
"Udah pada makan siang belom? Ika belum nih!", celetuk Anika setelah kami semua di dalam mobil.
"Makan di mana?", tanya Seto. Dia yang menyetir mobil kali ini.
"Eum...kalian mau makan apa?", tanya Anika lagi.
"Aku ikut aja!", kata Febri. Seto pun mengangguk setuju dengan ucapan Febri.
"Mba Bia mau apa?"
"Apa ? Ikut kamu aja lah Ka!", sahutku.
"Bener? Ya udah, aku mau makan baso Arsyad!", kata Anika.
"Kamu tahu baso itu?", tanya ku.
"Tahu! Biar tempatnya kecil, di pinggir jalan gitu tapi rame! Enak , bersih murah lagi. Bisalah kalo traktir kalian hehehhe."
"Bayar sendiri-sendiri aja Ika. Kamu belum kerja!", kataku.
"Emang sih, tapi kan aku juga dapet duit jajan dari ayah sama mas sakti. Tenang aja mbak!"
Aku menggeleng pelan. Ya, kelakuan Ika memang begitu kali.
"Kak Seto tahu ngga tempat nya di mana?", tanya Anika.
"Ngga!", jawab seto singkat.
"Yah, payah! Udah sampe sini lagi, gimana kalo puter balik dulu?", tanya Anika.
"Ngga usah, nanti ada pertigaan jalan pasar itu ambil kiri aja. Ketemu lampu merah belok kanan. Ngga jauh dari situ belok kanan lagi. Udah ketemu kok. Ngga perlu putar balik lagi!", kataku menjelaskan.
Seto dan Febri saling berbagi, sedang Anika menatap ku takjub.
"Kenapa liatin kaya gitu?", aku tanya pada Ika.
"Ngga?! Kok kayanya mba tahu banget?", tanya Ika.
"Tahu lah, mba kan mantan driver ojol!", sahutku santai. Dan hal itu justru membuat Anika menatap tak percaya.
"Hahahaha ngga gitu juga ekspresi nya Anika!", tanpa ku sadari aku tertawa lepas seperti ini. Padahal hanya candaan receh, tapi setelah sekian lama aku bisa tertawa lepas seperti ini.
"Hahaha mba Bia kalo ketawa makin cantik tahu ngga!", kata Anika.
"Bener kan mas Febri?", tanya Anika lagi.
"Iya! Cantik, dari dulu emang cantik!", sahut Febri jujur. Entah, mendadak aku jadi malu sendiri di puji seperti itu.
"Awas anika, tolong yang di sebelah kamu pegangin. Takut terbang di puji cantik sama mantan! Hahaha!", celetuk Seto.
Wajah ku pasti semakin memerah. Dan Febri malah menguyel-uyel teman nya yang sedang menyetir.
"Woy ...bahaya dodol! Kalo kecelakaan giman!", kata Seto ngegas.
"Luambeee mu Iki lho Tok!", kata Febri.
"Kenyataannya begitu kok!", sahut Seto tak mau kalah. Tapi dia masuk konsen dengan jalan yang tadi aku beritahukan.
"Udah...gini aja rame! Tapi...btw...aku senang liat mba Bia ketawa! Ketawa terus ya mba! Jangan sedih-sedih lagi!", tiba-tiba suasananya mendadak haru. Menghindari perasaan haru, aku pun menyahutinya lagi.
"Aku ketawa terus di kira kehabisan obat lah Ka!", kataku.
"Hahahaha ya ngga gitu juga konsepnya kali mbak!", kata Anika lagi.
Akhirnya mobil kami berhenti di dekat baso Arsyad itu. Mobil cukup terparkir agak jauh karena memang tidak disediakan lahan parkir.
Aku dan Anika jalan lebih dulu. Memilih tempat duduk yang longgar. Kebetulan, suasana warung baso itu tak terlalu ramai.
Anika memanggil seorang laki-laki yang bekerja di warung itu.
"Mas, aku pesen baso urat sama es teh manis ya!", kata Anika.
__ADS_1
"Berapa mba?", tanya mas-mas itu. Aku duduk bersebelahan dengan Anika, sedang Febri bersebelahan dengan Seto. Tapi posisi Febri, tepat di hadapan ku.
Ya Allah, salahkah aku di posisi seperti ini???? Tapi...ini kan cuma makan. Aku ngga selingkuh kok dari suamiku!
"Aku samain aja. Tapi, es teh tawar deh!", kataku.
"Aku kaya Bia!", jawab Febri.
"Aku kaya Anika aja deh kalo gitu!", seru Seto.
"Jadi, baso urat empat. Es teh manis dua tawar dua?", tanya pelayan itu.
"Iya!", sahut Anika semangat.
"Mba Bia tahu banget ya baso sini?"
"Heheh tahu banget sih ngga. Cuma sering ke sini aja dulu."
"Pantesan!", kata Anika.
"Sama siapa kamu ke sini Nduk?", tanya Febri.
"Sama anak-anak lah! Pernah beberapa kali, sama mas sakti juga!", sahutku jujur. Anika tersenyum jahil.
"Wah.... memory palace nih???", ledek Anika.
"Bukan lah Ika. Ini tetap warung baso!", kataku.
"Apaan tuh memori palace Ka?", tanya Seto.
"Liat aja Gugel kak!",sahut Anika. Dan, Seto pun nurut membuka Mbah Gugel yang serba tahu itu. Febri pun mengintip ponsel Seto.
"Opo? Ga roh juga toh? Jarene sarjana, ngene ae ga roh!", kata Seto.
(Apa? ga tahu juga kan? Katanya sarjana, gini aja ga tahu!)
"Nek awakmu roh, ga bakal tekok mbah Gugel setoo!!!"
"Sama-sama ngga tahu, ngga usah saling ngatain kenapa!", kataku. Kedua pria gagah itu pun berhenti berdebat bersamaan dengan datangnya pesanan kami.
.
.
"Papa mau bicara By!", kata Hartama pada Alby.
"Bicara apa?"
Hartama terlebih dulu duduk di sofa ruang tengah. Alby pun mengikuti mertuanya itu.
"Istri mu mau ke mana? Pulang kampung?", tanya Hartama.
"Tidak. Dia mau cari kosan untuk kami nanti."
Hartama menatap menantunya.
"Kosan? Untuk apa?"
''Jelas untuk kami tinggali. Saya akan keluar dari rumah ini. Dan akan mencari pekerjaan lain."
"Kamu sudah mantap akan meninggalkan putri saya?", tanya Hartama.
"Iya!", sahut Alby mantap.
Hartama memijat pelipisnya yang mengkilap terkena sinar lampu.
"Bukankah Bia sudah menerima pernikahan ini?", tanya Hartama.
"Tapi saya tidak ingin menyakiti Bia lagi."
"Tapi kamu pasti sadar kan, kamu juga akan menyakiti Silvy?", tanya Hartama pelan tapi cukup menekan suaranya.
__ADS_1
"Dia yang menginginkannya! Maaf! Mungkin saya memang tak tahu diri. Tapi saya berjanji akan mengembalikan semua yang sudah anda keluarkan untuk Mak saya!"
Hartama menggeleng pelan.
"Kamu tahu, apa yang papa miliki saat ini juga ada hak Bia. Tapi Bia sama sekali tak tertarik dengan apa yang papa berikan, tepatnya papa kembalikan hak Bia."
"Ya. Bia tak membutuhkan semua ini tuan. Dia hanya ingin kedamaian di dalam rumah tangga kami seperti dulu. Meski kami biasa hidup sederhana."
"Tidak kah kamu berpikir, seandainya kamu meninggalkan Silvy dalam posisi seperti saat ini, apa yang akan terjadi dengan anak mu di dalam kandungan Silvy? Kamu ingin dia mengulang lagi usahanya untuk bunuh diri?"
Alby tak lagi menyahutinya.
"Kamu boleh tidak suka pada Silvy. Tapi anak yang ada di dalam kandungannya tidak berdosa! Dia juga punya hak atas diri kamu!"
"Bukankah orang hamil juga tidak boleh di ceraikan?", tanya Hartama lagi.
Alby tak menyahuti ucapan mertuanya itu.
"Istirahat lah! Papa juga mau ke kamar." Hartama meninggalkan ruang tengah. Dengan sedikit ragu, Alby memasuki kamarnya. Hal pertama yang ia lihat adalah istri kedua nya yang berdiri di dekat jendela kamarnya.
Dia menengok sekilas pada Alby, tapi pandangannya kembali ke luar. Alby menjatuhkan bobotnya ke ranjang. Masih ada sedikit nyeri di bekas luka tusukan itu.
"Kamu mau pergi?", tanya Silvy pada Alby. Alby yang awalnya akan memejamkan matanya pun ia urungkan.
"Ya", sahut Alby tanpa merubah posisinya di atas ranjang.
"Baikalah! Itu artinya hari ini hari terakhir kamu liat aku. Dan semoga kamu bahagia dengan kehidupan kamu tanpa aku dan anakku! Maaf! Aku sudah mencintai mu!", suara silvy terdengar bergetar. Alby pun bangkit dari ranjangnya.
"Apa? kamu mau coba bunuh diri lagi?", tanya Alby.
"Lakukan! Aku tidak peduli!", kata Alby.
Setelah itu Alby memasuki kamar mandi. Dia yakin jika Silvy tidak akan melakukan hal bodoh seperti sebelumnya. Tapi belum juga Alby menutup pintu kamar mandi, ia melihat Silvy yang sudah bersiap naik ke pembatas balkon.
Dengan cepat Alby berlari menghampiri Silvy yang benar-benar sudah nekat akan mengulang percobaan bunuh dirinya itu.
"Kamu jangan gila!", teriak Alby.
"Biarin! Biar kamu dan Bia puas! Lebih baik aku dan bayiku mati dari pada aku harus liat kamu hanya dimiliki Bia! Apa aku masih kurang rela dan ikhlas berbagi tubuh kamu? Apa aku masih kurang ikhlas saat aku tak pernah sedikitpun menerima cinta kamu Alby??? Jawab!!!!"
Detik itu juga, Silvy pingsan didalam pelukannya.
Nyeri di perut Alby kembali menyerang, dengan perlahan ia memapah tubuh istrinya ke atas tempat tidur.
Setelah itu, ia keluar dari kamar sambil memegangi perutnya yang kembali mengeluarkan darah.
"Pa...papa...!", suara Alby seperti orang yang mengerang karena kesakitan. Hartama yang baru keluar dari kamar nya pun mendongak ke arah menantunya.
"Alby!", hartama berlari ke lantai atas.
"Kamu kenapa bisa kaya gini ?", tanya Hartama panik.
"Silvy mau coba lompat dari balkon pa. Silvy pingsan!", kata Alby.
"Sapto.... Sapto!", suara Hartama melengking memenuhi ruangan.
Sapto lari tergopoh-gopoh menghampiri tuannya.
"Ya Allah Alby!"
"Sapto, bawa Alby ke mobil. Aku bawa Silvy juga!", kata Hartama.
Tanpa di komando lagi, Sapto memapah Alby. Setelah itu, Hartama membopong silvy menuju ke mobilnya.
Sapto membawa kendaraannya cukup kencang menuju rumah sakit. Entah, dia hanya tak habis pikir dengan masalah yang di hadapi keluarga majikannya.
*****
Hah! Galau lagi kan Lo Alby? Ya iya lah! Selamanya bakal gitu aja terus!
Cinta saja tidak cukup! Selamat menikmati kebingungan mu yang tampan 😉
__ADS_1