
"Pa, bukannya papa bilang kami berangkat seminggu lagi? Tapi kenapa papa hanya memberikan waktu dua hari sama aku untuk bertemu Bia?", tanya Alby saat Silvy sudah lebih dulu pulang ke rumahnya.
Hartama melipat kedua tangannya di dada.
"Memang butuh berapa hari?", tanya tuan sombong itu.
Alby terdiam beberapa saat hingga akhirnya Hartama kembali buka suara.
"Minggu depan memang baru ke Singapura By. Tapi sebelum ke sana, kamu harus menyelesaikan pekerjaan mu di sini. Belajar bisnis, tidak akan cukup sehari dua hari. Kamu tahu itu bukan?"
"Tapi ini ngga adil buat Bia, Pa. Tolong papa mengerti hal itu."
"Cckk! Apa peduliku? Yang penting kebahagiaan putri ku. Harusnya kamu bersyukur. Aku dan Silvy masih memberi mu kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku bisa saja membuat kalian bercerai! Seperti menjentikan jari!"
"Apa papa sedang mengancam ku lagi? Sampai kapan?", tanya Alby meski dengan nada nya yang datar, tapi cukup mewakili betapa dirinya emosi.
"Sampai waktu yang tak di tentukan. Aku belum menikmati permainan ini Alby. Dan kamu...kamu harus melihat pertunjukan itu!", tuding Hartama di depan wajah Alby.
"Permainan apa?", tanya Alby.
"Nanti kamu juga tahu sendiri!"
"Kamu itu laki-laki, bisa saja kamu menikah dengan dua bahkan sampai empat perempuan sekaligus! Kenapa hanya sekedar berbagi tubuh dengan putriku saja, istrimu begitu keberatan?!"
"Papa!"
"Hei! Berani sekali kamu menghardikku?", teriak Hartama.
"Perempatan manapun tidak akan ada yang ingin berbagi pa."
"Jangan munafik Alby! Kamu sudah menikmati peran mu sebagai suami yang memiliki dua istri bukan? Iya? Jawab hah! Jangan sok suci! Putri ku juga berhak mendapatkan apa yang ada pada dirimu, bukan hanya Bia."
Alby meremas jemari nya. Kalimat yang papa mertua nya bilang memang benar adanya. Sama seperti yang Bia katakan padanya. Iya, dia benar-benar sudah menikmati peran ini. Apa bedanya dirinya dengan pria yang di bayar di luaran sana?
Dia memberikan haknya pada Silvy hanya karena sebatas kewajiban pada istrinya? Hanya bajin*** yang menikmati tubuh perempuan tanpa cinta, dan itu istrinya sendiri?!
__ADS_1
"Permisi Pa!", Alby bangkit dari kursi yang ada di hadapan mertuanya. Dia keluar dari ruangan Presdir dengan wajah yang memerah.
Marsha yang melihatnya pun segan untuk bertanya apa yang terjadi dengan Alby.
Hartama menyandarkan punggungnya ke bangku kebesarannya. Ia membalikan badannya, menatap hamparan kita dari gedung lantai dua puluh ini.
Wajah pria dewasa itu pun tersenyum miris. Meskipun di dalam lubuk hatinya, ia merasa iba pada istri Alby. Tapi sebagai seorang ayah, dia benar-benar hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk putrinya.
Ini semua karena Titin!
Wanita yang pernah ia nikahi dua puluh dua tahun yang lalu. Meski hanya pernikahan siri, tapi kehidupan mereka bahagia. Sayangnya, keluar Hartama tak merestui pernikahan mereka. Tapi, akhirnya orang tua Hartama menerima pernikahan itu dengan syarat, tetap menikah secara siri dan Hartama bersedia untuk menikah dengan Sherly.
Hartama pun pernah merasakan hal yang sama seperti yang Alby rasakan. Tak bisa berbagi! Tapi Titin bukanlah Bia. Bia perempuan yang jelas-jelas mengungkapkan kekecewaannya di depan semua orang. Berbeda dengan Titin, dia yang diam seolah menerima semuanya tapi di saat semua di rasa membaik justru dia meninggalkan putrinya. Kesalahan Hartama ialah menempatkan mereka dalam rumah yang sama. Terlihat semua baik-baik saja, tapi pada akhirnya Titin memilih untuk meninggalkannya dan juga putrinya.
Pertengkaran terakhir yang terjadi sebelum Titin pergi benar-benar meninggalkan bekas di kepala Hartama. Sebuah kalimat yang nyatanya hingga saat ini masih terngiang-ngiang di telinganya meski suara Titin kala itu tak seperti orang yang sedang membentaknya.
"Jangan pernah tawarkan jalan surga yang menyulitkan ku untuk menapakinya mas jika ada jalan yang lebih mudah untuk ku lalui."
Hartama tersadar dari segala ingatan nya tentang masa lalunya.
Sejahat-jahatnya Hartama, dia masih memiliki sisi baik. Sedikit! Ya, mungkin sedikit!
.
.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam, tapi entah kenapa mataku belum bisa terpejam. Aku mendengarkan murotal Qur'an dari ponsel ku. Mungkin akan membuat ku merasa tenang. Benar saja, aku merasa jauh lebih tenang. Meski tak benar-benar tidur tapi aku mulai nyaman memejamkan mataku.
Belum lama ku pejamkan mataku, lamat-lamat ku dengar ada yang mengetuk jendela ku.
Tok...tok...
"Neng, ini Aa!", kata nya. Aku pun bangkit dari tempat tidur ku.
Tok...tok ..
__ADS_1
"Neng Bia, ini Aa. Bisa minta tolong buka pintu depan?", tanya nya lagi. Setelah memastikan itu benar-benar suara suami ku, aku pun menyahutinya.
"Iya A, sebentar!", jawabku. Aku pun keluar dari kamar ku menuju pintu depan. Tak lama kemudian, aku melihat Alby benar-benar ada di hadapan ku.
"Assalamualaikum neng!", Alby mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambut uluran tangan itu.
"Walaikumsalam."
Aku masih sedikit terkejut melihat keberadaan Alby di sini. Entahlah! Rasa senang sekaligus kecewa seolah samar-samar berada dalam dadaku.
Kami berdua sama-sama masuk , tak lupa Alby kembali mengunci pintunya.
Kulihat wajah lelah Alby saat ini. Mungkin karena ia lelah mengemudi mobilnya.
"Aa bebersih dulu, tolong siapin teh hangat ya neng. Dingin banget, perut Aa ngga enak!"
"Iya A."
Aku pun patuh pada perintah suamiku itu. Ya, bagaimana pun dia suami ku. Semarah dan sekecewa apapun, aku masih harus mematuhinya selama itu tak melanggar aturan yang berlaku di dalam agama.
Beberapa menit kemudian, Alby duduk di bangku meja makan.
"Minum A, biar hangat perut nya!", ujarku. Aku masih belum banyak bertanya kenapa tiba-tiba ia ada di sini. Alby pun menerima gelas dari ku lalu menyesapnya sesaat. Setelah itu, pandangan kami bertemu. Dia bangkit dan berjongkok di depan perutku.
"Anak ayah apa kabar sayang?", tanya Alby sambil mengusap perut ku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Menyadari aku tak merespon ucapannya, Alby bangkit lalu mengangkat wajah ku hingga aku mendongak menatap wajah tampan nya yang dari dulu selalu membuat ku jatuh hati.
"Maaf!", cicitnya lirih. Sedetik kemudian ia mengecup bibir ku singkat. Aku terpejam beberapa saat. Bukan! Ini bukan mimpi! Alby benar-benar berada di hadapan ku.
"Sare neng!", Alby menggandeng tangan ku menuju ke kamar. Bagai kerbau di cucuk hidungnya, aku pun mengekor di belakang Alby. Tak lupa Alby mengunci pintu kamar kami.
Aku pun merebahkan diri ku di tempat tidur. Antara percaya dan tidak percaya. Alby benar-benar berada bersamaku saat ini.
"Aa kangen sama neng. Tapi aa capek banget! Tolong biarin aa tidur sambil peluk neng ya?", bisik alby. Aku hanya mengangguk pelan.
Sepertinya Alby benar-benar lelah, belum juga lima menit aku sudah mendengar dengkuran halus dari mulutnya. Ia menenggelamkan wajahnya ke cerukan leher ku.
__ADS_1
A, aku sangat mencintai mu. Begitu pun kamu! Tapi kenapa kamu harus menjadi pria yang bodoh A? Kenapa???
Aku lelah dengan pikiran ku sendiri, hingga akhirnya kami sama-sama tertidur dengan berpelukan.