Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 126


__ADS_3

Alby memainkan ponselnya sambil menunggu Bia membeli sarapan. Baru saja ponselnya di letakkan di atas bantal, benda pipih itu berdering.


Papa calling...


Ngapain tuh orang telpon segala??? Dengan sedikit ragu, Alby pun mengangkat telepon itu.


[Hallo By]


[Hallo pa]


[Kamu sama Bia di mana?]


Alby ragu-ragu menjawab dimana keberadaannya dengan sang istri.


[Untuk apa papa tahu?]


[Kamu udah sembuh kan? Hari ini kamu ke kantor. Kerjaan mu udah terlalu banyak yang terbengkalai. Kasian Marsha!]


Alby mengusap pelipisnya.


[Iya, Alby ke kantor!]


[Bagus! Pulang kantor, ke rumah dulu. Silvy juga butuh kamu]


[Pa...]


[Kamu tahu saya tidak suka di bantah! Beri tahu papa di mana tempat tinggal kalian. Papa kirim mobil dan pakaian kamu]


Hah? Alby menjauhkan ponselnya dari telinga. Apa pria jahat itu amnesia?


[Papa kirim mobil sekarang! Kamu laki-laki, kamu seorang suami! Mau sampai kapan kamu jadi pengangguran? Papa melakukan ini juga untuk Bia. Apa yang papa berikan pada mu, itu hak Bia yang dia tolak. Tapi, papa ngga mau kamu menolaknya]


Deg! Sindiran papa benar-benar menohok.


[Baiklah Pa.Alby kirimkan alamat kosan Alby]


Panggilan terputus. Setelah itu, Alby mengirimkan alamatnya. Chat nya langsung di baca oleh Hartama.


Beberapa menit kemudian, ada notifikasi M-banking. Sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya. Berikut nya, Marsha mengirimkan bukti transfer pada Alby.


[Itu salary bulan lalu Mas Alby. Aku lupa mau kasih tahu kamu. Soalnya bagian keuangan nyerahin ini ke aku atas acc tuan Hartama]


Begitu isi chat yang Marsha kirim.


[Makasih Sha] Balas Alby.


Entah, haruskah ia merasa beruntung???? Atau .....???


Ceklek....pintu kamar terbuka.


Aku melihat Alby sedang fokus dengan ponselnya. Suamiku hanya memakai kaos tipis dan celana boxer yang ku beli kemarin.


Melihat nya saja aku merasa malu, kenapa dia malah percaya diri sekali??? Meski kami sah dan aku biasa 'melakukan' dengan milik Alby tapi saat ini aku benar-benar merasa kikuk. Mataku tak nyaman sama sekali.

__ADS_1


"Neng tos uih?"


Aku mengangguk lalu duduk di sofa. Ku letakkan makanan di atas meja. Alby mendekati ku.


"Pakai celana piyamamu A!", kataku sebelum ia benar-benar duduk di samping ku.


"Kenapa?", justru ia duduk di samping ku.


"Ngga enak saja!"


Bukannya menuruti ku, ia malah mengangkat salah satu kakinya. Aku yang merasa risih, hendak bangkit. Tapi Alby menahan ku.


"Mau ke mana?"


"Ambil celana piyamamu!"


"Ngga usah! Kenapa?"


"Sudah ku bilang, aku ngga nyaman liatnya! Ngga sopan!"


Aku menepis tangannya. Lalu ku ambil celana Alby yang ada di bahu ranjang. Ku serahkan celana itu padanya.


Alby pun menerimanya. Bahkan ia memakainya tanpa bangkit dari sofa.


"Sini, duduk lagi!", titah Alby lagi.


Aku pun kembali duduk di samping Alby. Ku siapkan sarapannya di meja. Dia melirik ku beberapa saat. Kami mulai menikmati sarapan pagi dengan nasi uduk.


Setelah selesai sarapan, aku membereskan sisa makan kami.


"Apa?"


"Aa mau berangkat ke kantor hari ini!"


Aku yang tadi masih membersihkan meja, kini kembali duduk.


"Udah bisa buat kerja?"


Alby tersenyum! Ia meraih bahuku. Ya Allah, kenapa begini? Apa aku goyah lagi??? Astaghfirullah!


Ku turunkan tangan Alby yang bertengger di bahuku.


"Makasih, kekhawatiran neng sama Aa cukup membuktikan bahwa neng masih cinta sama Aa. Terlepas sebesar apa pun masalah kita!"


Aku menggeser dudukku. Tapi Alby juga malah ikut mepet.


"Aku hanya sekedar melakukan kewajiban ku selama masih jadi istri mu. Karena mungkin beberapa hari yang akan datang, aku sudah tidak bisa melakukannya lagi buat kamu!"


Alby menakupkan kedua tangannya di pipiku. Aku di paksa untuk menatap wajahnya.


"Aa ngga mau menyakiti neng. Tapi jika dengan bersikap kasar membuat neng tetap di samping Aa, Aa akan melakukannya!", kata-kata Alby yang pelan di samping telingaku justru terasa lain. Apa dia sedang mengancamku????


Jemari Alby begitu erat meremas lengan atas ku.

__ADS_1


"Sssh....sakit A!", pekikku. Tapi detik itu juga, Alby memaksa ku untuk membalas ci****nya.


Dia bukan Alby yang ku kenal seperti dulu. Semakin aku berusaha melepaskan diri, ia justru semakin kasar melakukannya.


Aktivitas itu berjalan tak terlalu lama setelah kami sama-sama kehabisan pasokan oksigen.


Alby mengusap sisa salivanya di bibirku yang mungkin sudah membengkak karena ulahnya.


"Maaf! Aa ngga bermaksud menyakiti neng! Tapi, asal neng tahu. Aa ngga akan pernah melepaskan neng!"


Dia mengusap kepala ku lalu mengecupnya penuh kasih sayang.Aku mendorong sekuat tenaga ku agar tubuh kami tak saling berdekatan.


"Kenapa Aa jahat sama aku?", tiba-tiba air mataku lolos begitu saja.


"Maaf!", katanya lirih.


"Kalo aa emang cinta sama aku, harusnya Aa melepaskan aku. Biarkan aku bahagia. Bukanya tersiksa seperti sekarang! Aku bukan mereka yang bisa berbagi A. Aku ngga bisa!"


''Yang perlu neng tahu. Aa cuma cinta sama neng! Dan Aa akan tetap bersama Silvy, setelah ia melahirkan nanti. Aa akan tetap bertanggung jawab atas anak Aa yang Silvy kandung!"


Aku mendongak, menatap wajah suamiku yang dengan entengnya memberikan janji. Ya, janji untuk yang kesekian kalinya.


"Gampang banget kamu janji ya A?", aku menghapus sisa air mataku.


"Ya, aku akan melepas Silvy setelah anak itu lahir. Kita akan merawat anak itu bersama-sama tapi aa ngga akan melanjutkan hubungan Aa dengan Silvy!"


Aku menggeleng tak percaya. Sejahat itu suamiku?????


"Gila!", aku berdiri dari sofa.


"Kita? Kamu bilang kita?", tanyaku.


Alby turut bangun dari sofa. Telunjuk ku tepat di depan matanya. Memang tidak sopan, tapi kali ini Alby lebih keterlaluan dari yang selama ini ia lakukan padaku.


"Kamu bilang kita? Aku tetap bersama mu dan merawat anak itu? Kamu pikir aku ini apa hah! Aku ngga sudi!", aku mendorong dada Alby. Dengan emosi aku masuk ke dalam kamar mandi. Ku banting pintu kamar mandi dengan kasar.


Argggggghhhh.... keputusan ku sudah bulat! Aku tak mau lagi dengan Alby yang benar-benar sudah tak ku kenali!


Tubuh ku luruh bersandar di balik pintu kamar mandi. Tangis ku kembali pecah. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Suami bren****!


Aku menendang ember yang ada di samping ku sebagai pelampiasan. Setelahnya, hanya gumaman istighfar yang mampu ku ucapkan pelan.


Entah berapa lama aku sudah ada di dalam kamar mandi hingga ada ketukan dari luar.


"Neng, Aa berangkat ke kantor! Ingat, kemana pun neng pergi neng harus bilang sama Aa."


Tak kusahuti ucapan Alby. Aku masih marah! Aku benci! Pokoknya aku harus pulang kampung hari ini juga.


Aku bisa ambil dokumen kami yang mungkin sudah Alby simpan entah di mana.


*****


Ehem...esmosi pake es ya BESTie 🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


makasih yang udah mampir ke sini. Jan lupa like komen dan masuk ke kolom Fav ya heheheh


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2