
"Dari mana kamu?", tanya Hartama pada Alby yang baru muncul lagi hampir dua jam setelah mereka semua mendaratkan kaki di penginapan.
Alby tak menjawab, ia memilih menunduk. Tak menunjukkan wajahnya yang babak belur. Bukan takut, dia hanya malas mendapatkan pertanyaan dari mertuanya itu.
"Papa tanya Alby, kamu dari mana?", suara Hartama lebih kencang.
"Keluar!", sahut Alby singkat.
"Semua tahu kalo kamu keluar dari penginapan, yang papa tanya kamu itu dari mana?", tanya Hartama lagi.
Hartama mendekati menantunya, ia melihat ujung bibir mertuanya yang tampak membiru dan terlihat ada luka bekas pukulan.
"Apa ini?", Hartama mengangkat dagu Alby. Mau tak mau Alby mendongakkan kepalanya.
"Nggak apa-apa pa. Hanya ada kesalahan pahaman sedikit. Permisi Pa!", Alby meninggalkan mertuanya.
"Kamu saya ajak kesini untuk belajar Alby. Suatu saat nanti kamu harus menggantikan saya. Paham?!"
Alby yang sudah melangkah menuju kamarnya pun berhenti. Dia membalikkan badannya.
"Maaf, saya tidak tertarik dengan harta papa."
Alby kembali melangkah menuju kamarnya.
Anak itu benar-benar!!! Geram Hartama dalam hati.
"Maaf tuan, jadi ke warung yang lagi hits itu?", tanya Marsha yang baru saja dari kamar mandi.
"Jauh tidak dari sini?", tanya Hartama.
"Kalo di lihat dari map, jalan kaki tidak sampai lima belas menit tuan. Dari pintu gerbang penginapan cukup jalan ke arah Utara."
"Oh ...kamu mau makan sama saya di sana?", tawar Hartama.
"Eum....!"
"Ya sudah, biar saya sendiri saja. Coba kamu tanya ke Alby. Dia kenapa. Mukanya lebam, kaya habis berantem!"
"Owh...ya Tuan. Saya coba bantu ngobatin lukanya mas Alby. Kalo begitu permisi tuan!", kata Marsha undur diri.
Gadis berusia dua puluh lima tahun itu menuju ke kamar Alby.
Tok....tok....
Marsha mengetuk pintu kamar Alby. Selang beberapa detik, Alby keluar dari kamarnya.
"Mas Alby? Itu muka kenapa?", tanya Marsha.
"Ngga apa-apa Sha!", kata Alby.
__ADS_1
"Aku minta obat dulu ke resepsionis. Kamu tunggu di sini, oke!", titah Marsha dengan sedikit berlari menuju resepsionis.
Alby pun duduk di bangku depan kamarnya. Lagipula mana mungkin dia minta Marsha mengobatinya di dalam kamar.
Beberapa menit berlalu. Marsha membawa beberapa obat untuk mengolesi luka Alby.
"Awsssshhhh....sakit Sha!", keluh Alby.
"Maaf mas. Tapi ...kok bisa kaya gini sih? Kenapa?", tanya Marsha heran. Apa mungkin menantu bosnya ini habis di begal? Atau kenapa sih???
"Ngga apa-apa Sha. Hanya ada salah paham kecil kok."
"Kamu di begal?", tanya Marsha lagi.
"Ngga!"
"Terus kenapa bisa kaya gini? Ngga mungkin kamu tiba-tiba nantangin preman kota ini kan?", celetuk Marsha.
"Marsha! Ngga apa-apa! Aku bilang ngga apa-apa kok!"
"Tapi gimana? Besok kita mau meeting, masa muka mu pada lebam kaya gini?"
"Kan bisa pakai masker Sha. Lagi pula, aku cuma belajar. Cuma jadi penonton! Keterlibatan aku juga tak berpengaruh dengan proyek ini."
Marsha menghela nafasnya.
"Karena jika aku menerima, selamanya aku akan jadi kacung mertua ku. Padahal jika aku boleh memilih Sha, aku lebih memilih kehidupan ku yang dulu meski dengan serba keterbatasan!"
"Apa bedanya sekarang dan nanti mas Alby? Toh sekarang pun mau tak mau kamu harus menuruti tuan Hartama?"
Alby terdiam. Apa yang Marsha katakan memang benar. Dia tidak punya power. Dia lelaki lembek yang tidak bisa tegas menyikapinya situasi yang merusak masa depan rumah tangga nya bersama Bia. Untuk saat ini, dia mungkin masih mengesampingkan rasa 'berdosa' nya kepada Silvy. Alby terlalu serakah. Dia enggan melepaskan rasa cintanya dari seorang Bia. Tapi dia tidak mampu melepaskan belenggu balas budi dan ancaman Hartama.
"Maaf mas , bukan maksud ku ikut campur urusan pribadi mu. Aku tahu, kamu berada di situasi sulit. Tapi kalo kamu begini terus, yang ada kamu makin di tindas mas."
"Lalu? Kamu berharap aku mengikuti apa yang tuan Hartama perintahkan? Setelah aku memiliki kekuatan dan berdiri dengan kaki ku sendiri, aku melawannya. Begitu?", tanya Alby dengan nada datarnya.
"Bu ...bukan gitu By. Mak... maksud ku....?"
"Sudah Sha, makasih. Aku tahu kamu mengatakan hal itu karena kamu sudah peduli sama aku. Tapi ... untuk saat ini, aku benar-benar tak tahu menahu soal masalah perusahaan yang sedang di hadapi saat ini."
Terdengar helaan nafas dari seorang Marsha.
"Intinya, tuan rumah akan turun tangan langsung untuk meloby pemilik lahan yang ada di belakang proyek kita."
"Dia tak mau menjualnya?", tanya Alby.
"Ya, dari yang ku dengar seperti itu. Tiap perwakilan HS grup selalu di tolak."
Alby mengangguk. Andai Alby tahu, lahan itu milik istrinya sendiri. Apa dia masih mau ikut andil dalam meeting besok????
__ADS_1
"Berhubung muka kamu 'ganteng' banget karena tonjokan, besok jangan lupa pakai masker!", ledek Marsha yang sudah selesai mengobati luka Alby.
"Udah ngga ada kopid Sha!"
"Bukan masalah kopid nya Mas Alby. Tapi muka mu enggak banget deh kalo ketemu klien." Marsha terkekeh sendiri seraya berjalan menjauh dari tempat Alby duduk. Marsha mau mengembalikan peralatan p3k tadi.
Alby meraba wajahnya sendiri, lalu ia bercermin dengan ponselnya.
"Astaghfirullah!", pekik Alby sendiri. Sebelum Alby bisa saja melawan lek Sarman. Tapi itulah tidak mungkin. Mengingat ia bersalah dalam malah ini. Lek Sarman hanya ingat melindunginya keponakannya.
Alby pun memutuskan untuk di kamar saja.
Marsha mengirimkan jadwal untuk hari ini dan besok. Jadi, besok pagi ketiganya akan menemui ahli waris dari lahan yang sedang di inginkan.
.
.
Hartama berjalan menyusuri trotoar yang berada di samping kiri. Setelah puluhan purnama, ia baru berjalan kaki sejauh ini. Masa-masa kuliah nya dengan Salman membuatnya selalu ingat. Awal-awal Hartama mendirikan perusahaan dengan bantuan modal dari Salman hingga usaha nya sebesar sekarang. Tapi, hingga detik ini ia belum bisa menemui sahabatnya itu.
Usai merasakan kesuksesan, Hartama kembali ke Surabaya. Mencoba mencari tahu keberadaan Salman yang sudah membantu dalam mendirikannya perusahaannya. Tapi sayang, Hartama tak memiliki jejak keberadaan seorang Salman.
Tanpa terasa, Hartama masuk ke dalam warung yang katanya sedang hits itu. Biarlah, orang menyangka nya gembel hari ini. Hartama ingin dirinya terlihat biasa saja. Ia ingin membaca situasi di kota ini.
Hartama memilih duduk lesehan di sebuah saung. Tangannya melambai memanggil pelayan.
"Selamat malam pak, ada yang sudah mau di pesan?", tanya pelayan itu. Dia sudah melihat Hartama membuka-buka buku menu.
"Konsep warung ini apa ya mbak?"
"Maksudnya?"
"Eum...tidak usah di pikirkan. Ini...saya pesan ini saja, dan ini....!", Hartama menunjuk salah satu gambar. Pelayan itu mencatat apa saja yang Hartama pesan.
Beberapa menit kemudian, pesanannya datang. Hartama tampak terdiam melihat makana yang terhidang di meja.
"Oh ya mbak, kalo saya mau reservasi buat hari besok bisa?", tanya Hartama.
"Bisa pak!", sahut pelayan tersebut. Hartama mengangguk. Sepertinya meeting di warung ini bukan ide yang buruk, menurut Hartama.
*****
Maapkeun lamun loba typo ya gaes 🤦🤦🤦🙏🙏🙏
Tunggu kelanjutannya ya. Insya Allah mamak yang pengangguran ini bisa rutin aplot meski jam nya tidak menentu. Btw, matur nuwun, Hatur nuhun, tengkyu 🙏🤦🤦
Makasih buat semua yang sudah berkenan mampir colek jempol, komen dan yang udah masukin tulisan receh ini ke favorit heheheh 😋😋(Ngarep amat!)
🙏🙏🙏 Matur nuwun
__ADS_1