
Sakti baru selesai menangani pasien nya setelah lebih dari lima jam operasi. Lelah? Sangat! Tapi dia menjalani nya dengan suka rela. Selain karena panggilan jiwanya, dia juga punya alasan lain. Tentu saja sejak kehadiran sang istri, Bina. Hidupnya kini mulai berwarna. Pulang bekerja, ada istri yang menunggu di rumah. Urusan pribadinya dari awal bangun tidur sampai tidur lagi, sudah ada yang melayani. Kurang bersyukur apa coba???
Usai membersihkan diri dan solat dhuhur, Sakti bermaksud keluar untuk makan siang. Hari ini ia terburu-buru akan operasi pasien nya, tapi semalaman ia menghabiskan waktu bersama sang istri. Alhasil, mereka berdua kesiangan dan Bina gak sempat membawakan bekal untuknya.
"Laper amat ya!", monolog sakti. Saat ia sampai di lorong, ia melihat Alby yang jalan terburu-buru.
Sakti mengikuti Alby yang berjalan cepat, cenderung berlari malahan.
"Ada apa dok? Bagaimana kondisi istri saya?", tanya Alby dengan nafas ngos-ngosan.
"Sabar pak!", ujar si dokter. Usia mengatur nafasnya, Alby sudah mulai tenang.
"Jadi, bagaimana kondisi istri saya pak?", tanya Alby lagi dengan penuh penasaran.
"Sebenarnya saya berat ingin mengatakannya pak. Tapi...."
"Kenapa dok? Katakan saja !", kata Alby mengguncang bahu dokter.
"Maaf pak, kami tahu hidup mati seseorang di tangan Tuhan, bukan dokter. Tapi maaf, dengan berat hati kami sampaikan jika kesempatan untuk hidup pasien tak sampai tiga puluh persen!"
"Apa maksud dokter?"
Dokter menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan Silvy. Ada bagian-bagian organ tubuh nya sudah tak berfungsi terlalu baik. Kemungkinan Silvy untuk kembali normal sangat lah sulit. Dokter hanya menyarankan, pihak keluarga pasien harus siap menerima segala konsekuensi yang di ambil. Seperti halnya yang sudah dokter sampai kan saat awal kehamilan Silvy jika kehamilan tersebut sangat beresiko. Dan...ya...ini lah kenyataan yang harus mereka hadapi.
Dengan lemas Alby memandangi tubuh istrinya yang masih terbaring koma.
"By!", panggil Sakti. Alby pun menoleh.
"Sakti!"
"Sabar!", Sakti menepuk bahu Alby.
"Dosa apa yang udah gue perbuat di masa lalu sampai gue harus mengalami semua ini??", curhat Alby tanpa melepas pandangan nya pada sang istri.
"Allah memberikan ujian pada umatnya bukan semata-mata karena menghukum atas kesalahannya, tapi...kadang Dia hanya ingin menguji seberapa sabar umatnya menjalani ujian atau cobaan dari Nya. Dan semoga Lo bisa melewati itu semua, karena Allah tahu, Lo mampu!", nasehat Sakti.
Kadang, kita tidak pernah menyangka orang yang dulu sempat berseteru justru jadi sahabat yang ada di saat kita membutuhkan tempat meski hanya sekedar tempat bicara.
Alby menghela nafasnya pelan.
"Gue mau makan siang, bareng yuk?", ajak Sakti.
"Gue lagi ga pengen makan!", kata Alby.
__ADS_1
"Gue liat Lo dari awal kenal sampe sekarang, Lo beda banget! Lo juga harus bisa urus diri Lo sendiri, ada anak dan istri sama Mak yang juga butuh perhatian Lo. Gimana kalo Lo kenapa-kenapa, Lo ga bisa ngurusin mereka kan?", kata Sakti.
Dulu, meski gue cowok, gue liat Lo tuh menarik By. Lo ganteng! Fresh! Ngga kaya sekarang! Kucel! Gue tahu, masalah Lo emang berat banget By!
Tapi ocehan itu hanya keluar di dalam hatinya tidak terucapkan langsung pada Alby.
"Ya udah, gue ikut Lo makan! Makan di mana?", tanya Alby.
"Niatnya mau ke kafe depan, Lo keberatan?",tanya Sakti.
"Ngga, gue ikut aja!", sahut Alby.
Mereka berdua pun memilih berjalan kaki menuju ke kafe yang tak jauh dari rumah sakit.
"Lo pesen apa?", tanya Sakti.
"Samain Lo aja!"
Sakti pun memesan dua porsi yang sama untuk dirinya juga Alby.
"Makasih ya Sak, di saat gue butuh teman, Lo ada buat gue. Padahal... dulu, kelakuan gue ga baik sama Lo?!"
"Heum, ngga masalah! Ya...gue juga paham perasaan Lo waktu itu."
"Setelah tuan Tama ngga ada, Lo yang lanjutin bisnis nya?", tanya Sakti sambil minum.
"Ya, sebenarnya gue ga mau. Tapi gimana lagi! Gue bisa aja nolak, tapi ...gue ga bisa egois. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan papa Tama."
Sakti mengangguk.
"Tapi, gue yakin Lo mampu By!", kata Sakti menyemangati.
"Insyaallah, makasih! Ya meskipun gue masih harus banyak belajar. Beruntung gue punya teman sekaligus sekretaris papa, dia yang udah bantu gue selama ini."
"Cewek?", tanya Sakti. Alby tersenyum tipis.
"Iya!"
"Heheh tanya doang kok!"
"Ya, dia teman dan partner kerja yang baik sekaligus. Meski nonis, dia selalu ngingetin gue buat solat. Apalagi kalo gue sibuk sama kerjaan!"
"Beruntung, Lo masih punya temen yang ngingetin buat kebaikan!", ujar Sakti sambil tersenyum.
__ADS_1
"Heum, Alhamdulillah. Allah masih sayang gue, satu orang yang gue sayang pergi ninggalin gue, Dia menghadirkan orang-orang baru di sekitar gue!"
"Ya, itu juga perlu kita syukuri. Oh ya, gimana kata dokter tadi? Ada perkembangan apa soal kesehatan Silvy?"
"Tadi kondisi Silvy sempat memburuk, makanya gue di hubungi untuk secepatnya ke sini. Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah kembali stabil. Dokter juga bilang, kemungkinan untuk Silvy sembuh hanya tiga puluh persen", jawab Alby.
"Dokter juga manusia By. Kami tahu, hidup mati seseorang sudah ada yang mengatur. Tapi, kami juga tidak serta merta memvonis usia seseorang sampai kapan tanpa memeriksa nya lebih dulu. Kondisi pasien yang membuat kami bisa mengatakan itu. Kembali lagi, ajal itu rahasia yang maha kuasa! Gue cuma mau bilang, Lo harus suport istri Lo. Sekalipun, Lo belum bisa mencintai nya. Tapi biar gimanapun, dia udah berjuang demi lahirin darah daging Lo."
"Iya, gue tahu. Gue juga udah berusaha Sak. Pelan-pelan!"
"Iya, ngga ada yang perlu Lo sesali. Jangan sia-siakan pengorbanan Bia!"
"Ya, gue harap Bia juga akan bahagia sama Febri! Walaupun... sebenarnya gue belom ikhlas."
"By, yang sedang berjuang ngga cuma Lo kok! Bia juga sedang berusaha move on dari Lo, biar perasaannya ngga stuck ke Lo yang bikin dia makin sedih nantinya."
"Selama jadi istri gue, gue ga pernah ngasih apa-apa buat Bia. Gue malah cuma nyakitin dia. Padahal dia udah banyak melakukan banyak hal buat gue dan Mak."
"Jangan bilang gitu, kalo emang Bia ngga bahagia sama Lo selama kalian berumahtangga, dia ga akan sesedih ini pisah sama Lo!"
Hanya helaan nafas yang terdengar dari mulut Alby. Sakti pun tak lagi mengatasi apa-apa.
"Gue ada praktek lagi, Lo mau balik ke rumah sakit?", tanya Sakti.
"Gue balik. Nanti abis magrib masih ada pengajian di rumah."
"Habis magrib ya? Gue boleh dateng?"
"Iya, kalo Lo ga sibuk ya silahkan aja!"
"Oke, insya Allah ntar gue ke sana sama Bina."
"Ya udah, kita balik ke rumah sakit dulu. Mobil Lo parkir di sana kan?", kata sakti sambil berdiri.
"Iya!", Alby merogoh dompetnya.
"Gue aja yang traktir Lo!", kata Sakti.
"Tapi Sak...!"
"Udah, sekali-kali gak apa-apa kan?", kata Sakti. Akhirnya Alby pun mengiyakan saja. Keduanya pun kembali ke rumah sakit usai membayar.
Alby menuju ke parkiran, Sakti lanjut ke dalam untuk praktek lagi.
__ADS_1