
Febri berpamitan dengan rekan-rekannya di Koramil termasuk juga dengan Cecep. Bukan seragam loreng yang sedang ia kenakan saat ini membuat ia terlihat elegan,tidak seperti biasanya yang nampak tegas tapi tetap lah aura wibawa dan gagahnya tak terelakkan.
"Cepet banget ya dinas di sini Ndan!", kata salah seorang rekannya.
Febri tersenyum tipis. Sambil menepuk bahu rekannya itu.
"Kita kan memang harus siap di tempatkan di mana pun!", sahut Febri.
Kemudian Febri menghampiri seseorang orang yang menggantikannya di Koramil ini.
"Titip ya Ndan!", kata Febri pada kepala Koramil yang baru.
"Siap!", sahutnya sambil bersalaman dengan Febri. Kepala yang baru langsung menempati rumah dinas yang ada di wilayah kantor Koramil tersebut.
Usai berpamitan, Febri pun meluncur menuju kantor barunya.
Sesekali ia menatap jam tangannya yang khas dimiliki para prajurit. Jalan menuju kota kabupaten tak terlalu ramai, hanya sesekali berhenti di traffic light.
Febri dengar, setelah kepindahannya nanti akan ada kunjungan dari salah satu atasannya dari Jakarta. Tapi Febri belum tahu siapa sosok beliau karena dia memang belum di beri tahu.
Hampir satu jam ia sudah sampai di kantor barunya. Ia di sambut ramah oleh rekan barunya. Usai berbincang ringan, Febri langsung menuju ke mess yang tak jauh dari kantor. Setelah itu, ia mengganti pakaian dinasnya.
Hari itu juga Febri memulai pekerjaan barunya di kantor tersebut.
Di sela makan siangnya, Febri membuka ponsel untuk sekedar menghilangkan rasa penatnya.
.
.
Sudah hampir tengah hari, aku belum mendapatkan kabar apa pun dari Alby. Padahal aku sudah mengirimkan pesan sejak dua jam lalu.
Aku pun sudah selesai bereksperimen dengan masakanku meskipun mungkin sudah banyak yang mencoba resep ini.
Iseng-iseng berhadiah, aku plating masakanku ala-ala mistersef Indonesia lalu ku upload di medsosku. Lebih tepatnya di aplikasi hijauku.
Belum lima menit, sudah banyak komentar yang masuk menanyakan resep masakan ku. Ada yang berlagak ingin pesan lah atau candaan garing yang sekedar basa-basi.
Aku hanya tersenyum menanggapi mereka satu persatu dengan jawaban seadanya saja. Kalau aku menjawab satu persatu dengan jawaban yang hampir sama kan akan memakan waktu yang cukup lama. Ya... walaupun aku akui jika aku tak punya kesibukan apa pun selain rebahan.
Beberapa saat kemudian ada chat dari mas Febri.
[Mau dong dimasakin kaya gitu Nduk, besok kalo mas weekend pulang tolong masakin ya]
Aku tersenyum mendapat chat darinya. Aku merasa bersalah pada mas Febri, padahal ia sudah membayar jasa katering ku. Tapi aku sendiri malah tak memberikannya masakanku. Mungkin bukan soal nominalnya, tapi lebih kepada rasa tak enak hati.
[Insyaallah mas. Kabari saja kalo mau pulang, nanti biar Bia bisa pesan ayam ke Wak Euis]
[Oke. Makasih!]
__ADS_1
Jawab Febri tak lupa membubuhi emoticon jempol.
Baru saja ku letakkan ponselku, kembali ada chat masuk. Dari Sakti.
[Bia, mas mau pesan dong? Buat lusa! Seporsi berapa? Pakai nasi ya? Mas butuh banyak, sekitar lima puluh porsi bisa kan kalo di antar ke rumah sakit? Ayah dan adikku mau ke sini]
Aku terbelalak melihat chat dari sakti. Bagaimana bisa ia memutuskan seperti itu tanpa berpikir? Dia saja tak tahu seperti apa rasanya masakanku.
[Aku ga jualan kali mas.]
Sakti yang tadinya sedang memijat pelipisnya pun tiba-tiba bangun dari sandaran kursi sambil tersenyum. Meski hanya balasan seperti itu, nyatanya sakti merasa bahagia.
[Anggap aja aku pesan Bi. Aku transfer DP nya bi]
Aku kembali melongo melihat komen dari sakti.
[Kamu kan ngga tahu seperti apa rasanya mas. Asal pesan aja. Kalo pun aku sanggup masaknya, jauh kali dari kampung ke rumah sakit. Pakai apa ke sananya. Mana banyak pula]
Sakti senyam-senyum membaca chat itu.
[Aku jemput pakai mobil lah]
Benar-benar tak habis pikir sama pemikiran dokter ini.
[Kaya di dekat rumah sakit ngga ada resto aja sih mas. Yang udah jelas seperti apa rasanya.]
[Pokoknya mas mau pesan. Lima puluh porsi. Kasih nomor rekening mu, buat mas transfer]
[Insyaallah mas. Kamu pelanggan pertama ku]
Ku selipkan emoticon senyum dan tangan yang mengatup.
[Oke kalo bgtu, deal ya? Dua hari lagi. Kamu kirim nomor rekening dan alamat rumah mu. Biar aku atau orang ku ambil ke rumah mu.]
[Iya mas. Makasih ya mas dokter]
Sakti yang mendapat jawaban itu seperti mendapat durian runtuh.
Aku pun mengirim nomor rekening dan juga alamat ku tentunya. Tak apa lah, nanti aku coba menghitung biaya dan untung ruginya.
Tak sampai lima menit, ada notifikasi di m-banking ku. Ya, biar pun aku orang kampung dan tinggal di kampung tapi aku masih bisa lah ya memakai aplikasi ini. Apalagi, tiap bulan Lek Sarman rutin mengirimkan laba warung makan peninggalan bapak yang ada di kampung ku.
Usai mengucap terima kasih pada mas sakti, aku pun beranjak dari dipan untuk melaksanakan empat rakaat ku di siang hari ini.
Belum sempat berdiri, ada chat dari Alby. Dia meminta maaf karena saat ini ia sedang sibuk bekerja lebih tepatnya belajar bekerja karena masih diajari oleh Marsha.
Aku pun hanya membalas yang perlu saja. Sebenarnya, ada perasaan sesak dan kesal di dadaku. Apa aku bisa seperti ini terus?
Meski chat ku di balas, tapi aku masih merasa di abaikan oleh suami ku sendiri.
__ADS_1
Hufttt...aku harus percaya pada Alby, harus positif thinking!
Dari pada aku sibuk berpikir yang buruk, lebih baik aku melanjutkan niat ku untuk solat.
.
.
"Lho? Papa yang jemput Silvy?", pekik Silvy saat mendapati papa nya berada di samping mobil.
"Iya, Alby sedang sibuk sama Marsha. jadi papa pengen jemput anak kesayangan papa dong!", sahut Hartama.
Anika yang ada di samping Silvy pun menyapa.
"Siang om!", sapa Anika.
"Siang An, apa kabar?"
"Baik om."
"Kami mau ke kantor saya, mau di antar pulang sekalian?", tanya Hartama.
"Eh, ngga usah om. Anika biasa naik taksi online kok. Nih udah otw ke sini."
"Oh, ya sudah kalo begitu, kami duluan ya!", ujar Hartama.
"Iya om!", kata Anika tersenyum.
"Dah BESTie, gue balik duluan ya. Hati-hati Lo baliknya An!", kata Silvy.
"Iye...tenang aja!", sahut Anika. Gimana gak aman Vy, ajudan ayah gue ngikut jemput sama sopir gue!
Hartama menggandeng lengan Silvy menuju ke mobil nya yang sudah ada sopir di balik kemudi.
"Ada kabar baik sayang!", kata Hartama usai keduanya duduk di bangku penumpang.
"Oh ya? Apa pa?"
"Dokter yang di rekomendasikan buat mengoperasi kamu sudah tiba di Singapura. Kamu akan segera ke sana untuk menyembuhkan kaki mu."
"Beneran? Ah...papa... makasih! Silvy sayang papa!", kata Silvy memeluk Hartama.
"Sama-sama sayang."
"Kapan papa antar ke sana?"
"Bukan papa, tapi suami mu lah sayang."
"Oh iya , ada A Alby ya pa. Aku ngga inget ada dia yang bisa anter aku ke sana."
__ADS_1
"Huum. Papa sudah mengurus nya, kalian tinggal berangkat."
"Makasih ya pa!", Silvy memeluk papanya lagi.