak jauh dari bangku Silvy dan Anika.


"Serius lah. Apa untungnya gue boong sama Lo!", Silvy menoyor kepala Anika.


"Gila! Bisa gitu ya!"


"Jodoh kan udah ada yang atur. Pacaran bertahun-tahun apalagi udah sampe begini begitu ah...ga jamin sampai ke pelaminan. Mending gue dong! Dari pada sibuk ga jelas ujung nya sama pacar, mending siap terima pria yang udah ready ngasih mahar. Ya ngga?", Silvy menaikan salah satu alisnya.


Sontak ucapannya itu mendapat persetujuan dari teman sekelasnya. Kecuali dua sejoli yang memang tak sependapat dengan Silvy. siapa lagi jika bukan Malvin dan Vega.


"Halah! Laki ga modal aja Lo banggain. Berapa sih gaji staf di kantor bokap Lo? Buat jajan Lo aja kurang. Gimana mau hidupin Lo? Parasit!", sindir Vega. Tapi Silvy justru membungkam ucapan Vega dengan santai.


"Euuum...kenapa? Kenapa Lo yang repot mikirin uang jajan gue? Gue udah biasa kali jajanin pacar Lo? Jadi...siapa yang parasit dong?"


Brakkk!


Malvin menggebrak bangku nya. Semua Maya tertuju padanya.


"Maksud Lo apa ngomong kaya gitu hah?", tunding Malvin.


"Ngga ada maksud apa-apa. Gue cuma pengen ngasih tahu cewek Lo aja Vin. Parasit kok teriak parasit! Lagian ya, gue ini pewaris tunggal perusahaan bokap gue. Ya... walaupun gue ambil jurusan bisnis, gue tinggal minta aja suami gue lanjutin perusahaan bokap gue. Ngga salah kan? Yang penting dia berkontribusi, ngga jadi parasit. MOROTIN duit cewek doang!", Silvy menekan kata MOROTIN dihadapan Vega dan Malvin.


"Lo bener-bener....!", hampir saja tangan Malvin melayang ke arah Silvy, tapi beruntung nya dosen masuk lebih dulu.

__ADS_1


Ada rasa puas dalam diri Silvy. Membalas sakit hatinya karena di khianati tidak harus dengan hal yang sama. Nyatanya melihat ia iri dengan kehidupan yang lebih baik setelah lepas dari nya justru itu balas dendam terbaik.


"Lo hebat Vy!", puji Anika. Silvy menanggapi ucapan Anika dengan tersenyum tipis.


__ADS_2