Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 102


__ADS_3

"Vin, kenalin. Ini mbak Bia. Tadi Oma di temenin sama Bia", ucap Oma Marini pada Malvin.


"Makasih mba, udah nemenin Oma saya!", kata Malvin tersenyum padaku. Lalu tatapannya kembali mengarah Silvy dan Alby.


"Ya udh Oma, Oma sudah ada mas Malvin. Bia mau ke....ke toilet dulu kalo gitu!"


"Ngga sekalian saja bawa suami mu masuk Bia? Seperti dia tidak nyaman berbicara dengan gadis itu."


Suami? Malvin menatap ku dengan pandangan yang seolah sedang mengasihaniku.


"Oh, iya Oma."


Aku pun mencium punggung tangan Oma Marini.


"Alby suami mu mba?", tanya Malvin tiba-tiba.


"Eum...iya."


Malvin sudah tak kaget saat tahu Alby suami dari mantan nya itu, tapi yang di heran justru dia bertemu dengan istrinya Alby yang satunya. Lebih tepatnya istri pertamanya.


"Ayo, kita ke kamar Oma!", ajak Oma pada Malvin.


"Iya Oma!", sahut Malvin. Tapi baru saja Malvin mendorong kursi rodanya, ponselnya berdering. Alhasil, dia menghentikan laju kursi rodanya. Tak mau mendengarkan obrolan orang lain, aku menghampiri suamiku.


"Aku mau ke kamar mandi. Kalo aa masih main sama dia di sini, silahkan!", kataku.


Alby memegang pergelangan tangan ku.


"Aa ikut neng!", kata Alby. Silvy menatap kecewa pada suaminya. Di tambah lagi, Malvin melihat sendiri apa yang terjadi barusan.


"By!"


''Kenapa? Kamu malu, mantan pacar kamu tahu kalo ternyata kamu udah menikahi pria beristri dengan cara memaksa?", tanya Alby. Meski tak kencang, nyatanya suara itu mampu di dengar oleh Malvin. Tapi dia beud sebisa mungkin untuk fokus pada ponselnya.


Aku mengusap lenganku sendiri. Sungguh, andai ada yang tahu kejadian ini terus di rekam pasti bakalan viral. Memalukan!


[Ya Om. Oma sudah lebih baik kok. Om Anton mau bicara sendiri sama Oma?]


Malvin pun mengarahkan kamera dan ponselnya pada Oma Marini.


[Anton!]


[Mama]


[Tega kamu ya Ton, sampai kapan kamu begini? Kamu nunggu mama mati dulu baru mau nemuin mama. Gitu?]


[Astaghfirullah Ma. Bukan gitu, Anton cuma ngga mau bikin masalah lagi dengan keluarga kita Ma]


[Kamu ngga kangen sama mama Ton? Mama udah tua! Mama juga pengen ketemu sama cucu-cucu Oma Ton]


[Bukan Anton ngga mau Ma. Tapi...mama tahu sendiri, papa belum bisa maafin Anton]


[Mama kangen kamu Nak]


[Anton juga kangen sama mama-- Bapak, bapak telpon siapa?]


Ada suara anak kecil di panggilan itu.


[Siapa Ton?]


[Esa Ma]


[Esa? Ya Allah nak, mana? Mama mau lihat Esa?]


[Halo Oma?]

__ADS_1


[Hallo Esa? Apa kabar sayang? Kamu udah besar ya? Udah sunat? Kapan ke Jakarta? Oma pengen ketemu nak]


[Bapak ngga mau ajak Esa ke Jakarta,Oma]


Esa???? Esa ku?


[Insyaallah ma, semoga anton bisa mengunjungi mama]


Oma menyerahkan kembali ponsel Malvin. Tanpa sengaja, kamera Malvin justru mengarah pada Alby.


[Vin?]


[Iya om?]


[Bisa arahkan kamera mu ke belakang lagi?] Malvin yang bingung pun menyetujuinya saja.


[Itu Alby kan?]


[Om kenal mas Alby?]


[Iya, kamu kenal juga? Ada Alby di situ, Bia juga ada kan?]


Bia? Kok Om Anton kenal Bia juga?


[Iya om.]


[Bisa deketin ke mereka, tapi ijin Oma dulu!]


Malvin minta persetujuan dari Omanya. Setelah beberapa saat, Malvin menghampiri ku.


"Mba, om saya mau bicara sama mba Bia dan mas Alby!", kata Malvin.


"Om kamu?", tanya Alby. Malvin menyerahkan ponselnya pada Alby.


Aku mengernyitkan alisku, jadi benar tadi suara Esa , adikku?


[By, gimana keadaan kamu? Iya, ini bapak! Bapak ngga nyangka kalo Malvin kenal sama kalian]


[Alhamdulillah sudah lebih baik Pak.]


[Mana Bia , By?]


Alby menyerahkan ponsel Malvin padaku. Sedang Silvy tampak terdiam tak mau ikut bersuara. Entah karena malu ada Malvin atau alasan yang lain.


[Iya pak]


Malvin sebenarnya bingung, ada urusan apa om nya dengan Bia dan Alby, suami dari mantan kekasihnya itu.


[Alhamdulillah, bapak senang kamu sama Alby baik-baik saja Nduk]


Aku tersenyum tipis. Jujur, malu jika ada orang asing yang tahu masalah keluarga ku.


[Iya pak]


Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku.


[Kamu kenal sama Malvin? Malvin itu, keponakan bapak nduk]


Aku sedikit tercengang, apalagi posisi Oma Marini juga sudah ada di samping ku.


[Anton?]


Oma Marini memanggil bapak lagi.


[Mama, ini Bia. Anak Anton juga Ma.]

__ADS_1


Oma Marini menatap ku sebentar.


[Anak Anton?]


[Kakaknya Esa, ma!]


Jadi, Oma Marini mamanya bapak? Aku dan Alby saling melempar pandangan.


[Benar kah? Pantas mama lihat Bia seperti tidak asing, dia begitu mirip dengan wajah istri mu Ton. Dia juga gadis yang baik]


[Bukan gadis Ma, dia sudah bersuami ]


[Hahahaha iya iya ...]


Akhirnya panggilan itu pun berakhir.


(Ini benar-benar sangat halu sekali. Dan tentu saja ini hanya terjadi di dunia pernovelan yang hanya di miliki kaum halu macam mamak. Karena memang sudah terpikirkan oleh si othor model begini 🤭)


"Jadi, Oma mama nya bapak?",tanyaku basa basi meski aku sudah tahu jawabannya.


"Iya. Itu artinya, kamu cucu Oma juga kan?", kata Oma Marini tersenyum manis.


"Makasih Oma!", kataku.


"Sama-sama!"


Malvin masih memandangi Silvy yang terus melemparkan pandangannya ke arah lain. Dia ingin pergi dari sini, tapi jika dia pergi Malvin semakin yakin jika dirinya benar-benar tidak bahagia di pernikahannya ini.


"Oh ya oma, ini Alby. Suami Bia."


Alby menakupkan kedua tangannya pada Oma. Oma tersenyum manis.


"Ganteng ya !", celetuk Oma. Wajah Alby memerah di puji ganteng oleh nenek-nenek.


"Makasih Oma!", sahut Alby.


"Pantes jadi rebutan!", celetuk Oma. Aku dan Alby saling melempar pandangan. Sudah di pastikan, Oma mendengar percakapan antara aku, Alby dan Silvy.


"Ngga rebutan kok Oma", kataku.


"Iya Oma, mba Bia benar. Mereka ngga berebut kok. Hanya satunya saja yang berusaha merebut, tapi sayangnya gagal. Dan malah berusaha menyakiti diri sendiri dan meyakinkan orang lain kalo dia bahagia. Padahal, kalo dia mau...ada orang lain yang bersedia untuk membahagiakannya."


Aku dan Alby cukup terkejut dengan kalimat yang terlontar dari mulut Malvin. Kalimat sindiran itu jelas ia tunjukkan pada manta kekasihnya itu.


"Ayo oma, kita ke kamar Oma lagi! Mari mba Bia, mas Alby dan....Silvy!", kata Malvin.


"Oma balik ke kamar Oma ya Bia, By!", pamit Oma Marini. Kenapa beliau tak pamit pada Silvy? Tidak ada yang mengenalkan Silvy padanya.


"Iya oma, lekas sembuh ya!", kataku.


"Ngapain kamu masih di sini?Masih punya muka kamu ketemu mantan kamu itu?", tanya Alby.


"By! Dari tadi aku diam bukan berarti aku membiarkan kalian menghina ku ya! Aku hanya berusaha untuk tidak kasar sama kamu By."


"Stop Vy! Kamu dengar sendiri kan? Cukup menyakiti dirimu sendiri! Kamu hanya akan mendapatkan kecewa saat mengharapku. Aku rasa, Malvin ingin kembali padamu!", kata Alby.


Silvy bangkit dari bangkunya, dengan tertatih dia berjalan lebih cepat keluar dari taman.


"Kembali ke dalam kamar Neng!", ajak Alby padaku. Aku hanya mengiyakannya saja.


*****


Jyahhh...mamak kelewat akut ngehalunya ya 😁😁😁🤭🤭🤭🤭


Yang udah mampir, Makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2