
Sebenarnya kita sedang mempertahankan hubungan atau sekedar menunda perpisahan????
******
Sejak semalam aku tak bisa memejamkan mataku. Hari ini aku akan menyaksikan betapa hebatnya kekuatan uang dan kekuasaan. Puluhan kali Alby menghubungi ku. Tapi tak ada satupun yang ku tanggapi. Ada juga chat dari sakti dan Febri, aku hanya sekedar membaca nya.
Tepat jam sepuluh pagi, aku datang ke ballroom hotel dimana resepsi pernikahan itu digelar. Tak ada pakaian 'wah' yang ku kenakan. Hanya jilbab dan gamis longgar yang baru ku beli kemarin.
Banyak mata tertuju padaku. Mungkin karena tampilanku yang terlalu kampungan Dimata mereka.
"Mba Bia?", panggil seorang perempuan cantik dengan kebaya modern sambil berjalan ke arah ku.
"Ya?", tanyaku sambil mengerutkan alisku.
"Marsha!", dia mengulurkan tangan padaku. Aku pun menyambut nya sambil tersenyum tipis.
"Mba Bia ngga jadi kost sama aku?", tanya nya to the point.
"Oh...itu. Ngga mba Marsha, saya ngga lama kok tinggal di sini."
"Mas Alby bilang....!"
"Sudah mba Marsha, ngga apa-apa kok."
Marsha menatap ku iba. Sungguh, aku tak ingin di kasihani.
"Mbakku!", pekik seseorang yang sudah familiar di telinga ku.
Ya, Anika menepuk bahuku dari belakang.
"Ngapain mba disini sih? Mau nambahin sakit hati? Iya?", tanya Anika dengan wajah kesalnya. Aku tersenyum tipis menutupi segala rasa sakit yang bertumpuk di dalam dadaku.
"Hanya sebentar Ika!", jawabku. Marsha hanya menjadi pendengar obrolan ku dengan Anika.
"Mba mau nemuin mereka dulu!", aku mengusap punggung tangan anika. Lalu ku tinggalkan mereka berdua yang mungkin sedang mengasihani ku dalam hati.
Ku lihat pria tampan ku berdiri gagah di atas pelaminan. Disampingnya, Silvy juga tak kalah cantik. Sungguh pasangan yang serasi bukan????
Aku berjalan menghampiri mereka di atas pelaminan. Netra ku dan alby saling bersirobok.
__ADS_1
"Setelah ini, aku benar-benar akan pergi!", kataku di depan alby dan Silvy. Mata Alby memerah menatap ku dengan pandangan....entah lah. Mungkin marah?!
"Bicara apa kamu neng?",Alby mencengkram bahuku.
Sedangkan Silvy hanya memandangi kami berdua dengan santainya.
"Selamat ya. Mungkin ucapan selamat ini sedikit terlambat. Tapi ...tak apa kan?"
Aku menatap wajah Silvy yang dari tadi menatap ku.
"Aku sudah bilang dari awal. Aku tidak bisa berbagi. Dan setelah ini, aki tidak akan lagi menjadi penghalang hubungan kalian."
"Jaga ucapan mu Bia!", Alby tersulut emosi. Sepertinya ia sudah tidak peduli dengan para tamu undangan mertuanya.
"Memang kenapa A? Bukan kah suatu saat nanti ini akan terjadi? Lalu.... Sebenarnya kita sedang berusaha mempertahankan hubungan atau sekedar menunda perpisahan A Alby???????"
Nafas Alby memburu, menunjukkan betapa dirinya sedang menahan emosi yang sudah menyesakkan dadanya.
"Sudah sepantasnya kamu membalas budi kepada orang yang membesar kan mu penuh kasih sayang. Aku hanya orang baru dalam hidup mu A. Jadi ku harap, kamu bisa melepaskan ku. Mulai saat ini!"
"Jangan harap aku melepaskan mu Bia. Kamu istriku, aa cuma cinta sama kamu neng!", meski suaranya pelan di depan wajah ku. Tapi aku tahu Silvy mendengarnya. Wajah perempuan itu pun memerah. Untung hanya ada orang dekat yang ada di sekitar kami. Entah jika rekan bisnis Hartama mendengar nya.
Aku mengulurkan tangan ku untuk bersalaman dengan Alby. Tapi alby tak menyambut uluran tangan ku.
"Ya sudah kalo begitu, aku pergi ya Mas Alby!",aku beranjak dari pelaminan mereka. Tapi belum juga aku melangkahkan kakiku, Alby kembali menarikku.
"Jangan bertindak macam-macam Bi. Aa tegaskan sekali lagi, sampai kapan pun neng akan tetap istri Aa, selamanya milik Aa!", ujar Alby dengan mata nya yang memerah.
"Jangan mempermalukan diri mu didepan tamu undangan mertua mu A!", kataku sambil mendongakkan kepalaku.
Tanpa ba-bi-bu, Alby menarik ku menjauh dari pelaminan. Entah apa yang orang pikirkan! Alby menyeret ku ke lorong sepi.
Dia mendorong ku hingga terhimpun di dinding. Nafasnya memburu tepat di depan wajahku.
"Neng ngga percaya kalau Aa cuma cinta sama neng? Iya?", tanya nya sambil mencengkram bahuku. Aku menelan salivaku. Bukan karena takut, tapi aku hanya tak menyangka jika suami yang ku agung-agungkan selama ini menjadi partner hidup ku malah menancapkan duri tajam di dalam hatiku.
Aku mendorong dada suamiku itu sekuat tenaga ku.
"Kembali ke pelaminan mu, aku di kamar 102. Setelah kalian selesai, kamu bisa menemui ku!", aku kembali mendorong nya lalu dengan langkah sedikit lebih cepat aku menjauh dari tempat nya berdiri.
__ADS_1
Sejam kemudian, Alby benar-benar datang ke kamar ku.
Bisa dengan mudahnya mertua dan istri Alby mengijinkan ny bertemu dengan ku????
"Aa tidak akan pernah mengijinkan neng menjauh dari Aa!", kata Alby usai dia masuk ke kamar ku.
"Terserah Aa saja. Aku sudah memikirkan semuanya. Keputusan ku sudah bulat. Aku ingin kita berpisah. Aku lelah! Aku ngga sanggup berbagi. Kamu tahu itu!"
"Tapi aa ngga mungkin lepasin kamu Bia. Aa cuma cinta sama Bia!", bentaknya.
"Tapi aku lelah A. Aku ngga kuat lagi!"
"Neng cinta kan sama Aa? Iya kan?", dia menakupkan kedua tangannya dipipiku.
"Iya, Bia emang cinta sama Aa. Tapi Bia tidak ingin semakin terlihat bodoh karena dibutakan oleh cinta!Aa paham???"
Alby meremas rambutnya dengan kasar. Aku mendekati dan tepat di wajahnya aku mengungkapkan unek-unek ku.
"Berapa uang yang harus kuberikan pada Silvy dan tuan Hartama agar kamu kembali menjadi milik ku satu-satunya???", ku tatap mata hazelnya yang seketika itu menatap ku tajam.
"Bia!", teriaknya di hadapan ku. Aku sempat terkejut. Ini pertama kalinya aku di bentak oleh Alby selama hampir empat tahun aku mengenalnya.
"Dan aku tidak akan pernah melakukan itu A. Karena sampai kapan pun kamu akan selalu terbelenggu oleh bayang-bayang balas budi." Dia menatap ku tajam.
Ku dorong dada bidang yang selama ini menjadi sandaran ku. Dia hanya bergeser selangkah. Mungkin dia sedang berpikir, ucapan ku benar.
"Neng!", Alby mulai melemah. Dia berusaha menyentuhku. Tapi aku memundurkan tubuhku.
"Kamu mau bilang soal kehamilan ku? Tenang saja! Aku pasti bisa merawat anakku dengan baik, meski tanpa kamu!"
"Cukup Bia, cukup!"
"Iya, aku memang hanya akan mengatakan cukup sampai di sini."
Alby merengkuh bahu ku. Dia menangis di bahuku. Tanpa ku sadari aku pun sama-sama menitikan air mata. Bahkan aku tergugu saking emosinya dan sudah tak tahan dengan situasi ini.
*****
Gimana-gimana??? Mamak siap di kritik sepedas apa pun 😄😄😄😄😁. Makasih yang udah ngikutin tulisan receh mamak sampai episode ini.
__ADS_1
Semoga episode kedepannya tidak mengecewakan kalian 😌😌😌. Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏