
Aku keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat Alby berpamitan. Setelah ku buka pintu kamar mandi, pemandangan yang ku lihat adalah beberapa setel pakaian yang mungkin untuk ku dan alby.
Aku mendekati ranjang yang penuh dengan pakaian itu. Ku ambil salah satunya, sebuah gamis yang ku taksir harganya lumayan.
Tapi dari mana Alby mendapatkan ini semua? Bahkan dia bukan tipikal laki-laki yang hobi belanja online selain aplikasi berlogo G putih dan dasar hijau itu.
Mengingat pakaian yang Febri berikan belum kering, akhirnya aku memakai salah satunya. Sisanya, ku simpan ke dalam lemari.
Ku ambil ponsel yang ada di mejaku. Begitu pula Sling bag yang sudah teronggok di sudut sofa sejak semalam.
Ada chat yang menarik perhatian ku. Chat dari Alby dan Febri. Aku lebih dulu membuka chat dari Alby karena chat nya berada di posisi teratas.
[Ganti baju ya neng. Aa takut neng masuk angin kalo bajunya basah begitu. Jangan lupa makan. Kalo mau ke manapun,bilang Aa ya]
Aku mengusap kasar wajahku. Masih tak habis pikir jika seorang Alby yang ku kenal sangat menyayangi ku selama ini justru menyakiti ku secara perlahan. Aku tak berniat untuk membalas pesan Alby.
Kini mataku fokus pada chat dari Febri.
[Nduk, maaf ganggu. Perasaan mas ngga enak, kamu ngga kenapa-kenapa toh? Kalo ada apa2 jangan sungkan bilang mas ya Nduk. Mas khawatir kalo Alby bakal nyakitin kamu]
Perhatian dari Febri yang seperti ini justru membuat ku semakin berpikir keras. Aku benar-benar ingin lepas dari Alby karena aku memang tak sanggup untuk menjalani pernikahan yang sudah tak memiliki prinsip yang sejalan.
[Aku ngga apa2]
Hanya itu balasan ku. Tapi detik itu juga, langsung tanda centang biru.
Dia menelpon ku, tapi tak ku angkat. Aku segan untuk bicara dengan nya. Entah ini kekhawatiran ku yang berlebihan atau apa, aku hanya tak ingin Alby menuduh ku cepat berpaling dari nya karena kehadiran Febri.
Apalagi Febri sudah terang-terangan menyatakan perasaannya padaku bahkan di depan Alby yang masih sah suamiku.
[Kenapa ngga di angkat Nduk?]
[Ngga apa-apa. Ngga usah hubungi aku lagi mas. Aku ngga mau memperparah keadaan. Aku ngga mau Alby mengkambing hitamkan kamu lagi]
Tak ada balasan lagi dari Febri. Mungkin dia sudah paham dengan penolakan ku barusan.
Ku lihat jam di ponselku. Sudah hampir jam setengah sepuluh pagi. Aku pun bersiap untuk keluar dari kamar kosanku. Aku bertekad untuk pulang ke kota G. Mencari dokumen yang bisa ku pakai untuk mengurus perpisahan dengan Alby. Andai kata tidak ada pun, aku masih mampu menyewa pengacara agar bisa menyelesaikan semuanya.
Aku mengecek baterai ponsel ku, dompet beserta isinya dan juga charger. Semua masih aman.
Tak lupa aku mengunci pintu kamar kosanku. Nanti aku titipkan pada sekuriti di depan jika Alby pulang bisa meminta padanya.
"Permisi pak!", sapa ku pada sekuriti.
"Iya mba?"
"Boleh saya nitip kunci kamar saya?"
Sekuriti tadi memperhatikan ku, mungkin mengingat aku penghuni kamar yang mana.
"Saya yang baru pindah ke sini pak!"
Sekuriti itu mengangguk.
"Nanti siapa yang ambil mba?"
"Suami saya pak. Ini fotonya!", aku menunjukkan foto Alby.
"Oh, yang pakai mobil sedan tadi ya?", tanya sekuriti itu.
Mobil sedan? Bagaimana bisa ??
"Ah, iya pak!'' ku jawab seperti itu mungkin tepat."Kalau begitu permisi ya pak, sekali lagi terimakasih."
"Iya mba, sama-sama."
Aku menghentikan taksi yang melintas di depan gang.
"Ke mana mba?", tanya supir taksi.
"Eum...pak, saya mau ke kota G. Kira-kira bapak tahu ngga di terminal mana yang masih ada bus ke arah sana?"
"Kota G ya??? Eum...banyak sih mba, tapi kalo yang dekat dari sini ya paling Kalideres mba."
__ADS_1
"Oh, ya udah antar saya ke sana deh pak."
"Baik mba."
Tak ada obrolan apa pun dengan pak supir taksi selama di perjalanan menuju ke terminal Kalideres.
"Makasih pak!"
Aku membayar sesuai argo. Dan benar saja, aku masih keburu menumpang bus yang ke arah kota G. Jika perjalanan lancar, jam lima sore nanti aku sudah sampai dikampung.
.
.
"Kenapa koe Feb?", tanya Dimas usai mereka mengantar Anika ke kampus.
"Perasaan ku ga penak tenan Dim. Kepikiran Bia wae. Kenek opo cah kae Yo! Wa ku di bales ngunu tok. Aku ga tenang jeh"
(Perasaan ku ga enak banget Dim. Kepikiran Bia aja. Ke apa tuh bocah ya! Waktu di balas gitu doang)
"Ngapa khawatir sih Feb. De'e kan Karo bojone, udu wong liya."
(Kenapa khawatir Feb. Dia nya kan sama suaminya, bukan orang lain)
"Sakno aku rek Ambi Bia iki. Ndang pegatan ngunu lho jadi ga kudu ngrasakno kek ngene iki. Di tahan loro, ga di tahan yo soro uripe."
(Kasian aku sama Bia ini. Buruan cerai gitu lho jadi ngga harus rasain kaya begini. Di tahan sakit, ga di tahan ya sengsara hidupnya)
"Wis...wis...parah koe Feb. Masa ndungakno wong Kon pegatan. Urung karuan nek de'e pegatan Karo Alby, de'e gelem karo koe" balas Dimas.
(Udah, parah kamu Feb. Masa doain orang suruh cerai. Belum tentu kalo dia cerai sama Alby, dia mau sama kamu)
"Heum! jahat aku ya???", kata Febri sambil tersenyum.
"Weh...entek Iki obate!", kata Dimas geleng-geleng kepala.
Ponsel Febri berdering. Ada panggilan dari 'bapak'
[Febri!]
[......]
[Siap]
[.....]
[Siap pak, laksanakan!]
Ponsel Febri pun kembali masuk ke saku seragamnya.
"Ada apa? Tugas dari bapak?", tanya Dimas.
"Heeh! Ada tugas ke kota G sekarang. Aku ambil dulu surat penugasan di kantor bapak. Tapi kayanya aku PP aja deh.Ambil mobil ku dulu di rumah."
"Dewekan koe ke kota G nya?"
(Sendiri)
"Iyo lah. Ambek sopo? Awakmu? Ra usah!"
(Iya lah. Sama siapa? Dirimu? Ga usah)
"Geer nian kau...siapa juga yang mau nemenin. Ndang lungo, ben aku iso kencan Karo bebeb Anika!"
(Buruan pergi, biar aku bisa kencan sama bebeb Anika)
"Heum! Karep mu dim!"
Mobil mereka pun kembali ke rumah induk. Febri langsung meluncur ke kantor bapak. Setelah mendapatkan tugas apa yang harus ia kerjakan di kota G, Febri pun meluncur ke sana.
(Mon maap, cuma nopel onlen. Jadi realita nya ngga kaya Febri ya ✌️. Harap maklum)
.
__ADS_1
.
Aku turun dari bus. Berhenti tepat di depan Koramil. Ternyata perkiraan ku meleset. Aku sampai di jalan raya kampung ku sudah mendekati magrib.
Saat aku mau memanggil ojek, tiba-tiba suara alarm mobil berbunyi di belakang ku yang artinya berasal dari kantor Koramil.
Febri selesai menjalankan tugas dari atasannya. Dia berniat untuk istirahat lebih dulu di rumah Wa Mus. Mumpung lagi mudik ke kampung ini. Toh biaya sewanya sudah ia bayar untuk enam bulan ke depan.
Entah kebetulan atau apa, aku menengok ke arah Koramil dan Febri menengok ke arahku.
Pandangan mata kami bertemu.
"Bia!", gumam Febri.
"Mas Febri!", gumam ku. Tapi masing-masing dari kami masih berdiam di tempat hingga akhirnya Febri mendekati posisi ku.
"Nduk, awak mu muleh?"
(Nduk, kamu pulang?)
"Iya mas. Ada yang mau aku urusin sebentar di sini"
Febri terdiam beberapa saat.
"Ta' terke muleh. Aku yo arep muleh nde wa Mus sek. Bareng ae!"
(Ku antar pulang. Aku juga mau pulang ke rumah wa Mus dulu. Bareng aja)
"Ga usah mas. Aku bisa naik ojek kok!", tolakku.
"Wes magrib iki, ga usah naik ojek!", larang Febri.
"Tapi mas?"
"Bahaya nduk! Jalannya licin, habis ujan. Kalo naik motor kudu ati-ati."
Aku mengangguk pelan.
"Ya udah."
"Tunggu ya!"
Febri berbalik ke arah mobilnya. Ia memundurkan mobil hingga berhenti di depan ku. Aku membuka pintu depan untuk duduk bersebelahan dengan Febri.
"Makasih ya mas. Aku malah repotin kamu terus. Padahal aku sudah berusaha buat ga berhubungan sama kamu lagi."
"Mungkin ini yang Nama jodoh, versi othor Nduk!"
Aku gak membalasnya lagi.
"Ga ada yang kebetulan nduk. Aku ngga tahu kamu pulang. Tahu gitu, tadi aku ajak bareng. Aku aja dapat tugas mendadak tadi, makanya aku di sini."
Aku hanya mengangguk pelan, memahami ucapan Febri meski tak ku jawab secara verbal.
"Kamu udah pamit sama Alby?",tanya Febri. Aku menggeleng.
"Kalo aku pamit, dia ga bakal ijinin aku pulang."
Febri memegang erat setirnya. Kenapa mendadak nyeri ulu hatinya???
"Ya udah, setelah sampai rumah kamu bisa telpon Alby. Dia mau marah juga, kamu udah di rumah kan?"
"Iya mas!"
Pengen rasanya aku tuh ngomong sama kamu Bi. Udah, pisah saja sama suami mu yang ga tegas itu! Aku bisa jadi perisai mu Bi. Aku akan memperjuangkan cinta kita yang dulu pernah kandas gara-gara restu!
Sayangnya, itu hanya ada dalam batin Febri.
**********
Pisah....lanjut....pisah.... lanjut....pisah aja deh 🤭🤭🤗🤗🤗
Tunggu waktu yang tepat. Semoga di lulusin kak Mimin ya, kan ngga ada hal yang aneh-aneh 🤭🤗
__ADS_1
Makasih ✌️🙏🙏🙏