
Waktu bergulir dengan cepat. Tak terasa tiga bulan berlalu. Mas Febri juga beberapa kali mengajariku. Kondisinya sudah pulih, meskipun dia belum bisa optimal seperti Seto dan yang lainnya.
Perlahan, aku mulai bisa sedikit-sedikit mengenyahkan pikiran ku dari Alby. Setelah pertemuan ku waktu itu, aku sama sekali tak pernah menghubunginya. Begitu pula sebaliknya.
Aku menyibukkan diri dengan warung ku yang semakin ramai. Mungkin Alby juga sibuk dengan pekerjaannya serta mengurusi bayinya.
Alhamdulillah, warung ku kini semakin berkembang. Sudah sekelas resto lah. Tapi tetap namanya warung sahabat.
Jam dua siang, warung tak terlalu ramai. Aku melihat anak-anak pun sedang beristirahat. Hanya ada beberapa pelanggan yang duduk di meja depan.
Samar-samar aku mendengar obrolan anak-anak.
"Nyawang opo toh awakmu?"
(Liat apa kamu?)
"Kie lho, aku belum pernah naik histeria kek ngene iki!"
Ia menyodorkan sebuah video salah satu wahana di salah satu taman bermain.
"Hooh, aku Yo belum pernah. Jangankan histeria. Ke Jakarta aja belum pernah. Aku lho, pengen ke Monas!"
"Iyo rek, kapan tekan rono!"
Aku tersenyum tipis mendengar obrolan mereka. Keinginan mereka tak muluk-muluk. Cuma pengen liat ibukota seperti apa. Tak tahu saja, apa yang mereka liat di tv tak sepenuhnya benar. Mereka tak tahu banyak tempat-tempat yang tak terekspose, yang bahkan tempat tinggal mereka saat ini jauh lebih nyaman.
"Ngumpulin duit deh ya. Nanti cuti buat liburan ke sana!"
"Halah! Sayang duitnya rek! Ongkos nya mahal! Belom nanti nginep nya, belom makannya, belum jalan-jalannya. Yo tekor lah!"
"Iya sih!"
Usia mendengar obrolan mereka, aku masuk kedalam ruangan lek Sarman.
"Lek, akhir-akhir ini pemasukan kita banyak kan ya?"
"Iya, kenapa?"
"Gimana kalau kita ajak anak-anak wisata, ke ibukota lek?"
"jauh amat nduk?"
"Tadi Bia nggak sengaja dengar obrolan mereka. Dari mereka lulus SMA kan langsung kerja di sini mereka nggak sempat ke mana-mana apalagi ke ibukota. Sekali-kali ngajak mereka jalan-jalan ngga apa-apa kan Lek?"
"Terus warung kita gimana tutup?"
"Tutup bangsa tiga hari nggak apa-apa kali lek. Toh mereka juga berperan kok masih kita pemasukan."
"Oke, lek setuju aja!"
"Alhamdulillah, gini aja deh lek! mereka jalan-jalan pakai uang pribadi Bia aja. jangan pakai laba warung. Lana warung nanti bisa kita bagi dikit-dikit buat bekal mereka. Anggap aja uang saku gitu loh, bonus akhir tahun!"
"Ya udah, lek setuju aja sama kamu."
"Oke, nanti Bia cari travel agen. Biar semua akomodasi di urus sekalian! Kita ngga usah pusing-pusing heheheh!"
"Maunya....!", kata lek Sarman tersenyum.
Aku sudah mencari travel agen untuk wisata kami. Dan aku sudah deal dengan biaya semua-muanya.
Jam sepuluh malam, aku mengumpulkan anak-anak.
"Maaf ya mbak-mbak, mas-mas! Saya ngumpulin kalian semua di sini di jam segini. Pasti kalian sudah capek banget ya!"
Kasak-kusuk terdengar tapi selalu mereka tak keberatan.
"Jadi begini, Alhamdulillah warung kita kan ramai. Jadi...saya...lek Sarman dan lek Dar niatnya pengen ngajak kalian semua yang udah berkontribusi penting buat kemajuan warung kami untuk liburan!"
Suara mereka saling bersahutan. Mereka tampak sangat senang.
"Liburan ke mana mba Bia? Berapa hari?", tanya salah seorang di antara mereka. Kebetulan, ada dua puluh orang pegawai warung. Sudah termasuk tiga koki.
"Maunya ke mana?", tanya ku basa basi.
"Kalo gratis ke mana aja mau lah mba, ya ngga!?"
__ADS_1
Mereka kompak saling mengiyakan bersahut-sahutan.
"Kalo ke Jakarta gimana?", tanyaku.
Suasana semakin riuh. Tampak nya mereka antusias sekali. Bagi yang sudah terbiasa di ibukota mungkin tak ada yang spesial dengan kota itu. Apalagi kalo menghadapi macet dan panasnya! Tapi...bagi mereka-mereka, yang belum pernah tentu penasaran ingin tahu seperti apa rasanya berada di ibu kota meski hanya sebentar. Mumpung ibu kota belum pindah ke pulau seberang.
"Kapan mba???"
"Besok sore kita berangkat. Jadi, kita besok buka cuma setengah hari aja. Ada yang keberatan ngga?"
"Setuju mba!"
"Kalian yang belum berumah tangga jangan iri ya? Khusus buat koki-koki kita yang sudah berumah tangga, mereka boleh bawa anak dan istrinya."
Wooohhh....sorak sorai anak-anak menggema. Usai menjelaskan semuanya, mereka pun membubarkan diri.
"Nduk, beneran itu duit kamu semua?", tanya lek Sarman.
"Beneran lek. Lagian, duit Bia banyak hehehe... sombong!!!!", aku mengatai diriku sendiri.
Lek Sarman menggeleng pelan.
Kamu sebaik ini nduk, kok yo masih aja di sia-siakan! Buat karyawan mu aja kamu ngga sayang buang duit! Apalagi buat keluarga kamu! Coba saat itu Alby ngga gegabah, mungkin mereka tak harus berpisah seperti ini! Batin lek Sarman.
Lek Sarman mengusap kepalaku.
"Yo wes, yok istirahat. Mau nyicil beres-beres?", tanya lek Sarman.
"Hahah apa yang mau di beresin lek?"
"Barangkali mau bawa ransel gunung gitu!", ledek Lek Dar.
"Hahaha....ga sekalian aja koper gede kaya mau jadi TKW! Cuma tiga hari PP kok, emang mau bawa berapa banyak bajunya!"
Kami bertiga pun kembali ke rumah lek Sarman. Hanya sesekali aku tidur di rumah. Itu pun kalau lagi pengen.
Oh, iya. Pak Bambang sudah resmi melamar ku pada ibuku dan bapak tiriku. Beliau berdua serta keluarga besarnya menemui kedua orang tua ku di rumah bapak Anton. Meski secara simbolis, kedua orang tua Febri sudah melamar ku pada lek Sarman waktu itu.
Dan ya... lamaran itu, tanpa di hadiri mas Febri tentunya yang masih berada di negeri orang.
.
.
Bagaimana dengan Silvy? Ibu muda itu masih terbaring koma. Belum ada tanda-tanda bahwa dia akan bangun. Tapi kondisi nya masih begitu-begitu saja.
Setiap harinya, Alby selalu menyempatkan diri untuk melihat Silvy. Hari-harinya di sibukkan dengan kantor, mengurus Nabil, dan menjenguk Silvy. Hanya itu!
Jangan ditanya seperti apa lelah nya papa muda itu. Tentu saja ia sangat lelah! Tapi dia sendiri tak bisa untuk menolaknya.
Dia hanya berusaha untuk menjalani perannya yang sedang ia lakoni. Meski kadang ia ingin mengeluh, mengadu, bahkan berputus asa. Tapi kembali lagi, ini cobaan yang harus ia hadapi.
Baginya, saat ini Nabil lah yang menjadi penyemangat hidupnya. Entah, jika tak ada Nabil. Mungkin dia sudah lama menyerah dengan keadaan yang seperti ini.
Usai solat malam, Alby memandangi putranya yang kini sudah berusia tiga bulan. Bayi itu sudah tak lagi tidur di box melainkan di ranjang bersama Alby. Papa baru itu selalu ingin tidur sambil memeluk darah dagingnya. Ingin selalu standby setiap Nabil membutuhkannya.
Papa sayang sama Nabil! Bisiknya sambil mengecup kening putra nya itu.
Alarm di ponsel nya berbunyi. Takut mengganggu Nabil, Alby langsung mengambil ponsel itu.
Ada peringatan ulang tahun pernikahan nya dengan Bia. Pasti Bia yang membuat nya dulu. Alby sendiri orang yang mudah lupa untuk mengingat tanggal-tanggal penting. Jangankan ulang tahun pernikahan. Beberapa bulan lalu, ulang tahun Bia pun dia tak ingat sama sekali.
'Neng, andai kita masih bersama ya neng. Ini empat tahun pertama kita. Tapi sayangnya... semua sudah berakhir ya neng. Kita sudah selesai! Semoga neng juga bahagia dengan pilihan neng. Aa bahagia buat neng!'
Tanpa Alby sadari, matanya kembali mengembun. Entah, setiap ia mengingat tentang Bia dia selalu saja menjadi sosok lelaki yang gampang melow.
.
.
Ponsel ku bergetar. Aku meraba nya di sekitar bantalku. Dengan sedikit memicingkan mataku, aku melihat notifikasi itu.
Huh! Anniversary ke empat tahun pernikahan ku dengan Alby!
Dengan segera aku menghapusnya. Aku tak ingin lagi mengingat itu semua. Semua hanya masa lalu. Kami sudah berada di jalur masing-masing yang tidak lagi bisa di satukan, mungkin!
__ADS_1
Aku yang tadinya ngantuk berat, sekarang jadi terbangun. Padahal aku baru tidur jam sebelas tadi.
Akhirnya aku memutuskan untuk salat malam.
Usai sholat malam, tak lupa ku panjatkan doa dan meminta ampunan pada yang maha kuasa. Aku hanya umat yang sedang berusaha memperbaiki diriku. Masih Jauh dari kata shalihah. Bahkan sepede belom sama sekali.
Aku masih belum bisa menjaga pandangan ku, bersentuhan dengan yang bukan mahram dan masih banyak lagi.
Pakaian ku pun masih seperti biasa. Belum se'syar'i ukhti-ukhti itu. Aku masih cetek iman.
Tapi, tak ada salahnya jika aku tetap berusaha untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
.
.
"Yakin Lo ga mau kabarin orang rumah? Terutama Bia lho , Feb!", kata Seto sambil membereskan barang-barang mereka.
Ya, besok pagi mereka akan kembali ke tanah air. Ada pergantian anggota yang bertugas di negeri ini.
Lalu Amara? Dia masih stay di sini! Kepincut sama dokter bule ganteng mungkin!
"Yakin lah, gue mau kasih kejutan!", kata Febri dengan penuh percaya diri.
" Heum! Segitu nya! Gue juga punya Naya kali Feb, tapi ga kaya Lo!", kata Seto.
"Ya...itu kan Lo, bukan gue. Gue gak bisa romantis kaya Lo!"
"Makanya belajar!"
"Gampang ntar kalo Bia udah jadi istri gue. Mau romantis nya kaya gimana juga udah sah!"
"Lo buru-buru mau balik biar bisa nikahin ya Bia ya???!", ledek Seto.
"Hahaha itu tahu!"
"Ckkk...kasian Bia, pasti ntar di tubruk sama duda yang udah lama kehausan nih!" , sindir Seto.
"Gue emang bejat To, tapi itu dulu!", kata Febri tak mau di sindir sahabatnya.
"Dulu bejatnya? Kalo sekarang???", ledek Seto lagi.
''Ya...masih sih, tapi ngga separah dulu hahaha!"
"Sialan Lo! Gue pikir Lo wasalam kemarin Feb!", celetuk Seto.
"Lo doain gue koid disini gitu?", Febri melotot.
'' Sabar woyyy...B aja kali."
"Lagian Lo ngomongnya gitu!"
"Hehehe ya maaf! Tapi...gue salut sama Lo, Lo bertahan buat Bia kan?"
"Heum, gue udah pernah kecewain Bia. Dan untuk kesempatan kedua ini, gue ga mau kecewain Bia lagi. Gue pengen jadi alasan Bia buat bahagia!"
Seto menepuk bahu sahabatnya.
"Gue dukung Lo! Meski banyak juga mak-mak yang ga rela Lo sama Bia!"
"Ishhh...semua berhak bahagia kali To. Kalo emang jalan ceritanya udah begini, mak-mak mau marah juga...gimana???", Febri mengangkat kedua bahunya.
"Kayanya...Lo kudu tebel kuping Feb!", kata Seto.
"Haha, bukan gue! Tapi othornya! Biar ga kelewat baper kalo baca komen 😆😆😆 semua kan berhak mengemukakan pendapat. Harus di hargai dong! Gimana juga tanpa mereka-mereka para reader's, apalah artinya othor. ya kan???"
"Heum! Kadang-kadang ente, ente kadang-kadang!", kata Seto sambil tertawa.
Keduanya pun kembali melakukan kegiatan berkemas agar besok sudah rapi untuk kembali ke tanah air lagi.
******
Maap kalo banyak typo dan tak sesuai harapan kalian para reader's kesayangan mamak 🤗🤗🤗
Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1