Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 73


__ADS_3

Saat sepasang suami istri sedang kalut dengan pemikiran mereka masingmasing, berbeda dengan Silvy yang sedang bahagia dengan kehamilannya yang tidak pernah dia duga sama sekali akan secepat ini.


Keren kali, sekali pakai langsung jadi 😅🙏🙏(Ampuni mereka yang julid ya Allah, Baim ngga apa2 😌)


"Sayang!", panggil Hartama pada putrinya yang saat ini sedang bersantai di tepi kolam renang rumah mereka.


"Ya pa!", sahut Silvy.


"Alby udah nemuin ibu mu nak!", kata Hartama sambil turut duduk di samping Silvy.


"Beneran? Wah... akhirnya dia pulang juga ya pa. Silvy kangen sama Alby pa!", ia memeluk papanya dari samping.


Tapi sayangnya Alby ngga kangen sama kamu,Nak! Hartama hanya mampu berbicara dalam hatinya. Baginya saat ini, Silvy merasakan kebahagiaan menurut dirinya sendiri.


"Pa!"


"Heum?"


"Alby tahu Silvy hamil?", tanya Silvy.


"Iya, papa udah bilang sama Alby. Papa harap dia lebih memperhatikan kalian!", tangan Hartama mengusap kepala putri tunggalnya itu.


"Apa reaksinya?", Silvy mendongak menatap wajah papanya.


"Harusnya sih bahagia, tapi entah lah. Dia belum menunjukkan apa pun."


"Em... begitu ya?", Silvy menyahuti dengan lesu.


"Udah lah ngga usah di pikirin! Yang penting kamu perhatikan kandungan kamu, calon pewaris Hartama!"


Silvy mengangguk pelan.


"Tapi...ada yang harus papa katakan!"


"Apa?"


"Bia ikut kemari!"


"Hah?", pekik Silvy.


"Ibumu ingin bertemu dengannya!"


Silvy mendengus kesal. Bisa-bisanya si Alby bawa istri pertamanya ke sini.


"Tapi dia ngga tinggal sama kita kan?"


"Baiknya gimana?"


"Ogah pa. Bia ngga mau liat kemesraan mereka!"


"Hahah tentu saja papa ngga akan biarin hal itu terjadi sayang."


"Lalu?"


"Itu urusan Alby! Mau tinggal dimana di taruh mana istrinya itu , buat papa ngga penting. Yang penting, Putri papa!"


"Makasih papa ku sayang!"


"Ya sayang!", Hartama mengecup puncak kepala Silvy.


"Btw, gimana keadaan Mak tua itu?", tanya Silvy.


"Ibu mu?"


"Siapa lagi?", Silvy kembali mendengus.

__ADS_1


"Ya begitulah, mungkin setelah di tengok sama menantu kesayangannya dia jauh lebih baik."


"Ckkkk... menyebalkan!"


"Sabar sayang, nanti kamu bisa kok menikmati permainan papa. Biar dia tahu seperti apa sakit hatinya kamu dan papa karena ulahnya."


"Maksud Papa?"


"Ya, pokoknya nanti kamu hanya perlu menyaksikan perlahan-lahan Titin menyesal sudah menyia-nyiakan dan meninggalkan kita!"


"Sebenarnya, Silvy kasian sama Mak tua itu. Tapi kalo dengar cerita papa soal dia ninggalin Silvy begitu saja dan menitipkan Silvy ke mama Sherly, Silvy sakit hati pa."


Hartama menepuk bahu Silvy pelan.


"Papa paham sayang."


Keduanya memang langit senja sambil mencelupkan kakinya ke dalam air. Hanya mereka yang tahu apa yang mereka pikirkan.


.


.


"Mau makan apa neng?", tanya Alby padaku. Saat ini aku berada di ruangan Mak. Teh Mila sudah pulang terlebih dulu.


"Apa aja lah A!", sahutku datar.


"Neng, maneh kudu makan. Karunya si utun."


"Belum pengen Mak!", aku menunduk memainkan ponselku.


Alby menghela nafasnya lalu menyeret bangku hingga duduk di samping ku. Saat dia ingin memulai berbicara, aku bangkit.


"Kemana?"


"Sofa! Udah ada Aa di dekat Mak!", kataku sambil melenggang menuju sofa.


"Sayang, Aa beliin K*c ya? Ada di depan, gak lama belinya."


"Aku ngga pengen apa-apa."


"Benar kata Mak, kamu kan harus mikirin si utun juga."


Aku tak menyahuti ucapan Alby lagi. Mataku kembali fokus dengan ponsel ku. Memang aku sibuk ngapain???


Aku hanya membaca novel online diaplikasi kesayangan ku ini.


Tanpa menunggu apa pun yang ku katakan, Alby keluar dari ruangan Mak.


"Neng?", panggil Mak. Aku mendongak menatap Mak. Tapi aku masih duduk di sofa.


"Mak butuh sesuatu?",tanyaku. Mak menggeleng. Akhirnya aku menghampiri beliau.


"Mak minta maaf atas semua yang terjadi dalam rumah tangga kalian. Semua berawal dari kesalahan-kesalahan Mak. Tapi kamu dan Alby yang harus menanggung akibatnya."


Diam! Aku memilih diam. Entah kenapa aku merasa bosan dengan kata 'maaf'.


"Mak istirahat saja. Bia mau meluruskan kaki di sofa. Kalo Mak butuh sesuatu, panggil Bia saja."


Aku kembali beranjak menuju sofa lagi.


Bia berubah! Mungkin rasa sakit hatinya yang membuat dia seperti sekarang! Maaf saja memang tak bisa mengobati lukanya. Andai semua bisa di perbaiki! Batin Titin. Dia pun memilih untuk memejamkan matanya.


Aku masih memainkan ponselku. Ada sebuah novel yang ku baca dari bab satu dan sekarang sudah ku baca hingga ratusan bab. Kok bisa ya segini banyak?


Ckk...aku berdecak sendiri. Kenapa aku harus mengalami drama-drama seperti di sinetron ikan terbang itu?

__ADS_1


Aku memijat pelipisku. Ini kan hanya dunia novel? Kenapa sebaper itu???


Ku usap perutku yang masih datar. Apa iya aku bertahan di posisi ini murni hanya karena anak ini? Tapi...Silvy pun sedang mengandung anak Alby juga.


Aku memijat tengkukku yang rasanya begitu berat. Sesekali aku mematahkan leherku ke kiri dan ke kanan.


"Capek? Aa pijat ya?", tiba-tiba Alby sudah ada di belakang ku. Dia memijat bahuku pelan. Ingin ku tolak, tapi pijatannya membuat ku nyaman dan sedikit rileks. Entah berapa menit berlalu tangan kekar itu masih memijat bahu dan tengkukku.


"Udah mendingan?", tanya Alby. Aku mengangguk pelan.


"Makan ya? Habis itu, baru mandi terus solat magrib!", pintanya. Aku pun mengiyakan saja, cari aman. Toh nantinya juga dia bakal terus membujukku.


Kami makan dalam diam.


"Neng, setelah ini Aa mau cari kosan buat neng. Ngga apa-apa kan, Aa tinggal di sini sama Mak?", tanya Alby usai kami makan.


Aku mendesah pelan. Andai aku ada pilihan, aku memilih untuk di kampung saja.


Aku sudah menjalankan kewajiban ku tiga rakaat. Setelah itu, Alby pun berpamitan padaku.


Alby keluar dari area rumah sakit. Dia bingung, kemana akan mencari kosan untuk istrinya. Terbersit di pikiran nya, Marsha!


Alby pun menghubungi Marsha.


[Hallo mas Alby?]


[Sha, sibuk?]


[Ngga sih, baru selesai mandi. Ada apa?]


[Kalo boleh minta tolong, kamu ada info kosan ngga?]


[Heum? kosan? Buat siapa?]


[Bia]


[Istri mu ikut ke sini?]


[Ya.]


[Kalo mau sih, satu kosan sama aku. Kebetulan di kamar sebelah kosong. Itu juga kalo mau sih]


[Kamu kost di sini?]


[Iya, aku kan asli Batam]


[Oh, boleh deh kalo gitu. Bisa kasih alamat nya? Biar aku bisa ke sana, mungkin besok]


[Oke, ku kirim alamatnya]


Panggilan dengan Marsha pun terputus. Baru saja Alby meletakkan ponselnya, panggilan dari istri keduanya tiba-tiba menghiasi layar benda pipih tersebut. Dengan ogah-ogahan, Alby pun mengangkat nya.


[Ya]


[Hubby, pulang sekarang dong! Aku kangen tahu]


Alby mengusap kasar wajahnya.


[Iya, aku jalan pulang]


Alby pun memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya terlebih dulu. Tak lupa ia mengirim kan pesan pada Bia, bahwa dia pulang ke rumah Hartama lebih dulu.


Aku menatap layar ponsel ku sekilas. Sudah ku duga!


*****

__ADS_1


Silahkan!!!! 😌😌😌😌 mamak terima komen dan Krisan dalam bentuk apa pun. Makasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2