
"Assalamualaikum."
Aku memasuki ruangan Alby. Kulihat di sana ada seseorang yang menemani Alby.
"Walaikumsalam!", sahut keduanya. Ternyata, dokter Sakti yang duduk di samping brankar Alby.
"Eh, mas. Udah lama?", tanyaku.
"Lumayan, apa kabar Bi?", tanya Sakti.
"Alhamdulillah baik mas. Eum... makasih ya mas, kalo ngga di kasih tahu mas Sakti, mungkin Bia belum di sini."
"Suami mu udah bilang gitu juga dari tadi Bi."Aku dan Sakti terkekeh pelan. Beda dengan Alby yang tampak murung.
"Oh iya, udah dapet obat oles nya?", tanya sakti.
"Udah mas."
"Mas Alby butuh bantuan saya, apa cukup Bia saja yang olesin lukanya?", tawar Sakti.
"Istri saya saja dok!", kata Alby dengan senyum di buat-buat. Mungkin dia cemburu!!
"Oh, ya udah silahkan Bi. Biar luka luarnya cepat kering!", lanjut Sakti. Aku pun menyibak piyama Alby. Ku buka perban yang menutupi lukanya.
Sakti masih memantau di sebelah ku. Mungkin mau lihat caraku mengobati luka Alby.
"Misal mau di lap, usahakan lukanya jangan sampe kena air dulu ya!", titah Sakti.
"Iya dok!", sahutku.
"Kamu udah tahu Bi, kalo Febri dinas di sini?", tanya Sakti. Menyebutkan nama Febri, Alby mendadak tersedak ludah sendiri.
"Uhuk...sssshhh...!", desis Alby.
"Kunaon A?", tanyaku. Alby menggeleng. Ku sodorkan air putih dengan sedotan.
"Nggak. Aa cuma kaget aja, apa maksudnya dokter Sakti bilang Febri di sini."
Aku menghembuskan nafas ku. Fiyuuhhh....
"Memang kenapa kalo mas Febri dinas di sini A, mas?", tanyaku pada kedua pria itu.
"Ya ngga kenapa-kenapa sih neng!", sahut Alby sekenanya. Berbeda lagi dengan jawaban Sakti.
"Ngga, aku cuma kasih tahu aja sih. Sekarang Febri gantiin Dimas. Jadi, Ika di kawal sama Febri dan Seto."
"Oooh....iya....jadi inget mas. Tadi aku ketemu sama mas Dimas. Sama...bapakmu juga !", aku meringis. Sumpah, malu pas sksd tadi. Kupikir beliau bapaknya mas Dimas.
"Dimas? Di sini? Ngapain?", serentetan pertanyaan keluar dari bibir seksinya Sakti.
"Pak jenderal mau ketemu anaknya kayanya deh. Malah aku lupa bilangin ya? Maaf! Serius lupa, habisnya tadi mas Sakti mantau lukanya Si Aa."
"Okay. Ngga apa-apa Bi. Ya udah, aku balik dulu ke ruangan ku. Barangkali ayahku dan Dimas udah nunggu lama
__ADS_1
Mas Alby, cepat sehat ya."
"Makasih dok!", sahut Alby. Terlihat dia bernapas lega.
"Gitu banget napasnya?", tanyaku.
"Iya, setidaknya neng terbebas dari ancamannya dokter Sakti."
"Memang dokter Sakti ngancam apaan?"
"Gak. Aa takut aja neng kalo deket-deket dia. Takut neng berpaling sama dia. Apalagi sama Febri. Mereka berdua udah pasang badan kalo sampe neng ninggalin Aa."
"Astaghfirullah!", aku mengusap dadaku. Terlepas benar atau tidaknya tuduhan Alby pada mereka, aku sadar diri kok aku siapa. Toh, sejauh ini aku masih mencintai suamiku. Semoga saja selamanya begitu.
.
.
"Udah siap non?", tanya sapto pada Silvy.
"Udah mang!", kata Silvy kurang semangat.
"Muka non Silvy pucat, beneran mau masuk kuliah?", tanya sapto lagi.
"Iya mang!", jawab Silvy pelan.
Mau tak mau, Sapto mengantarkan anak majikannya itu. Entah kenapa, menurut Sapto kali ini Silvy terlihat berbeda.
Matanya menangkap kasak kusuk pemandangan di depannya. Febri dan temannya mengantarkan Anika lagi. Kali ini mereka memakai pakaian identitasnya.
Silvy cukup mendengarkan ocehan rekan mahasiswa nya itu. Hingga dia mendengar pengakuan bahwa Anika adalah putri dari Galang Wibisono, jenderal berbintang yang sering Wira Wiri nongol di televisi.
Selama menjadi sahabatnya, Anika sama sekali tak pernah menunjukkan identitasnya. Dia selalu diam saat di bully. Bukan diam, tepatnya dia tak mau ambil pusing. Bahkan dia sering kali membela dirinya. Kalimat-kalimat menyakitkan misal soal Anika yang sering minta traktiran padanya, padahal tidak sama sekali. Sering kali ia mendekati kalimat cemooh seperti itu, apalagi Vega. Ya, mantan sahabat laknatnya itu punya mulut yang lemes.
Silvy berjalan tertatih menuju kursinya. Baru saja mau mengeluarkan pulpen dari tasnya,pulpen itu justru jatuh ke kolong.
Kondisi Silvy yang memang susah jongkok pun harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa meraihnya. Tapi baru saja akan mengambilnya, sudah ada tangan yang lebih dulu mengambilnya.
"Makasih!", ucap Silvy. Dan ternyata, Malvin yang mengambilnya. Mata mereka saling beradu pandang.
"Sama-sama!", sahut Malvin datar. Malvin terlihat berbeda sejak di beritakan putus dari Vega. Dan ternyata, Vega sudah beberapa hari tidak masuk kuliah.
Anika yang duduk di bangku yang agak jauh dari Silvy sekarang lebih fokus ke dosen. Dulu, dia hobi ngobrol bersama Silvy dan Vega. Sekarang semua nya sudah berubah. Tak ada persahabatan lagi di antara mereka. Tapi menurut Silvy, Anika masih menaksir sahabatnya. Buktinya, dia tidak mempublish tentang dirinya yang menjadi istri kedua Alby. Yang memaksa Alby untuk menikahinya.
Mata kuliah hari ini usai, Silvy beranjak dari bangkunya. Dia memilih keluar belakangan. Anika dan temannya sudah lebih dulu keluar kelas.
Tinggallah Silvy dan Malvin berada di kelas itu. Tapi Silvy tak menyadari kehadirannya mantan kekasihnya itu.
"Vy!", panggil Malvin pelan. Silvy yang merasa terpanggil pun menoleh.
"Maaf!", lanjut Malvin. Silvy tak menghiraukan ucapan 'maaf' dari Malvin. Baginya, maaf dari Malvin tak merubah apapun.
Dengan sedikit tertatih, Silvy bangkit dari bangkunya dan akan keluar dari kelasnya.
__ADS_1
"Maafin gue Vy! Semua yang terjadi sama Lo, itu salah gue!", kata Malvin. Silvy menegakkan tubuhnya dan berhenti di tempat.
"Maaf Lo ga bikin gua balik kaya dulu!", sahut Silvy sambil berusaha berjalan keluar kelas.
"Gue tahu Vy. Tapi tolong kasih gue kesempatan buat perbaiki kesalahan gue!"
"Ngga ada yang perlu di perbaiki, semua udah selesai seperti pengkhianatan Lo dan Vega!", kata Silvy tegas.
"Gue tahu, gue sama Vega udah nyakitin Lo banget."
"Itu Lo sadar! Kalian manusia bang*** yang pernah gue kenal tahu ngga!", bentak Silvy. Deru nafasnya memburu. Hingga tiba-tiba saja tubuhnya limbung. Dengan sigap, Malvin menangkan tubuh mantannya itu.
Malvin membawa Silvy ke unit kesehatan. Ada dokter jaga di sana yang standby.
"Silvy kenapa dok?"
"Nggak apa-apa. Hanya kelelahan. Wajar kalo ibu hamil muda seperti ini. Mudah lelah!", sahut dokter.
"Hamil dok?", tanya Malvin memastikan.
"Iya, Silvy bersuami. Wajar kalo hamil bukan?", tanya dokter itu. Kisah cinta mereka memang cukup famous di kalangan kampus ini.
"Kalo begitu, saya permisi ya !", kata dokter itu. Malvin mengangguk.
"Makasih dok!", jawab Malvin.
Silvy bangun dari pingsannya.
"Vy? Gimana? Masih pusing?", tanya Malvin.
"Kok gue di sini?"
"Iya tadi Lo pingsan! Kalo Lo emang ngga enak badan karena kehamilan Lo, sebaik jangan memaksakan diri buat aktivitas lebih Vy."
Silvy tersendiri sinis.
"Lo Kesambet setan apa Vin?", tanya Silvy.
"Gue anterin pulang ya?", tawar Malvin.
"Ngga usah. Gue bisa pulang sendiri."
"Gue ngga mau Lo kenapa-kenapa! Gue yakin, Lo telp sopir atau suami Lo juga butuh waktu paling ngga saat jam buat ke sini."
"Gue bisa cari taksi."
"C'mon Vy! Gue cuma mau pastiin Lo sampe ke rumah. Itu aja!"
"Kenapa Lo mendadak perhatian sama gue?"
''Ngga usah berpikir macam-macam, gue cuma mau anterin Lo pulang. Itu aja!"
Akhirnya, Silvy menyetujui untuk di antar Malvin.
__ADS_1