Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 137


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, William masih saja ngoceh. Mungkin karena dia memang sudah terbiasa berbicara di depan publik, makanya dia tidak ada rasa canggung sama sekali terutama padaku yang notabene tak ada hubungan dekat dengannya. Pertemuan nya saat di kereta dulu, membuat ia merasa seolah kami di takdirkan untuk bertemu lagi dan lagi.


Ku injak pedal rem, setelah berhenti aku langsung turun dari mobil. William ikut turun, setelah itu barulah ia berlari kecil mengejarku.


"Kamu mau ngapain di sini?", tanya William mensejahterakan tubuhnya di samping ku. Wajah ganteng William khas seleb mengundang perhatikan pengunjung alun-alun.


"Bukan urusan kamu!", jawabku ketus. Willi berlari mundur, wajahnya menghadap ke arahku.


"Kan kita masih kerabat Bia...jangan judes gitu kenapa?", kata William dengan wajah memelas. Aku menghentikan langkahku.


"Ngga usah gangguin aku bisa kan?", tanya ku pelan tapi tegas.


"Aku ngga mau ganggu kok."


Aku berdecak kesal. Tak mau memperdulikan dia. Kaki ku kembali berjalan ke arah depan. Setelah ku lihat ada gerobag martabak, aku langsung berhenti.


"Pak, martabak keju coklat satu ya. Martabak telor nya juga."


"Siap mba!"


Aku duduk di bangku sambil menunggu pesananku. Ternyata William pun mendudukkan bokong nya di samping ku.


"Jauh-jauh ke alun-alun cuma mau beli martabak?", tanya William.


"Masalah?", sahutku kesal. Aku memainkan ponselku. Ada beberapa chat yang masuk. Bisa tebak dari siapa???


Yups, tiga cowok yang katanya sayang sama aku! Pamer? Sombong? Gak! Aku juga tak meminta mereka seperti itu pada ku.


Alby masih kekeuh mempertahankan hubungan kami. Ucapannya tak Jauh dari kata 'tidak akan pernah melepaskan ku'.


Bagaimana bisa aku percaya dengan ucapan Alby ,yang bahkan dia sendiri saja tak pernah bisa bersikap! Chat dari Alby tak ku balas. Biarlah di kata istri durhaka, aku hanya malas membahas hal itu-itu saja padahal dia sudah tahu apa mauku dan keputusan ku. Bagaimana bisa dia membuat ku harus bertahan dalam hubungan toxic? Dia pikir mentang-mentang aku mencintai nya, aku bisa menahan rasa sakit yang terus menerus? Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana jika berada di posisi ku???


Chat berikut nya dari Sakti, dia hanya sekedar menanyakan kabar ku. Sejak terjadi pertengkaran antara Alby dan Febri di kosan ku beberapa hari yang lalu, Sakti baru menghubungi ku.


[Bi, gimana kabar?]


Chat itu dikirim beberapa jam yang lalu.


[Alhamdulillah baik mas]


Baru terkirim, langsung centang biru.


[Alhamdulillah, sekarang di mana!? Tadi ketemu Alby di rumah sakit, tapi lupa ga nanya kamu. Kayanya Alby lagi kusut]


[Aku di kampung ku mas]


[Oh ya? Sejak kapan?]


[Tadi malam]


[Oke, nikmati liburan mu ya. kayanya kamu memang butuh ketenangan batin Bi]


[Iya mas, terima kasih sudah memperhatikan aku. Maaf aku mau ke rumah ibuku dulu ya]


[Iya, hati-hati ya!]

__ADS_1


[Iya mas]


Chat dari sakti berakhir. Masih ada chat dari Febri, tapi pesanan ku sudah selesai. Aku memasukkan ponsel ku ke dalam gamis ku lagi. Saat akan ku bayar, penjualnya bilang sudah di bayar oleh William. Enggan berhutang budi, aku pun membayar ke William.


"Kok di balikin? Ini mau buat Essa sama Wibi kan? Mereka kan keponakan ku juga"


"Ngga, terimakasih."


Aku meninggalkan William. Tapi ternyata, dia ikut masuk ke mobil ku lagi.


"Kamu mau apa sih?"


"Ikut kamu!", jawab nya sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum sok imut.


"Kayanya artis, ga modal banget sih nebeng!", sahutku. Aku pun menyalakan mobil lalu melesat ke rumah ibuku. Dasar William, masih saja ngoceh sepanjang jalan menuju ke rumah ibuku. Dia baru berhenti mengoceh saat tiba di halaman rumah ibu.


"Makasih buat tumpangannya!", kata Willi sok imut. Aku ogah menanggapi kelakuan absurb nya. Usianya seumuran dengan Alby kayanya, tapi kenapa kelakuannya masih kaya Abg???


"Assalamualaikum!", aku mengetuk pintu rumah ibu.


Ada suara langkah kaki mendekati pintu.


"Waalaikumsalam!", jawab seorang anak kecil lalu membuka pintu itu.


"Mbak Bia....!", pekik Esa sumringah. Ia langsung memeluk ku begitu erat. Awalnya aku enggan membalas pelukannya, tapi aku berusaha untuk bersikap baik. Toh, hubunganku dan ibuku juga sudah membaik."


"Esa, ibu ada?", tanya ku. Esa mengangguk riang.


"Ada mba, masuk yuk!", ajak Esa. Tapi kemudian dia berhenti.


"Iya, tadi ngga sengaja ketemu hehehe!", jawab William.


Esa mengangguk pelan. Lalu ia berlari ke dalam rumah. Sambil samar-samar berteriak.


"Ibu...ibu...mba Bi, pulang!!!", suara itu menggema memenuhi ruangan rumah yang tak beda jauh dengan rumah peninggalan bapakku.


Pulang? Esa bilang aku pulang? Nggak, maksud esa mungkin pulang kampung yang esa maksud.


Beberapa saat kemudian, ibu pun keluar dari ruangan dalam. Kepalanya masih tertutup bergo khas rumahan.


"Eh...nduk...!", ibu girang menyambut ku. Dia memeluk ku beberapa saat. Lalu matanya beralih pada William.


"Lho, William ada di sini juga toh?", sapa ibuku ramah pada adik ipar nya.


"Iya mba, kebetulan!", jawab William dengan cengirannya.


"Kebetulan apanya, wong ngekor aku terus kok dari tadi!", sahutku ketus. Ibu tersenyum tipis.


"Eh, masuk ke ruang makan aja yuk. Belum waktunya makan sih, tapi tadi ibu udah bikin awug-awug buat teman ngopi. Ayuk nduk, Will!", ajak ibu. Tak lupa ibu menggandeng ku.


Siapa pun di luar sana tak akan menyangka jika aku dan ibu adalah hubby antara ibu dan anak. Wajah kami mirip, udah gitu postur tubuh kami yang tak beda jauh. Sekilas seperti anak kembar, iya kembar beda tuju belas tahun.


Usai mendudukkan ku bangku, bapak Anton pun menghampiri ku dan William. Bapak terlihat sumringah melihat kedatangan ku. Dia mengulurkan tangannya pada William terlebih dulu, baru ke arah ku. Tapi...entah kenapa aku justru terdiam. Menatap punggung tangan kekar itu.


"Bia?", panggil bapak lirih. Aku cukup tersentak, padahal dia memanggil ku lirih. Dengan perlahan aku menerima uluran tangan itu. Aku menyalami tangan bapak untuk pertama kalinya. Tangan ku pun reflek mengangkat tangan bapak untuk ku cium punggung tangannya. Antoni pun seperti nya agak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Apa dia benar-benar sudah mau menerimanya kehadiran ku dan adik-adiknya? Gumam Anton dalam hati. Beberapa detik kemudian, salaman itu terlepas. Asih tampak tersenyum melihat suaminya dengan anak sulung nya mulai akrab.


"William mau minum apa? Kopi apa teh?", tanya ibu pada adik ipar nya.


"Apa aja mau saya mba!", kata William dengan cengar-cengir nya.


"Kalo kamu nduk?", ibu beralih tanya padaku.


"Bia teh aja Bu!"


Ibu mengangguk, lalu ia pun berlalu ke dapur yang memang tak bersekat dengan ruang makan. Wibi berada dalam gendongan bapak melihat ku terus-menerus, sedang esa tampak asik dengan om nya.


"Wibi mau ikut mba? Itu mba Bia, mbaknya Wibi!", bapak mulai menjelaskan pada anak bungsunya. Tak ada reaksi dari Wibi, dia masih menatap ku. Aku tersenyum, mencoba mengulurkan kedua tanganku di hadapan bapak. Tanpa ku paksa, dia justru lebih dulu pindah ke gendongan ku. Bocah berusia tiga tahunan itu memandangi wajahku. Apa karena aku mirip dengan ibu?


"Mba Bia?", tanyanya padaku. Aku mengangguk dan tersenyum.


"Iya, ini mba Bia!", kata ku lirih. Tiba-tiba ia mengecup pipiku.


"mba Bia tantik", kata Wibi sambil tersenyum lucu. Aku membalas senyumannya, mencubitnya pipi gembul nya.


"Makasih Wibi ganteng!", kata ku. Ibu membawa dua cangkir kopi dan empat gelas teh ke meja makan.


"Dedek, hayo...mbak Bia di apain?", ledek ibu.


Wibi tersenyum menunjukkan gigi rapinya. Jika Esa cenderung mirip dengan ku hanya versi cowok, tidak dengan Wibi yang sangat mirip dengan bapak Anton.


Setelah itu kami saling bercerita, ibu dan bapak sama sekali tak membahas tentang pernikahanku yang tidak beres di depan William. Baru kali ini aku merasakan kehidupan keluarga yang utuh. Aku sudah melewatkan masa-masa indah itu ya Allah....


Ponsel ku bergetar. Ku ambil dari saku gamisku. Ternyata Daru Febri, aku memang belum sempat membaca apalagi membalasnya.


[Nduk, ibu ngomong apa?


[Nduk, kamu ngga usah ambil hati omongan ibuku ya]


[Nduk, maaf kalo ibu sudah membuat masalah sama kamu lagi]


[Kamu marah sama mas? Kenapa pesan mas ngga ada yang kamu baca apalagi kamu balas nduk?]


Aku memijat pelipisku. Mumet sama rentetan pertanyaan Febri.


[Nanti lagi ya mas, aku lagi di rumah bapak Anton. Kalo udah di rumah ku, aku hubungi balik. Oke!]


Beberapa detik kemudian, Febri membalas cepat.


[Mas tunggu]


Aku menyimpan kembali ponsel ku ke gamis, melanjutkan bercengkrama dengan keluarga ku.


Di tempat lain, Febri tampak cengar-cengir mendapatkan balasan dari Bia. Sedang sakti yang berada di sebelah nya nampak uring-uringan karena malam nanti, ayahnya mengajak bertemu dengan rekannya.


*****


Nanti kisah sakti di sempilin dikit ngga apa-apa kan ya??? hehehhe


dukung terus mamak nulis receh ini yak makasih 🙏🙏🙏🙏😅.

__ADS_1


Di tunggu like komen dan jangan lupa masukin ke kolom Fav ya???? Makasihhhhhhhhhhh pake banget buat kalian yang udah stay sampai eps ini ✌️😅😅😅🙏🙏🙏


__ADS_2