Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 225


__ADS_3

Azan subuh berkumandang, aku mengucek mataku lalu bangkit dari ranjang menuju ke kamar mandi. Tak lupa ku kalungkan handuk ku di leher. Sudah terbiasa mandi sebelum subuh, jadi rasanya ada yang kurang kalo mau sholat subuh kok belom mandi.


Sekitar lima belas menit aku sudah selesai mandi dan bersiap untuk solat subuh. Tak butuh waktu lama, aku pun menyelesaikan kewajiban ku. Ku sempatkan untuk tadarus lebih dulu. Barulah setelah itu, aku meraih ponselku.


Ada chat dari mas Febri yang mengatakan jika dia baru sampai di rumah. Aku hanya mengiyakan dengan membalas chatnya.


Setelah itu ku letakkan lagi ponselku di atas nakas. Aku beranjak menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Ternyata....di dapur sudah banyak tetangga yang datang. Perasaan tadi saat aku mandi, masih sepi-sepi saja.


"Masyaallah, suwi ga tau ketemu Bia saiki uwayune rek???!!! Calon manten ojo Nang dapur toh! Ngko nek kecipratan lengo piye?"


(Masyaallah, lama gak pernah bertemu Bia sekarang cantik! Calon pengantin jangan di dapur! Nanti kecipratan minyak gimana?)


Serentetan omongan mbah-mbah yang sudah nampak sepuh itu pada ku sambil menggosok-gosok sirihnya. Alhasil, bibirnya seksinya memerah...oopss!


Selebai itu aku di bilang uwayu??? Tinggal bilang AYU aja kan simpel.


Aku hanya senyam senyum mendengar pujian dari si Mbah yang kurasa usianya lebih dari tiga kali lipat usiaku.


Cantik aja masih di madu kok Mbah! Kata ku dalam hati.


"Pripon kabare mbah? Sehat terus ya Mbah!"


(Gimana kabar)


"Yo ngene iki nduk."


(Begini lah nduk)


"Alhamdulillah, di paringi sehat lan umur dowo nggeh Mbah!"


(Alhamdulillah, di kasih sehat dan umur panjang ya Mbah)


"Iya nduk!", beliau menepuk-nepuk bahuku yang sekarang duduk lesehan di samping beliau. Ternyata, lek Dar yang meminta mereka untuk datang ke rumah ini. Sebentar bukan untuk mempekerjakan mereka, melainkan rasa menghormati para sesepuh yang ada di sekitar rumah dan warung.


"Semoga ini jadi pernikahan mu yang terakhir ya Nduk! Anggap pernikahan mu yang terdahulu sebagai pelajaran agar kamu lebih berhati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama! Karena cantik rupa tak kan pernah mengalahkan kecantikan hati. Mbah yakin, mantan suami kamu menyesal sudah menyia-nyiakan mu!", kata si Mbah.


"Iya Mbah, insya Allah!", aku mengangguk. Ternyata banyak yang memperhatikan perjalanan hidup ku ya???


.


.


"Marsha, beneran kamu ngga bisa ikut ke Jawa timur kali ini?"


"Maaf mas, tapi kan mas Alby tahu sendiri kalo aku juga mau mudik mas. Maaf ya? Ngga bisa nemenin!"


"Iya, ngga apa-apa!", kata Alby.


"Ya udah mas, aku udah pesenin tiket pesawat buat mas Alby sekeluarga buat keberangkatan nanti malam."


"Iya, makasih Sha!"


"Tapi sebelum ini, mas Alby masih ada pertemuan dengan klien di resto Xxx jam sepuluh!"


"Oke!"


Marsha pun keluar dari ruangan Alby. Sepeninggal Marsha, Alby berdiri menatap hamparan gedung kota Jakarta yang ia lihat dari lantai dua puluh dimana kantor nya berada.


Aku belum melihat mu bersanding dengan Febri saja sudah sesak begini rasanya Neng! Padahal jelas-jelas kita sudah berpisah! Lalu bagaimana perasaan kamu saat itu, yang menyaksikan suami mu mengucapkan ijab qobul dengan Silvy di depan matamu???


Tanpa terasa, Alby menitikkan air matanya. Bukan cengeng! Tapi itu hanya ungkapan hati seseorang yang menyesal. Dan penyesalannya tak akan merubah apapun! Semua terlambat!


Apa...aku gagalkan saja pernikahan mereka besok? Gumam Alby.


Hah!!!!!


.

__ADS_1


.


"Ndang tangi'o Feb! Malah turu wae!"


(Buruan bangun Feb! Tidur aja!)


Bu Sri membangunkan anak bungsunya yang masih nyaman di atas kasurnya. Padahal hari sudah hampir siang, tapi sejak solat subuh Febri malah tidur. Bahkan dia masih memakai sarung dan baju kokonya.


"Febri!", pekik ibunya.


"Astaghfirullah, Bu! Alon-alon wae toh!"


(Pelan-pelan aja)


"Piye arepan alon! Awakmu uwangele di gugah! Ndang tangi'o, adus terus sarapan. Iku wes meh jam sepuluh lho!"


(Gimana mau pelan. Kamu susah di bangunin. Buruan bangun, mandi terus sarapan. Udah hampir jam sepuluh)


"Sek toh Bu, aku Jeh ngantuk hoammm!"


Plukk! Bu Sri memukul lengan anak bungsu nya lagi.


"Ya Allah, Bu! Iya, ini bangun!", kata Febri langsung duduk. Setelah melihat anaknya benar-benar bangun, Bu sri keluar dari kamar putra nya.


Febri pun bergegas menuju ke kamar mandi. Kamar mandinya di belakang ya, dekat dapur! Namanya ge di kampung. Jarang ada rumah yang punya kamar mandi dalam.


Febri mengambil handuk nya, melepaskan sarung dan baju kokonya. Dengan percaya dirinya ia berjalan ke arah dapur hanya memakai kaos dalam dan celana boxernya.


Tak ia sadari jika ternyata di dapur ada sekumpulan kaum hawa yang melongo melihat kehadirannya di area itu.


Febri yang baru ngeh, ada mahkluk-makhluk menatapnya dengan tatapan aneh pun membulatkan matanya. Setelah itu ia mengurungkan mandi di kamar mandi dekat dapur. Dia berbalik menuju ke kamarnya lagi. Tapi belum sampai di kamar, ia berpapasan dengan bapaknya.


"Apa sih Feb?", kata pak Bambang yang heran dengan tingkah anaknya yang jalan terburu-buru.


"Mau mandi pak!"


"Ya udah mandi sana, kenapa malah balik lagi?"


Pak Bambang menelisik seluruh tubuh anaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Lagian kamu tuh, kebiasaan pake kaya begitu! Kaos kutang sama boxer tok!"


"Kan Febri ngga tahu banyak orang di dapur bapakkkeee!"


"Yo wes mandi di kamar mandi gudang padi aja."


"Tapi kan peralatan mandi di kamar mandi belakang pak, malu ngambilnya!"


"Manja! Udah sana ke kamar mandi gudang. Sekalian bawa baju ganti. Bapak anterin sabune! Apa mau bapak mandiin sekalian?", ledek pak Bambang.


"Emoh!!!", sahut Febri sambil masuk lagi ke kamarnya.


Setelah setengah jam drama mandi berlalu, Febri sudah rapi dengan pakaian santai nya. Celana jeans panjang dan kaos berkerah.


"Mau kemana toh?", tanya Bu Sri membawakan sarapan yang kesiangan untuk anak bungsunya.


"Ga kemana-mana lah Bu!"


"Oh, kirain mau ke mana?"


"Bu...!"


"Heum?"


"Nanti foto-foto ku sama almarhumah Aisyah di turunin ya. Ngga enak kalo Bia liat!", kata Febri di sela makannya.


"Iya, nanti ibu minta Bejo buat beresin kamar kamu!"

__ADS_1


"Makasih ibuku yang cantik!", rayu Febri. Bu Sri hanya tersenyum. Tapi setelah itu wajah nya sendu.


"Kenapa Bu?", tanya Febri pada ibunya yang duduk di samping nya.


"Maaf ya Le!", kata Bu Sri.


"Maaf buat apa?", tanya Febri.


"Dulu ibu nentang hubungan kamu sama Bia."


Febri mendesah pelan. Meletakkan sendok nya lalu menghadap pada sang ibu.


"Yang sudah berlalu ya sudah lah Bu. Toh kami sudah sama-sama ikhlas. Mungkin kami memang harus melewati masa-masa itu!"


Bu Sri mengangguk lemah.


"Makasih ya Bu, sudah merestui Febri dan Bia!", kata Febri tulus.


"Iya Le!", kata Bu Sri.


"Ya wis, Febri mau makan lagi."


"Iya! Oh iya Feb, ibu ngundang Kyai Anwar Zahid buat ceramah pas resepsi kamu? Niatnya mau Gus Nuha atau ustazah Mumpuni, tapi jadwalnya padat."


"Iya Bu, atur aja. Yang penting kan isi ceramahnya. Kyai Anwar Zahid kan juga asli Jawa timur, malah lebih ngena kalo ceramah sama orang sini bu heheh."


"Ibu juga kirim undangan buat mereka yang udah bersedia ngasih jempolnya buat kamu sama Bia. Tanpa komen dan jempol mereka Mak othor bukan apa-apa ðŸĪŠ''


Bu Sri menyodorkan selembar kertas yang berisi beberapa nama.


"Lumayan banyak ya Bu?", kata Febri. Ia pun membacanya satu persatu.


Semoga mereka berkenan ya...


Suci Dafa, Linda Emilda, Salsa Billa, Inding Ida, Dewi meliasary, Davil_14, ceena92, Sri adiani, Sri Dewi, Ainur Rizky, mulia Ningsih, Asmarani Maiia, neneng Azizah, kalis Gomes, Zhandi Yusuf, delis Ahlia, Rani Ummi, acia Sogen, Santi Zaitun, Neneng Nuraini, Septi Ramadani, Anita rafifa.


"Udah semua ini Bu?"


"Ngga tahu, kalo yang ngga kesebut ya ibu minta maaf!", kata Bu Sri tulus.


"Heum, iya sih. Semoga mereka maklum ya Bu!"


"Iya Le! Oh iya, semua udah siap, baju dinas kamu yang buat ijab dan resepsi udah ibu siapin. Seserahan juga udah beres. Yang belum ibu tahu, apa mahar yang kamu kasih ke Bia, Le? Kamu udah hafalin belum buat ijab besok?"


"Insyaallah Febri sudah siap, jadi hafal lah Bu! soal maharnya ... Febri udah bawa dari Jakarta! Sebentar!", Febri bangkit dari kursinya lalu menuju ke kamar. Ia mengambil bingkai foto yang berisi uang yang di bentuk menjadi sebuah masjid.


"Ini uang beneran le?", tanya Bu Sri.


"Bukan, ini uang mainan lah Bu. Tapi nanti Febri tetap ngasih uang asli yang sesuai, ini hanya simbolik!"


Bu Sri mengangguk. Lalu Febri membuka sebuah kotak perhiasan yang berisi satu set perhiasan emas yang terdiri dari kalung, gelang, cincin dan anting. Yang jika di jumlah kan seberat dua puluh gram. Lumayan lah! Mas kaesang yang anak presiden aja cuma mahar tiga ratus ribu ngga masalah kok, yang penting kan nikahnya sah SaMaWa. Bukan jumlah maharnya!


"Terus yang jadi mas kawinnya apa Le? Uang apa perhiasannya?"


"Uang Bu. Dua juta delapan ratus tiga puluh satu ribu."


"Kok segitu? Alasannya?"


"Ga ada alasan aneh-aneh sih Bu. Itu cuma pengingat aja. Usia kami saat menikah yang itu dua delapan sama tiga satu."


Bu Sri mengangguk saja. Pernikahan kali ini tak seheboh dulu yang harus ini itu yang kental dengan adat Jawa dan juga adat kemiliteran.


Sekarang tampak umum-umum saja. Karena upacara pedang pora juga hanya berlaku sekali doang bagi seorang Febri.


*****


Segini dulu ya? Makasih buat dukungannya. Insyaallah nanti up lagi.

__ADS_1


Keur nyeuri huntu euy!!! Mon maaf yang udah di sebutin namanya semoga ga keberatan! ðŸĪ­ðŸĪ­ðŸĪ­


Makasih ✌ïļâœŒïļðŸ™ðŸ™ðŸ™ðŸ™


__ADS_2