Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 65


__ADS_3

Mobil yang kami tumpangi sudah terparkir di halaman praktek bidan. Tidak terlalu ramai, tapi sepertinya memang ada alat USG di sini.


"Selamat sore", sapa petugas resepsionis.


"Selamat sore sus."


"Ya Bu, mau periksa kandungan? Baru ya Bu?", tanya suster itu ramah.


"Iya sus."


Aku pun melakukan registrasi. Ternyata benar, di sini ada alat USG. Hanya ada beberapa pasien hamil di sini.


Setelah beberapa menit berlalu, aku pun masuk ke ruang pemeriksaan.


"Selamat sore, Bu Shabia."


Bidan senior ini menyapa dengan sangat ramah.


"Selamat sore Bu bidan."


"Bagaimana? Ada keluhan?", tanya bidan itu.


"Sejauh ini belum Bu. Saya sebelumnya pertama kali memeriksa kandungan di rumah sakit, tapi ngga apa-apa kan kalo saya sekarang periksa di sini?"


"Heheh ya tentu saja ngga apa-apa dong Bu. Masa mau di larang."


Aku dan alby tersenyum tipis.


"Bu, di sini bisa USG kan?", tanya Alby.


"Sebenarnya bisa Bu, pak. Tapi maaf, dokter kandungannya tidak setiap hari praktek. Beliau datang ke sini tiap hari Rabu dan Sabtu saja. Itu pun harus mendaftar di awal biar ikut jadwalnya."


"Owh...saya kira bisa langsung USG Bu."


"Maaf Bu, kemampuan saya belum sampai ke sana."


"Ya Bu, terimakasih infonya. Tapi kalau saya mau mengecek kandungan saya ngga apa-apa kan?", tanyaku.


"Pertanyaan anda ngga perlu saya jawab kan Bu?", ledek Bu bidan.


Bu bidan ini memang senang bercanda rupanya.


"Bu bidan bisa saja."


"Mari, saya periksa. Silahkan berbaring!"


Aku berbaring di dipan yang berada di ruang itu. Bu bidan memeriksa perutku.


"Dug...dug....dug...!"


Suara dug-dug keluar dari alat tersebut.


"Ini suara detak jantung janin anda Bu."


Aku dan Alby terharu mendengar suara itu. Di rahimku ada buah cinta kami.


Setelah konsultasi dengan Bu bidan, kami pun kembali ke rumah. Sepanjang perjalanannya, tangan Alby mengusap perut ku. Sesayang itukah Alby pada anak kami?


"Neng, Aa harap neng jangan terlalu memforsir tenaga neng. Seperti hari ini misalnya."


"Iya."


Aku menyahuti singkat. Memang aku harus bicara apa lagi?

__ADS_1


"Neng...!", Alby mengusap kepala ku.


"Apa?", tanya ku balik.


"Jangan pernah tinggalin aa ya!", ujar Alby.


"Aku tak kemana-mana. Kamu yang sekarang justru menjauh A."


"Maaf! Selama ini Aa belum bisa bahagiakan neng. Tapi malah Aa membuat neng sakit hati. Maafin Aa ya neng."


"Ya, sudah ku maafkan A. Lagipula memang nya dengan aku tak memaafkan Aa, semua bisa jadi seperti awal lagi? Ngga kan? Tapi, setidaknya dengan memaafkan mu aku lebih bisa berlapang dada."


Ku dengar Alby menghela nafasnya pelan.


"Bagaimana caranya agar neng bisa ceria seperti dulu?"


"Perasaan aku biasa saja!"


"Aa tahu seperti apa kamu neng. Aa tahu aa salah!"


"Ya udah sih. Aku bosan ucapan maaf mu terus A. Tapi kenyataannya memang tak merubah apapun yang sudah terlanjur terjadi."


"Tolong jaga hati neng buat Aa."


"Entah! Aku tak bisa banyak berjanji A. Kamu saja bisa mengingkari janji kamu kok."


Alby mengusap wajahnya kasar. Mungkin dia putus asa membujukku. Untuk apa membujukku? Tidak ada pengaruh apa-apa kan?


.


.


Ponsel ku berdenting. Ada pesan masuk dari sakti. Dia ingin menelepon ku, tapi minta ijin lebih dulu.


[Assalamualaikum, mas Sakti. Ada apa?]


[Walaikumsalam mbak Bia]


Aku menatap layar ponsel ku, memastikan nomor siapa yang ku hubungi. Benar kok nomor sakti? Tapi kenapa suara perempuan ya?


[Siapa ya? Ini nomor mas sakti kan?]


Alby menengok ku sekilas.


[Iya mbak, aku Anika]


Aku terdiam beberapa saat. Apa tujuannya menelepon ku?


[Eum...ada apa Anika?]


[Aku mau minta maaf mbak soal tadi.]


Ku Hela nafas perlahan. Ya...mau gimana lagi.


[Iya Anika, saya sudah memaafkan mu kok]


[Serius mbak? Mbak Bia baik banget sih,pantes aja mas sakti ngga bisa move on dari mba Bia.]


[Ngomong apa sih kamu anika?]


[Hehehe maaf mbak. Mbak Bia di rumah kan?]


[Iya, saya sama suami dirumah. Ada apa?]

__ADS_1


[Eum...aku mau ke rumah Mbak Bia boleh?]


Sekarang aku yang menatap ke arah suamiku. Dia mendengar obrolan ku dengan Anika. Setelah itu, ia merebut ponselku.


[Kamu mau ngapain ke rumah kami Anika? Mau menghina istri saya? Mau jadi pembela sahabat kamu?]


Anika menjauhkan telinganya dari ponsel. Dia sama sekali tak menyangka jika suami sahabatnya itu bisa galak dan keras seperti itu.


[Mmmaaf mas Alby. Aku cuma mau minta maaf secara langsung. Maaf soal yang tadi mas. Makanya aku mau ketemu sama mba Bia. Boleh kan mas?]


Anika memelas pada Alby, terdengar dari nada suaranya.


[Ke sini sama siapa? Kakak kamu?]


[Ngga, sama ajudan ayah ku kok. Mas sakti masih praktek. Ini aku juga pinjam ponselnya sebentar]


[Ya udah. Boleh! Tapi kamu tahu alamatnya?]


[Udah mas. Tadi mas sakti minta ke mas Febri. Mau minta ke mbak Bia langsung, takut ngga di bolehin.]


[Ya udah. Hati-hati!]


[Iya mas. Makasih!]


Anika girang mendengar persetujuan dari Alby. Ya, dia menyesal sudah mengatakan hal buruk pada Bia.


"Aa ngijinin Anika ke sini?"


"Iya, dua mau minta maaf sama kamu."


"Terus?"


"Ya aku bolehin, asal ngga sama sakti aja ke sininya."


"Terus sama siapa?"


"Dia bilang ajudan ayahnya."


"Owh...!"


"Neng!"


"Heumm?", aku menoleh padanya. Tanganku dan mulutku aktif dengan cemilan kripik yang kami beli di warung tadi.


"Semudah itu neng maafin Anika, tapi kenapa Aa sulit mendapatkan maaf neng?", tanya Alby. Dia duduk bersimpuh di depan kakiku yang duduk di sofa.


Aku menghentikan kunyahan ku. Meletakkan bungkusan makanan ku tadi.


"Anika tak tahu apa yang sebenarnya. Dia hanya spontan saja karena merasa sahabatnya sudah di khianati. Dia merasa bersalah setelah tahu apa yang dia prasangka kan padaku tidak benar. Tapi kamu A, kamu tahu kamu salah. Kamu tahu kamu bakal nyakitin aku. Tapi kamu juga tetap melakukannya. Apa harus dengan mudah juga aku memaafkan mu?"


Aku bangkit dari sofa hendak mengambil minum ke dapur. Seret! Beres ngemil, di pancing emosi. Kurang apa? Kurang aja*!!!


"Neng?!", sekarang Alby ikut bangkit.


"Aa ngga tahu harus ngomong dan berbuat apa lagi neng. Tolong tetap jadi neng Bia yang selama ini Aa cintai neng. Jangan begini!"


"Oooh...aa pengen aku jadi istri yang penurut? Yang menerima semua apa pun perlakuan kamu ke aku? gitu A? Kamu tahu aku keras kepala A. Kamu kenal aku! Bukan baru hari kemarin. Dan kamu tahu aku paling tidak suka di khianati! Tapi kamu menyakiti ku dengan pengkhianatan berkedok syar'i??? Aku selama ini belajar bersikap lembut, merubah kepribadian ku yang selama ini kurang baik. Aku mencoba memposisikan diri ku sebagai seorang istri A. Tapi apa yang ku dapat kan? Sakit A! Sakit! Sekuat apapun aku menyangkal perasaan sakit ini, tapi jiwa ku yang pernah trauma karena pengkhianatan tidak bisa menerima semua ini A. Ngga bisa!"


Bergegas aku melangkahkan kaki ku ke dapur. Ku raih gelas dan mengisinya dengan air bening. Ku duduk di bangku lalu kutenggak habis air itulah hingga tandas. Setelah itu aku kembali bangkit, berniat untuk merebahkan diri ke kamar. Tapi Alby memelukku dari belakang.


"Maafin Aa neng, maaf!", Alby memelukku begitu erat. Aku hanya mampu mendongak menatap langit-langit ruangan. Air mataku juga sepertinya sudah kering. Gak sanggup lagi jika harus menangis. Pertengkaran ini pasti akan berulang karena hal yang ini dan ini terus.


Sejauh apa aku bisa bertahan???

__ADS_1


__ADS_2