
Alby masih bersimpuh di sajadah masjid. Pria setengah baya yang tadi mengajaknya solat pun sudah pergi sejak tadi setelah ia berpamitan.
Pria tampan yang sedang kalut itu menunduk, merapalkan istighfar yang tak pernah putus. Masalah yang ia hadapi benar-benar menguji kesabarannya. Siapa yang mengantarkan jika pada akhirnya kisah cinta dengan Shabia Ayu yang sangat ia cintai bisa sampai sedramatis ini.
Ini bukan Drakor yang bisa di nikmati semua orang. Tapi ini masalah besar dal hidupnya. Satu kesalahannya berakibat fatal sampai separah ini.
Jam digital masjid sudah menunjukkan pukul 16.52.
Itu artinya, ia sudah di sini hampir satu jam. Entah, ia hanya merasa tempat ini yang paling nyaman. Setidaknya untuk saat ini.
"Assalamualaikum!", sapa seorang pria berkopiah putih dengan baju Koko berwarna putih pula.
"Walaikumsalam!", Alby menengok ke asal suara tersebut. Pria itupun duduk di samping Alby, lalu Alby pun memutar badannya hingga ia menghadap pria tua itu.
"Boleh kan saya ikut duduk di sini, anak muda?"
Alby mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Silahkan pak ustadz!", jawab Alby. Pria yang Alby sebut pak ustadz itu pun membalas senyumannya.
"Saya bukan ustadz, Nak. Panggil saja saya Aris."
Alby mengangguk paham,"Saya Alby pak!"
"Oh, nak Alby. Maaf, sejak tadi saya perhatian sepertinya nak Alby sudah lama berada di sini."
Alby menatap sejenak pak Aris yang tersenyum ramah itu.
"Iya pak, mencoba untuk menenangkan diri."
Pak Aris menyilangkan kakinya dan tangan kanannya tak berhenti memutar tasbih.
"Masalah yang nak Alby hadapi sangat besar?", tanya pak Aris.
"Iya pak!", jawab Alby lalu setelah nya hanya terdengar hembusan nafasnya.
"Sabar, semua masalah ada jalan keluarnya. Percaya sama yang maha Kuasa."
"Iya pak Aris, tapi... sepertinya tak ada satu pun orang yang memahami posisi saya. Semua menyalahkan saya. Saya tak punya teman bicara yang mau mendengarkan bagaimana berada di posisi saya. Mereka hanya menghakimi saya."
Lalu detik berikutnya, Alby menutup wajahnya dengan telapak tangannya sendiri. Ya, dia tak malu menangis di depan pria yang sama sekali ia belum pernah kenal sebelumnya. Pria itu pun membiarkan Alby meluapkan emosi kesedihannya.
Beberapa menit berlalu, Alby mulai tenang. Dia menghapus sisa tangisnya, memalukan! Laki-laki kok nangis! Batin Alby.
"Suda menangis nya? Sudah puas meluapkan emosi kamu Nak Alby?", tanya pak Aris. Alby mengangguk.
"Maaf ya pak Aris. Seharusnya...saya ngga nangis, sebagai seorang laki-laki saya justru cengeng."
Pak Aris tersenyum.
"Memang laki-laki ngga boleh menangis? Tidak ada yang melarang laki-laki menangis kok. Kalo sampai laki-laki menangis, itu berarti beban yang ia tanggung benar-benar berat."
Alby menghela nafasnya pelan.
"Iya kah pak?", tanya Alby dengan polosnya.
"Tentu saja. Semua berhak ko meluapkan emosi nya entah itu laki-laki atau perempuan."
"Tapi... saya merasa beban hidup saya terlalu berat pak Aris."
Alby kembali menunduk.
"Kalo kamu mau, saya bersedia mendengarkan masalah kamu. Mungkin saya ngga bisa serta merta membantu mu Nak Alby. Tapi, setidaknya kamu akan merasa lega setelah mengungkapkan beban yang kamu rasakan. Saya akan berusaha mendengarkan keluhan kamu, tanpa menyela dan langsung menghakimi kamu. Bagaimana?",tanya pak Aris.
Alby sempat tertegun tapi pada akhirnya ia pun menceritakan awal mula masalahnya yang sangat rumit. Benar kata pak Aris, dia hanya butuh di dengar bukan hanya di hakimi atau di beri tahu yang menurut mereka baik, tentu saja baik versi mereka.
"Begitu pak Aris!", kata Alby mengakhirinya sesi curhatnya.
"Setelah kamu ceritakan pada saya, apa yang kamu harapkan dari saya?"
Alby menggelengkan kepalanya.
"Seperti yang tadi saya bilang, saya hanya ingin di dengar. Bukan hanya di hakimi."
"Lalu, kamu ingin dapat solusi yang seperti apa? Seperti mau kamu, baik menurut kamu?", tanya pak Aris.
"Kalau pak bersedia memberikan saran, saya akan mendengarkan pak."
Pak Aris tersenyum simpul.
"Ya, saya akan mengatakan hal yang sama seperti orang-orang yang kamu bilang tadi. Lepaskan Bia! Semakin kamu memaksa nya untuk bertahan dengan keadaan yang dia sendiri tak mampu untuk bertahan, bukan kebahagiaan dan cinta yang ia dapatkan dari kamu nak Alby. Tapi hanya luka batin. Bersyukur, jika Bia bisa meluapkan emosinya padamu. Pernah ngga terpikirkan sama kamu, bagaimana jika psikis nya terganggu karena merasa tertekan sama sikap kamu?", tanya Pak Aris. Dia memberikan sudut pandangnya nya tapi Alby tak merasa disudutkan.
Alby menelan salivanya dengan kasar. Ia membenarkan ucapan pak Aris.
"Dan untuk Silvy, dia memang bersalah. Tapi, bukankah semua orang berhak memilikinya kesempatan kedua? Jika seperti yang kamu bilang, kesempatan Silvy untuk melanjutkan hidupnya hanya 50:50 karena ia mempertaruhkan nyawanya untuk keturunanmu, apa di hati mu ngga ada sedikit pun rasa simpati untuk nya?"
Hati Alby tersentil mendengar nasehat pria yang berada di hadapannya.
"Solat istikharah Nak. Semoga Allah memberikan jalan keluar yang paling baik untuk mu dan istri-istri kamu."
Pria itu menepuk bahu Alby dengan lembut.
"Udah mau waktu magrib, mau jadi muadzin?", tanya pak Aris.
Alby menatap wajah Pak Aris lamat-lamat sampai akhirnya ia mengangguk. Dia pernah jadi remaja masjid di kampung nya dulu. Mengikuti lomba azan bukan hal baru baginya.
Tapi sebelum Alby menuju tempat untuk azan, ia kembali mengambil air wudhu lagi.
Beberapa menit berlalu, ia menghampiri pak Aris yang sudah lebih dulu duduk di sajadah paling depan. Mata keduanya saling beradu, pak Aris menganggukkan kepalanya menandakan Alby boleh memulai azannya.
__ADS_1
Alby menarik nafas panjang lebih dulu sebelum ia memulai azannya lalu mengucapkan doanya sebelum azan.
"Allahuakbar... Allahuakbar....!"
Suara Alby terdengar sangat merdu. Setiap kalimat panggilan itu terasa sangat menyentuh dan menggetarkan hatinya. Dia merasa selama ini ia jauh dengan sang pencipta meski ia menunaikan lima waktunya.
Doa setelah azan sudah Alby ucapkan, ia menuju ke belakang pak Aris duduk. Lalu seseorang yang ada di belakang Pak Aris pun menyapa Alby.
"Terimakasih nak, biasanya itu tugas saya. Tapi tadi perut saya sedang tidak enak jadi ke masjidnya terlambat."
"Tidak apa-apa pak. Saya yang harusnya meminta maaf."
Selang beberapa saat, Alby pun mengumandangkan iqomah. Jamaah di masjid itu mendirikan tiga rakaat dengan khusyuk di imami pak Aris.
Alby menyalami tangan Pak Aris.
"Terimakasih pak Aris, pak Aris sudah mau mendengarkan keluhan saya."
Pak Aris tersenyum tipis.
"Sama-sama nak, semoga kamu Istikomah menjadi muslim yang baik. Tetap jadi diri kamu yang sabar ya nak. Insyaallah, yang di atas akan memberikan petunjuk dan jalan keluar yang terbaik untuk kalian."
Alby mengangguk. Usai berpamitan, ia pun melesat menuju ke rumah mertuanya.
.
.
"Wes solat magrib nduk?", tanya lek Dar.
"Udah lek!", jawabku.
"Oh, yo wes. Kirain belum, lek Dar solat dulu ya!"
Aku mengangguk pelan.
Ponsel ku berdenting, tanda ada chat di aplikasi hijau ku. Setiap ada nomor baru yang masuk ke room chat ku dan dipastikan itu milik Alby, nomor itu langsung ku blokir.
Aku memilih siapa yang sudah mengirimkan pesan untuk ku.
Ternyata dari Febri. Kenapa aku bisa nyaman seperti ini meski hanya perhatian kecil dari Febri ? Apa iya aku sudah....?
[Nduk, wes solat magrib belum. Mas pengen telpon. Ada yang mas mau omongin. Sama ada berita bahagia juga dari Sakti]
Aku pun membalas chat dari Febri.
[Sudah mas] balas ku singkat.
Selang beberapa detik, ponsel ku berdering. Siapa lagi kalo bukan dari mas mantan terindah ku. Eh....kalo terindah mana mungkin jadi mantan kan???
[Assalamualaikum mas]
[Walaikumsalam nduk. Lagi sibuk ngga?]
[Barang kali lagi di warung]
[Heum, pengen sih. Tapi lek Sarman ga bolehin aku bantu warung sebelum aku beneran pulih]
[Tapi sekarang kamu baik-baik aja kan?]
[Alhamdulillah mas. Oh ya, tadi di wa bilang katanya ada yang mau di omongin? Apa? sama....soal mas sakti?]
Aku mendengar Febri menghela nafasnya.
[Tadi pagi aku ketemu Alby di rumah sakit, aku... memukulnya]
Aku menutup mulut ku. Aku kenal betul seperti apa Febri ketika marah. Tentu pukulannya bukan main-main. Dari jaman sekolah, ia sudah senior di ***ak suci. Pasti...Alby terluka hanya dengan sekali bogem dari tangan Febri.
[Astaghfirullah mas]
[Beruntung ada ayahnya sakti yang menahan mas. Kalo ngga, mas pastikan dia juga jadi pasien rumah sakit]
Aku memijat pelipisku. Tak sakit tapi cukup berdenyut.
[Ngapain kamu pukulin Alby sih mas?]
Nada pertanyaan ku masih pelan.
[Karena dia udah nyakitin kamu. Udah bikin kamu sakit dan pingsan seperti kemarin]
[Mas...ak...]
[Nduk, mas ngga mau hal buruk menimpa kamu. Mas ngga mau. Tolong ngerti ya Nduk]
[Tapi ngga harus dengan kekerasan kan mas?]
[Iya, mas emosi liat muka Alby yang sepertinya tak merasa bersalah sama sekali]
[Ya udah, stop bahas alby. Kalo diterusin kamu bakal makin marah. Ada kabar baik apa dari mas Sakti?]
[Eum, nanti malam Sakti mau ngenalin calon nya ke bapak]
[Calon? Calon istri maksudnya?]
[Iya]
[Alhamdulillah, aku ikut seneng dengar nya]
[Nanti kalo mereka nikah, kamu bisa datang ke sini kan?]
__ADS_1
Tanya Febri dengan ragu-ragu. Aku menimbang-nimbang jawabanku.
[Insyaallah mas]
[Ya udah kalo begitu, mas tutup telponnya ya]
[Iya mas]
[Assalamualaikum]
[Walaikumsalam, nduk]
Usai menghubungi Bia, Febri menghampiri Dimas dan Seto yang sudah bersiap untuk solat isya.
"Dim!", panggil Febri.
"Apa?", sahutnya datar dengan membenarkan sarungnya.
"Kok ngga siap-siap?", tanya Febri. Seto dan Dimas berpandangan.
"Siap-siap ngapain? Ngga liat ini udah pake sarung sama baju Koko?", sahut Dimas.
Febri menepuk bahu sahabatnya.
"Ketemu calon kakak ipar, mantan mu!", kata Febri dengan senyum devilnya. Lagi-lagi Seto dan Dimas saling melempar pandangan.
"Ngomong opo seh awakmu Feb?", celetuk Seto.
"Heum, Sakti ngajak Bina ke sini. Mereka mau langsung ke tahap serius Dim!"
Dimas termangu beberapa saat.
"Oh, Alhamdulillah kalo gitu!", sahut Dimas.
Febri yang tadi memasang wajah iseng kini merasa tak enak sendiri. Begitu pula Seto. Ya... meski selama ini mereka saling meledek, tapi Seto tahu apa yang Dimas rasakan. Sabrina menolak Dimas ke jenjang yang lebih serius karena merasa minder dengan dengan perbedaan kasta katanya. Padahal Dimas tak pernah mempermasalahkannya. Dimas berasal dari keluarga yang cukup berada, berbeda terbalik dengan Sabrina. Tapi bukankah Sakti juga jauh lebih berbeda dengan nya? Tapi kenapa dengan mudahnya ia menerima Sakti? Apa karena sakti lebih mapan? Apa karena sakti sudah membantu pengobatan ibunya?
"Dim!", Febri menepuk bahu rekannya itu.
"Heum!", gumam Dimas.
"Lo ngga apa-apa kan?", tanya Febri. Dimas tersenyum.
"Emang aku kenapa? Biasa aja !", sahut Dimas. Tapi kedua sahabatnya tahu kalau bibir dan hati Dimas tak sinkron.
"Kamu ikhlas kan kalo Bina memilih Sakti?"
"Ya...ya ikhlas lah. Kenapa kudu ngga ikhlas sih!", sahut Dimas sambil cengengesan.
"Bisa bayangin ngga, kalo kalian nanti jadi ipar? Lo suami Ika, Bina istri Mas Sakti?", tanya Seto.
"Ngga usah bayangin, kalo emang harus begitu ya kenapa ngga?", jawab Dimas acuh.
Lalu kedua bahu Dimas di tepuk kedua sahabatnya Kanan kiri. Lalu Febri dan Seto tersenyum sambil menepuk dada mereka.
"Jiwa ksatria!", pungkas keduanya. Dimas hanya memutar bola matanya jengah pada tingkah duo sahabatnya itu.
Disisi lain, Sabrina yang merasa gugup di samping Sakti sesekali meremas jemarinya. Dia melihat Sakti saat meminta ijin pada ibunya tadi sepertinya ekspresi nya biasa saja. Tak ada kesan gugup atau apa pun itu.
"Kenapa sayang?", tanya Sakti sambil meraih telapak tangan dingin Sabrina. Ia menggenggam tangan itu. Sabrin memalingkan wajahnya untuk menatap wajah tampan sakti. Senyuman Sakti menenangkan hatinya, adem nyesss... pokoknya mah.
"Mas, ini terlalu cepat!", sahut Sabrin.
"Lebih cepat lebih baik, mas ngga mau menjalani hubungan yang ngga halal."
"Tapi mas ..."
"Ngga usah gugup!", kata Sakti.
"Bagaimana kalau...?"
"Ayahku tak sehoror yang kamu bayangkan kok."
Sabrina mengangguk.
"Kalo adik mas, gimana?", tanya Sabrina. Sakti terdiam beberapa saat.
"Anika pasti juga akan menerima kamu dengan baik! Percaya sama mas!"
Tangan kiri Sabrina memainkan ujung tuniknya. Mungkin, mengurangi rasa gugupnya.
Di kamar nya....
Silvy masih menunggu kedatangan suami nya. Ya, meski dirinya tak pernah di anggap.
Namun selang beberapa lama, pintu kamarnya terbuka. Suaminya nampak berantakan, tak seperti biasanya saat ia pulang kerja. Kemejanya sudah berada di luar celana, lengan kemeja nya sudah di gulung hingga ke siku.
Mata mereka saling beradu pandang sampai beberapa detik. Tapi Alby memutuskan pandangan itu. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, dia sudah kembali ke kamar dengan pakaian lengkap. Ia mendirikan empat rakaatnya. Silvy hanya mengamati suaminya tanpa niat ingin menyapa nya seperti biasa. Silvy tahu, Alby marah sejak dari rumah sakit tadi setelah di pukul Febri.
"Udah solat isya?", tanya Alby pada silvy. Hanya anggukan kecil respon dari Silvy.
"Kalo makan?", tanya Alby lagi. Silvy pun kembali mengangguk. Usai melipat sajadahnya, Alby turut berbaring di samping Silvy.
Lalu ia memiringkan tubuhnya, menghadap Silvy. Tangan nya terulur untuk mengusap perut Silvy. Silvy sempat tak percaya, tapi itu memang nyata.
"Tidur lah!", pinta Alby. Setelah itu, ia benar-benar berbaring dan kemudian memunggungi Silvy.
Silvy pun menuruti permintaan suaminya. Meski sedikit, harapan itu pasti ada. Gumam Silvy.
*********
__ADS_1
Happy weekend 🤗 🤗 🤗 🤗🙏🙏🙏🙏
Makasih ✌️