Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 61


__ADS_3

Azan subuh berkumandang. Aku bersiap untuk bangun dari tempat tidur ku. Tapi tangan si Aa masih posesif melingkar di perut ku.


"A, bangun. Solat subuh dulu ya?", kataku lirih. Alby hanya menggumam pelan.


Lagi, aku mencoba membangunkannya.


"A, bangun! Nanti habis solat bisa tidur lagi!", aku menepuk-nepuk pipinya pelan.


"Eum...ya neng."


Akhirnya ia pun bangun dan membuka matanya.


"Aku duluan A!"


Beberapa saat kemudian dia pun mengikuti ku ke kamar mandi untuk berwudhu.


Akhirnya...kami bisa solat berjamaah lagi di subuh ini. Alhamdulillah ya Allah, tanpa sadar aku menitikkan air mataku.


Alby berpaling ke belakang mengecup puncak kepalaku. Setelah itu, di raihnya kedua tangan ku lalu ia genggam.


Kutatap manik matanya yang terlihat teduh.


"Kenapa Aa tiba-tiba ada di sini?", tanyaku. Alby membantu melepaskan mukenah ku. Lalu ia menyelipkan rambut ku sela telinga.


Kami duduk berhadapan sama-sama menyilangkan kaki.


"Aa kangen sama neng."


Huffft...aku mendengar ia menghembuskan nafas panjang. Saat ini wajahnya seperti menyimpan sesuatu yang sangat berat. Ada hal berat mungkin yang akan dia katakan padaku.


Aku tak menyahut ungkapan kangen nya padaku. Alby terus mengusap kepala ku penuh kasih sayang. Seolah ia ingin mengatakan bahwa dia tidak ingin aku menjauh darinya.


"Kalo ngga ada yang pengen Aa bilang, Bia mau ke dapur A."


Aku melipat mukenah ku dan akan bangun dari lantai. Tapi Alby juga turut bangkit seperti ku.


"Masih terlalu pagi neng. Ngga usah masak dulu. Aa pengen berdua sama neng."


Ia memegang kedua bahuku. Apa maksudnya? Apa dia sedang berbicara tentang 'hak' nya padaku?


Aku melepaskan tangan Alby dari bahuku dengan perlahan.


"Hari ini aku menerimanya pesanan katering dengan jumlah yang cukup banyak. Sepertinya aku akan sibuk. Jadi lebih baik Aa istirahat."


Baru saja memutar badanku lalu melangkah,tapi Alby mendekapku dari belakang. Dia menciumi tengkuk ku dengan perlahan.


"Aa kangen neng!", bisiknya. Aku mendongakan kepalaku ke atap. Aku mendorongnya pelan. Dan memang, ia langsung melepaskan pelukannya. Tapi ia membuat ku berhadapan kembali dengannya.


Mata kami saling beradu. Aku tahu, dia merindukan ku. Aku sadar dia menginginkan ku. Tapi...apa aku egois jika aku tak menginginkannya saat ini?


"Neng menolak Aa?", tanya nya pelan tapi aku tahu dari nada suaranya ia kecewa. Ini untuk pertama kalinya aku menolak sentuhan nya selama kami menikah. Biasanya, meskipun aku sedang berhalangan tapi dia meminta haknya pun selalu aku berikan pelayanan terbaik ku. Dengan cara ku. Tapi, entah kali ini aku benar-benar merasa enggan.


"Maaf A! Tapi bukannya Aa sudah mendapatkannya dari Silvy?",aku menatap matanya dengan mata sendu. Ya, mulutku lancar menanyakan hal itu. Tapi batinku terasa sesak.


"Apa Aa salah menginginkan Bia? Istri Aa sendiri?", tanya Alby masih dengan nada lembutnya.


Aku menggeleng lemah.


"Aa ngga salah. Aku yang salah!", kataku sambil berusaha menjauh dari nya tapi lagi-lagi ia meraih tubuhku. Tiba-tiba saja ia menggendong ku lalu membawa ku ke kamar kami. Mau tak mau aku melingkarkan tanganku ke lehernya, aku takut jatuh dan berimbas pada kandungan ku.


"Aa apa-apaan sih!", kataku sedikit kesal.


Alby tak menyahuti ku sampai mendudukkan ku di tempat tidur kami. Ia berbalik mengunci pintu kamar kami.


Alby duduk di samping ku.


"Apa neng pikir, hubungan badan itu hanya sekedar meluapkan nafsu neng?", Alby bertanya di depan wajah ku.

__ADS_1


"Iya. Buktinya Aa bisa melakukannya dengan Silvy meski Aa bilang beribu-ribu kali jika Aa cuma cinta sama Bia."


Alby mendesah frustasi lalu meremas rambutnya sendiri yang sekarang mulai memanjang.


"Bia tahu, dia punya hak yang sama kaya Bia. Bia juga sering bilang dan sadar akan hal itu. Tapi setiap aku memikirkannya...dadaku A. Dada ini merasa nyeri! Sakit!", kataku pelan.


"Apa neng pikir Aa ngga tersiksa seperti ini? Neng selalu menyudutkan Aa. Mengatakan Aa menikmati peran Aa sebagai laki-laki beristri dua? Jika Aa bisa memilih, Aa lebih memilih kehidupan kita yang pas-pasan seperti sebelumnya neng!"


Ya, aku pun sama A! Batinku.


Kami berdua diam dan larut dalam pikiran kami masing-masing. Apa aku egois jika menolak memberikan nafkah batin pada suamiku? Apa aku pantas menampilkan wajah murung ku didepan suamiku tapi aku berhaha-hihi ria didepan laki-laki lain?


Akhirnya aku mengalah dengan egoku. Aku meraih wajah tampan suamiku. Wajah kami saling berhadapan. Aku langsung memeluknya. Ku sandarkan kepala ku di dadanya. Ia meraih ku dan mendekap kepalaku.


"Maaf!", ucapku lirih. Alby mengangguk pelan. Bahkan aku menyadari jakunnya yang naik turun.


Alby melepaskan pelukannya lalu dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya padaku. Lalu ia melafalkan doa di atas ubun-ubun ku, lalu mengecupnya. Aku memejamkan mataku. Hingga akhirnya aku merasakan bisikan di telinga ku.


"Boleh kan neng?", tanya Alby masih berada di samping telinga ku. Meski pelan, aku pun mengangguk samar. Dan setelah itu...lagi dan lagi...kami menikmati hak dan kewajiban kami hingga matahari mulai menyingsing.


Mungkin ini untuk pertama kalinya, kami melakukan hal ini di pagi yang terang benderang begini.


Alby mengusap perut ku yang masih rata ini.


"Neng, kapan ada jadwal periksa? Aa pengen ikut nemenin neng periksa ke dokter atau bidan."


"Belum tahu A. Tapi, hari ini Bia ada pesanan nasi box dari dokter sakti. Minta di antar ke rumah sakit."


Alby menatap ku dengan pandangan entah lah!


"Dokter Sakti masih menghubungi neng? Apa dia cuma modus sama neng biar bisa deketin neng?"


"Apa sih A. Jangan suudzon begitu!", kata ku lirih sambil meletakkan teh hangat lagi di meja makan.


"Kenapa dia harus pesan ke kamu? Rumah makan di dekat rumah sakit banyak. Kenapa harus susah-susah dan jauh-jauh pesan ke kamu? Memang kamu mau antar pakai apa ke sana?", cerocos Alby.


Aku menghela nafas ku.


Alby tak mengomentari lagi.


"Ngga usah, biar Aa yang antar neng. Sekalian nanti neng periksa kandungan. Aa pengen liat anak kita, bisa USG sekalian kan?"


Dari pada ribet, aku mengiyakan saja apa yang dia katakan.


Tok...tok...


"Eh, kayanya itu teh Wak euis nganterin ayam. Bentar ya A."


"Udah, Aa aja yang ambi ayamnya. Udah bayar belum?"


"Kemarin baru dp nanti paling di kasih tahu kekurangannya."


Alby pun membuka pintu belakang yang tadi di ketuk wa Euis. Ternyata yang mengantarkan bukan Wak euis, melainkan anaknya. Alby pun membayar sisa tagihan ayamku.


"Kurang berapa A?", tanya ku.


"Udah biarin, udah Aa bayar."


"Bukan gitu A. Bia kan mau itung-itungan yang keluar masuknya."


Aku pun mengeksekusi ayam yang cukup banyak itu.


"Banyak banget pesanan nya neng?", tanya Alby dibelakang ku.


"Alhamdulillah. Ini juga ada pesanan dari kantor Koramil."


"Febri?", tanya Alby.

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Bukan, kang Cecep dan kawan-kawannya. Mas Febri di mutasi ke Kodim yang Deket sama rumah sakit."


"Jadi, rumah itu kosong?"


"Baru beberapa hari lalu kok pindahnya. Tapi katanya dia sesekali ke sini. Soalnya dia udah lama ambil sewanya."


"Bukan mau modus sama kamu?", tanya Alby dengan lirikannya.


"Kamu cemburu aku dekat sama mas Febri?Padahal kamu tahu aku seperti apa A!", aku meletakkan pisau ku.


Dia cemburu sama mas Febri, tapi dia tak memikirkan apa aku cemburu saat dia bersama Silvy di kota sana?


"Maaf neng!", Alby mengusap lengan ku.


"Kalo ngga ada Febri, berarti kamu beneran sendirian Neng."


Alby mengecup bahuku. Aku sudah kembali memfilet ayam-ayam ku.


"Aku sudah terbiasa sendiri kok A. Tenang saja."


Alby mengeratkan pelukannya padaku. Sesekali ia mengecup bahuku.


"Apa mereka memperlakukan Mak dengan baik di sana A?", tanya ku. Alby mengangguk pelan.


"Sejauh ini , iya."


Aku menghela nafas. Sampai tanpa kami sadari ternyata ada teh Salamah dan tetangga ku mengetik pintu dapur.


"Assalamualaikum Bia!", sapa teh Mamah dan temannya.


"Walaikumsalam teh, bik. Masuk!", pintaku. Alby pun melepaskan pelukannya.


"Eh, alby. Iraha balik kampung?", tanya teh Mamah.


"Subuh teh!", sahut Alby. Teh Salamah tak berbasa-basi lagi.


"Neng, bibik ngapain nih?"


"Eum, nyuci beras ya bik. Udah Bia siapin."


Si bibik pun mengangguk, dia langsung menuju dapur kotor kami. Teh Salamah juga mengikutinya.


"Aa istirahat saja."


Alby tak menolak atau pun mengiyakan.


"Nanti kalo aku butuh bantuan, aku panggil Aa."


Usai di bujuk seperti itu, Alby pun menuruti ku dan beranjak ke kamar. Aku melangkah kaki ku ke dapur. Samar-samar aku mendengar obrolan teteh dan bibik.


"Aih, mun urang mah alim Mah. Salaki urang kos si Alby, heuh! Di bejek-bejek ku urang!", kata si bibik.


(Kalo aku mah ngga mau Mah. Suamiku kaya Alby, heuh. Di bejek-bejek sama aku)


"Ssstt...ulang kitu bik. Ngke si Bia ngadenge kumaha?"


(Jangan gitu bik. Nanti kalo si Bia dengar gimana)


"Cek urang teh naon Mah. Bogah salaki kasep mah nggak tenang", kata si bibik lagi.


"Kesempatan buat cari yang lain makin besar!" lanjut si bibik.


"Udah bik. Jangan ngomongin Alby terus. Kita mau doain aja semoga Bia sama Alby teh awet terus rumah tangganya."


Teh Salamah menasihati si bibik.

__ADS_1


"Nyak nggeus atuh!"


Kedua perempuan dewasa itu mulai sibuk dengan pekerjaannya di dapur belakang. Ternyata, hampir semua orang tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga ku.


__ADS_2