Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 116


__ADS_3

"Bagaimana keadaan mu sayang? sudah lebih baik?", tanya Hartama pada Silvy yang dari tadi memanyunkan bibirnya.


"Seperti yang papa lihat! Silvy pikir, papa udah ngga peduli sama Silvy!", sahutnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Mana mungkin papa ngga peduli sama anak papa sendiri!", Hartama mengusap kepala putrinya.


"Tapi buktinya papa kemarin....!"


"Alby mana?", tanya pria berjas hitam itu.


"Paling di kamar istri tuanya!", jawab Silvy. Mata Hartama mengarah ke Mila yang dari tadi diam di sudut.


"Maksudnya apa?"


"Bia di rawat juga tuan. Eum...Bia keguguran!", jawab Mila. Wajah Hartama menegang. Bohong jika dia tak peduli pada anak mendiang sahabatnya itu.


"Kapan?", tanya Hartama bangkit dari brankar Silvy.


"Benar kan? Semua peduli sama Bia. Bahkan papa pun juga! Papa lebih peduli pada nya dibandingkan anaknya sendiri!", kata Silvy kesal.


"Bukan begitu nak! papa hanya prihatin, pasti Bia sedih sekali kehilangan calon bayinya."


"Pa, yang anak papa tuh aku. Bukan Bia!"


"Cukup Silvy!"


"Papa!"


"Silvy! Kamu bisa menikmati segala fasilitas yang papa berikan ini juga karena papanya Bia. Asal kamu tahu! Karena papanya Bia, perusahaan papa maju. Kalo ngga ada bantuan dari papanya Bia, belum tentu papa sesukses sekarang!"


Mata Silvy dan Mila terbelalak, begitu pula Titin yang baru masuk ke dalam ruangan Silvy diikuti Alby yang mengekor di belakang ibunya.


"Apa mas? Maksud ku, tuan?", tanya Titin.


Hartama menoleh ke art nya yang pernah menjadi istrinya itu.


"Shabia, anak almarhum Salman. Salman sahabat ku saat aku masih di Surabaya."


Titin menutup mulutnya tak percaya.


"Astaghfirullah! Mas, kamu benar-benar tega! Aku ngga apa-apa mas kamu mau balas dendam padaku. Tapi kenapa harus Bia? Bahkan orang tuanya saja sangat berjasa?"


"Aku tahu mas, aku tak berhak menghakimi mu. Tapi, karena dendam mu padaku kamu justru mengorbankan putri sahabat mu sendiri!"


Hartama tak menyangka, perempuan yang selama ini pasrah tiap ia menyakiti baik fisik maupun mentalnya bisa meluapkan emosinya pada dirinya.


"Jaga batasanmu Tin! Sekarang, saat ini kamu hanya pembantu di rumah ku!", hardik Hartama.


"Cukup Pa! Terserah papa mau menyakiti ku, mau melakukan apa pun padaku. Tapi jangan lagi bersikap kasar pada Mak ku!", Alby berusaha menjadi perisai dari ibu tirinya, eh...ibu mertuanya juga ya.

__ADS_1


"Sekarang kamu punya keberanian padaku?", tanya Hartama mendekati menantunya.


"Iya. Karena anda, aku harus menerima kenyataan jika Bia bersikeras untuk meminta cerai dariku. Puas? anda puas tuan?", Alby berkata di hadapan Hartama.


"Setelah Bia dan aku kehilangan calon anak kami, aku juga harus kehilangan Bia. Istriku yang sangat aku cintai meminta pisah dari ku. Ini kan yang kalian inginkan?", tanya Alby bergantian pada sepasang anak dan ayah itu.


Hartama tak lagi menyahuti ucapan Alby.


"Dimana ruangan Bia?"


"Untuk apa? Anda akan memojokkan nya lagi? Atau mau mengucapkan terimakasih karena dia sudah mengalah pada putri anda!"


"Aku juga istri mu By!", pekik Silvy.


Mata sembab Alby cukup menggambarkan betapa sedihnya ia saat ini. Di lubuk hatinya Hartama yang paling dalam, dia juga sangat menyesali perbuatannya yang harus mengorbankan Bia demi kebahagiaan putri nya dan juga ajang balas dendamnya.


Bukan kepuasan balas dendam yang ia dapatkan, justru penyesalan yang mendalam. Satu kesalahannya, mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah.


Tanpa berucap apapun, Hartama keluar dari ruangan itu.


Langkah nya menuju kamar Bia. Meski ia harus bertanya terlebih dahulu pada perawat yang lewat.


.


.


"Bia!", sapa Sakti.


"Ngga apa-apa Bi. Oh iya, tadi udah visit dokter kan? Gimana? Udah lebih baik?"


"Heum, udah mas. Insyaallah besok aku juga bisa pulang...eummm... maksud nya keluar dari sini."


Sakti terdiam. Di pandangi wajah pucat perempuan yang ia cintai ini. Matanya terlihat bengkak, mungkin akibat terlalu banyak menangis.


Sakti menarik bangkunya di dekat brankar.


"Bi..."


"Heum?"


"Sesakit itu kah?", tanya nya sendu. Aku tak tahu apa makna dari pertanyaannya.


"Maksud mas Sakti apa? Aku sudah tak sesakit kemarin kok. Ini sudah lebih baik."


Sakti menggeleng."Bukan Bi, maaf! Aku lancang, mendengar obrolan mu dengan Alby."


Aku mendesah pelan. Ya, sepertinya yang perawat tadi katakan benar. Sakti berniat menjenguk ku, tapi ia urungkan karena mendengar ku bersama Alby tengah berdebat.


"Aku baik-baik saja mas!"

__ADS_1


"Jangan terus membohongi diri mu sendiri Bi. Mungkin benar, aku bukan siapa-siapa buat mu. Tapi apa aku salah kalo peduli sama kamu?"


Mata kami saling beradu. Aku tahu, sakti memang laki-laki yang tulus. Tapi buatku, dia tetap seorang teman. Dulu, dulu sekali saat aku berusaha move on dari Febri. Dia pernah berada di posisi yang penting dalam hidup ku. Tapi, aku tahu diri latar belakang ku. Siapalah aku ini? Rasa insecure dan tak percaya diri perlahan meyakinkan ku bahwa kami di takdirkan hanya untuk berteman. Entah... entah di waktu yang akan datang. Tapi yang kurasakan saat ini, aku hanya mencintai suamiku meski rasa sakit ku pun dia yang beri.


"Terima kasih kamu masih peduli padaku. Maaf!"


Aku menunduk, tak berani menatap pria berkacamata minus itu.


"Bia, apa pun keputusan mu. Aku harap, kamu sudah memikirkan baik-baik. Kamu ngga sendirian. Kamu masih punya keluarga yang bisa kamu ajak bicara. Kamu masih punya aku, punya Febri, punya Anika. Kamu sudah kami anggap bagian dari hidup kami."


Aku kembali mendongakkan kepala ku.


"Mas, aku tak sepenting itu ...''


"Itu menurut mu, tapi ngga buat aku Bi! Maaf, mungkin salah. Aku tahu ini salah, tapi perasaan ku sama kamu masih tetap sama. Sekalipun kamu tidak akan pernah membuka hati kamu buat aku. Yang terpenting buat ku, kamu bahagia. Entah itu dengan Alby, atau tanpa nya. Aku hanya ingin kamu tersenyum. Menjadi Bia yang selalu riang, yang ku kenal sejak dulu. Bukan Bia yang rapuh dan tak bersemangat seperti ini."


Sakti menasehati ku layaknya seorang kakak pada adiknya. Lagi dan lagi aku harus mendengarkan ungkapan sayang seseorang yang bukan pasangan sah ku.


Apa aku pantas berbangga diri? Jika Febri dan Sakti masih setia mengejar ku? Apa kelebihan ku? Bahkan nantinya aku berpisah dengan Alby, aku hanya perempatan bergelar janda tanpa anak. Aku tak pantas untuk mereka.


Ckkk....aku terlalu percaya diri sekali! Secantik apa sih kamu Bia??? Sok kecakapan banget! Monolog ku dalam hati.


Lagi pula, bagaimana bisa aku menghilangkan rasa ku pada Alby. Lelaki yang selama ini bersama ku dalam situasi apapun. Tapi karena badai yang dia buat sendiri, pada akhirnya membuat ku menyerah.


"Mas, tolong! Aku tak pantas mendapatkan perhatian lebih dari kamu atau pun mas Febri."


Detik yang sama, Hartama masuk ke dalam ruangan ku.


Dia menatap ku dengan pandangan lembut.


"Bia, bagaimana keadaan kamu?", tanya nya. Sakti bangkit dari duduknya. Dia sedikit menunduk badannya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Mau apa anda kemari? Oh, apa menantu anda sudah mengatakan keputusan ku?"


Aku berusaha bersuara tapi entah kenapa rasanya bergetar.


"Bia, om tahu. Ini berat buat kamu. Kamu kehilangan calon bayimu. Tapi ..."


"Tapi keputusan ku sudah bulat tuan. Semoga anda puas! Ini yang kalian ingin kan dari ku!"


"Bia...."


"Silahkan keluar dari ruangan saya. Biar kan saya istirahat!", kata ku ketus. Di hadapan pria ini, aku tak ingin terlihat lemah.


"Apa mas harus keluar juga Bia?", tanya Sakti.


''Maaf mas, mas sakti kan juga harus bekerja. Tak perlu mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja!"


"Kalo butuh apa-apa, hubungi mas ya!"

__ADS_1


Aku mengangguk patuh. Hartama keluar lebih dulu, diikuti Sakti di belakang nya.


__ADS_2