
Aku mengerjapkan mataku sebentar. Sebelum dokter memberikan tindakan medis padaku, aku dalam posisi sadar. Bahkan aku dengan sadar nya mendengar penjelasan dokter Anita yang mengatakan jika janin ku tidak bisa di pertahankan.
Sedih? Sakit? Sangat! Bahkan teramat sangat sakit tak bisa di gambarkan seperti apa rasanya.
Tapi, kembali lagi. Aku pasrah menerima kenyataan ini. Mungkin ini jalan Tuhan yang memberikan jawaban atas semua masalah yang ku hadapi.
Aku yang tak mampu untuk berbagi dan Alby yang tak bisa bersikap adil.
Pergi sulit, bertahan lebih sakit.
Dengan lapang dada, aku memasrahkan tindakan terbaik yang dokter ambil untuk ku.
Kutatap sekeliling ruangan kamar ku. Ada Mak Titin yang merebahkan dirinya di sofa. Saat ku menengok ke samping kiri ku, ada sesosok pria yang sangat ku kenali.
Tapi, kenapa dia bisa ada di sini? Dia bukan lagi siapa-siapa bagi ku. Dan....Mak membiarkan Febri menjaga ku?
Ku pejamkan mataku lagi. Entah kenapa aku merasa semuanya seolah tak berpihak padaku. Febri yang hanya orang lain, sosok masa lalu ku masih peduli padaku. Tapi suami ku?
Bahkan dia memilih untuk berada di ruangan yang sama dengan istri keduanya di bandingkan aku yang jelas-jelas seperti ini. Lebih membutuhkan!
Ah, tidak! Aku tak selemah itu! Tanpa ku sadari air mataku meleleh mengingat beberapa jam yang lalu. Mendengar ucapan Alby yang berjanji tidak akan meninggalkan Silvy dan calon anak mereka. Alby melupakan janji nya pada ku. Terserah, aku sudah tak peduli jika aku di anggap terlalu kekanak-kanakan. Tapi soal rasa, hanya diri kita sendiri yang tahu. Orang lainnya hanya mampu melihat dan memposisikan diri tanpa tahu seperti apa rasanya jika mengalami.
Alby akan mendapatkan anak, tapi tidak dari rahim ku. Ya, dia akan mendapatkan anak dari Silvy. Bukan aku!
Aku sudah membulatkan tekad ku. Cukup sampai di sini! Waktu yang akan menyembuhkan luka ku.
Di tengah lamunanku, Febri menggerakkan bahunya. Posisi tidur seperti itu pasti sangat lah tidak nyaman.
Tenggorokan ku terasa kering. Terakhir aku minum saat makan baso bersama Anika tadi. Sedangkan saat ini, aku rasa sudah lewat tengah malam.
"Ehem...ehm!", aku mencoba berdehem untuk membangunkan salah satu dari mereka. Dan Febri lah yang responsif.
"Nduk!", Febri bangkit lalu mendekati ku.
__ADS_1
"Aku haus mas!", kataku lirih. Sungguh, aku merasa sangat lemah saat ini.
Tanpa berkata apapun, Febri memberikan air mineral untuk ku.
"Udah?", tanya Febri saat aku menghentikan hisapan ku dari sedotan. Aku mengangguk pelan. Febri meletakkan kembali botol air mineral itu ke atas nakas yang memang tak bisa ku jangkau dengan tanganku dalam posisi seperti sekarang.
"Gimana rasanya, sudah lebih baik?", tanya Febri penuh perhatian. Tanpa menjawab, aku memalingkan wajah ku ke arah Mak Titin. Wanita itu terlihat sangat lelah. Mungkin, dia lelah mengurusi anak dan menantunya yang sakit. Di tambah keberadaan ku yang juga dalam kondisi yang sama.
"Mas yang minta ijin untuk menjagamu nduk. Kasian mak, sepertinya dia capek banget."
Aku mengiyakan dengan anggukan.
"Gimana? Ada keluhan? biar aku panggil dokter!"
"Ngga mas!", kata ku menggeleng.
"Atau kamu mau makan sesuatu? Aku yakin, kamu cuma makan baso siang tadi kan?"
"Aku malu sama kamu mas. Kenapa kamu masih peduli padaku! Aku merepotkan mu!"
"Nduk, mas sama sekali tak merasa di repotkan. Alby pun pasti akan melakukan hal yang sama jika posisinya sedang fit. Dia sendiri tidak baik-baik saja Nduk!"
"Iya, dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi dia sudah membuat keputusan yang terbaik!"
"Nduk, jangan berpikir yang berat dulu ya. Fokus sama kesehatan mu!"
Aku terdiam mendengar nasehatnya yang memang benar itu, tapi aku masih saja berusaha menepis nya dalam hati. Aku baik, jika perasaan ku baik.
"Aku lelah mas, aku menyerah!"
Ku hembuskan nafas dengan kasar.
Febri yang tak paham dengan ucapan Bia pun tak menanggapi apa pun.
__ADS_1
"Masih malam, sebaiknya kamu tidur lagi nduk! Besok pagi, sakit praktek pagi. Jadi dia bisa kami bisa gantian menjagamu. Setidaknya sampai keadaan Alby membaik dan mampu menjaga mu."
"Tolong kalian jangan terlalu peduli padaku. Aku ngga mau tergantung pada kalian!"
"Nduk, meskipun kamu hanya menganggap aku dan sakti bagian dari masa lalu mu tapi... setidaknya tolong hargai kami sebagai teman mu, jangan pernah menolak bantuan dan perhatian kami."
"Mas ..."
"Nduk, istirahat ya!", kata Febri lagi.
Meskipun enggan, aku pun mencoba kembali memejamkan mataku. Febri sendiri pun kembali duduk di bangkunya. Pria gagah itu tak bisa menjabarkan perasaan apa sebenarnya yang ia tujukan pada mantan kekasihnya itu. Dadanya nyeri melihat perempuan yang ada di depannya merasakan sakit, mungkin sakit fisik nya tak sebanding dengan luka hatinya yang ia rasakan.
Alby tak bisa tidur di dalam kamar rawatnya. Ia menoleh ke brankar sebelah. Silvy sudah terlelap. Sedangkan teh Mila duduk di bangku diantara brankar nya dan Silvy.
Perlahan, Alby turun dari brankarnya lalu keluar kamar menuju ke kamar Bia. Hatinya tak tenang jika belum melihat sang istri membuka matanya.
Saat ia berada di dekat pintu, samar-samar ia mendengar suara yang sangat ia kenal sedang berbicara dengan seseorang. Ada rasa lega dan bahagia setelah tahu jika Bia siuman. Tapi rasa bahagianya memudar saat ia mendapati Febri yang justru sigap membantu Bia untuk sekedar memberikan minuman. Alby mengurungkan niatnya untuk segera masuk. Obrolan demi obrolan antara Febri dan istrinya masih mampu ia dengar. Ada rasa cemburu yang menguasai dadanya, tapi ucapan Febri cukup membuatnya tenang. Pria itu tampak tulus membantu istrinya. Mungkin dia sadar diri, dia tidak pantas memperlakukan istrinya berlebihan. Bukan mahram dan mungkin hanya sekedar tentang kemanusiaan.
Tapi rasa tenang Alby tak berlangsung lama setelah ia mendengar satu kalimat yang terlontar dari bibir istrinya.
"Aku lelah mas, aku menyerah!"
Sungguh, pernyataan singkat istrinya mampu mengobrak abrik dada seorang Alby. Sayangnya, dari yang Alby tangkap sepertinya Febri tak paham arti dari ucapan istrinya. Buktinya Febri hanya meminta Bia untuk kembali istirahat.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Bia bisa tiba-tiba seperti sekarang dan mengakibatkan mereka kehilangan calon bayi mereka?
*****
Masih harus sabar soale proses review dari kk Mimin butuh proses 🤭🤭
Padahal udah up dari semalam lho 😔
Makasih semua 🙏🙏🙏
__ADS_1