Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 133


__ADS_3

Masih di gedung pertemuan....


Alby mengajak Marsha menjauh dari mister Han. Dia hanya takut kelepasan kalo sampai dia emosi dan melawan mister Han yang membuat suasana menjadi ricuh.


"Apa gak sebaiknya aku pulang aja Sha? Aku sama sekali ngga cocok berada di sini!"


"Mas Alby, jangan pesimis gitu dong. Tunjukin kalo kamu mampu!"


"Tapi kenyataannya aku memang bukan dari kalangan yang berpendidikan kaya kamu Sha. Aku cuma lulusan SMK otomotif. Tidak tahu menahu soal bisnis seperti ini!"


"Tapi kamu pintar mas, buktinya cuma beberapa kali belajar kamu udah menguasai materi yang ku ajarkan. Buktikan kalo kamu mampu, bikin Bia bangga mas!", Marsha mencoba membujuk Alby agar kepercayaan diri nya pulih.


"Anak muda!", tiba-tiba seseorang menepuk bahu Alby.


"Tuan Hari?", sapa Marsha. Alby pun mengangguk tipis tanda hormat.


"Dia... menantu nya Tama?", tanya Tuan Hari.


"Ya tuan!", jawab Marsha. Alby yang menantu nya saja tak mau menjawab.


"Abi...atau siapa nama nya?", tanya Hari.


"Alby tuan!", jawab Alby sopan.


"Panggil saja om Hari, jangan sungkan!", hari menepuk bahu Alby. Alby mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


"Iya om!", sahut Alby.


"Oh ya, ngomong-ngomong Tama kemana? Kenapa sampai di wakilkan oleh menantu nya, sekretaris Marsha?"


"Maaf Tuan, tuan Hartama sedang sakit dan di rawat di rumah sakti. Jadi, untuk sementara mas Alby yang mewakili perusahaan kami."


Hari mengernyitkan alisnya.


"Tama sakit? sakit apa?"


Marsha menggeleng."Kurang tahu tuan, saat kami di rumah sakit tadi, beliau belum siuman."


"Separah itu?"


"Kami belum mendapatkan informasi lagi Tuan."


Tuan Hari menganggukkan kepalanya. Lalu ia kembali menepuk bahu Alby.


"Sedikit banyak saya tahu soal kamu, sabar ya!", kata tuan Hari. Alby menatap Marsha sekilas, sedang Marsha hanya mengedikkan bahunya sedikit.


"Hartama memang pria yang ambisius sejak dulu! Kamu buktikan pada dunia, bahwa kamu mampu meski tidak berpendidikan tinggi. Saya juga cuma lulusan SMA kok, By!"


Alby mengangguk,''iya om. Makasih buat motivasinya."


"Jangan dengarkan apa kata mereka yang tak menyukainya mu. Mau kamu berbuat baik seperti apa pun, kalo mereka dengki pasti akan tutup mata." Hari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


Alby mengangguk paham.


"Iya om!"


"Sebentar lagi acara di mulai, Marsha tentu sudah memberi kisi-kisi yang akan kamu paparkan di hadapan para investor kan?", tanya Hari pada Alby.


"Sudah om, insyaallah saya sudah siap."


Hari tersenyum lebar.


"Saya percaya, suatu saat nanti kamu akan jadi orang besar meski kamu harus melewati banyak hal yang membuat mu jatuh bangun!"


"Aamiin, terimakasih doanya om!"


"Ya sudah, kita ke sana!", ajak tuan Hari menuju tempat duduk yang sudah di siapkan.


.


.


.


Pukul dua dini hari, aku sampai di depan rumah ku. Seperti biasa, aku mengambil kunci di tempat biasa.


Suasana rumah sangat gelap, hening! Tak lupa ku ucap kan salam saat aku memasuki rumah. Ku nyalakan lampu satu persatu. Bukannya sombong, rumah peninggalan almarhum bapak ku jauh lebih bagus dan rapi meski tak terlalu mewah dibandingkan rumah Alby di kampung sana.


Aku memasuki kamar ku mengambil seprei yang baru agar langsung ku gunakan untuk rebahan.


Badanku sangat lelah, mana laper lagi! Untung tadi aku membeli roti sobek dan air mineral saat turun dari kereta. Setidaknya bisa mengganjal perut ku hingga esok pagi.


Usia makan roti sobek, aku pun membersihkan diri lalu beranjak ke kasur untuk merebahkan tubuh lelahku.


.


.


Aku mengendus bau masakan yang lezat. Tiba-tiba cacing dalam perut ku pun protes. Tapi siapa yang masak di rumah ku sepagi ini?


Aku mengambil ponsel di atas nakas, sudah jam tujuh lewat. Berarti aku sudah tidur cukup lama.


Kuikat rambut ku asal-asalan, setidaknya agar tak menutupi wajahku. Perlahan ku buka pintu kamar ku, lalu ku arahkan pandangan ku ke dapur.


Ternyata lek Dar yang ada di sana.


"Lek?", sapa ku. Lek Dar menoleh.


"Awakmu muleh ko ga ngomong toh nduk! Mbok yao nek tekan kene wes bengi, telpon'o lek mu. Muleh omahe lek mu. Ojo dewekan ngene iki. Aku mau lewat Seko pasar, kok lampu murub kabeh, elahdalah...jebul awakmu sing nang njeru!"


(Kamu pulang kok ngga ngomong. Kalo sampe sini malam, telpon lek mu. Aku tadi lewat habis dari pasar, kok lampu nyala semua, ternyata kamu yang di dalam)


Aku menghambur memeluk lek Dar yang sedang mengomel itu. Badan kecil ku tenggelam dalam dekapan lek Dar yang semok.


"Kenek opo neh nduk?", lek Dar mengusap kepala ku.


(Kenapa lagi nduk?)

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Yo wes nek urung arepan cerito!"


(ya sudah kalo belum mau cerita)


Kruwuk...kruwuk...perutku mulai berontak lagi.


"Awakmu luweh??", tanya lek Dar.


(Kamu lapar?)


Aku mengangguk. Sedangkan lek Dar hanya menggeleng heran.


"Yo wes maem sek!"


(Ya udah, makan dulu)


Aku pun menurut apa kata lek Dar. Dia mengajakku duduk di meja makan. Menyediakan nasi dan juga lauk sederhana. Aku yang sudah lapar sekali seperti orang yang sudah lama tak bertemu nasi. Bahkan aku sampe lupa menawari lek Dar.


Beberapa menit berlalu, sarapan ku pun usai. Aku mencuci bekas makanku. Sekarang aku duduk di hadapan lek Dar.


"Udah bisa cerita?", tanya lek Dar. Aku menarik nafasku dalam-dalam. Saat aku mengatakan pada lek Dar, itu artinya aku juga harus siap menghadapi lek Sarman.


"Lek, Bia mau...pisah sama Alby!"


Tak ada keterkejutan di wajah lek Dar saat aku mengatakan hal itu.


"Kamu sudah yakin?", justru ia bertanya seperti itu. Aku mengangguk.


"Benar? Tidak akan menyesal setelah kamu mengambil keputusan ini?"


Aku menggeleng.


"Kamu sudah siap jika kamu harus kehilangan Alby yang sebenarnya kamu cintai?"


Aku terdiam. Benarkah aku sudah siap untuk melepaskan hak dan juga cinta ku terhadap Alby?


Kalo di aplikasi tiktik begitu sulit lupakan Reyhan, aku lebih sulit melupakan Alby ku 😩.


GaJe ya???? Hampir empat tahun kebersamaan kami, dari sebelum halal hingga detik ini kami masih sah berstatus suami istri bukan hal mudah yang bisa aku lupakan begitu saja.


Tapi mengingat betapa egoisnya aku yang tak mampu berbagi, aku sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan ku dengan Alby. Selesai sampai di sini!


"Lek...?!"


"Bia, pernikahan itu ibadah terpanjang. Perceraian itu halal, tapi di benci sama Allah. Kamu tahu itu!", lek Dar mengusap bahuku.


"Tapi...Bia udah ngga sanggup lek! Alby...", aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Justru aku tergugu lagi. Sesekali kuusap ingus dan juga air mataku. Tak ada lagi rasa malu yang ku tunjukan pada lek Dar yang sejak dulu memang dekat dengan ku.


"Ya udah, kalo memang itu sudah keputusanmu. Semoga ini yang terbaik! Kami dukung apa pun keputusan mu!", lek Dar menghapus air mataku. Aku mengangguk samar.


"Tenangkan diri kamu nduk! Biar lek Dar yang ngomong sama lek mu. Bagaimana juga, lek mu itu wali kamu." Aku mengangguk lagi. Iya, lek Sarman itu pengganti bapak.


"Yo wes, lek Dar balik dulu ya. Mesti lek mu wes kelabakan kok bojone sing semok Iki urung balik."


"Iya lek!"


.


.


Lek Dar memasuki warung makan milik suaminya dan keponakannya juga. Melihat istrinya yang baru datang, Lek Sarman menghampiri lek Dar.


"Seko ndi toh buk? Suwiii men!", tanya lek Sarman monyong-monyong.


(Dari mana toh Bu? Lama amat!)


"Seko omah'e Bia, mas!"


(Dari rumah Bia, mas)


"Lho? Kan wes di reseki nde wingi kae toh?"


(Kan udah di bersihin kemarin toh?)


"Rene mas, aku mau ngomong!", lek Dar mengajak suaminya ke ruang khusus.


(Sini mas)


Lek Dar mendudukkan lek Sarman dibangkunya. Lalu ia duduk di hadapan suaminya.


"Mas, Bia sudah pulang."


"Bia pulang? kapan? Kok ga kesini?", cerocos lek Sarman.


"Sabar toh mas!"


"Heum! Yo wes!", lek Sarman kembali tenang. Lek Dar menceritakan semua yang Bia katakan tadi. Terlihat sekali wajah lek Sarman yang menahan emosi. Sebenarnya sih, tak perlu di tahan juga. Tapi...dia masih ingin mendengar cerita tentang keponakannya itu dari istrinya.


"Ya udah, biar aku yang ngomong langsung sama Alby! Semakin cepat mereka berpisah semakin baik! Dia pikir dia siapa?", oceh lek Sarman. Dia pun mengambil ponsel nya dari saku.


Jemari nya menekan nomor Alby. Di dering kedua, panggilan itu terhubung.


[Assalamualaikum, Lek?]


[Walaikumsalam, dimana Bia?]


Alby yang di tanya tentang keberadaan Bia pun bingung menjawabnya.


[Bia di...kampung lek!]


[Di kampung?]


Nada bertanya lek Sarman terdengar tidak percaya.


[I...iya lek!]

__ADS_1


[Kamu apain lagi anak perempuan saya Alby?]


[Lek?]


[Kamu biarkan anak perempuan saya yang sedang hamil, tinggal sendirian di kampung suaminya? Yang bahkan jauh dari saudaranya?]


Lek Sarman belum tahu jika Bia keguguran? Berarti Bia ngga cerita pada keluarga nya? Batin Alby. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sedang berada di rumah sakit, mertuanya belum sadar sejak kemarin.


[Maaf lek!]


[Kamu lebih memilih istri muda kamu kan? Silahkan! Tapi saya mohon, kembalikan putri saya baik-baik seperti saat kamu meminta dari saya]


Suara lek Sarman terdengar bergetar, ya... seorang paman sekaligus ayah bagi Bia menitikan air matanya. Betapa dia sangat merasa kecewa pada menantu nya itu. Gadis kecil yang selalu ia sayangi, justru di sia-siakan dan disakiti oleh laki-laki yang baru dalam hidupnya.


Deg!


Jantung Alby seperti di hujam ribuan jarum. Alby sadar, lek Sarman sedang menahan isaknya.


[Lek, bagaimana mungkin Alby mau mengembalikan Bia Lek. Alby sayang sama Bia, Alby cuma cinta sama Bia lek. Lek Sarman tahu itu kan lek?]


[Tapi cinta yang kamu yakini sudah menyakiti putri saya. Tolong bebaskan Bia. Biarkan Bia bahagia, cukup kamu menyakiti Bia dengan pernikahan kedua kamu Alby]


[Astaghfirullah lek, sumpah lek! Alby cuma cinta sama Bia. Alby akan ninggalin Silvy setelah dia melahirkan. Alby akan fokus sama pernikahan Alby dan Bia lek]


Lek Sarman mengusap wajah nya dengan kasar. Entah di mana ot** menantu nya itu. Dia pikir, kesabaran seseorang itu bisa terus di tarik ulur seperti itu???


[Terserah kamu mau ngomong apa By. Bia sudah ada di sini, bersama keluarga yang benar-benar menyayangi nya tanpa harus merasakan berbagi cinta dari suami yang tidak bisa tegas!]


Mata Alby membelalak lebar. Betapa terkejutnya dia, ternyata istri pertamanya sudah ada di kampung halamannya.


[Bi...Bia...di kampung lek?]


[Iya! Dan saya pastikan, surat gugatan cerai dari Bia akan secepatnya kamu terima. Assalamualaikum]


[Lek...tunggu lek...]


Tut...Tut...Tut... sambungan telepon terputus.


"Walaikumsalam", gumam Alby.


Titin menghampiri Alby yang terduduk bersandar di dinding. Ia menengadahkan wajahnya sambil memejamkan matanya.


"Aya naon Jang?", tanya Titin sambil mengusap bahu Alby.


Alby membuka matanya.


"Neng Bia... benar-benar sudah menyerah Mak....Bia ninggalin Alby Mak!", kata Alby terisak.


"Maksud nya gimana? Bia kenapa? Bia di lembur lain?", tanya Titin lagi.


(Di kampung kan?)


Alby menggelengkan kepalanya pelan, bahkan sangat pelan. Seperti seorang yang tak memiliki tenaga.


"Bia pulang ke kampung nya Mak. Neng Bia sudah menyerah Mak. Sudah menyerah!", Alby kembali tergugu.


"Jang, sabar! Barang kali si neng cuma mau menenangkan diri seperti kemarin. Neng pasti balik lagi sama kamu Jang!"


Alby menggeleng.


"Tadi lek Sarman yang telpon Mak. Lek Sarman bilang, Alby tinggal menunggu surat gugatan dari pengadilan agama sana."


"Astaghfirullah!", Mak beristighfar sambil memeluk anaknya itu.


"Sabar jang. Semoga itu tidak terjadi, Mak tahu kalau kalian saling mencintai! Beri Bia waktu untuk berpikir!"


Alby menggeleng lagi.


"Pasti si neng sudah mengambil dokumen yang dia butuhkan buat gugat Alby Mak."


Terdengar helaan nafas Titin.


"Mak ngga tahu mau bilang apa lagi Jang. Mak cuma bisa bilang, semoga Bia bisa berubah pikiran."


Alby tak menyahuti ucapan Mak nya. Otaknya terlalu banyak beban. Rasanya sudah ingin meledak saat semua masalah menerpa nya.


"Astaghfirullah.... astaghfirullah...!", gumam Alby lirih.


Berbeda dengan Alby dan Titin yang terlarut dalam kesedihannya, Silvy tampak bahagia mendengar saat Bia akan menggugat cerai Alby. Itu artinya, Alby akan benar-benar hanya menjadi miliknya.


Kondisi papanya yang drop, nyatanya tak terlalu berdampak buruk padanya. Justru dengan kondisi papanya yang seperti sekarang, Silvy lebih banyak waktu bersama suaminya.


.


.


.


Aku berjalan-jalan di pinggir kali yang agak jauh dari rumah ku. Tepatnya di perbatasan desa ku dan desa Febri. Di samping kali, ada persawahan yang sepertinya siap panen. Banyak orang yang berlalu lalang menyapa ku.


Dan di saat aku sedang duduk di pinggir kali sambil menyilangkan kaki, seseorang menegur ku.


"Shabia..???", sapa orang itu. Dan aku pun menengok ke arah orang yang memanggil ku. Betapa terkejutnya aku saat tahu siapa yang baru saja memanggil ku. Aku pun langsung berdiri dari dudukku.


"Bu Sri...!", sapaku. Aku bermain menyalaminya. Tapi dia menepis nya.


Astaghfirullah, batinku. Ternyata beliau masih seperti dulu. Tetap tak menyukai ku.


*****


Ada yang nunggu ga sih??? 😁😁😁😁 pede jrenkkkk....


Mon maap, lagi sibuk di dunia nyata. Dari kemarin sibuk wisata tarub/tenda bahasa ngetrend nya mah.... kondangan 😅. Lagi musim banget gaes. Nah tadi seharian sibuk bebikin buat Jumat berkah, semoga berkah juga ya ....aamiin....🙏🙏✌️✌️


Btw makasih banget yang udah mampir ya ✌️


jangan lupa jempolnya dong, komen kalian penyemangat mamak. Eits...satu lagi, Jan lupa masukin kolom favorit yakkk ....

__ADS_1


Ini harusnya dua bab, tapi aku bikin satu bab sisan. semoga kalian puas & ga ngecewain kalian 🙏🙏🙏


Matur nuwun 🙏🙏🙏🙏✌️✌️✌️✌️


__ADS_2