
Azan magrib sudah berkumandang beberapa menit yang lalu. Mobil Febri pun berhenti di halaman rumah wa Mus yang masih jadi hak Febri untuk di tinggali.
"Nduk, rumah nya udah lama kosong. Kamu ngga apa dewe'an?"
(Sendirian)
"Ga opo-opo mas. Emang wedi opo toh?"
(Ngga apa-apa mas. Memang takut apa )
"Eum...Yo wes nek ngunu. Ojo sungkan nek butuh mas Yo!"
(Ya sudah kalo begitu. Jangan sungkan kalo butuh mas)
Aku mengangguk pelan. Kami pun turun dari mobil.
"Suwon mas"
(Makasih mas)
Tak ada sahutan dari Febri, hanya anggukan kecil yang menandakan iya. Febri tak perlu membereskan rumah itu. Ia sudah menghubungi wa Mus sebelum nya agar rumah itu di bersihkan lebih dulu. Andai dia tahu Bia akan pulang juga, dia juga bisa minta orang itu untuk membersihkan rumah Alby.
Aku memasuki pekarangan rumah mertua ku yang terlihat sama sekali tak terawat sejak ku tinggalkan hampir satu bulan ini.
Aku menyimpan kunci rumah di bawah pot yang ada di teras. Untung saklar lampu teras berada di luar. Jadi aku bisa langsung menyalakannya.
Jangan di tanya keadaan rumah ini seperti apa. Kotor! Banyak dedaunan yang berserakan di halaman bahkan masuk ke teras.
Aku membuka pintu ruang tamu yang gelap.
"Assalamu'alaina waala 'ibadillaahish shalihiin"
(Aku tak mengucapkan assalamualaikum seperti biasanya karena di dalam rumah ini ini memang secara kasat mata tak ada penghuni nya kan????)
Aku pun melangkah masuk. Menyalakan lampu ruang tamu selanjutnya ruang tengah ruang makan setelah itu baru dapur. Kalo lampu kamar mandi selalu menyala entah siang atau malam karena memang posisi kamar mandi berada di sudut dan agak gelap.
Aku mengambil sapu untuk membersihkan kamar ku lebih dulu. Aku sedang libur solat, jadi aku bisa mengerjakan pekerjaan lain.
Ranjang kamar ku masih rapi. Tapi karena sudah lama tak ku pakai, maka aku mengganti seprai. Aku hanya fokus membersihkan kamar ku. Sisanya akan ku urus besok pagi.
Setelah merasa lelah dengan kegiatan bersih-bersih kamar, aku pun merasa sedikit lapar.
Aku berjalan gontai menuju kulkas yang ada di dapur. Tak ada sisa makanan yang bisa ku masak malam ini. Sayuran yang dulu tentu saja sudah busuk tak berbentuk. Ku keluarkan sampah dapur itu. Lalu aku beralih ke lemari penyimpanan stok makanan. Masih ada sisa stok mie instan di sana.
Setidaknya mengganjal perut ku sampai besok pagi. Baru akan ku nyalakan kompor, pintu dapur di ketuk beberapa kali hingga akhirnya aku pun membukanya.
"Nduk!"
"Eh mas? Kenapa?"
"Kamu belum makan kan? Ini tadi mas minta beliin nasi Rames sama Cecep. Kamu makan ya!"
__ADS_1
Ya Allah, Alhamdulillah. Rejeki anak soleh-hah! Eisshh....
"Makasih mas. Maaf ngerepotin terus."
"Ngga lah. Kam Cecep sekalian beli tadi. Di makan ya. Langsung istirahat."
Aku pun mengangguk, sedang Febri berlalu menuju rumah nya.
Entah kenapa aku melihat nasi rames mendadak sangat lapar. Fyuh... lebih baik aku makan dari pada kelamaan memikirkan banyak hal.
Usai kenyang makan malam, aku langsung menuju kamar ku. Aku lupa, sejak siang tadi tak menyalakan ponsel ku.
Setelah duduk bersandar di ranjang, aku pun menyalakan benda pintar ku.
Belum lama menyala, serentetan pesan dan panggilan tak terjawab menyerang ponsel ku.
Panggilan tak terjawab dari Alby begitu banyak. Jangan lupa, pesan yang menumpuk darinya.
Baru mau ku letakkan ponselku, benda itu berdering nyaring.
Nada dering yang mewakili perasaan ku ku jadikan ringtoon sejak beberapa hari yang lalu. Aku masih tak mengangkat panggilan Alby. Sampai panggilan itu berulang sekali lagi.
Akhirnya, dengan malas aku menjawabnya panggilan Alby.
[assalamualaikum neng]
Alby terdengar panik dan sekaligus merasa lega setelah mendapati sang istri mengangkat telepon nya.
[Walaikumsalam]
[Rumah!]
[Imah mana ieu teh? Di kosan ge euweh]
(Rumah mana ?Di kosan juga ga ada)
[Di lembur.]
[astaghfirullah neng!]
[Udah ya , aku capek mau istirahat]
[Neng....]
Tut...Tut...Tut ...aku langsung mematikan ponsel ku. Setelah itu aku merebahkan diri di kasur. Rencananya besok pagi aku akan mencari dokumen-dokumen ku di kamar Mak. Setahu ku, sertifikat tanah dan beberapa dokumen milik keluarga ini di simpan di lemari sana.
.
.
Febri masih duduk di bangku teras. Ia ditemani oleh Cecep di sana.
__ADS_1
"Ndan, kunaon teu sare di jero? loba Rengit yeuh!", kata Cecep sambil menepuk lengan nya yang di jamah oleh para nyamuk.
(Ndan kenapa ngga tidur di dalam. Banyak nyamuk)
"Bia sendirian di rumah Cep!", sahut Febri dengan mendesah pelan.
"Insya Allah mah neng Bia berani Ndan."
"Iya sih. Aku cuma khawatir aja Cep. Kalo kamu emang mau tidur, sana masuk aja dulu. Nanti aku nyusul"
"Ya udah kalo gitu, saya masuk Ndan. Tidur di rumah tamu saja."
Febri mengangguk tipis. Setelah beberapa menit, ia pun menyusul Cecep masuk ke rumah tamu.
.
.
Alby kelabakan saat ponsel istrinya tak aktiv dari siang. Sebenarnya ia ingin pulang ke kosan lebih dulu untuk memastikan kondisi sang istri. Sayangnya pekerjaan yang papa mertuanya katakan benar-benar banyak dan sangat menguras waktu. Alby yang memang dari sananya pintar dan mudah memahami pekerjaan, sepertinya kewalahan dengan pekerjaan barunya yang di bantu Marsha.
Pukul empat sore, Alby keluar dari kantor. Ia buru-buru menuju ke kosannya. Tak butuh waktu lama, mobil Alby berhenti di depan gerbang kosan.
"Sore pak!"
"Sore!", jawab Alby.
"Permisi pak, tadi istri bapak menitipkan kunci sama saya!", sekuriti itu memberikan kunci pada Alby.
"Kunci kamar saya? Memang sejak kapan istri saya pergi pak?"
"Sekitar jam sepuluhan kalo ngga salah pak!"
Alby meremas rambutnya. Dia masih berada di balik kemudinya.
"Makasih ya pak!", Alby meraih kunci itu. Tapi bukannya masuk, Alby justru melesatkan mobil nya lagi ke jalan raya.
Kamu ke mana neng? Kenapa pergi ninggalin Aa ? Apa kamu benar-benar sudah yakin ingin melepaskan diri dari ku Bia????
Alby terlihat sangat frustasi. Ia kembali mencoba menghubungi istrinya. Tapi tetap saja, ponsel nya tidak aktif.
Baru ia meletakkan di atas dashboard,ponsel itu berdenting.
[Pulang ke rumah papa. Jangan lupa, kamu juga punya kewajiban pada Silvy]
Itu chat dari mertuanya. Alby bahkan lupa jika ia harus ke rumah mertuanya itu.
"Siallll", Alby memukul setirnya.
Astaghfirullah! Gumam Alby. Ia menyadari, akhir-akhir ini ia merasa jauh dari sang Kholiq. Pantas saja ia merasa hidupnya sangat berantakan seolah tak punya pegangan hidup.Dia terlalu fokus dengan dunianya, sampai lupa bahwa si pemberi kemudahan hanya lah DIA.
*******
__ADS_1
Fix ya, Bia sama Alby kudu END??? 🤔🤔🤔🤔
Hatur nuhun 🙏🙏🙏🤗🤗🤗