Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 197


__ADS_3

"Kamu Le, pulang kampung bukannya nemuin orang tuamu malah nemuin Bia. Bisa-bisanya gitu ya!", Bu Sri menjewer telinga anak bungsu nya itu.


"Awsssshhhh.... sakit Bu, Ya Allah!", keluh Febri sambil mengusap telinga nya yang merah akibat jeweran ibunya.


"Sakit? Bukan enak?", sarkas Bu Sri. Febri yang merasa tak enak hanya nyengir kuda.


"Heheh maap ibu ku yang cantiknya Masya Allah!", rayu Febri.


"Ngga mempan Le!", sahut Bu Sri. Bu Sri menyadari jika putra bungsu nya saat ini jauh lebih hangat. Bisa diajak bercanda seperti ini contohnya. Dulu, saat dirinya memaksa Febri untuk menikahi almarhumah Aisyah tak pernah sekalipun ia menunjukkan senyum itu. Bu Sri pikir, pernikahan Febri dan Aisyah akan berumur panjang. Tapi ternyata, takdir jodoh mereka tak lama. Padahal, bu Sri sudah sangat berharap bahwa ia akan mendapatkan cucu dari anak bungsu dan menantu pilihannya.


Hingga akhirnya, dia mendengar omongan-omongan yang mengatakan bahwa Febri bertemu kembali dengan Bia, di tempat dimana ia ditugaskan. Yang lebih 'hot' lagi, ternyata Bia dalam proses berpisah kala itu. Dari sana, Bu Sri mulai membuka hatinya dan meminta maaf pada Bia atas kelakuannya pada Bia sejak dulu.


"Ya Allah,Bu! Febri minta maaf!", katanya lagi.


"Ehem, kapan muleh koe Feb?", tanya pak Bambang.


"Eh, bapak!", Febri menyalami bapaknya.


"Tadi pak, belum lama kok."


"Iki lho pak, anakmu! Mosok muleh bukane balik omah ndisek malah nemoni Bia neng warung. Cah gendeng! Ga eling de'e wis meh setahun Ra pethuk mbok bapane!", adu bu Sri pada pak Bambang, suaminya.


(Ini lho pak anakmu. Masa pulang bukannya pulang dulu ke rumah malah menemui Bia di warung. Ga inget dia udah hampir setahun ngga ketemu ibu bapaknya)


Pak Bambang menggeleng heran. Ada saja hal seperti itu yang harus ia lihat.


"Ngapain kamu kesana toh Le?", tanya pak Bambang.


"Yo pengen ketemu Bia toh pak!"


Pak Bambang menghela nafasnya.


"Feb, Bia itu posisinya saat ini baru saja cerai sama suaminya. Jangan keburu gaet Bia gitu! Sabar! Paling ngga setahun ngono lho!", kata Pak Bambang dengan nada bijaknya. Pensiunan di salah satu BUMN itu terdengar bijak.


"Setahun? Suwe tenan bapak!"


(Lama)


Plak! Bu Sri memukul lengan anak bungsunya itu. Dia benar-benar heran dengan perubahan sikap Febri. Apalagi sejak ditinggal almarhumah Aisyah, belum pernah ia melihat Febri yang seperti sekarang.


"Ngebet rabi tenan awakmu Feb?", tanya pak Bambang.(ngebet nikah beneran kamu Feb)


"Pengen ngono pak, tapi ngga tahu Bia nya kaya gitu!"


"Bisa nya 'kaya gitu' mergo de'e rumongso jeh anyar dadi Rondo Le. Opo meneh Rondo pegatan, duduk ditinggal mati", kata pak Bambang lagi.


(Bisa begitu karena dia merasa masih baru jadi janda Le. Apalagi janda cerai hidup, bukan di tinggal mati)

__ADS_1


Febri terdiam. Dalam hatinya, ia membenarkan ucapan bapaknya. Tapi nalurinya sebagai lelaki yang menginginkan Bia juga besar. Bukan dalam artian nafsu yang menggebu, tapi duda meresahkan itu benar-benar menyayangi Bia. Ingin membahagiakan Bia yang dulu sempat ia kecewakan dan juga di kecewakan oleh Alby.


"Berapa lama kamu pulang ini? Seminggu?", tanya bapak. Febri menggeleng.


"Besok malam pak. Nanti di jemput di lapangan *****m!", jawab Febri.


"Kok Yo cepet men toh Le!", bu Sri mengusap lengan bungsunya.


"Ya gimana ya Bu. Sekarang kan Febri memang harus tugas di perbatasan. Akses buat pulang juga ngga semudah kalo dinas ke wilayah dekat sini."


"Halah, dekat aja jarang pulang!", sindir Bu Sri.


Febri tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lha, mobil mu di mana? Kalo kamu ke perbatasan?", tanya pak Bambang.


"Di pake sama Dimas, Pak. Dia tugas di Tuban. Katanya kapan-kapan kalo udah ngga sibuk, dia antar ke sini."


Pak Bambang menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ya, dia mengenal Dimas dan Seto karena ketiganya satu angkatan saat pendidikan.


"Yo wes Bu, anakmu di ajak makan sana! Udah item, dekil lagi. Ndang adus !", titah pak Bambang.


"Iyo pak!"


Febri pun berlalu meninggalkan ruang tamu. Bu Sri menyiapkan makanan untuk anak kesayangannya itu.


.


.


.


[Kak Dim]


[Apa sayang?]


[Ika udah mau liburan semester, pengen ketemu kak Dim. Kangen....]


Ika merengek manja. Dan hal itu yang membuat Dimas semakin kangen dengan bocil itu.


[Tapi kakak belum bisa cuti, dek!]


Dimas berbicara selirih mungkin agar sang kekasih tak tersinggung.


[Ya udah, Ika aja yang ke situ]


[Ssst...jangan dek. Nanti ayah marah. Iya kalo cuma marah, kalo cabut restu kita gimana?]

__ADS_1


[Gimana dong! Tega banget deh. Ngga kasian apa sama Ika!]


Dimas mengusap pelipisnya sebentar. Tiba-tiba ada ide di dalam otaknya yang cukup cemerlang. May be???


[Dek, coba adek ajak aja mas Sakti sama kak Bina bulan madu ke wilayah Jawa timur. Nanti adek ikut!]


Dimas sudah mulai membiasakan memanggil Kak Bina pada mantan kekasihnya yang sudah sah menjadi ipar dari kekasihnya.


Halah! Njlimet!


[Yang bener aja Kak? Masa mau ngintilin orang bulan madu? Kalo kita bulan madu sendiri, baru adek mau hehehe]


[Dek! Jangan mancing deh! Makanya buruan lulus, biar kita bisa secepatnya sah]


[Ishh...sabar donk Kak!]


[Iya, kak Dim masih sangat sabar kok. Coba pikirkan dulu ide kakak]


[Heum...oke...]


Meninggalkan obrolan sepasang kekasih yang LDRan itu....


Silvy duduk di kursi rodanya. Sekarang kamar nya berada di bawah jika Alby sedang ada urusan di luar kota. Perutnya sudah begitu begah sepertinya. Tatapan matanya kosong ke arah kolam renang yang sudah amat sangat lama sekali tak ia gunakan sejak kakinya ***at.


Tiba-tiba saja ia merasa ada sesuatu yang basah di bagian bawah tubuhnya. Tapi...dia tak merasa kebelet pipis sama sekali. Lalu kenapa semua basah???


"Bu...ibu...!", panggil Silvy. Titin berjalan terburu-buru menghampiri Silvy.


"Kenapa nak?", tanya Titin.


"Bu, kok aku kaya ngompol?", tanya Silvy sambil memperlihatkan lantai nya yang basah.


"Ya Allah nak, kamu sudah mau melahirkan nak. Sebentar ya, ibu siapkan semua yang di butuhkan. kamu tunggu di sini nak!"


Titin buru-buru minta Sapto menyiapkan mobil lalu dia beranjak ke kamar Silvy untuk mengemas barang yang harus di bawa ke rumah sakit. Hartama pun turut mondar mandir melihat kesibukan istri nya. Meski sibuk, Titin masih menjawab pertanyaan dari suaminya.


Aku mau melahirkan? Itu artinya...waktu ku sebentar lagi ya Allah?? Batin Silvy.


Perempuan muda itu mendongak memejamkan matanya. Air matanya lolos tanpa bisa ia tahan.


Vy, ini memang pasti akan terjadi. Dan kamu sudah tahu hari ini akan tiba! Ikhlaskan, sepertinya halnya kamu ikhlas saat kamu memutuskan untuk mempertahankan bayi mu. Silvy menguatkan dirinya sendiri.


*****


Makasih semua nya teman2 reader's 🙏🙏🙏 Udah usaha semaksimal mungkin, maaf kalo ga sesuai keinginan pembaca sekalian. Pengen nya mah 3bab sehari. Tapi di dunia nyata lagi.........ngga banget! 🥺


Mamak harap masih bisa dinikmati ya tulisan dari othor receh ini 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2