
Masih POV Alby
"Febri?"
"Iya. Gue yang akan membahagiakan Bia."
"Nggak, Bia cuma milik gue!", aku meraih kerah bajunya. Tapi ia melepaskan cekalan ku dengan mudah.
"Tapi dia sudah memutuskan untuk pergi dari lo. Jadi kalo Lo emang beneran sayang sama Bia, cinta sama Bia ikhlaskan dia buat gue. Gue yang akan gantiin tugas Lo buat cintai dan jagain Bia."
"Bang***", kulayangkan pukulan padanya. Tapi di menangkis nya.
"By, harusnya Lo sadar. Semakin halo mengekang Bia lo semakin nyakitin Bia. Dan sebagai orang yang mencintai Bia gue gak bakal biarin lo nyakitin Bia lagi."
"Tapi Bia itu istri gue!"
"Dulu iya, tapi sekarang nggak. Gue harap Lo bisa ikhlasin Bia buat gue. Dari pada Lo cuma nyakitin perasaannya terus-menerus!"
"Papa!", panggil gadis kecil itu lagi.
Aku menatap gadis kecil yang ada di pangkuan Silvy.
"Papa tolong jangan biarin Mama nangis lagi. Aku sedih papa!", ujar anak itu. Aku semakin bingung di buatnya.
Silvy mengusap kepala gadis itu dengan sayang.
"Papa, aku sayang sama Mama Bia. Ngga apa-apa aku cuma liat papa dan mama dari atas asal kalian bahagia. Tapi aku tahu kalo kehadiran ku pernah membuat kalian bahagia. Jangan bikin mama dan bunda ku nangis lagi ya Pa."
Perlahan mereka semua pergi menjauh.
"Vy... Silvy!", teriakku saat Silvy dan gadis kecil itu menjauh dari ku. Saat ku tengok ke arah Bia pun, dia sudah berlalu menggandeng tangan Febri. Lalu di berbalik badan dan memberikan senyuman cantik yang sangat ku kagumi selama ini.
"Selamat tinggal A!"
"Bia....Bia....Aa ngga mau neng pergi dari Aa. Aa sayang sama neng Bia...jangan pergi Bia... jangan pergi...hiks...hiks...."
Ternyata itu semua mimpi? Aku sadar saat aku membuka mataku, aku masih berada di atas ranjang. Dan Silvy masih tertidur pulas.
.
.
.
Tanpa aba-aba, Alby meninggalkan kedua ajudan tampan itu.
"Udah lah Feb. Ngga usah urusin Alby lagi. Fokus sama apa yang ada aja dulu. Nanti kalo Bia emang butuh bantuan Lo, dia bakal hubungin Lo."
''Gue tuh kalo liat mukanya Alby tuh bawaannya kesel tahu Dim."
"Mukanya kenapa? Orang ganteng gitu kok? "
Febri melirik Dimas.
__ADS_1
"Helllo? Gue ngga belok ya Feb. Gue masih normal."
"Lagian muji ganteng gitu! Kan gue jadi mikir yang aneh-aneh!"
"Heh! Semua mata yang normal juga bakal bilang kalo Alby ganteng Feb. Tanya aja sama Bia."
"Ckkk...males amat. Ganteng juga gue, body oke. Pekerjaan mapan!"
"Astaghfirullah, pak Bambang. Anakmu narsisnya kumat. Kayane butuh di rukyah!", teriak Dimas. Sedang si Febri hanya menatap angkuh pada sahabatnya itu.
Alby melihat Anika dan Nara duduk di sofa ruang tengah di temani Mak.
"Assalamualaikum!", salam Alby.
"Walaikumsalam."
"Tos uih Jang?", tanya Mak Titin.
Alby mengangguk.
"Mas Alby!", Anika dan Nara mengangguk, ungkapan salam basa basi.
Mata Alby menelisik ruangan. Ia tak menemukan keberadaan istrinya dan mantan kekasihnya juga.
" Eum, Malvin sama Silvy di teras samping Jang!", ujar Mak. Alby pun meninggalkan mereka bertiga lalu mendekati ke arah Malvin dan Silvy. Tapi ia menghentikan langkahnya saat mendengar obrolan dua orang yang pernah saling mencintai.
"Gue... minta maaf Vy."
Lalu Malvin mengeluarkan ponselnya.
"Video kita itu emang benar adanya. Tapi...gue ngga sampai melakukan itu sama Lo."
Silvy mendongak menatap mantan kekasihnya itu.
"Maksud Lo?"
"Gue...gue....gue..."
"Gue apa?", tanya Silvy penasaran.
"Gue emang cinta sama Lo. Tapi gue ngga sampe hati buat lakukan hal itu sama Lo. Gue inget kata-kata Lo. Sebejat-bejatnya Lo, Lo cuma mau lakuin itu sama suami Lo."
Ucapan Malvin mengiris perasaan seorang alby yang ada di balik dinding.
"Dari situ...gue punya ide...biar Alby lepasin Lo. Gue pengen setelah Alby liat Lo sama gue berbuat seperti itu, dia bakal lepasin Lo buat gue. Tapi sejauh ini, gue rasa Alby sudah mulai bersikap baik kan? Gue denger, mba Bia udah memutuskan untuk berpisah dari Alby."
Silvy bergeming. Tak menyahuti ucapan Malvin.
"Vy, gue minta maaf. Mungkin karena gue juga, om Tama jadi seperti sekarang."
Silvy menarik nafas nya lalu menghembuskan perlahan.
"Gue maafin Lo Vin. Soal papa, mungkin memang ini udah takdir yang harus terjadi sama gue dan papa."
__ADS_1
Lagi-lagi hati Alby seperti tersentil.
"Gue...masih bisa jadi sahabat Lo kan Vy?", tanya Malvin.
"Iya.Tapi gue harap, Lo berubah. Jangan lagi permainin perasaan cewek. Berhenti celap celup sana sini!"
Malvin menggaruk leher nya yang tidak gatal. Sungguh dia merasa malu.
"Hehehe insyaallah Vy. Tapi...sejak gue putus sama Vega, gue udah ngga pernah kaya gitu lagi kok."
Silvy tersenyum.
"Semoga kedepannya kita bisa jadi orang yang lebih baik!", kata Silvy. Malvin mengangguk.
Alby yang sudah tak tahan mendengar obrolan mereka pun menghampiri keduanya.
"By, udah pulang?", tanya Silvy. Alby mengangguk dan tersenyum tipis.
"Mas!", sapa Malvin. Kalo kemarin dia tengil, sekarang Malvin memasang wajah ramah pada Alby.
Alby langsung menghampiri Silvy yang memasang wajah cantiknya. Perempuan itu mengambil tangan Alby lalu mengecup punggung tangan suaminya.
Darah Malvin berdesir. Kenapa ia justru merasa sakit seperti ini?
"Udah sore, kamu belum mandi Vy?", tanya Alby. Karena dia melihat istrinya masih memakai pakaian dan jilbab yang sama seperti tadi pagi sebelum ia berangkat kerja.
"Udah By. Cuma aku memang lagi malas ganti baju. Nanti saja kalau mau tidur."
Tangan Alby terulur spontan mengusap perut Silvy. Melihat Febri di depan sana ia teringat akan mimpinya. Saat Silvy meninggalkan dirinya dengan gadis kecil itu yang memanggil nya papa.
Silvy merasa sangat bahagia melihat perubahan Alby sejak kemarin. Alby mulai memperhatikanku! Batin Silvy.
Malvin yang melihat adegan sederhana itu merasa teriris. Bagaimanapun jahat nya dia sampai membuat Silvy seperti sekarang ini. Hamil! Kondisi kakinya belum pulih dan tentu saja kisah cinta nya tak semulus kulit wajahnya.
"Ya udah, aku ke kamar. Kalo kalian masih mau ngobrol, silahkan!", Alby langsung melenggang meninggalkan mereka berdua.
"Vy...!"
"Heum, gue...gue ikut bahagia kalo Lo juga bahagia!", ujar Malvin.
"Makasih Vin."
"Dan gue harap, Lo selalu tersedia seperti ini. Dan Istikomah ya Vy. Lo tambah cantik pakai hijab. Maaf...sekali lagi maafin gue. Semua karena gue, Lo jadi kaya gini."
"Udah, capek gue denger Lo minta maaf Mulu."
Malvin tersenyum canggung. ya, mereka pernah menjadi sepasang kekasih dalam waktu yang cukup lama. Gali karena ulah malvin, hubungan itu harus berakhir begitu saja.
*****
Lanjut update yang ke tiga.....on proses....🤫🤫🤫
makasih
__ADS_1