Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 77


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya....


Anika menghampiri Silvy dan Alby yang baru saja selesai berbicara dengan Bia.


"Anika...thanks ya udah datang, padahal kemaren Lo cuma read chat dari gue!", kata Silvy.


Anika menatap nyalang ke arah Alby. Iya, Anika kesal dengan Alby yang menye-menye padahal dia laki-laki. Alby pun sepertinya menyadari pandangan tak suka dari mata Anika. Dan tunggu, di belakang Anika ada Dimas. Kekasih Anika sekaligus sahabat Febri.


"Heum! Tentu saja. Aku pasti datang!", sahut Anika. Dimas berdiri di belakang Anika.


"Ini siapa?", tanya Silvy.


"Oh... kenalin, kak Dimas. Cowokku!", kata Anika.


"Sejak kapan Lo punya cowok? Ngga cerita-cerita deh!", kata Silvy dengan gaya centilnya.


"Udah lama ya kak. Kak Dimas, ajudan ayahku yang bertugas menemaniku."


"Ajudan?", tanya Silvy sambil mengerutkan keningnya.


"Udah lah, ngga penting."


Dimas yang terbiasa dengan tingkah konyol kekasih nya saja merasa heran dengan tingkah Anika yang tampak berbeda kali ini.


"Kok Lo tumben jutek gitu sih An? Lo ngga lagi sakit kan?", Silvy meletakkan tangan nya di kening Anika. Tapi gadis itu menepisnya.


"Gimana rasanya merebut suami orang?", sindir Anika tepat di depan wajah Silvy. Silvy sempat syok mendengar sahabatnya berkata demikian.


"Apa maksud Lo An?", tanya Silvy.


"Gue kecewa sama Lo Vy! Kemarin Lo emang sahabat gue. Tapi tidak untuk sekarang dan seterusnya!"


"Lo ngomong apa sih An? Ngaco deh!", sela Silvy.


"Gue tahu semua nya Vy, gue tahu! Lo cuma pelakor!"


Plakkk! Sebuah tamparan mengenai pipi chubby seorang Anika. Dimas yang bermaksud melindungi Anika pun hendak memperingatkan Silvy, tapi Anika menahannya.


"Tapi dia udah tampar kamu dek. Apa kata bapak nanti kalo kakak ngga bisa jaga kamu!", kata Dimas lirih di samping telinga Anika.


"Ika, lebih baik kamu pulang ya!", sekarang Alby yang bicara.


"Apa? Kamu panggil dia siapa?", tanya Silvy pada Anika. Alby bisa bicara lembut kepada sahabat nya, tapi jika dengan dirinya selalu ketus.


"Mas Alby, aku masih menghormati mu sebagai suami mba Bia tidak lebih!", kata Anika semalam kesal.


"Dan Lo! Lo pelakor! Gue benar-benar kecewa sama Lo! Maaf, jika bahasa gue kasar! Bukan hanya fisik Lo ya ****t, mental Lo lebih ****t!!!", kata Anika tepat di hadapan Silvy. Nafas Silvy memburu menahan luapan emosinya.


"Lo manfaatin kekurangan Lo untuk merebut hak orang lain. Tapi ingat, setiap perbuatan yang Lo lakuin sekarang suatu saat nanti Lo bakal terima akibatnya!", telunjuknya mengarah ke wajah Silvy.


Gadis itu benar-benar emosi. Meski dia sadar diri, dia tak berhak seperti itu. Tapi rasa kecewanya sebagai sahabat, sekaligus seorang adik. Pujaan hati kakaknya yang sampai detik ini tak bisa bersanding dengan nya malah di madu, lebih parahnya yang jadi madunya adalah sahabatnya sendiri.


"Mulai detik ini, Lo bukan sahabat gue. Karena Lo dan Vega, ngga ada bedanya! Merebut apa yang bukan hak Lo!", kata Anika. Lalu ia berjalan menggandeng tangan Dimas. Dimas mengangguk kecil saat di depan Alby. Alby pun membalas anggukannya.


"Kok kamu sama sekali ngga membela ku By?", tanya Silvy kesal.


"Karena kamu memang tak pantas untuk di bela!", jawab Alby santai.


Dimana tuan Hartama saat itu??? Dia sibuk dengan para kolega nya dan tak sempat memperhatikan apa yang terjadi dengan putrinya yang berada di pelaminan.


Dimas mengajak Anika pulang agar tak semakin membuat ulah di sana. Tidak ada obrolan apa pun di antara keduanya. Dimas hanya seorang diri mengantar Anika, Seto saat ini sedang ikut bersama ayah Anika.


Laki-laki dan perempuan itu sama-sama memainkan ponselnya. Anika tengah menghubungi Sakti, sedang Dimas menghubungi Febri.


Keduanya memang sepertinya terlalu ikut campur ya dalam urusan rumah tangga orang lain??? 🤷🤷🤷🤷🤦


.


.

__ADS_1


.


Flashback on


"Aku akan menginap di hotel itu. Jadi besok tak perlu menunggu ku. Aku di sana!"


Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat. Berusaha menghalau rasa sakit di dadaku.


Tanpa bisa ku tahan, entah kenapa air mataku meleleh tanpa bisa ku kendalikan. Pertahankan ku runtuh, aku tak sekuat apa yang ku pikir. Nyatanya, aku hanya terlihat tenang d hadapan mereka tapi di saat aku sendiri seperti ini aku tetap lah aku. Seorang istri yang lemah karena dihancurkan perasaannya.


Aku melewati sebuah lorong rumah sakit. Tak sengaja aku melihat papan nama dokter obgyn.


Terbersit di benak ku untuk sekedar memeriksakan diri di sana.


Kebetulan ada suster yang lewat di hadapan ku.


"Maaf sus, bisakah saya Konsul ke dokter obgyn itu?", tanyaku menunjuk ke pintu yang bertuliskan nama dokter Calista.


"Bisa Bu, silahkan ke ruang pendaftaran lebih dulu."


"Oh, iya sus. Terima kasih."


"Sama-sama Bu!", suster itu pun meninggalkan ku.


Karena lelah, aku pun terduduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu. Saat aku menyandarkan kepala ku ke dinding, seseorang berdiri di depan ku.


"Maaf, anda pasien saya? Maksud saya, anda ingin masuk ke ruangan saya?", tanya orang itu yang tak lain dokter Calista.


Aku bangkit dari dudukku.


"Ah iya dok. Tapi saya belum registrasi dok. Jadi, lain kali saja. Tadi saya hanya kebetulan lewat."


Dokter itu pun mengangguk.


"Kebetulan sudah jam istirahat, saya tinggal dulu ya bu. Jika memang berkenan, silahkan ke ruang pendaftaran."


Aku pun mengangguk. Setelah itu dokter Calista meninggal ku.


Baru saja memejamkan mataku, tapi ponsel masih ada di genggaman ku, aku mendengar obrolan laki-laki dan perempuan yang duduk di hadapan ku. Aku tetap memejamkan mata ku.


Obrolan orang yang ada di hadapan ku....


"Setelah ini, jangan harap aku akan kembali menemani mu!", hardik pria itu.


"Aku juga berharap demikian mas. Pernikahan kita adalah sebuah kesalahan. Terserah kamu mau kembali pada kekasih mu atau siapa pun itu. Aku akan tetap mempertahankan anak yang ada di dalam kandungan ku."


Aku yang pura-pura tidur pun mendengar obrolan mereka.


"Terserah! Aku harap setelah dia lahir nanti, kamu tidak akan pernah menyangkut pautkan kehidupannya dengan ku."


"Kamu tenang saja. Setelah anak ini lahir, kamu bebas mas! Dan aku berharap, semoga anak laki-lakiku ini besar menjadi pribadi yang kuat! Karena jika suatu saat nanti dia menikah, dia tak membutuhkan mu sebagai walinya!"


"Cckkk....persetan! Aku menemani mu saat ini hanya semata-mata memenuhi permintaan ibuku. Tidak lebih!", pria itu pun meninggalkan perempuan yang ada di hadapan ku.


"Aku tahu mba ngga tidur!", kata perempuan itu. Aku yang memang pura-pura tidur pun akhirnya terbangun. Ada rasa tak enak sebenarnya, tapi jika tadi aku langsung pergi begitu saja pun pasti tetap ada rasa tak enak juga.


"Maaf!", kataku pelan.


Perempuan yang kutaksir berusia diatas ku itu pun tersenyum. Wajahnya cantik khas oriental.


"Mau memeriksa kandungan?", tanya perempuan itu. Aku mengangguk, tapi juga menggeleng.


Sontak perempuan itu merasa bingung. Lalu dia pindah duduk di samping ku.


"Kenalin, aku Oliv!", katanya sambil menyodorkan tangannya.


"Shabia!", kataku singkat.


"Kamu dengar kan percakapan kami tadi?", tanya nya langsung padaku. Dengan ragu aku pun mengangguk. Oliv tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kami menikah karena di jodohkan."


Ku dengar ia menghela nafasnya. Aku jadi tertarik dengan apa yang akan dia katakan. Ya ...padahal kami tak saling mengenal


"Awalnya, hubungan kami baik-baik saja. Bahkan keluarga besar kami pun sangat bahagia dengan hubungan kami yang harmonis. Tapi ...sejak aku hamil, semuanya berubah."


Aku mengernyitkan alisku, bukankah di beri momongan itu sebuah anugerah? Tapi sayang itu hanya sebuah pertanyaan yang ada dalam hatiku.


"Kamu heran ya? Hehehe ya, mungkin memang mengherankan. Biasanya orang akan menyambut bahagia kehamilan anggota keluarganya. Tapi tidak dengan suamiku."


"Maaf, kalau boleh tahu kenapa ya mba Oliv? Maaf kalo lancang."


"Putraku di diagnosa DSA." Kayanya lirih sambil mengusap perutnya yang terlihat membuncit.


Innalilahi....batinku.


"Suamiku bahkan semua keluarga kami memintaku untuk menggugurkan kandungan ini. Tapi, sebagai seorang ibu tentu saja aku ngga mau. Mau bagaimana pun dia tetap anakku. Hanya ibu mertua ku yang masih memahami ku. Sayangnya, dia tak punya kuasa apapun di dalam keluarga besar kami. Akhirnya ya.... seperti ini. Setelah anak ini lahir, kami berpisah!"


Deg! Ada rasa nyeri yang menghujam dadaku. Aku menyadari betapa aku merasa diriku paling teraniaya, tapi nyatanya di luar sana masih banyak yang jauh lebih menderita.


"Hubungan kami, ibarat menggenggam bara api. Saat aku berusaha untuk tetap menggenggam nya, aku yang akan terluka."


Oliv tersenyum tipis.


"Sebagai seorang psikiater, aku yang sering mendengar curhatan pasien ku pun sadar. Menempatkan posisi menjadi orang lain itu sulit. Dan aku merasakannya saat ini."


Usia mengeluarkan kalimat itu, oliv menitikan air mata. Respon ku yang spontan memeluk nya pun mengalir begitu saja.


"Aku sudah memikirkan semuanya. Berpisah dengannya adalah keputusan terbaik. Hubungan ini tidak akan sehat sampai kedepannya." Oliv masih terisak. Kuusap punggungnya.


"Aku tahu, perpisahan memang di benci Tuhan. Karena menikah tidak hanya perjanjian kita dengan pasangan, tapi juga dengan Tuhan. Tapi, aku tahu. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatnya. Aku tahu, Tuhan akan selalu bersama kami."


Oliv kembali tergugu. Mungkin inilah puncak kekecewaannya. Dia yang selama ini menjadi pendengar, sekali ini ingin di dengar.


Aku tak menyahuti ucapannya sampai dia benar-benar berhenti menangis.


"Maaf mba Bia, aku jadi curhat sama kamu. Padahal kita baru bertemu beberapa saat lalu." Oliv menghapus air matanya.


"Ngga apa-apa mba. mungkin selama ini, mba memang butuh teman bicara. Terima kasih sudah percaya sama aku yang menjadi tempat curhatan mba Oliv."


Oliv tersenyum padaku.


"Terima kasih. Sekali lagi maaf, kalo aku sok akrab."


Aku menggeleng pelan.


"Justru aku yang berterima kasih sama mba Oliv. Semua yang mba Oliv katakan menjadi jawaban atas keraguan ku."


Kini Oliv yang mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya???"


"Ngga mba. Aku salut dengan keyakinan mba terhadap Tuhan. Mba benar, semua bisa meninggalkan kita. Tapi tidak dengan Tuhan kita."


Oliv tersenyum tipis. Entah kenapa aku justru merasa lega sekarang. Allah mungkin sedang memberikan petunjuk padaku. Meski keyakinan ku dengan Oliv berbeda, tapi cara berpikirnya ku kagumi.


Untuk apa aku khawatir akan masa depan anakku dan Alby jika Allah saja selalu bersama ku!


Ini lah keputusan ku! Aku dan Alby harus berakhir! Semakin lama aku berada di hubungan toxic seperti ini, aku takut menjadi tidak waras.


Flashback off...


******


Kalo ada yang heran, kok tokohnya banyak amat ya???? Ssst.... mereka cuma lewat sepintas kok. Tokoh intinya hanya itu-itu saja. Ngga mungkin kan mamak harus mendiskripsikan si 'A' panjang lebar padahal dia hanya cameo?!


Yang udah baca sampai sini, makasih lho ya 🙏🙏🙏🙏🙏


Kritik dan sarannya jangan lupa, biar nanti kelanjutannya bisa bikin kalian semakin greget 😄😄😄😄

__ADS_1


Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2