
Aku sudah di sibukkan dengan kegiatan ku di kampung halaman ku ini. Sibuk di warung membantu kedua lek ku kadang juga bertandang ke rumah ibu ku untuk sekedar bertemu dengan kedua adikku.
Adikku? Ya. Aku sudah dengan sangat terbuka menerima kehadiran Esa dan Wibi. Esa yang sudah cukup besar tak terlalu merepotkan ku jika di ajak. Berbekal dengan Wibi yang usianya masih sekitar tiga tahunan, tak beda jauh dari usia pernikahan ku dengan Alby. Karena alasan saat ibu ku tak menghadiri pernikahan ku karena ia baru saja melahirkan Wibi di hari yang sama. Tapi karena kebencian dan salah paham yang sudah terlanjur mengakar, aku tutup mata dengan semua alasan ibuku. Padahal ya.... sebenernya siapa sih yang tidak sedih di acara sakral dalam hidupnya justru perempuan yang melahirkannya tak menyempatkan datang. Apalagi, lek Sarman yang menjadi wali ku, bukan bapak kandung ku yang almarhum. Tapi ternyata... pernikahan itu tak berjalan mulus semulus tol Cipali.
Huffft!! Hari ini aku kembali berkutat dengan kesibukan di warung. Alhamdulillah, selalu ramai meski bukan musim liburan. Warung kami tak membatasi kasta pengunjung. Siapa pun boleh makan di sini karena harga yang kami jual cukup terjangkau. Tapi, jika ada yang ingin memesan tempat khusus misal meja tertentu pun kami menerimanya.
Dan kali ini, aku melihat betapa sibuknya karyawan ku di jam makan siang. Lek Dar juga turut membantu di dapur, sedang lek Sarman membantu mengantar pesanan dari meja ke meja. Aku yang baru datang dari rumah karena menginap di rumah bapakku, langsung ikut membantu melayani pengunjung.
Hampir semua meja penuh. Dan aku melihat sekelompok orang yang sepertinya belum memesan makanan. Dari pakaian mereka, sepertinya mereka pekerja proyek.
Oh iya, aku baru dengar kalau katanya proyek tuan Hartama di lanjutkan lagi tanpa melibatkan sawah ku lagi. Ada yang bilang, arsitek nya merubah konsep. Tapi entah, aku tak peduli.
"Permisi, selamat siang. Mau pesan apa ya bapak-bapak?", tanya ku sopan. Tak lupa aku sudah memakai celemek seperti yang lain. Hanya saja aku masih memakai gamis seperti biasanya.
"Masyaallah, gareulis pisan neng teh!", puji salah satu dari mereka.
(Cantik banget)
"Hatur nuhun kang! Mau pesan apa A?", tanyaku ulang.
"Si neng tiasa basa Sunda?", tanya yang lain.
"Muhun A. Gimana, mau pesan apa?", tanyaku lagi yang sudah hampir habis kesabaran.
Akhirnya setelah berdebat alot, mereka pun memesan makanan. Aku heran, kenapa pekerja proyek malah di datangkan dari luar kota? Sedangkan penduduk di sini saja banyak yang bisa bekerja seperti mereka kan?
Setelah beberapa menit berlalu, pesanan mereka pun kuantarkan. Tapi ada seseorang yang menarik perhatian ku.
Ya, lelaki ku sedang bersama dengan para pekerja proyek itu. Bahkan dia pun memakai pakaian yang tak beda jauh dari mereka dan tentu saja karena wajahnya sudah terlalu melekat di ingatan ku.
Dia tersenyum mendekati ku, rekannya hanya menatapnya heran.
"Kumaha damang Neng, cager?", bisiknya tepat di telinga ku. Untung saja semua makanan sudah ku letakkan di meja. Kalau tidak, pasti sudah pada jatuh karena badan ku bergetar.
(Bagaimana kabar neng, sehat)
"Iraha kadie A?", tanyaku gugup.
(kapan ke sini A?)
Bagaimana aku tak gugup, setelah lebih dari seminggu kami tak bertukar kabar karena bertengkar saat itu tiba-tiba saja dia sudah bersama ku di sini.
__ADS_1
"Tos tilu poe."
(udah tiga hari)
Aku meneguk ludahku kasar.
"Aa buktiin ke Neng, Aa ga akan pernah lepasin neng. Apalagi buat Febri, Aa ngga ridho!", bisiknya lagi. Ya, sosok Alby kali ini sangat berbeda dari biasanya.
"Oh iya, perkenalkan. Ini istri saya!", Alby memperkenalkan ku pada para pekerja itu. Maksud nya apa?
"Oh... pantes atuh tiasa basa Sunda", celetuk salah seorang di antara mereka.
"Kenapa kamu di sini?", tanya ku saat aku mulai menguasai keterkejutan ku.
"Karena aku akan memperjuangkan kamu,Bia!", Alby meremas kedua bahuku. Tapi aku segera menepis nya.
Aku malu jika pada akhirnya nanti kami bertengkar di hadapan semua orang.
"Silahkan dinikmati!", ujarku meninggalkan meja itu. Tapi Alby menarik tanganku!
"Kita harus bicara!", katanya pelan tapi menekan.
"Atau kamu mau kita jadi tontonan gratis? Iya?", tanya nya balik. Demi menghindari kericuhan, akhirnya aku pun menuruti perintah Alby.
"Baiklah!"
Aku pun berjalan lebih dulu dibandingkan Alby, lalu ku serahkan nampan pada salah seorang karyawan ku.
"Kita bicara di rumah bisa kan?", tanya Alby padaku.
"Ngga usah, di sini saja!", tolakku.
"Jadi kamu mau neng, semua orang tahu apa yang terjadi dengan pernikahan kita?", tanya nya sambil menatap ku lekat.
"Kita bisa bicara pelan-pelan, tidak seperti mahasiswa yang sedang orasi bukan?"
Alby menggelengkan kepalanya.
"Tapi aa butuh bicara serius! Di rumah, tidak di sini! Oh....oke neng ngga sudi Aa ke rumah bapak lagi? Ya udah, kita ke hotel depan!"
"Ckkk...memang mau ngomong apa sih A? Kenapa harus ke rumah kenapa harus ke hotel? Ngomong-ngomong aja sih!"
__ADS_1
"Mau ke rumah atau aku paksa kamu ke hotel?", tanya Alby dengan wajah yang sepertinya sudah menahan marah.
Kami seperti orang yang berbeda. Sungguh! Sebelumnya kami ini sepasang suami istri yang tak pernah sekalipun bersikap seperti ini. Ternyata, prahara rumah tangga merubah semua tingkah laku dan tabiat kami.
"Oke, ke rumah!", jawabku pada akhirnya.
.
.
Anika sedang tidak ada kuliah hari ini, begitu pun dengan Dimas dan Seto yang istilah katanya sedang off. Meski sewaktu-waktu mereka mendapatkan tugas mereka harus siap. Dan Febri sendiri, kini berada di markas TNIAD karena ada hal yang harus di urus.
Anika memilih membaca novel online nya di pinggir kolam renang. Mungkin dia bosan berada di kamar terus.
"Non, bibi mau ke pasar. Kira-kira non Ika mau pesan apa gitu ya?", tanya bibik.
"Ngga deh bi, bibi masak apa aja aku doyan kan heheh."
Setelah itu bibik pun berpamitan.
Dimas menghampiri kekasih nya yang duduk di tepi kolam.
"Dek!", sapa Dimas. Anika menengok ke sumber suara itu lalu tersenyum.
Dimas menatap heran pada senyum Anika yang tak seperti biasanya.
"Kak!", sahut Anika. Dimas pun duduk di samping kekasihnya.
"Tumben anteng, ada apa dek?", Dimas mengusap kepala kekasihnya itu.
"Apa sebelum sama aku, kak Dimas pernah punya pacar?", tanya Anika. Dimas yang heran pun hanya mengernyitkan alisnya.
"Kok tiba-tiba tanya Kaya gitu?", tanya Dimas.
"Kalo ternyata, pacar nya mas Sakti itu mantan pacar kak Dimas, gimana?", tanya Anika lagi.
Dimas semakin bingung di buatnya.
"Kamu ngomong apa sih dek!", Dimas kembali mengusap kepala anika lalu mengecup nya.
Kenapa Anika bertanya seperti itu???
__ADS_1