
"Jadi mandi sekarang?", tanyaku pada Alby.
"Mandiin tapi..."
Aku menghela nafas.
"Iya!", jawabku singkat. Alby tersenyum padaku. Aku tahu, sebenarnya dia bisa mandi sendiri. Tapi dia lagi dalam mode manjanya, mungkin memanfaatkan kesempatan untuk bermanja-manja padaku.
Aku memapah Alby masuk ke dalam kamar mandi. Aku membersihkan tubuh polos Alby dengan telaten. Tapi, lukanya tak boleh terkena air.
Aku memakaikan baju Alby di kamar mandi. Meski agak sulit karena postur tubuh Alby yang lebih tinggi dariku.
Sekarang, Alby jauh terlihat lebih segar. Aku membaringkan tubuhnya di atas brankar bersamaan dengan Tuan Hartama yang masuk.
Aku dan Alby melihat kehadiran Hartama sesaat. Sampai dia duduk di samping Alby.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?", tanya Hartama pada Alby.
"Alhamdulillah, lebih baik tuan."
"Kenapa kamu panggil saya seperti itu lagi?"
Alby memilih tak menjawab pertanyaan mertuanya itu. Melihat tak mendengar jawaban dari Alby, mata Hartama beralih pada ku.
"Bia, bisa om bicara sebentar?", tanya Hartama.
Apa katanya? Dia memanggil dirinya om padaku?
"Maaf tuan, bukankah Anda saat ini juga bicara?"
"Iya, ada hal penting yang harus om sampaikan!"
"Apa?"
"Maaf!"
"Maaf untuk apa?"
"Maaf sudah membuat mu menderita."
Aku tersenyum tipis, memijat pelipisku dengan pelan. Sedang Alby, menggenggam tanganku.
"Apa yang membuat anda tiba-tiba meminta maaf sama saya?"
"Saya menyadari kesalahan saya."
"Karena saya anak sahabat anda?"
"Salah satunya."
Aku tersenyum sinis.
"Bia, om bisa berdiri seperti sekarang karena bantuan papa kamu. Tanpa bantuan modal dari papamu, mungkin om masih belum bisa sesukses sekarang. Papamu menjual warisan dari kakek mu, demi membantu om. Tapi setelah om sukses,om kembali ke Surabaya untuk mencari papamu. Sayangnya, om kehilangan jejak papamu. Sampai akhirnya om bertemu kamu. Andai om tahu dari awal kalo Alby itu menantu sahabat om, om pasti tidak akan melakukan semua hal buruk ini padamu Bia."
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum sarkas.
"Seperti itu?", tanyaku.
Hartama menyodorkan sebuah map padaku dengan cover berlogo sebuah perusahaan.
"Empat puluh persen saham HS grup, om serahkan padamu. Karena di sana, ada hak kamu. Anggap saja om kembalikan modal yang papa mu berikan, meski sampai kapanpun nominal yang om kembalikan padamu tidak bisa membalas kebaikan papamu."
"Saham?", tanyaku. Tuan Hartama membeo.
__ADS_1
"Saya rasa, saya tidak membutuhkannya tuan."
"Bia, di perusahaan om ada hak kamu."
Aku menggeleng pelan, sedang Alby masih setia menggenggam tangan ku.
"Saya rasa, saya tidak membutuhkan semua itu tuan."
"Bia, om hanya berharap maaf dari kamu. Mungkin memang ini tak seberapa tapi..."
"Apa dengan anda meminta maaf dan cara anda meminta maaf seperti sekarang ini, memberikan saham di perusahaan anda, anda pikir bisa mengembalikan kebahagiaan saya?"
Hartama membeku.
"Anda mungkin lupa. Saya hanya orang bodoh yang pernah menandatangani kertas kosong karena percaya sama suami saya yang posisinya sedang dalam tekanan anda saat itu."
"Bia, om..."
"Tuan, terimakasih anda berniat mengembalikan milik almarhum bapak saya. Tapi terus terang, saya tidak tahu menahu sama sekali. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa menerima apa yang anda berikan. Saya hanya berharap, saya akan mendapatkan kebahagiaan saya seperti semula."
''Saya sudah berusaha membujuk Silvy untuk melepaskan Alby. Tapi... mungkin untuk saat ini saya belum berhasil Bia. Saya tahu, ini semua salah saya. Kalian jadi korban dari perbuatan saya. Saya benar-benar minta maaf Bia!", kata Hartama dengan penuh penyesalan.
.
.
"Vy, tunggu?!", Malvin masih sempat mengejar Silvy yang ternyata masih di menunggu taksinya.
"Ngapain Lo?! Mau ketawain gue?", tanya Silvy .
"Ngga. Buat apa gue ketawain Lo Vy?"
"Lo udah liat langsung, gimana pernikahan gue sama Alby? Puas Lo?"
"Kalo Lo cuma mau ngetawain gue, mending jauh-jauh dari gue. Gue nggak butuh di kasihani!"
"Kalo Lo ngga mau di kasihani, please! Lepaskan Alby dan cari kebahagiaan Lo sendiri! Gue siap untuk menebus kesalahan gue sama Lo! Tinggalkan Alby, Vy!"
"Gampang banget Lo ngomong? Lo lupa gimana Lo ninggalin gue demi Vega? Gimana tega nya lo nyakitin gue hah? Ngga usah sok jadi pahlawan kesiangan deh lo. Bagi gue, rasa gue buat Lo udah mati! Setelah pengkhianatan Lo dan Vega!"
"Gue salah! Gue akuin, gue punya banyak kesalahan sama Lo. Gue minta maaf Vy! Tolong, balik sama gue. Gue janji, ga akan kecewain Lo lagi. Gue terima apa pun keadaan Lo! Gue terima status Lo!"
"Terus, Lo juga masih mau bilang terima dan tanggung jawab sama anak yang gue kandung? Iya?"
"Lo hamil?"
"Iya! Dan dengan entengnya Lo suruh gue lepasin Alby gitu aja? Gue ga bisa!"
"Tapi...gue denger dia...dia lebih memilih Bia?"
"Gue ngga papa berbagi sama bia. Gue ngga keberatan cinta Alby buat Bia,yang penting Alby masih sama gue dan anak kami. Selebihnya gue ngga peduli."
"Alby tahu kehamilan Lo?"
"Tahu! Dan Bia juga lagi hamil!"
Gila! Batin Malvin.
Di saat yang bersamaan, taksi yang Silvy pesan pun datang. Silvy bergegas memasuki taksinya. Membiarkan Malvin yang masih terdiam mendengar kedua istri Alby hamil, yang salah satunya mantan kekasihnya sendiri.
.
.
__ADS_1
"Lo ngga jenguk si Alby, Feb?", tanya Sakti saat keduanya berada di teras rumah kediaman Galang Wibisono.
"Emang dia kenapa?"
"Kena luka tusuk!", sahut sakti.
"Kok bisa ?"
"Heum! Gue denger sih, karena Silvy berusaha mengakhiri hidupnya tapi di cegah sama Alby. Sayangnya ya ... malah salah sasaran, kena Alby."
"Bisa begitu sih?", tanya Febri sambil menyesap rokoknya.
"Cinta !"
"Ckkk...cinta bodoh apa cinta gila!", ujar Febri.
"Gue ketemu sama Bia."
"Bia rawat Alby?"
''Heum!"
"Kayanya mereka rujuk!", kata Sakti lagi.
"Bagus dong!"
"Halah! Muna Lo!"
Febri terkekeh.
"Terserah Lo, gue harap yang terbaik aja buat Bia. Kalo emang Alby yang terbaik buat dia, gue dukung aja."
"Kesempatan buat sama Bia makin ngga ada bro?"
Lagi-lagi Febri terkekeh-kekeh sendiri.
''Mungkin memang bukan jodoh, eh....belum jodoh!", kata Febri merevisi ucapannya.
"Kalo gue mah, udah lah! Pasrah gue! Bokap mau kenalin sama anak temennya."
"Lo mau di jodohin Sa?"
Sakti mengangguk.
"Apa Lo? Seneng? Saingan Lo berkurang?", ledek Sakti.
"Siapa bilang?", tanya Anika tiba-tiba. Dia menjatuhkan bobotnya ke lengan bangku yang sakti duduki.
"Apa sih dek? Nimbrung aja kaya nyamuk!", kata sakti.
"Liat nih! Postingan selebgram William Adiraja!", Anika menyodorkan ponselnya untuk di lihat Sakti dan Febri.
Mata sakti dan Febri bersirobok.
"Kok di akunnya dia ada foto Bia sih?", tanya Febri. Sakti yang mau melemparkan pertanyaan yang sama pun merasa terwakili. Jadi, dia tak sempat bertanya.
"Ngga tahu. Secret admirer nya mba Bia kali!", sahut Anika santai.
Jawaban santai Anika, membuat kedua pria tampan itu terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
*****
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏 tengkyu udah mampir 🤭
__ADS_1