Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 97


__ADS_3

"Kemana kamu?", tanya Hartama pada Titin yang sedang mengemas makanan dan pakaian.


"Mau nengok Alby sebentar mas, ngga lama kok. Habis itu aku balik, beresin kerjaan ku lagi. Boleh kan mas?", tanya Titin sedikit ragu.


"Harus ya kamu panggil saya seperti itu? Kamu ngga inget di sini kamu siapa?", tanya Hartama ketus. Titin menelan salivanya. Benar, harus nya ia sadar diri. Dia di sini bekerja, sama seperti Mila. Kenapa dia malah memanggil tuannya dengan sebutan mas? Sama seperti saat mereka bersama dulu.


"Mmmaaf Tuan!", jawab Titin gugup. Ada rasa yang tidak bisa Hartama jelaskan. Mungkin dia bisa merubah cara pandang dan mengubah kenyataan sikap buruknya pada Alby dan Bia. Tapi untuk urusan dendamnya dengan sang mantan istri, dia belum bisa menghilangkan rasa itu begitu saja.


"Pergi lah! Tapi jangan lama-lama! Masih banyak pekerjaan mu!", kata Hartama. Setelah itu, dia pun berangkat ke kantornya. Silvy memilih sarapan di dalam kamarnya, sebenarnya masih ada kuliah tapi ia mau ikut kuliah siang saja. Moodnya sedang buruk. Apalagi Alby masih belum di perbolehkan pulang, itu artinya luka Alby cukup serius.


Sebenarnya ada ketakutan bagi seorang Silvy. Dia takut jika Alby melaporkannya ke polisi. Tapi pasti papanya akan jadi pagar betis buatnya. Papa tidak akan mungkin membiarkan Silvy masuk jeruji besi.


.


.


"Neng, hoyong kiih!", kata Alby lirih.(Pengen pipis)


"Oh, sebentar. Bia ambil pispot dulu ya!", kataku sambil mengambil di kamar mandi.


"Sok atuh!", kata ku mempersilahkannya. Aku sudah menaruh pispot do balik selimutnya. Ada yang berdiri tegak, tapi bukan tiang bendera! Ya, wajar sih! Ini masih pagi.


"Udah?", tanyaku. Alby mengangguk. Lalu kuambil tisu basah untuk mengelap area penting milik suamiku.


Setelah itu, aku membersihkan tangan ku ke kamar mandi. Tidak ada kecanggungan sama sekali antara aku dan Alby. Karena kami suami istri kan??


"Mau di washlap juga?", tanya ku.


"Nanti siang aja mandi. Sekarang masih dingin!"


Aku mengangguk.


"Neng udah sarapan?", tanya Alby.


"Nanti, jam tujuh aku keluar A. Mau beli makan sekalian mandi."


"Oh."


"Mau sarapan dulu? Biar bisa minum obat?"


"Mau, tapi aa pengen sikat gigi. Rasanya ngga enak banget neng."


"Ya udah. Dagoan heula!"


Aku pun ke kamar mandi untuk mengambil air serta gayung. Tak lupa kantong keresek untuk sisa kumur-kumur Alby.


Setelah semua selesai, aku pun mulai menyuapi Alby.


''Neng??"


"Heum?"


"Sekeluarnya dari sini, Aa pengen kita tinggal bareng di sini ya?"


Aku meletakkan sendok di atas nampan aluminum.

__ADS_1


"Untuk itu, aku belum tahu A. Tapi....aku mau pulang dulu ke kampung. Rumah udah lama kosong."


Alby menggeleng.


"Biar saja rumah itu kosong Neng. Asal neng ada di sini, sama Aa."


Aku kembali menyuapinya. Ada sisa nasi di sudut bibirnya, kuusap dengan tisu.


"Sekarang, Aa fokus aja dengan kesembuhan Aa!"


Alby menepis tangan ku yang sudah ada di depan mulutnya.


"Neng mau cari dokumentasi pribadi kita buat ajuin gugatan ke Aa?", tanya Alby dengan mata memelas.


"Sekarang belum A, tapi entah besok-besok!"


"Bukankah neng janji, ngga akan ninggalin Aa?"


"Jangan kaya anak kecil A!"


"Neng! Aa pengen mulai hidup baru lagi. Kita akan memulai semuanya neng. Aa ngga mau berusaha dengan pak Hartama lagi. Terserah Mak masih mau di sana atau ikut kita. Yang jelas, Aa cuma mau hidup sama neng."


Aku menghela nafas dalam-dalam. Ku letakkan nampan aluminum itu.


"Aa tahu kenapa Aa bisa seperti sekarang ini?", tanya Bia.


"Karena Silvy!"


"Iya, betul! Karena Silvy! Tapi tahu kan alasannya apa? Sampai Silvy berbuat nekad seperti itu? Apa Aa yakin setelah ini, dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi? Oke! Aku ngga peduli dia mau seperti apa. Tapi yang jadi korban adalah calon anak yang di kandung Silvy! Dia tidak salah. Yang salah bapak, yang udah menanam benih nya di sana!"


Alby termangu. Benar, istrinya memang benar.


"Tapi bagi laki-laki untuk melakukan seperti itu tanpa cinta pun bisa! Iya kan? Itu buktinya nyata!"


Alby menarik ku dalam dekapan. Tibalah saja ia menahan tengkukku. You know lah apa kelanjutannya.....


Untung udah sikat gigi 😁


"Aa ngga suka neng bicara seperti itu. Sudah aa bilang, saat itu Aa hanya terpaksa neng. Kalo aa mau, Aa selalu punya kesempatan untuk melakukannya lagi sama dia. Tapi aa ngga lakuin itu neng!"


Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Sungguh, aku tipe orang yang mudah luluh. Makanya 'mereka' mudah sekali memperlakukan ku dengan semaunya.


"Di minum obatnya!", aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan yang sudah terbaca ujungnya.


Alby hanya mampir memandang istrinya yang sudah hampir tiga tahun menemaninya.


.


.


"Dimas, saya mau bicara!", ucap ayah Sakti. Dimas yang duduk di samping supir hanya mengangguk sambil menyahuti atasannya tersebut.


"Siap!"


Mobil pun perlahan bergerak. Merekam sudah selesai berdinas saat ini. Dimas mengikuti kemana arah kaki atasannya itu. Jantung Dimas berdisko nyaring. Dia tahu, dia pasti akan di sidang karena hubungannya dengan Anika.

__ADS_1


"Duduk!", titah ayah sakti.


Sedikit membungkuk, dimas pun duduk di hadapan ayah sakti.


"Kenapa? Gugup?", tanya sang atasan.


"Siap, tidak!"


"Kalo ngga gugup, kenapa gemetar begitu?"


"Eum.... itu..."


"Sejak kapan?"


"Mmmmaksud nya pak?"


"Bapak tahu kamu ada hubungan sama Ika, tapi...bapak harap, kamu ngga sedang coba-coba mainin anak saya. Ika masih terlalu polos soal cinta-cintaan!"


Dimas menegur salivanya.


"Siap Pak?!"


"Baikal! Kalo Sakti punya rahasia yang bisa dia katakan pada saya, apa kaum punya informasi soal sakti juga?"


"Maksud bapak?", Dimas lebih santai kali ini.


"Kamu tahu, apakah sakti sudah punya kekasih?"


Dimas membeku. Mau bilang, takut salah. Ngga bilang, nantinya kalo ga direstui gimana?


"Dimas?"


"Siap pak. Setahu saya...belum pak. Tapi yang selama ini saya tahu,mas Sakti suka sama mba Bia. Mantannya Febri, tapi sekarang sudah menikah. Malah suaminya Bia, poligami!", mulut lemes Dimas pun membeberkan kepada calon bapak mertua, baru calon! Anggap saja , Dimas sedang balas dendam pada calon kakak iparnya yang udah membocorkan rahasianya pada atasnya itu.


"Bia? Shabia Ayu?",tanya Ayah sakti.


"Iya pak!"


"Mereka sering bertemu?"


"Terakhir, waktu masih dikota G. Bapak ingat kan nasi kotak yang siang itu kita makan? Itu katering dari Bia."


Ayah Sakti terdiam.


"Maksud kamu, apa Sakti masih berharap sama Bia?"


"Kurang tahu pak. Tapi dari yang saya dengar, Bia meninggalkan suaminya ke luar kota."


"Bisa cari tahu buta saya, seperti apa yang namanya Bia itu? Kapan Sakti bisa move on dari mantan kekasihnya itu?"


"Ralat Pak, bukan mantan. Mereka ngga pernah jadian!", celetuk Dimas. Sekarang dia lebih relaks karena yang di bahas adalah Sakti, bukan dirinya dengan Anika.


"Apa pun itulah! Ya udah kamu balik, istirahat! Boleh nemuin Ika, tapi jangan macam-macam sama anak saya! Dan kalo kamu bikin anak saya nangis, kamu tahu akibatnya?!"


"Bbbaik pak!", sahut Dimas sedikit bergetar. Sepeninggalan ayah Sakti, Dimas mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


******


Mas ✌️✌️✌️✌️


__ADS_2