
Serentetan acara di pernikahan ku dan Febri berjalan mulus meski tadi pagi harus di warnai keharuan antara aku dan Alby .
Sebagian ada yang simpati pada Alby, ada yang mengumpat, pokoknya segala macam cara pandang seseorang. Dan kami tak serta merta bisa membungkam mulut mereka satu persatu. Biarlah mereka tetap berpikir seperti apa yang mereka lihat.
Acara pengajian dari kyai Anwar Zahid sudah berlangsung, bada ashar barulah acara life music dari artis Jawa timur.
Detik, menit, hingga jam berlalu. Aku juga sudah tak memakai kebaya ku. Hanya memakai gamis sederhana namun mewah. Begitu juga para Bridesmaids ku yang cantik-cantik sudah ku persilahkan untuk beristirahat.
Aku dan Febri menyalami keluarga bapak Anton. Ada Oma,opa, Malvin bahkan William. Mereka dengan suka rela jauh-jauh dari ibu kota turut menghadiri pernikahan kami. Jangan tanya seperti apa William, entah lah dia mendadak judes padaku.
Disini....
Aku dan Febri, Sakti dan Bina, Dimas dan Anika, serta Seto dan Naya duduk berdelapan mengitari sebuah meja.
Mau ngapain? Ngobrol lah! Mumpung belum magrib.
"Makasih, kalian semua udah datang ke sini!", kataku. Itu lah awal obrolan kami hingga akhirnya suara seseorang dengan dialek yang ku kenal mendekati arah kami.
"Assalamualaikum Ndan!", sapa Cecep.
"Walaikumsalam! Ya Allah Cep!", Febri mendekati Cecep yang benar-benar sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung ke pernikahan kami.
"Hahahaha selamat ya mas Feb! Neng Bia!", kata Cecep.
"Haturnuhun Cep!", kataku. Di belakang Cecep, ternyata menyusul seorang gadis cantik yang ku tebak pasti pacar Cecep.
"Lyla?", pekik Naya.
"Eh, teh Naya juga di sini?", sahut Lyla. Sebagai sesama karyawati di kota G, keduanya cukup dekat.
"Kok bisa sampe sini aja kamu Cep?", tanya Febri.
"Nyak heeuh atuh Ndan", seru Cecep.
"Kang Cecep teh berdua aja sama neng Lyla? Teh Salamah moal milu kadieu?", tanyaku.
"Muhun neng. Pan neng Bia ge tos terang ari teh mamah mah sok mabok lamun inditan tebih."
(Iya neng. Kan neng Bia udah tahu kalo teh mamah suka mabuk kalo bepergian jauh)
"Karunya eung...!", kataku dengan sedikit penyesalan.
"Sok atuh, calik!"
(Silahkan duduk)
Kami mengobrol banyak hal random di sini. Febri tak melepaskan genggaman dari tangan ku sejak mengobrol tadi.
Hampir magrib, kami bubar sebentar. Setelah solat magrib, kami kumpul di tempat yang sama lagi.
Kali ini, aku merasakan hidup yang berbeda dengan situasi dan kondisi di mana imam ku sekarang adalah mas Febri. Bukan hanya imam solat tapi juga imam dalam hidup ku.
Acara kami berlanjut makan bersama. Aku tak menyangka di sela hiburan life music, kami semua justru makan bersama di saung yang cukup besar. Tamu yang datang kebanyakan hanya ingin menonton life music itu.
Keluarga besar masih berkumpul di tempat resepsi hingga lewat jam sembilan malam. Jika di tanya apakah aku lelah?
Tentu, aku yang dari kemarin kurang tidur udah gitu di pajang berjam-jam dan segala aktivitas hari ini menyita perhatian dan tenaga bukan?
Tapi aku senang sekaligus bersyukur karena semua berjalan lancar.
"Nduk, pulang aja yuk!", ajak mas Febri.
"Tapi ngga enak sama para orang tua mas!", kataku.
"Ya udah kita pamit aja. Mereka juga paham kok kalo kita juga capek!"
Akhirnya aku mengiyakan dan berpamitan pada para orang tua kami.
Saat akan berpamitan pada ibu mertua ku, beliau memberikan sebuah bungkusan kecil.
"Apa ini Bu?", tanyaku heran.
"Di buka nanti saja di rumah. Besok pasti kamu memerlukan itu!", bisik Bu Sri.
Aku tersenyum canggung. Penasaran dengan apa yang Bu Sri berikan padaku.
__ADS_1
Setelah itu, kami berdua menuju ke mobil mas Febri. Kami akan kan menuju ke rumah bapakku. Ternyata di bangku belakang sudah ada beberapa makanan dan tas mas Febri, mungkin berisi pakaiannya.
"Langsung pulang?", tanya mas Febri setelah kami berdua sama-sama sudah duduk di dalam mobil.
"Iya, capek mas!", kataku. Dia pun mengangguk menuju ke rumah bapak yang jaraknya sebenarnya tak terlalu jauh.
Cukup sepuluh menit kami sudah sampai di depan pintu gerbang rumah bapak, rumah kami!
Mas Febri turun membukakan pintu untuk ku. Setelah itu, ia membuka pintu gerbang. Aku mengambil tas dan makanan di bangku belakang.
Usai memasukkan mobil dan mengunci gerbang, mas Febri menyusul ku ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!", sapa mas Febri. Aku yang sudah lebih dulu di dalam pun menjawab salamnya.
"Walaikumsalam!"
Aku langsung masuk ke dalam ruang makan untuk meletakkan makanan yang kami bawa dari warung. Ransel mas Febri pun ku letakkan di bangku meja makan.
"Mau makan lagi mas?", tawar ku.
"Ngga lah, kan tadi udah makan!", jawabnya.
"Oh ya udah, ke kamar gih. Bebersih dulu. Kita pakai kamar bapak yang ada kamar mandi dalamnya."
Febri pun mengikuti ku menuju kamar bapak yang akan kami jadikan sebagai kamar kami.
Kamar kami di sudah tertata rapi. Ku periksa lemari pakaian pun sudah berisi baju-baju ku.
"Mas dulu yang mandi ya Nduk!", kata Febri.
"Iya!", jawab ku. Setelah itu ku berikan handuk bersih untuknya.
"Mas!"
"Heum!? Ga bawa baju ganti sekalian!?"
"Buat apa?", tanya nya balik.
"Ya buat di pake lah."
Febri tersenyum jahil mendekati ku.
"Nanti ganti baju di sini aja. Toh cuma sebentar pake bajunya."
"Emang kenapa?"
"Kok nanya emang kenapa? Ya habis sholat sunah, kayanya kita ga butuh pake baju lagi sampai lagi!",katanya pelan di samping telinga ku.
Sontak aku menjewer telinganya. Febri hanya mengaduh tak jelas.
"Buruan mandi!", kataku.
"Udah ngga sabar ya???", ledek Febri lagi.
"Apaan sih? ngga lah! Udah sana!!!", aku mendorong punggung nya sampai masuk ke kamar mandi.
Menunggu ia mandi, aku merapikan pakaian mas Febri yang tak seberapa banyak. Setelah itu, aku membuka jilbab ku lalu membersihkan sisa make up di depan cermin. Sudah tak setebal tadi sore sih karena memang aku sudah membasuhnya beberapa kali saat akan solat.
Pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah suami ganteng ku! Benar-benar tanpa baju. Hanya celana pendek yang bahkan sangat pendek. Pandangan ku di suguhi oleh potongan tahu di perutnya. Kulit nya memang eksotis tak seputih Alby. Eh??? Kenapa aku jadi membandingkan sih! Astaghfirullah!!!! Aku memukul kepala ku.
"Kenapa?", tanya Febri yang ternyata sudah memakai kaos oblong dan sarung.
"Ngga!", jawabku singkat. Setelah itu, aku mengambil handuk dan daster dengan lengan pendek. Toh, ini bukan pertama kalinya Febri melihat ku pakai pakaian yang terbuka. Bahkan sudah buka-bukaan dari dulu! Yyyaaakk????
Jangan-jangan, masalah yang menimpa pernikahan ku dan Alby karena dosa masa laluku? Hukuman untuk ku yang sudah berzina??? Astaghfirullah!!!! Aku seburuk itu!
Jadi jangan menganggap ku terlalu baik yah? Apalagi Sholeha?! ðŸ¤
Tok...tok...tok...
"Nduk, kamu ngga apa-apa toh? Kok lama amat?"
"Udah selesai mas. Ini mau wudhu!", sahutku dari dalam.
Akhirnya aku pun keluar dari kamar mandi. Mas Febri sudah duduk di sajadahnya. Aku pun segera memalingkan mukena ku.
__ADS_1
Kami sholat sunah dua raka'at. Usai solat, kami berdzikir beberapa saat. Hingga dzikir itu usai, mas Febri berbalik menghadap ku.
Aku mencium punggung tangannya dengan takzim. Dia pun membaca doa lalu meniupkannya di atas ubun-ubun ku, lalu mengecup kening ku cukup lama.
Ada rasa haru yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Tak pernah terbayangkan kami bisa bersama dalam ikatan yang sah meski harus melewati banyak rintangan. Terutama aku yang harus merasakan seperti apa di khianati. Tanpa terasa, ada titik meleleh tiba-tiba meluncur.
Mas Febri memperbaiki posisi duduknya. Lalu menggenggam tanganku dengan erat. Mengecupnya beberapa kali. Dia mengangkat daguku yang dari tadi tertunduk.
"Kenapa nduk? Kok malah nangis?"
"Ngga nyangka aja mas, pada akhirnya kita bisa sama-sama begini. Padahal..."
"Sssstttt....!", ia meletakkan jarinya di depan bibirku.
"Semua yang pernah kita lalui itu bagian dari takdir!", kata Febri. Mata kami saling beradu pandang.
"Aku tahu, kamu masih butuh banyak waktu untuk melupakan semua tentang Alby. Aku tidak bisa memaksa mu untuk serta merta melupakan Alby. Tapi....!"
Febri menarik ku dalam pelukannya.
"Tapi...aku harap, perlahan kamu juga bisa memberikan hati dan cinta kamu buat mas lagi. Cuma mas, tidak Alby atau pun orang lain." Aku mengangguk dalam pelukannya.
Dadanya memang pelukable 😆!
Dia mengangkat daguku lagi, lalu setelah itu ia mengecup bibir ku sebentar. Cuma mengecup! Setelahnya, ia melonggarkan pelukannya.
"Mau sampai kapan pakai mukena nya?", tanya nya. Mendadak situasi romantis itu buyar seketika!
Aku pun membuka mukena ku lalu melipatnya dan meletakkannya di gantungan samping meja rias. Febri pun melakukan hal yang sama, melipat sarung itu dan meletakkan di sana.
Perhatian ku tertuju pada bungkusan kecil yang ibu mertua ku beri.
"Apaan?", tanya mas Febri yang sekarang berdiri di belakang ku dengan memelukku dari belakang.
Aku sedikit tersentak. Meskipun aku dan dia sudah memutuskan untuk bersama serta bertunangan, tapi ini pertama kalinya kami berpose seperti ini.
"Ah ...ini...ngga tahu di kasih apa sama ibu", jawabku dengan tersendat karena Febri sudah menenggelamkan kepalanya di cerukan leher ku dan kupastikan ia meninggalkan jejak di sana.
"Mas ...!"
"Heum!", dia melepaskan sebentar hisapannya. Aku melanjutkan membuka bungkusan itu, yang ternyata isinya....salep buat Anu!
Aku membelalak mataku tak percaya. Ibu mertua ku sampai memberikan salep ini padaku.
"Ini salep buat itu kan?", tanya Mas Febri. Aku tak menjawabnya.
"Mas?", aku menoleh tapi setelah menoleh jutsru malah mempertemukan pipiku dengan bibir kissable mas Febri. Uuuh ...kumaha bentukannya euuuyyy ...🤣
"Ibu memang pengertian!", kata Febri. Dia tak menjelaskannya lagi padaku. Aktivitas nya menyesap leher masih berlanjut. Sampai akhirnya aku mengingat percakapan ku dengan Bu Sri saat aku di temukan sakit oleh pak Bambang.
Bu Sri bilang, almarhumah Aisyah pun memakai salep itu.
Aku ternganga! Apa itu artinya.....????
Mas Febri tiba-tiba memutar badanku, dan kami saling berhadapan. Tangannya melingkar di pinggang ku.
Matanya menatap wajahku. Dengan sedikit menunduk, ia menc*** bibirku. Melu*** atas bawah bergantian, setelahnya mengabsen tiap inci yang ada dalam rongga mulutku. Ini bukan hal yang pertama untuk kami, tapi setelah sekian lama berpisah dari nya aku tahu dia sudah banyak berubah. Entah secara di fisik atau kemampuan.
Untuk beberapa saat ia melepaskan ciumannya! Menghapus sisa salivanya di pinggiran bibirku dengan telunjuknya.
"Ku rasa ibu ada benarnya!", kata Febri.
"Mmmaksudnya?"
Febri berbisik disamping telinga ku.
"Kamu pasti bakal pakai salep itu Nduk! Mas buka puasa setelah bertahun-tahun menganggur! Kamu paham itu!", katanya sambil mendorong ku ke arah ranjang dengan pelan.
Dan....ya...aku tahu hal itu akan terjadi!
**********"
Skip lah ya adegan naninunaninu nya 🙈🙈🙈. Era geningan lamun di deskripsikan Oge! Pan para reader's mah suhu nya naninunaninu 🤣🤣🤣🤣🤣
Selamat tahun baru semua para reader's & Mimin noveltoon juga. Semoga di tahun yang baru ini, semua cita-cita yang belom tercapai bisa segera tercapai. Panjang umur buat semuanya. Dikasih rejeki yang melimpah, karena rejeki ngga harus dalam bentuk uang kan???
__ADS_1
Makasih yang udah sampai disini. Maap kalo banyak typo yak. Insyaallah tinggal berapa bab lagi ya??? 🤔
Dan insya Allah ada skuel khusus buat Aa Alby Gunawan anu kasep tea. Teuing iraha ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£!