
Alby menapaki tangga menuju kamarnya. Tapi ternyata, bapak dan anak itu sedang duduk di ruang tengah.
"Sayang, kamu udah datang?", Silvy menghampiri Alby dengan jalan nya yang tertatih. Alby diam di pijakan tangga.
Silvy meraih punggung tangan suaminya untuk di cium.
"Aku kangen tahu By!", kata Silvy manja. Tapi sikap Alby masih datar-datar saja.
"Udah makan?", tanya Silvy.
"Sudah!", jawab Alby singkat.
"Duduk yuk, ada yang mau papa obrolin katanya!", Silvy menarik lengan suaminya. Alby hanya menurut saja.
Kedua kini duduk di hadapan Hartama.
"Kamu ngga seneng istri kamu hamil?", tanya Hartama setelah Alby duduk di hadapannya.
Alby menengok ke Silvy sekilas. Wajah perempuan itu terlihat sangat bahagia. Tak ada niat untuk menjawab pertanyaan Hartama, Alby memilih diam.
"Its okay! Papa hanya berharap kamu menjaga putri dan calon cucu papa sebaik-baiknya."
Alby menunduk menatap lantai marmer yang di pijak kakinya.
"Sayang, kok diam saja sih?", tanya Silvy mencolek dagu suaminya. Alby tak bergeming. Dan tentu saja hal itu membuatnya Silvy kecewa.
"Ehem!", Hartama berdehem.
"Silvy sudah hamil. Papa ngga nyangka saja kalian memberikan papa cucu secepat ini. Jadi, papa akan mengadakan resepsi pernikahan kalian. Dalam waktu dekat ini. Papa ngga mau mereka menyangka putri papa hamil di luar nikah jika resepsi di lakukan setelah perut Silvy membesar."
Alby mendongak.
"Beneran pa?", tanya silvy girang.
"Tentu saja sayang!", jawab Hartama.
"Kenapa anda tidak mengatakannya dulu pada saya?", mata Alby memerah menahan emosinya.
"Untuk apa? Toh...kamu terima beres? Memang kamu punya uang untuk membuat pesta resepsi pernikahan kalian? Ngga kan? Bahkan gajiku saja belum keluar!", sindiran Hartama menohok hati Alby. Serendah itu dirinya di pandang sebagai laki-laki? Inikah harga diri yang harus di obral selama ini ia junjung tinggi???
__ADS_1
"Udah lah sayang, kita terima beres saja."
Silvy menggelayut manja di lengan suaminya.
"Dalam beberapa hari ini, semua akan siap kok sayang. Percaya sama papa, oke?"
"Tentu saja papa ku sayang!", kata Silvy dengan senangnya.
"Ya sudah, papa mau istirahat. Kamu juga ya!", kata Hartama pada putrinya.
"Iya pa!", sahut Silvy. Alby masih diam di tempatnya.
"Ke kamar yuk sayang. Udah malem!", ajak Silvy. Alby yang merasa lelah hati dan fisik hanya menuruti ajakan istrinya untuk segera ke kamar.
Sesampainya di kamar, Silvy langsung merebahkan diri di ranjang. Berbeda dengan Alby yang langsung masuk ke kamar mandi. Tapi sebelumnya, dia lebih dulu mengambil pakaian ganti nya dilemari. Dia lebih memilih memakai pakaiannya di dalam kamar mandi.
Tidak lama Alby membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Saat keluar, dia sudah memakai kaos dan celana pendek selutut.
Silvy masih belum memejamkan matanya karena ia menunggu Alby turut berbaring di sampingnya.
"Kok lama sih sayang? Aku nungguin tahu!", kata Silvy beringsut mendekati Alby yang sudah naik ke ranjang.
"Kenapa ? Aku kangen sama kamu By!", suara Silvy terdengar sangat pelan.
"Aku capek!", Alby berbaring di samping Silvy. Tangan Silvy melingkar di perut Alby. Tapi lagi-lagi Alby menyingkirkannya.
"Apa aku amat sangat tak menarik sampai kamu ngga pernah sedikitpun melirikku?", tanya Silvy menegang."
Alby bergeming. Ia lebih memilih menutup matanya dengan lengan.
"Aku juga istri mu! Aku berhak atas dirimu By. Ngga cuma Bia!", bentak Silvy tepat di depan wajah Alby. Tapi Alby masih memilih mendiamkan Silvy.
"Kamu zolim By! Suami zolim!", teriak Silvy lagi. Akhirnya teriakan itu membuat Alby membuka matanya.
"Ya, aku laki-laki zolim. Puas?", tanya Alby lalu bangkit dari ranjangnya. Dia benar-benar lelah dengan semua ini.
"Apa salah aku meminta hak ku? Jawab By!",tanya Silvy yang sekarang sudah berdiri di belakang Alby.
"Aku sudah memberikan hak mu saat itu, dan janin yang ada di perut mu itu bukti bahwa aku menunaikan kewajiban ku padamu kan? Aku memberikan hakmu!"
__ADS_1
"Oh...jadi karena itu? Kamu sudah merasa memberi hak padaku sekali itu, jadi kamu lepas tangan begitu? Kamu pikir menikah itu hanya untuk sekali berhubungan badan? Iya?"
"Tapi kamu yang menginginkannya Silvy. Bukan aku! Kamu tahu aku ngga cinta sama kamu. Tapi kamu yang memaksa ku untuk berada di situasi sulit ini. Bukan keinginan ku! Belum puas kamu memiliki ku? Memiliki waktu ku? Belum puas Vy?", meski tak keras, namun suara Alby justru begitu malah membuat Silvy merasa semakin sakit hati.
"Tapi aku juga pengen kamu cintai By! Belajar lah untuk mencintai ku!", kata Silvy pelan. Suaranya sudah tidak menggebu-gebu lagi.
"Apa yang sudah kamu lakukan sama Mak, itu sudah cukup membuat ku untuk tidak akan pernah membuka hatiku untuk mu apalagi orang lain. Karena aku hanya mencintai Bia!"
"Sekalipun darah daging mu sendiri? Iya By?", tanya Silvy lagi.
Alby tak menyahuti lagi.
"Kamu ngga paham seperti apa rasanya jadi aku. Mak mu itu sudah meninggalkan ku demi bisa menikahi bapak kamu. Bahkan dia sepenuh hati merawat kamu seperti darah daging nya sendiri, tapi padaku? Dia membuang ku By? Apa salah jika aku membenci wanita tua itu? Bahkan dia tak layak di sebut ibu!"
"Jaga ucapan mu Silvy! Dia wanita yang sudah melahirkan mu!"
"Tapi dia juga yang sudah membuang ku!"
Keduanya tampak terdiam. Hingga akhirnya Silvy memeluk tubuh suaminya. Ada isakan kecil yang Alby dengar.
Alby mengurai pelukan Silvy dari tubuhnya.
"Istirahat lah!", kata Alby. Dia pun kembali ke ranjang. Silvy masih mematung di tempat ia berdiri tadi.
Tapi beberapa saat kemudian, dia pun turut berbaring di sebelah Alby.
Silvy mendekatkan wajahnya di hadapan Alby yang menutupi matanya dengan lengan.
Perlahan Silvy menyingkirkan lengan itu. Alby sempat terkejut saat mendapati Silvy yang sudah ada di hadapannya.
"Aku hanya ingin menci*** by!", kata Silvy. Dan detik berikutnya, Silvy benar-benar melakukannya pada Alby. Tapi Alby tak membalas ciuman istri mudanya itu. Sayangnya, Silvy seolah tak peduli. Meski hanya sebuah ciuman sepihak, nyatanya hal itu cukup membuat Silvy bahagia.
"Kamu ga mau balas ciuman ku By?",tanya Silvy di sela ciumannya. Alby tak menjawab nya. Tapi Silvy kembali ******* bibir suaminya.
"Tapi tak apa. Yang penting aku bisa merasakan bibirmu sayang! Tinggal nanti, aku akan berusaha mendapatkan hak ku suatu saat nanti."
Alby tak menghiraukan ucapan Silvy. Dan Silvy kembalikan menikmati permainannya sendiri karena Alby benar-benar tak meresponnya. Laki-laki itu seperti mati rasa.
****
__ADS_1
Mamak siap di hujad 😅😅😅😅😅😅!!!!