Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 180


__ADS_3

Pada akhirnya, saat itu tiba. Saat dimana sebuah keputusan yang kelak akan merubah masa depanku, ah ...tidak. Masa depan kami. Semoga kesakitan itu berlalu dan terlupakan dengan kenangan baru yang akan tercipta. Dan biarlah, waktu yang pernah kita lewati akan menjadi sebuah cerita yang kelak akan terkenang bahwa kita pernah bahagia bersama.


*******


Sejak semalam aku susah tidur. Posisi seperti apapun tak bisa membuat ku merasa nyaman. Bagaimana aku bisa tenang? Pagi ini adalah sidang perdana gugatan ku pada Alby. Apa semua akan berjalan lancar? Apa Alby akan datang?


"Nduk!", lek Dar mengetuk pintu kamar ku.


"Masuk Lek, ngga di kunci!", sahutku dari dal kamar.


Lek Dar pun masuk ke dalam kamarku. Dia menghampiri ku lalu duduk di tepian ranjang ku.


"Belum solat subuh?", tanya lek Dar.


"Belum, Lek! Ngga bisa tidur semalaman!", jawabku sambil menguap.


Lek Dar mengusap kepalaku dengan rambut yang masih acak-acakan.


"Kepikiran sama nanti ya?", tanyanya lagi. Aku mengangguk pelan.


"Apa dia akan datang ya Lek?"


"Kenapa memangnya?"


Aku menggeleng. Lek Dar meraih ku dalam pelukannya.


"Kamu masih mau memikirkan ulang? Kalo iya, lakukan! semua belum terlambat!"


Huffft...kuharap aku tak berubah pikiran lagi. Meski aku sangat mencintai Alby, tapi aku tak sanggup jika harus menjalani pernikahan kami yang sudah tak sejalan ini.


"Ngga Lek! Bia udah ngga mau berubah pikiran lagi. Keputusan ini yang terbaik buat kami."


Ku dengar helaan nafas lek Dar karena aku menyandarkan kepala ku di dadanya.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu solat. Biar lebih tenang." Aku mengangguk.


"Kalo udah selesai, nanti sarapan ya. Lek tunggu! Tuh, udah jam lima lewat. Keburu abis waktu subuh nya!", kata lek Dar.


"Iya lek!"


Lek Dar pun keluar dari kamar ku. Aku pun bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk solat subuh.


Tak lupa ku panjatkan doa agar semua di lancarkan dan juga....semoga aku di kuatkan untuk menjalaninya nanti.


.


.

__ADS_1


Alby dan Om Hotma sudah tiba di hotel yang tak jauh dari staycation yang sedang di garap HS grup.


Hotma yang notabene pengacara Hartama, bersedih mendampingi Alby. Dan Alby sendiri tak merasa keberatan jika om Hotma bersama nya.


"Om!"


"Ya?", sahut Hotma. Mereka sedang berada di kafetaria hotel tempat mereka menginap.


"Apa... kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kami masih ada?", tanya Alby pada Hotma.


"Kamu punya kesempatan itu, tapi apakah Bia akan memberikan nya? Itu poin penting nya karena Bia yang mengajukan gugatan."


"Tapi...."


Hotma menepuk bahu Alby. Dia mencoba meyakinkan bahwa Alby harus siap dengan segala konsekwensinya.


"Andai, om berada di posisi kamu pun, om akan sama bingungnya. Tapi kalo dilihat dari posisi Bia pun, om juga tidak akan sanggup. Dia bisa bertahan sampai sejauh ini juga sebuah hal yang luar biasa."


"Bia bukan tidak lagi tidak cinta sama kamu By. Dia hanya mencoba untuk membuat segalanya jauh lebih mudah. Justru karena dia mencintai kamu, dia memilih tindakan ini."


Alby menggeleng.


"By, Bia hanya ingin kamu terbebas dari rasa bersalah kamu yang selalu menyakiti Bia dan juga Silvy dalam waktu yang bersamaan. Di lebih memilih untuk mengalah, agar dia bisa melihat laki-laki yang di cintainya tak jadi pecundang karena zolim pada istri dan calon anaknya kelak."


Alby meneguk salivanya dengan kasar. Benarkah demikian???


"Kalian melihat cinta dari sudut pandang yang berbeda By. Kamu cinta sama Bia sekaligus terobsesi memiliki Bia seutuhnya tanpa tahu seperti apa perasaan Bia yang tertekan karena pernikahan kamu dan Silvy. Tapi Bia, dia cinta sama kamu dengan caranya sendiri tanpa harus memiliki mu lagi."


Alby semakin tak paham dengan kalimat-kalimat yang Hotma katakan. Pikirannya sudah tertutup rapat untuk mendengarkan apa yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Turuti apa yang menjadi keinginan Bia. Dengan kamu melepaskannya, kamu punya kesempatan untuk melihat orang yang kamu cintai bahagia meski bukan kamu lagi yang membuat dia bahagia."


Hotma berdiri dari bangkunya, lalu bersiap untuk melangkah.


"PA dari sini cukup jauh kan? Kita berangkat setengah jam lagi. Persiapkan diri kamu!", ujar Hotma pada Alby. Hotma sendiri sebenarnya kasian pada Alby yang berada di posisi sulit seperti ini. Tapi menurut pandangan Hotma, keputusan Alby untuk melepaskan Bia adalah yang terbaik.


.


.


"Sudah siap?", tanya lek Sarman. Dia yang akan mendampingi ku di sana nanti. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu ku hembuskan.


"Sudah lek!", jawabku. Ternyata di halaman rumah sudah ada Bapak dan juga pengacara ku.


"Bapak?"


"Iya, bapak juga ingin menemani anak sulung bapak!", jawab Anton sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku harus kuat. Mereka orang-orang yang sayang padaku.


'Bismillah!' gumamku.


Kami memakai mobil yang sama, mobil pak Kalingga.


Tak ada obrolan apapun yang terjadi antara aku dan penumpang mobil itu sepanjang perjalanan menuju ke kantor PA. Hanya obrolan antara bapak dan pak Kalingga dan sesekali lek Sarman menyahuti.


Mobil kami sampai di halaman kantor yang di dominasi warna hijau dan kuning muda yang cenderung agak putih.


Terpampang jelas kami berada di sebuah instansi yang belum pernah sekali pun aku kunjungi. Dan tak pernah sekalipun terlintas jika aku akan berada di sini.


Mobil sudah berhenti, pak Kalingga dan bapak sudah turun lebih dulu. Sedang aku dan lek Sarman yang duduk di bangku penumpang masih terdiam di sana.


"Nduk?", lek Sarman mengusap bahuku. Aku gugup! Sungguh, sangat gugup!


"Benarkah ini terjadi Lek? Apa cuma mimpi?", tanyaku sambil menatap pria paruh baya yang menjadi wali sah ku.


Lek Sarman memegang kedua bahuku.


"Yakinlah, semua akan baik-baik saja! Kamu pasti bisa melewati semua nya Nduk! Ini keputusan yang terbaik. Buat kamu juga buat alby. Setelahnya, hubungan kalian juga akan bisa jauh lebih baik."


"Kita turun lek!", kataku. Lek Sarman membuka pintu, begitu juga aku. Ku turunkan kaki ku di pelataran kantor PA ini. Setelah aku benar-benar berada di luar mobil, aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mencoba menguatkan diriku sendiri. Ini keputusan terbaik! Ini yang harusnya terjadi sejak beberapa bulan yang lalu! Apa ini terlalu lebay? Seperti para wanita yang ada di novel-novel yang ku baca?


Aku membuka mataku perlahan. Lek Sarman sudah berdiri di samping ku.


"Kamu kuat nduk!", kata lek Sarman. Aku mengangguk samar. Berusaha untuk tersenyum tapi juga tidak menangis. Aku melangkahkan kakiku beriringan dengan Lek Sarman, sampai ada seseorang yang tiba-tiba menyergap ku dari belakang.


"Neng!", katanya lirih tepat di belakang telingaku.


Deg!! Jantung ku berpacu lebih cepat.


Suara ini, sentuhan ini, aroma tubuh ini, milik dia yang sangat ku cinta.


"Maafin Aa neng!", bisik nya lagi. Tak sempat aku membalas ucapannya, tiba-tiba lek Sarman menarikku dari dekapannya.


Sreeett....tubuh kecil ku terhempas ke arah lek Sarman. Wajah lek Sarman berubah garang. Aku yang tahu seperti apa emosinya lek Sarman, langsung menarik nya menjauh dari Alby.


"Kamu....!", tuding Sarman di depan Alby.


"Udah lek, kita masuk!", ajakku pada Lek Sarman. Memaksanya untuk beranjak dari Alby. Aku ...tak mau menatap wajah tampan Alby lagi. Dan bersyukur, lek Sarman mau menuruti ku.


"By! Tidak semua yang terjadi sama seperti keinginan kita. Bapak tahu, kamu cinta sama anak bapak. Tapi bapak mohon, lepaskan Bia!", Anton menepuk bahu calon mantan menantu nya itu. Setelah itu, ia menyusul Bia dan Sarman di dampingi Kalingga.


Alby sendiri bersama Hotma hanya menatap punggung- punggung yang menjauh.


"Ayo!", ajak Hotma.

__ADS_1


__ADS_2