Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 217


__ADS_3

Febri kembali beraktivitas. Kali ini dia kembali dinas di Jakarta, termasuk dengan Seto.


"Lo ada rencana buat ajuin cuti menikah ya Feb?", tanya Seto di sela sarapan mereka.


"Dalam waktu dekat ini belum, ga tahu beberapa jam atau hari yang akan datang!", jawabnya sambil mengunyah makanannya.


"Bisa ae Lo, paling juga pak Bambang yang repot!", kata Seto.


"Gak lah! Lagian persiapannya ga seribet waktu mau nikah sama Aisyah."


"Iya sih!"


"Ya udah, cepetan tuh udah persiapan upacara!"


"Siap Ndan!", sahut Seto. Keduanya pun selesai sarapan dan segera bersiap ke lapangan yang ada di tengah markas.


.


.


Rapat direksi telah di mulai. Karena aku baru disini, maka Alby memperkenalkan ku sebagai salah satu pemegang saham di perusahaan ini.


Hanya Marsha dan tuan Hotma yang ku kenal di sini. Selebihnya, aku tak tahu. Rapat direksi pun usai. Sebagian dari kami pun sudah ada yang keluar ruangan. Tinggal beberapa orang saja yang mungkin berkantor di dekat sini.


"Nona Shabia?", sapa salah seorang pria tampan dengan setelan jas hitamnya yang membuat ia semakin terlihat rupawan. Ala-ala CEO di drakor dan novel-novel begitu lah!


"Iya?", sahutku.


"Perkenalkan, nama saya Robby!", dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan ku. Tapi dengan spontan aku menakupkan kedua tanganku. Gaya banget Lo??? padahal sama Febri asal nemplok! Sama-sama bukan mahram kan???


"Maaf?!", kataku.


"Oh...no problem!", sahut Robby. Meski dari wajahnya ia terlihat kecewa. Alby sendiri hanya menatap datar.


"Setelah ini, ada waktu tidak? Saya ingin mengajak anda untuk makan siang mungkin?", tanya Robby.


Sebenarnya aku tak ada acara apapun, tapi aku juga tak mau makan siang dengan orang asing ini.


"Maaf, tapi saya tidak bisa pak Robby! Mohon maaf!", tolak ku secara halus. Alby tersenyum tipis. Mungkin menertawakan Robby yang kutolak ajakan makan siangnya.


"Apa anda sudah punya kekasih?", tanya Robby lagi. Aku yang heran kenapa orang yang baru ku temui hari ini bertanya seperti itu.


"Maaf pak Robby, sepertinya Shabia tak perlu menjawab pertanyaan anda! Anda lihat kan, dia terlihat tak nyaman di beri pertanyaan seperti itu."


"Hei, pak Alby. Saya bertanya pada nona Shabia, jadi kenapa harus anda yang menjawabnya?", tanya Robby dengan nada herannnya.


"Tapi..."


"Saya sudah bertunangan pak Robby! Kalo begitu saya permisi! Assalamualaikum!", kata pamit undur diri.


Robby pun menatap jengah pada Alby.


"Anda siapa? Tidak seharusnya anda ikut campur urusan saya!", kata Robby.


Alby hanya menarik nafasnya. Dia enggak membuat keributan apalah dengan rekan bisnisnya.


"Maaf!", ujar Alby. Marsha sebenarnya paham akan maksud ucapan Alby tadi, tapi menjelaskan pada Pak Robby juga sepertinya percuma. Pak Robby keluar dari ruangan itu.


"Mas Alby?", panggil Marsha.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Mas Alby masih cemburu ada yang godain mba Bia?", tanya nya. Tanpa menjawab, Alby hanya mendesah pelan.


"Ngga tahu lah Sha. Ayo balik ke ruangan!", ajak Alby sambil melepas jas nya. Dia paling tidak betah memakai seperti itu.


Aku sudah berada di lantai dasar menuju ke lobby. Niat hati, setelah pertemuan ini selesai aku ingin makan di salah satu rumah makan langganan ku saat masih bekerja dulu. Bukan restoran, hanya rumah makan yang menyediakan masakan spesial bebek.


Baru akan memencet aplikasi taxol, aku mendengar suara laki-laki memanggil ku.


"Nona Shabia?", panggilnya. Aku pun menoleh. Pak Robby lagi???


"Ya pak Robby?"


"Anda tak membawa kendaraan?", tanya Robby.


"Oh, tidak. Saya memang tidak tinggal di kota ini. Jadi saya tidak ada kendaraan pribadi di sini."


"Oh, kebetulan sekali. Bagaimana kalo saya antar? Anda menginap di hotel mana?", tanya Robby antusias.


Haduuuh.... aya-aya wae eta jelema!


"Eum, sepertinya tidak usah pak Robby terimakasih!", tolakku secara halus lagi.


Baru saja ingin mengucapkan kalimatnya, suara seseorang yang familiar ku dengar memanggil ku bersamaan.


"Neng!"


"Nduk!"


Aku menoleh ke arah mereka bergantian.


"Udah mau pulang kan? Pesawat nya jam tiga kan? Makan siang dulu yuk!'', ajak Febri seolah mengabaikan dua pria tampan di dekat itu.


Aku mengangguk tipis. Febri pun melempar senyum pada Robby dan Alby.


"Bro, gue bawa Bia dulu ya. Makasih udah jagain calon istri gue!", kata Febri.


"Ya, nanti pulangnya hati-hati ya neng. Salam buat bapa ibu sama Esa Wibi!", kata Alby.


"Iya A!", kataku.


"Jadi kita makan di mana nduk?", tanya Febri padaku. Sedang Robby masih memperhatikan ku. Aku jadi berpikir lagi, mau makan di mana kan??


"Ke rumah makan yang deket pasar Rawakebo aja gimana nduk? Ngga terlalu jauh dari sini mau ngga?"


"Ya udah atur aja deh mas! Emang habis ini kamu ngga dinas lagi mas?"


"Ngga."


Aku mengernyitkan alis ku.


''Kenapa?"


"Lagi ngurus surat ijin buat cuti nikah kita!", jawabnya santai. Alby membeku mendengar jawaban itu. Berbeda dengan Robby, dia langsung pergi begitu saja. Anehhh???


"Memang kapan kalian akan menikah Feb?", Alby buka suara.


"Tanggalnya belom cari yang tepat. Gimana juga kan kita masih ada orang tua. Biasanya mereka punya itung-itungan kejawen gitu lah. Tapi insyaallah dalam waktu dekat ini. Ya kan nduk?"

__ADS_1


"Hah? Ah...eum...iya!", aku tadi sempat bengong gara-gara Robby pergi begitu saja dengan tatapan sinis pada ku. Tapi ya sudahlah, aku tak mau ambil pusing.


"Lo udah makan siang belom? Kalo belom...Alby boleh gabung kan nduk?"


"Terserah!", jawabku.


"Ngga usah, makasih. Gue makan sama Marsha di kantin atas aja!", tolak Alby.


"Oh...oke...ya udah gue sama Bia pergi dulu deh kalo gitu!", kata Febri.


"Oke!", jawab Alby.


Aku pun berjalan beriringan dengan Febri. Dia tak memakai seragamnya tapi tetap saja auranya sebagai abdi negara terlihat jelas.


"Mas ke sini tadi naik taksi nduk, ga bawa motor apalagi mobil! Ngga apa-apa kan naik taksi lagi?"


"Iya ngga apa-apa lah. Orang tadi aku juga udah mau pesan taksi kok!"


Di pinggir jalan aku naik taksi konvensional, tak jadi pesan taxol. Sekitar lima belas menit, kami sampai di warung makan yang kami tuju.


.


.


Nampak seorang gadis memakai jaket Hoodie berwarna navy dan memakai masker hitam memasuki lorong rumah sakit.


Dia tampak santai menapaki tiap jengkal lantai yang mengarah ke sebuah kamar rawat inap.


Sesekali ia berpura-pura bersin saat berpapasan dengan perawat atau orang yang ada di sekitar situ.


Dengan hati-hati namun terlihat rileks, gadis itu memasuki sebuah ruangan.


Ruangan itu hanya berisi satu pasien, yaitu Silvy.


"Hai, sahabat gue yang selalu paling beruntung!", ujar gadis itu.


"Gue heran, kenapa Lo mesti ngalamin kaya gini?", nada nya di buat seolah sedih.


"Kenapa Lo ngga mati aja sekalian!", bisiknya di telinga Silvy.


"Lo tahu ngga, gara-gara Malvin merasa tersaingi sama laki Lo, dia ngedepak gue pengen balik sama Lo lagi? Hahahah...apa istimewanya Lo hah?", gadis itu yang tak lain Vega, mencengkram dagu Silvy yang membuat alat bantu pernafasannya tergeser. Hal itu membuat nafas Silvy tersengal-sengal.


"Hei, Lo mau mati ya? Sssttt...udah gue bantu tuh! Soalnya gue kasian sama Lo, Lo udah kelamaan tidur kan? Karena gue baik, gue bikin Lo tidur aja selamanya aja ya??? Baik kan gue hehehehe!"


Nafas Silvy masih tersengal-sengal, tapi ajaibnya dia justru membuka matanya meski tak terlalu lebar tanpa di sadari oleh Vega.


"Silvy cantik, sahabat ku yang paliiinngg...ku sayangi...cup...cup...gue akhiri kesakitan Lo ya Vy! Semoga Lo secepatnya menghadap yang maha kuasa ya, bye... Silvy?!!!", usai mengatakan hal itu, Vega keluar begitu saja dengan santai.


Di saat yang bersamaan, Alby bertemu dengan Malvin di pelataran rumah sakit. Malvin meminta ijin pada Alby untuk menjenguk Silvy. Dengan senang hati, Alby mengijinkannya.


Pada saat keduanya berbelok menuju ke koridor, tak sengaja Vega menabrak bahu Malvin.


"Eh, maaf!", ujar Malvin.


Vega sedikit terkejut,tapi setelahnya ia hanya mengangguk dan pergi dari tempat itu. Malvin seperti sadar dan mengenal gadis itu. Seperti... mantan kekasihnya! Malvin menatap punggung gadis itu yang sudah menjauh.


"Kenapa?", tanya Alby.


"Hah? Ngga mas!"

__ADS_1


"Ya udah, kita langsung ke kamar Silvy saja!", ajak Alby.


__ADS_2