
Minggu pagi nan cerah, secerah wajah pasukan warung ku. Mereka antusias sekali untuk liburan ke **fan. Aku tak bisa menahan senyum ku melihat betapa mereka sangat bahagia di ajak ke tempat itu.
Bagaimana kalo di ajak ke Universal studio Singaparnaaa??? 🙈🙈🙈🙈🙈
"Udah siap semua ya??? Nanti disana juga bakal di adakan game ya!", kata leader.
"Siap!!!!",sahut mereka semua kompak dan semangat.
Jam enam pagi kami berangkat menuju ke daerah Utara kota Jakarta. Memakan kurang lebih satu jam untuk sampai ke sana. Sebelum masuk, tentu saja kami bersiap dulu untuk sarapan yang sudah di sediakan oleh panitia. Aku cuma terima beres!
Usai sarapan, kami pun mengadakan game untuk lebih mengakrabkan satu sama lain sesama rekan kerja warungku.
Terdengar tawa bahagia mereka semua, bahkan adik-adik kecil anak para koki pun turut bahagia.
Alhamdulillah, melihat senyum mereka saja aku sudah sangat bersyukur. Tanpa bantuan mereka, mungkin warung ku belum Semaju sekarang.
Apakah aku rugi jika tutup selama tiga harian? Secara finansial mungkin iya, tapi secara rohaniah aku beruntung. Beruntung di beri kesempatan buat membahagiakan orang-orang yang sudah membantu ku selama ini.
Aku tak ikut dalam games itu, cukup jadi penonton dan mengabadikan moment-moment mereka yang tertawa lepas dengan ponsel ku.
Pintu masuk sudah di buka, kami semua bersiap masuk ke sana. Dan seperti biasa, kami akan berkumpul di jam makan siang. Kami akan seharian full ada di dalam sini. Aku sempat menawarkan apakah ingin ke SeaW*** atau pantai Mari*** atau ke manapun itu. Mereka kompak menjawab tidak. Mereka bilang ingin menghabiskan waktu liburan di dalam sana untuk mencoba semua wahana.
Ckkk...jiwa muda memang beda! Bahkan kedua lek ku serta keluarga para koki ku pun memilih berada di dalam area itu. Luar biasahh!!!
Setelah memastikan mereka semua masuk, baru lah aku masuk. Saat sudah melangkah menuju ke dalam, sebuah rangkulan mengejutkan ku!
"Mbakkuuuuu!", pekiknya. Suara itu menggema di telinga ku.
"Dek Ika ihhh....kalo kuping ku mendadak tuli gimana hayo???"
"Hahaha ya maap!", kata nya.
"Hai Bi!", sapa Sakti dan Bina.
"Hai juga. Alhamdulillah, kita bisa liburan bareng lagi!"
"Iya nih! Seneng banget aku!", Bina bertepuk tangan dengan girangnya.
"Yuk masuk!", ajak Sakti pada tiga perempuan cantik itu.
"Berasa punya istri tiga ya mas?", tanya Bina sambil menggelayuti lengan suaminya.
"Punya satu aja ga abis-abis! Ngapain tiga segala!", kata Sakti mencubit pipi istrinya.
Anika menggeleng jengah.
"Couple SaSa emang gitu mbak! Ngga di mana juga kaya orang baru pacaran! Lebay bin alay!", cebik Anika.
"Bilang aja ngiri weeekk!", seru Bina.
"Ogah, Ika mah maunya nganan aja! Yuk mbakku!", Anika menyeret ku menjauh dari sepasang suami istri itu.
Di pintu masuk, keluarga besar HS grup pun masuk. Jumlahnya pun jauh lebih banyak di bandingkan dengan pasukan Bia. Ya jelas lah, perusahaan besar di banding dengan warung tentu saja tak bisa di anggap remeh.
Ratusan karyawan HS grup menuju ke dalam area **fan. Tak ketinggalan juga CEO sementara yang turut hadir di acara itu.
Pria tampan itu menggendong bayi kecil dengan gendongan baby. Sedang punggung nya menggendong ransel berisi perlengkapan putranya.
Siapapun melihat Alby seperti 'hot Daddy' yang menenteng anaknya ke mana-mana. Dia memang tak memakai jasa babysitter. Mak Titin sebenarnya di ajak, tapi keadaan nya sedang kurang sehat. Teh Mila pun tidak bisa di ajak.
Sebenarnya ada Marsha, tapi kali ini dia tak ingin merepotkan Marsha yang juga ingin berbagi kebahagiaan dengan Jonathan, calon tunangannya yang bekerja di kantor cabang.
"Mas Alby, biar aku bantu bawa tasnya sini?!", pinta Marsha.
"Ngga usah. Aku bisa kok, tenang saja. Lebih baik, kamu sama Jo lanjutin kencan nya. Mumpung berdua lho!!"
Jonatan tersenyum tipis, ia berterima kasih sekali memilki bos yang pengertian.
"Tapi mas Alby kerepotan!", kata Marsha lagi.
"Ngga lah. Aku juga mau quality time sama Nabil!", sahut Alby sambil tersenyum tipis.
"Oke, kalo butuh bantuan telpon aku aja ya mas!"
"Iya Sha! Enjoy ya Jo!", kata Alby.
"Iya pak, terimakasih!", kata Jo. Lalu dia menggandeng tangan kekasihnya menuju ke wahana yang tak terlalu ramai di pagi ini.
Alby berjalan-jalan pelan menikmati suasana. Tangan Nabil terus bergerak senang. Alby pun turut tertawa menanggapi tawa Nabil yang menggemaskan.
.
.
"Ayok mba, naik ke bianglala!", ajak Anika.
"Maaf, dek! Mba lagi pusing, kalian aja yang naik deh! Kalo berhenti di atas kan goyang-goyang tuh, Mbak suka pusing!"
"Owh, mba udah sering ke sini ya?", tanya Anika.
Aku mengangguk tipis. Iya, sama Alby beberapa kali Dek! Kata ku dalam hati sih.
"Tapi mba jangan ke mana-mana ya!", pinta Anika.
"Yakin kamu ngga mau ikut Bi?", sekarang sakti yang bertanya.
"Ngga deh mas! Aku tunggu kalian di sini!", kataku.
Dan ya... mereka bertiga mengantri untuk naik wahana lingkaran besar itu!
Aku duduk di pinggiran yang bisa ku pakai untuk duduk. Tiba-tiba seseorang duduk disamping ku. Aku yang sedikit terkejut pun menggeser dudukku.
Orang itu memakai masker dan jaket Hoodie berwarna hitam. Postur tubuh nya yang tingga besar membuat ku merasa sedikit takut. Jadi aku memutuskan untuk bangkit dari sana, tak ingin berprasangka buruk pada orang lain. Aku melangkahkan kaki menjauh darinya sampai aku mendengar suara itu.
"Nduk?!!!", panggilnya. Aku menghentikan langkahku. Memastikan apakah aku salah dengar atau tidak. Tapi aku tak menoleh, karena panggilan itu sepertinya hanya kehaluan ku. Aku pun melangkahkan kaki ku lagi.
"Nduk! Mas kangen sama kamu!", katanya lagi. Akhirnya aku membalikkan badanku. Di saat yang sama, pria itupun membuka masker nya.
Aku membeku di tempat. Aku sedang tak bermimpi. Tapi detik berikutnya aku melangkahkan kaki ku lagi.
Febri melepaskan Hoodie nya sambil tersenyum menatap ku. Aku menghampirinya.
Tanpa aba-aba aku langsung menghambur memeluk tubuh lelaki itu. Aku terisak dalam pelukannya.
Ya, aku sudah menyadarinya. Aku merindukan pria ini, Febri ku!
"Kok malah nangis nduk?", Febri melepaskan pelukan ku. Aku tersedu-sedu di depannya.
Dengan cepat aku melepaskan pelukan ku. Aku yang sedang belajar hijrah sepertinya masih gagal. Aku main nemplok aja kaya cicak?
Febri menggandeng ku duduk di tempat yang tadi.
"Kamu kapan pulang mas?", tanyaku sambil menunduk. Aku malu menatap Febri.
Febri terkekeh pelan.
"Kemarin. Dan mas dikasih tahu sama ibu, kamu ke sini. Makanya mas susul! Karena kebetulan kami mendarat dan menginap di markas!"
__ADS_1
Aku mengangguk, mengusap ingus ku. Febri tertawa pelan sambil meraih bahuku.
"Mas!"
"Apa?", tanya nya tanpa merasa berdosa.
"Bukan mahram, ngga boleh peluk-peluk!"
"Hahaha, tadi kamu duluan yang peluk mas kan nduk?"
"Tapi kan tadi reflek mas! Sekarang sudah sadar!"
"Dulu lebih dari ini kok ndd....!", belum selesai mengatakannya aku sudah mencubit bibirnya dengan jariku.
"Lagi ngetren kali ya ngomongin aib dan dosa sendiri. Kaya yang di yucub-yucub sama potkes itu!", kataku sambil melepaskan cubitan ku.
Tapi Febri menggenggam tangan ku.
"Ya, maaf!", ujarnya sungguh-sungguh. Mata kami saling beradu.
"Makasih ya Nduk, kamu sudah mau menerima mas lagi."
Tak ada sahutan dari mulut ku. Hanya menatap mata Febri yang terlihat serius.
"Kamu yang udah janji bakal kembali sama aku mas, dan kamu udah menepati janji kamu?!"
Febri tersenyum, mengusap puncak kepala ku.
"Kalo mas mau kita segera menikah, kamu keberatan ngga?", tanya Febri. Aku tersenyum tipis, lalu menggeleng.
"Aku ngga keberatan mas."
Febri tersenyum, lalu kembali memeluk ku.
Eh??? Kan??? Nih badan kaya cicak aja main nemplok? Murahan amat sih kamu Bia????
"Mas, ih...lepasin! Malu sama orang!"
Febri melepaskan pelukannya.
"Kali aja mereka mikir kita suami istri yang lagi kencan. Ya kan???"
"Awas ah...jauhan duduknya!"
"Dih...jual mahal! Tadi yang duluan nemplok siapa???", katanya.
"Mas!!!", pekikku. Dan setelah itu Febri tergelak.
Berbeda dengan Febia, Alby yang tak sengaja melihat kemesraan itu hanya menatap sedih.
Harusnya ia senang bukan melihat orang yang dicintai nya bisa tertawa lagi seperti itu? Ada genangan di pelupuk mata Alby. Sekali kedip, air itu pasti jatuh.
Kesadarannya kembali saat Nabil tiba-tiba menangis kencang. Tak seperti biasanya, Nabil menangis seperti itu. Sontak tangis bayi itu menjadi perhatian orang sekitar.
Apalagi, Nabil hanya berdua dengan Alby. Tentu banyak mata yang memandangnya iba. Papa muda nan tampan itu terlihat kewalahan dengan tangis bayinya.
Suara tangisan itu menarik perhatian sepasang kekasih yang sedang saling melepas rindu.
Aku dan Febri menoleh ke sumber suara tangisan bayi itu. Mataku tertuju pada sosok yang menggendong bayi yang sedang menangis itu.
Dia...Alby! Dan bayi itu tentu lah Nabil, darah dagingnya bersama Silvy. Febri mengguncang pelan bahuku.
"Nduk?", panggilnya.
"Heum?"
Aku masih bergeming di tempat aku duduk tadi. Tangan ku masih dalam genggamannya, tapi bokong ku masih melekat di tempat duduk. Aku enggan ke sana! Padahal hanya beberapa langkah dari tempat kami duduk.
"Ayok!", ajaknya lagi. Dan terpaksa aku bangkit sambil mengeratkan genggaman ku. Dan Febri memandangi tangan ku yang menggenggam erat.
Beberapa langkah kemudian, kami berada di hadapan Alby. Alby memalingkan wajahnya beberapa detik ke arah lain. Mungkin menetralkan perasaannya.
"Alby, Lo apa kabar? Anak Lo? Dia kenapa nangis gini?", tanya Febri sambil mengusap pipi Nabil.
Aku memilih untuk tetap menggenggam tangan kiri Febri. Dan pemandangan itu membuat mata Alby menatap nya lekat.
Kamu benar-benar sudah bisa berpaling dari ku Bi!
"Seperti yang Lo liat!", jawab Alby datar. Febri hanya menatap Alby sekilas lalu kembali beralih pada Nabil.
"Siapa nama anak Lo?"
"Nabil!", jawab Alby singkat.
"Lo cuma berdua sama Nabil?", tanya Febri lagi. Alby menghela nafasnya panjang.
''Silvy masih koma setelah melahirkan Nabil!", jawab Alby tanpa menatap wajah lawan bicaranya. Febri tak lagi bertanya tentang istri Alby lagi.
"Boleh gue gendong Nabil?", tanya Febri. Bayi itu masih saja menangis di tengah obrolan dua lelaki dewasa itu.
Alby pun melepaskan gendongan nya, membiarkan Febri mengangkat putranya.
"Sssh....kamu kenapa anak ganteng?", Febri menimang-nimang Nabil. Tak berapa lama tangisnya pun mereda. Alby menatap heran pada putra dan mantan rivalnya tersebut.
"Dia ngga nyaman di gendong seperti itu By!", ujar Febri. Tak ada sahutan dari alby, Febri melanjutkan kalimatnya.
"Gue...emang belom pernah menimang anak gue. Karena sebelum dia lahir, dia udah di ambil sama yang kuasa!", kata Febri sambil mengayun-ayun Nabil yang makin lama makin merasa nyaman dan memejamkan matanya.
"Tapi...gue biasa kok gendong bayi kaya gini, di perbatasan bahkan di Medan perang kaya kemarin."
Febri menatap Nabil yang nyaman dalam pelukannya.
"Bayi itu 'perasa' ulung! Kalo yang menggendong nya dalam kondisi emosi, dia juga akan merasakannya. Begitu pula sebaliknya!", kata Febri. Kini pria gagah itu menatap lekat mata Alby yang menatap Febri datar dan dingin.
"Lo baru balik dari luar?", tanya Alby.
"Iya baru kemarin. Tapi Lo ga usah cemas, Ki sudah cek up medikal kok. Sehat walafiat."
Aku masih bergeming mendengar obrolan mereka.
"Nduk!", Febri memanggil ku. Aku pun menoleh padanya.
"Bukankah hubungan kalian sudah membaik? Kenapa sekarang seperti ini lagi?", tanya Febri.
"Memang aku harus gimana mas? Kami hanya rekan kerja sekarang! Karena aku mendapatkan saham gratisan dari perusahaannya."
Alby meneguk salivanya. Perempuan yang pernah bahkan masih mengisi hatinya sudah berubah. Ya, Bia sudah berubah!
"Kamu gendong Nabil dulu Nduk!", kata Febri menyerahkan Nabil padaku.
"Eh...? Ngga? Ngapain di kasih ke aku! ada bapaknya kok!", tolakku. Tapi Febri tetap menyerahkan Nabil yang tertidur pulas.
Aku hanya menghela nafasku. Entah kenapa aku masih saja merasa tidak nyaman. Nabil salah satu alasan dimana aku harus mengalah dan mengakhiri hubungan ku dengan Alby.
Alby pun seolah tak mencegah Febri untuk menyerahkan Nabil padaku.
"Kamu lihat kan, Nabil ganteng banget kaya bapaknya!", kata Febri. Entah apa makna dari ucapannya. Aku tak menyahuti ucapan Febri. Kedua tanganku hanya mendekap tubuh mungil itu.
__ADS_1
"Jangan membenci Nabil, dia tidak bersalah!", kata Febri. Sontak aku dan Alby menatap pada sosok tinggi besar itu. Lalu mata Febri menatap ku dan alby bergantian.
"Aku tak membencinya!", kata ku datar.
"Benarkah? Kalo kamu memang ngga benci Nabil, kenapa sikapmu dingin nduk? Kamu dari dulu suka anak kecil apalagi bayi mungil seperti ini!", kata Febri lagi.
Alby yang tak tahan mendengar obrolan keduanya hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. Mungkin dia menganggap itu sebuah 'kemesraan' di antara pasangan.
"Coba, pelan-pelan kamu hapus kebencian kamu nduk."
Aku menahan emosi ku beberapa saat, sampai akhirnya Nabil kembali terbangun. Dan Febri mengambilnya lagi dari dekapan ku.
"Benar kan yang aku bilang? Bayi itu 'perasa' paling ulung!"
Nabil kembali terlelap saat Febri mengayun-ayun Nabil lagi. Aku tak mau menimpali ucapannya lagi.
"Capek berdiri terus, duduk ya sayang!",tangan kanan Febri menarik ku untuk duduk di tempat semula. Dan tangan kiri nya masih menggendong Nabil.
Jadilah, Febri duduk diantara aku dan Alby.
"By, gue ...mau menikahi Bia secepatnya!", kata Febri tiba-tiba. Yang aku heran, kenapa Febri harus mengatakan di depan Alby?
Apa maksud nya? Mau pamer?
Alby tak menyahutinya. Siapa yang bisa menebak perasaan papa muda itu?
"Gue harap, Lo udah ikhlas melepaskan Bia, buat gue! Dan...biarin gue yang bakal jaga dan bahagiain Bia!", kata Febri lalu menatap lekat pada mantan suami dari kekasihnya.
Alby masih bergeming. Dia harus berkata apa? Melarang Febri? Mengiyakan ucapan Febri?
"Nduk, boleh gendong Nabil lagi? Mas mau bicara berdua sama Alby!", kata Febri.
"Aku bukan babysitter nya mas!", tolakku pelan. Lalu Febri menarik dagu ku untuk menatapnya.
"Mas butuh bicara berdua sama Alby! Sampai kapan kamu akan menganggap Nabil bersalah di sini, heum?"
Dengan berat hati, aku kembali menerima Nabil. Tapi kali ini sepertinya Nabil nyaman-nyaman saja dalam dekapan ku.
"Kita bicara di sana ya!", ajak Febri pada Alby sambil berdiri. Alby pun turut bangkit.
"Nitip Nabil sebentar ya Neng...eum...Bi!", kaya Alby sedikit kikuk memanggil ku. Bukankah artinya sama ya 'neng' dan 'nduk' ? Seperti halnya mas Febri yang memanggil ku.
"Panggil seperti biasa juga tak masalah!", kata ku santai. Alby menatap ku sekilas setelah itu barulah ia mengikuti Febri.
Sepeninggal mereka berdua, aku memandangi Nabil. Jari ku reflek menyentuh pipi chubby bayi itu. Aku akui Nabil begitu tampan, wajah nya hampir sembilan puluh persen mirip Alby.
Spontan aku mencium pipi Nabil. Andai anakku masih ada, usianya tak beda jauh dengan Nabil.
"Jadi anak yang kuat ya Nabil! Yang Soleh!", bisikku masih dengan sesekali mencium pipinya. Aku pun tersenyum melihat Nabil yang menggeliat.
Tanpa di sadari, ada orang yang merekam tingkah Bia yang tampak menyayangi Nabil.
.
.
"Lo mau ngomong apa?", tanya Alby setelah keduanya mencari tempat untuk berbicara.
"Gue tahu, mungkin dalam hati Lo, Lo masih benci sama gue!", kata Febri. Alby tak menyahuti ucapan Febri.
"Maaf!", kata Febri lirih. Akhirnya Alby menengok ke Febri yang sedang menggenggam pinggiran pagar yang mengelilingi salah satu wahana.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk banyak hal yang membuat Lo benci sama gue!", jawab Febri.
"Lo dan perasaan Lo ga salah Feb! Semua kesalahan dari gue! Gue cuma akan menyakiti Bia kalo dia masih bertahan disamping gue!"
"Tapi Lo masih benci sama gue?"
"Ngga! Gue gak berhak benci sama Lo, tapi gue emang pernah bilang ngga akan ridho kalo Bia sama Lo. Tapi ...gue liat sendiri gimana Bia meluk Lo tadi. Dia tulus! Mungkin benar, dia pernah benar-benar jatuh cinta sama gue. Tapi...dia juga masih punya rasa sama Lo, dan hal tadi yang membuktikannya!"
Febri membalikkan badannya menatap Alby yang menundukkan kepalanya.
"Makasih...Lo udah ijinin gue sama Bia."
Alby menggeleng lemah.
"Lo ga perlu ijin sama gue. Sejak gue menalak Bia, itu artinya gue benar-benar sudah melepaskan hak dan keinginan gue, buat Bia!"
Febri menghela nafasnya.
"Makasih!", ujar Febri. Alby mengangguk.
"Gue liat,Bia nyaman sama Lo! Itu udah cukup buat gue! Meski sebenarnya gue merasa ngga adil! Kadang gue berpikir, kapan kebahagiaan menghampiri hidup gue! Tapi... setelah Nabil lahir, kehadirannya adalah kebahagiaan gue di tengah kekalutan hidup gue."
"Ya, Lo masih punya Nabil yang harus Lo jaga dan Lo sayangi."
"Gue bakal fokus sama Nabil dan Silvy....gue pasrah apa pun nanti hasil akhirnya."
"Semoga Lo sabar menghadapi semuanya ya By! Dan gue harap, hubungan kita bisa jauh lebih baik. Lo anggap gue temen!"
Alby tersenyum simpul.
"Makasih, Lo masih bersedia jadi teman gue!", ujar Alby. Keduanya saling menepuk bahu.
"Balik ke Bia sama Nabil!", ajak Alby. Febri pun mengiyakannya.
Kedua tampan itu terpaku melihat Bia yang cemberut karena Nabil dengan senangnya mengacak-acak wajah perempuan cantik itu sambil terkekeh.
Keduanya saling berpandangan dan tertawa.
Aku melihat dua laki-laki itu tertawa ke arah ku. Apa mereka menertawakan ku???
"Sini, sama papa !", kata Alby mengambil Nabil dariku.
Aku masih cemberut, tadi saat Nabil tidur bayi itu menggemaskan sekali. Tapi baru saja bayi ganteng itu sukses menarik-narik jilbab dan mengacak wajahku.
"Mama kok manyun siihhhh....!", ledek Febri padaku.
"Apakah????", kataku memundurkan kepala ku.
Febri dan Alby tertawa bersama lagi. Kenapa ya aku merasa bahagia melihat mereka berdua tertawa seperti itu? Tapi tiba-tiba tawa Febri mereda saat tangan Nabil memukul tepat di bibir nya.
Aku menahan tawaku.
"Apa sih kamu, Bil!", kata Febri. Alby pun kembali tertawa. Mungkin...ini untuk pertama kalinya ia bisa tertawa lepas usai merasakan pahitnya kehidupannya selama ini.
"Hai? Ada yang reuni nih????",sapa Sakti.
******
Yang sabar ya mak-mak syantikkk....eyke bukan pelakor kok ✌️✌️✌️ demi deh!
Pokoknya ikutin bae yak kisah mereka! Akan ada saatnya mereka bahagia dengan versi mereka masing-masing. Happy weekend!!!!
Hatur nuhun 🙏🙏🙏 maaf kalo banyak typo
__ADS_1