
Aku mengendarai mobil ku menuju stasiun besar di kotaku. Anika duduk di bangku penumpang, sedang Bina berada di samping ku.
Anika mungkin kurang nyenyak semalam karena kelelahan berjalan-jalan, makanya baru saja masuk mobil beberapa saat dia langsung kembali tertidur.
"Bi..."
Aku menoleh panggilan Bina.
"Ya?"
"Kamu menyesal meninggalkan Alby?", tanya Bina.
Aku mendesah pelan, melingkarkan tangan ku di benda bundar itu.
"Aku tidak menyesali keputusan ku untuk berpisah dengan Alby , Bin! Hanya saja....."
"Hanya saja...apa?", tanya Bina.
"Aku hanya merasa sebagai seorang perempuan yang egois. Memikirkan kebahagiaan diriku sendiri."
"Membahagiakan diri sendiri, bukan hal yang perlu di salahkan Bi!"
"Iya, tapi...."
"Bi, kamu sudah benar mengambil keputusan itu. Aku memang tak tahu banyak tentang masa lalu kalian. Tapi dari sudut pandang ku, langkah yang kamu ambil sudah benar. Kalo kamu masih bersama Alby, kamu hanya berada dalam hubungan yang toxic. Kecuali...kalo kamu memang ikhlas berbagi!"
Aku menggeleng.
"Alasan utama ku berpisah dari Alby karena aku memang tak bisa berbagi Bin. Meski sebenarnya aku tahu, kami sama-sama masih saling memilih rasa. Tapi...aku sadar, untuk saat ini...aku sudah tak berhak lagi atas diri Alby, begitu pula dengan perasaan ini."
Bina memandang ke arah jalan di depan.
"Tapi, kamu sedang membuka hati kamu untuk Febri bukan?"
"Mungkin...! Aku...merasa nyaman dengan nya. Tapi... untuk sekarang, aku tak bisa menentukan rasa nyamanku dengan Febri itu murni karena aku sudah membuka hati ku untuk nya atau.... entahlah! Aku masih butuh banyak waktu untuk melupakan semuanya."
Bina tersenyum tipis.
"Tidak akan ada yang bisa kamu lupakan Bia, selama kamu belum mengukir kenangan baru untuk mengubur kenangan lama mu! Apa selama kamu menikah dengan Alby, kamu benar-benar sudah melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Febri?"
Aku menoleh pada perempuan yang kini menyandang status Nyonya Sakti Wibisono. Di saat yang sama Bina menoleh ke belakang, menatap adik ipar nya yang mendengkur halus menandakan dirinya benar-benar tertidur pulas.
"Tidak sepenuhnya!", jawab ku.
"Aku pun merasakan hal yang sama Bi. Apalagi...jika benar suatu saat nanti, Dimas benar-benar menikah dengan Anika. Kamu pasti paham apa yang aku rasakan."
Aku mengeratkan jemari ku di lingkaran setir. Bina benar, kenangan tetap lah kenangan yang tak akan mudah untuk di lupakan tapi juga tidak harus selalu di ingat agar apa yang terjadi di akan datang tidak di bayang-bayangi masa lalu.
"Febri sangat mencintai mu, Bia! Kalau dia memang ingin merebut mu dari Alby, sudah ia lakukan dari dulu bukan? Dia tak mau pusing mendengar perkataan orang lain yang menganggap nya pebinor atau menunggu janda mu! Dia hanya memikirkan bagaimana caranya membuat kamu kembali tersenyum."
"Bagaimana kamu tahu?", tanyaku.
"Kamu tahu sendiri, seperti apa kedekatan suamiku dengan Febri. Dua orang yang sama-sama ingin membahagiakan mu, hanya saja.... sekarang mas Sakti sudah berpaling padaku heheheh!"
Aku terkekeh pelan. Di saat serius seperti ini, Bina masih sempat tertawa pelan. Bina seumuran dengan ku, mungkin dari situ dia memiliki cara pandang yang tak beda jauh dengan ku. Mungkin!
Mobil ku sudah memasuki area stasiun. Anika pun sudah bangun sejak sepuluh menit yang lalu sebelum mobil benar-benar sampai stasiun.
"Kalo sudah sampai, tolong kabari ya?", kataku pada Anika dan Bina.
"Iya, kamu juga harus bisa jaga diri. Jaga hati! Buat mas Febri!", kata Bina.
"Insyaallah!", jawabku.
.
__ADS_1
.
Dibelahan bumi lain, para prajurit yang berada di daerah konflik berjaga setiap saat.
"Udah waktunya sholat, belum sholat bro?", tanya seseorang yang tak lain adalah Seto. Ya, dia turut andil dalam misi tersebut.
Febri pun mengangguk samar.
"Udah!", jawabnya singkat.
"Lo bingung pengen hubungi Bia, tapi ngga bisa?", tanya Seto. Febri mengangguk.
"Sabar! Gue juga udah tunangan sama Naya kali Bro!", kata Seto.
"Heum, iya iya To gue percaya!", ujarnya.
Seto menyenggol lengan Febri saat Amara mendekati kedua pria tampan itu.
"Gue cabut ya Bro!", bisik Seto.
"Jangan *ego!", kata Febri pelan tapi penuh penekanan.
Akhirnya, Seto masih tetap duduk di samping Febri.
"Siang Kapt, Let?!", sapa Amara pada kedua pria tampan itu. Keduanya menyahut bersamaan.
"Siang juga Lettu Amara!"
"Boleh gabung?", tanya Amara. Febri dan Seto saling berpandangan.
"Silahkan!", ujar Seto. Febri menyikut lengan Seto. Pria itu hanya meringis kecil. Febri sebenarnya merasa terganggu dengan kehadiran Amara, karena dia sedang sesi curhat bersama Seto, sahabatnya!
"Ganggu kalian ya?", tanya amara lagi.
"Ngga kok!", sahut keduanya. Tapi dalam hati mereka 'ganggu banget, ngapain nanya segala?'
Tidak ia sukai dalam tanda kutip, seperti Amara contoh nya yang tidak pernah lelah untuk mengejar Febri sejak dulu.
"Ya, kami memang bersahabat baik Let!", ujar Seto. Febri pun mengiyakan dengan anggukan.
Amara mengangguk pelan. Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu pada Febri, tapi sepertinya kehadiran Seto membuat nya enggan untuk mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan pada Febri.
"Beruntung sekali ya?", kata Amara.
Apaan sih? GaJe banget, batin Febri. Entah dengan cara apa lagi dia menghindari Amara. Febri sebenarnya tak ingin menyakiti secara verbal apalagi fisik, tapi sepertinya Amara cukup keras kepala.
"Beruntung lah! Dan insyaallah, calon istri kami pun akan bersahabat baik. Seperti kita ya Feb!", kata Seto menepuk bahu Febri sambil menaik turunkan alisnya dengan senyuman khasnya yang tengil.
"Hehe iya, Naya dan Bia akan menjadi sahabat juga seperti kita Bro!"
Hidung Amara kembang kempis mendengar sahutan kedua sahabat itu. Akhirnya dengan sedikit basa basi yang beneran basi, Amara meninggalkan kedua pria gagah itu.
Setelah Amara benar-benar pergi, keduanya terbahak.
"Tega Lo nolak mulu anak orang, kasian tuh!", celetuk Seto.
"Heh, yang ada Lo tuh... nyakitin secara verbal!", kata Febri tak mau kalah.
"Kok gue? Lha...udah tahu kalo mulut gue lemes, ngapa ngga Lo tahan coba???", kata Seto lagi.
"Au ah lap!", sahut Febri ketus.
.
.
__ADS_1
Alby dan Sakti duduk di samping jenazah Hartama yang sudah terbungkus kain kafan. Dua pria itu sepertinya tak takut sama sekali?
"Lo udah makan belum?", tanya Sakti pada Alby. Alby menggeleng.
"Kenapa tadi Lo ga makan dulu?"
"Gue lagi males makan Sak!"
"Tapi Lo butuh tenaga By. Dari sini ke Jakarta butuh waktu yang sangat lama!", ujar Sakti.
"Gue ga napsu makan Sak!"
Sakti menghela nafasnya. Hartama kan orang kaya, kenapa Alby tidak menyewa pesawat aja ya? Biar cepat sampai Jakarta?? Tapi...sakti tak mau bicara seperti itu.Mungkin Alby memang sengaja memilih transportasi ini.
"Nanti, istirahat solat lalu makan ya! Lo harus kuat demi Mak Titin yang nunggu almarhum di rumah."
"Huum, nanti gue makan!', sahut Alby tanpa semangat. Sakti tak lagi menyahuti Alby.
"Gue ga nyangka bakal seperti ini Sak!", kata Alby tiba-tiba. Sakti pun menoleh pada Alby.
"Semua terasa seperti mimpi, mimpi buruk yang mendatangi ku bertubi-tubi! Padahal...gue sama Bia, baik-baik saja beberapa bulan yang lalu. Tapi mimpi buruk itu merubah segalanya."
Sakti menepuk bahu Alby pelan. Dia masih ingin mendengar keluhan Alby. Ini yang sakti pikirkan, Alby pasti butuh teman bicara sekali pun hanya untuk mendengarkan keluhan dan segala unek-uneknya.
"Gue tahu Lo kuat By. Lo pasti bisa hadapi semua ini. Yang harus Lo pikir kan sekarang adalah anak istri Lo, juga Mak Titin. Mereka butuh Lo, jadi Lo juga harus semangat demi mereka."
Alby menatap dokter yang sekarang menjelma jadi teman baginya.
"Jangan sia-sia kan pengorbanan Bia, By!"
Alby menunduk, meremas jemari nya yang bertumpu di lutut.
"Ya, benar!"
"Lo harus ikhlas jalani semua ini By!"
Alby mengangkat wajahnya lalu menoleh pada sakti.
"Gue sedang berusaha Sak!", lagi-lagi Sakti menepuk bahu Alby.
Suasana kembali hening.
"Lo tahu, kalo orang tua Febri udah melamar Bia?", tanya Sakti. Alby yang tadinya hendak terpejam kini menegakkan punggungnya.
"Melamar Bia?", tanya Alby. Sakti mengangguk.
"Huum. Sebenarnya, Febri sedang tugas di perbatasan. Tapi...ya...gitu lah intinya. Dia menyempatkan diri untuk bertemu Bia hanya ingin sekedar mengucapkan selamat ulang tahun buat Bia."
Alby menelan salivanya! Ulang tahun Bia? Dia sendiri saja tak ingat! Bahkan selama Alby dan Bia saling mengenal, tak pernah sekalipun Alby merayakan ulang tahun Bia. Lebih tepatnya, mungkin tak ingat tanggal tersebut.
"Febri hanya berniat untuk memberikan hadiah sebuah cincin untuk Bia. Tapi sebelum ia memberikan cincin itu, lek nya keburu membawa Bia masuk. Jadi ya, Febri batal memberikannya pada Bia. Dan dia lupa menyimpan nya di saku celananya sampai akhirnya, ibunya menemukan cincin itu. Ya... gitu lah, orang tua Febri yang gercep meminta Bia menjadi menantunya pada lek nya Bia."
"Bia langsung menerima lamaran itu?", tanya Alby.
Sakti tersenyum tipis.
"Ya, cincin itu sudah berada di jari manis Bia. Tapi... untuk pasti nya kapan mereka akan menikah, belum tahu. Apalagi sekarang, Febri bertugas di luar negeri. Di tempat yang benar-benar terjadi perang!", kata Sakti menjelaskan.
Semudah itu kamu melupakan Aa Neng???
****
Pendek ya??? Insyaallah nanti up lagi, makasih 🙏🙏🙏
Kehaluan mamak sebatas ini, maapkeun kalo ngga sesuai dengan permintaan kalian 🙏🤭. Biar pun seperti ini, semoga kalian masih bisa menikmatinya. Mak terima dengan tangan terbuka komentar apa pun dari kalian pembaca setia karya recehan mamak.
__ADS_1
Tanpa kalian, apalah artinya othor?? 😌😌😌🙏
Hatur nuhun