
Aku sudah berkutat dengan urusan perdapuran. Hari ini aku masak garang asem, makanan yang sering aku dan mas Febri makan saat di kampung.
"Masak naon neng?", tanya Mak yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Garang asem Mak!", sahutku.
"Eum...ya...ya...!"
"Mak mau Bia masakin apa?"
"Apa aja lah neng, buatan neng mah Mak makan."
Aku pun mengangguk sambil tersenyum.
"Nanti siang Bia mau ke pasar ya Mak. Stok bumbu udah mau habis."
"Iya. Si Aa can telpon?"
"Acan Mak. Mungkin ntar kalo udah mau berangkat kerja Mak."
"Emang Alby berangkat jam berapa?"
"Ga pasti Mak, kan tergantung anak majikannya masuk kuliah jam berapa."
"Oh...gadis lain majikannya teh?", tanya Mak. Aku yang sedang membungkus ayam untuk garang asem pun menghentikan aktivitas ku.
"Iya Mak. Tapi... katanya gadis itu sakit Mak. Kakinya belum bisa di gunakan buat mengendarai mobil sendiri. Katanya dulu kecelakaan Mak. Makanya sekarang ke mana-mana pake sopir."
"Geulis teu majikan Alby teh?", tanya Mak lagi.
"Ya... cantik lah Mak. Kan perempuan", sahut tertawa.
Entah ini yang di sebut insting seorang ibu mungkin, meski Alby tak lahir dari rahim nya. Mak Titin merasa ada hal yang mengganjal perihal anak majikan putranya.
"Mak? Kenapa nanya majikan si Aa cantik apa ngga? Mak percaya aja, si Aa ga bakal macem-macem kok!", aku mengusap bahu Mak ku.
Iya neng, tapi ngga tahu kenapa perasaan Mak kok ngga enak ya Neng, batin Mak.
"Percaya lah, anak Mak mah pasti setia. Apalagi punya istri cantik dan shalihah kaya neng Bia."
"Mak mah sok muji kitu, era ning Bia Mak!", kataku tersipu malu.
Aku tak sebaik itu Mak!!!
"Tos atuh, bereskeun masakna teh. Keburu nak Febri berangkat."
"Muhun Mak....!", sahutku sambil meneruskan pekerjaanku.
Mak memilih duduk di tepian kolam sambil membawa pakan ikan. Ada kesenangan tersendiri bagi Mak Titin saat melempar huut dan ikan-ikan saling berebut.
Hampir setengah tujuh, makan yang ku masak untuk mas Febri selesai ku kemas dalam wadah.
Saat akan melangkah, ponsel di saku ku bergetar. Senyumku merekah saat tertera nama suami ku yang menghubungi ku.
"Si Aa lain?", tanya Mak. Aku mengangguk.
"Ya udah, angkat aja. Biar Mak yang anter ke rumah Nak Febri."
Mak pun meminta tantang dariku aku pun mengangguk paham.
[Assalamualaikum Aa]
[Walaikumsalam!]
Aku dan A Alby melakukan orang video. Di sudut lain, Febri menyambut kedatangan Mak yang membawa rantang.
"Ieu Jang, sarapan nya!", Mak mengulurkan rantangnya pada Febri.
"Makasih Mak."
"Udah mau berangkat?"
__ADS_1
"Sebentar lagi Mak, beres sarapan Febri berangkat." Febri melihat mantan kekasihnya sedang melakukan panggilan video, ia yakin jika yang menghubungi Bia adalah suaminya.
Mak yang paham dengan arah mata Febri pun nyeletuk.
"Keur telpon Jeung salakina, maksudnya...suaminya. Anak Mak!", jelas Mak Titin.
Febri tersenyum canggung.
"Heheh Mak, Febri cuma pengen kenal aja sama suami Bia Mak."
"Ooh...ya sok atuh, ikut Mak ke sana !", ajak Mak. Febri pun ikut di belakang Mak Titin.
[Nuju naon neng?]
[Beres masak, tadinya mah mau anterin sarapan ke sebelah. Tapi berhubung Aa telpon, jadi Mak yang minta nganterin ke sana]
[Eum...ya gapapa, sekalian olahraga pagi]
[Aa can init?]
(berangkat)
[Teuing neng. Non Silvy nya mungkin masih tidur. Belum manggil juga]
[Eum...non silvy cantik ya A?]
Alby tersedak tiba-tiba.
[Kunaon atuh nanyakeun eta? Mau secantik apa juga , masih cantikan istri Aa. Soleha pintar masak lagi.]
[Helehhhh...gombal!]
[Hehehe neng...Aa kangen!]
[Sarua atuh, Bia ge...Ka...]
Ehem....Mak berdehem di belakang ku. Mau tak mau aku memutar kepala ku ke arah Mak. Dan ternyata Mas Febri bersama mak.
(Tahu kamu mau ke sini, Mak ngga usah anterin Mas)
"Mak sing ngajak mrene kok!", kata Febri.
Baru mau mangap, Aa sudah mencegah ku.
[Neng, atuh yang sopan! Masa ketus kitu!]
[Sanes ke Aa menta maafna teh!]
Aku memutar bola mataku dengan malas.
"Maaf mas!", kataku pelan. Mak Titin hanya menggelengkan kepalanya.
"Sini mak, mau ngobrol sama Aa!", Mak mengambil ponsel ku.
[Jang!]
[Naon Mak? Kangen sama Enjang nyak?]
[Teu! Geer maneh teh. Ieu...komandan pebri arek kenalan jeng maneh!]
Aku menyipitkan mataku. Ngapain sih mas Febri mau kenal si Aa ?
[Ooh...ya sok atuh kenalan!]
Mak menyodorkan ponsel ku ke hadapan Febri.
[Assalamualaikum, mas Alby]
Febri menatap layar ponsel Bia, di sana terlihat jelas betapa tampannya suami sang mantan. Pantas saja Bia gampang banget move on dari ku, batin Febri.
[Walaikumsalam mas Pebri]
__ADS_1
[Febri mas, bukan Pebri]
Febri mempertegas namanya.
[Hahaha maaf mas, pan orang Sunda susah ngomong 'ef' hehehe]
[Bisa aja mas Alby ya.]
Eta komandan meuni kasep, badannya ge bagus. Aiiiih...
Alby juga bermonolog dalam hatinya.
[Salam kenal ya mas Febri, berhubung di rumah ngga ada laki-laki tolong nitip Mak sama istri saya hehehe. Kan rumah yang paling dekat rumah komandan]
[Siap!]
Febri berlagak seperti bicara dengan atasannya.
Hah! Sok akrab sekali mereka. Andai si Aa tahu!
[Jang, mas Febri teh mantan pacar nya si Neng]
Tiba-tiba Mak mengatakan hal itu. Benar-benar di luar dugaan. Dua pria yang berada di tempat berbeda pun saling tatap. Febri yang memang tahu dari awal, terlihat lebih santai. Berbeda dengan Alby, dia sedikit terkejut.
[Oya?]
"Mak...ih...kenapa sih ngomong kaya gitu!", kataku manyun.
"Ya biarin neng. Ngapain di rahasiain? Dari pada si Aa tahu dari orang lain", kata Mak.
[Ya kan Jang?]
Mak bertanya pada A Alby.
[Heuh Mak. Neng mah setia kok Mak, ngga usah di ragukan]
Aku senyam-senyum sendiri. Sedangkan mas Febri menggaruk kepalanya yang tak gatal.
[Mak kan cuma ngasih tahu mas Pebri mantannya neng. Kok ngomongin setia sih?]
"Mak...udah ah...!", aku merajuk di bahu Mak. Tapi mak justru tertawa , sepertinya menggoda ku adalah kebahagian tersendiri bagi Mak.
[Heheh Jang...Jang... tenang aja, neng Bia mah udah terbukti setianya]
[Iya lah Mak. Istri Aa gitu]
Febri merasa jadi kambing congek mendengar keharmonisan keluarga mereka.
Panggilan pun berakhir.
"Mak, Febri pamit mau berangkat sekalian deh ya. Nduk, nanti ngga usah anter makanan ke kantor. Yang buat sarapan aja mas bawa."
Aku mengangguk paham.
"Iya nak Pebri , hati-hati. Maaf ya kalo tadi mal bercanda kaya gitu."
"Ngga apa-apa Mak, justru Febri yang merasa ngga enak sama mas Alby. Tapi ternyata mas Alby menanggapi nya bijak."
"Iya, menikah itu ibadah terpanjang. Makanya... sepasang suami istri itu harus saling percaya satu sama lain. begitu kan neng?"
Aku tersenyum dan mengangguk. Febri pun turut menyunggingkan senyumnya sedikitpun.
"Assalamu'alaikum Mak!", pamit Febri mencium tangan Mak.
"Walaikumsalam!", sahut aku dan Mak.
Mak menepuk bahuku.
"Ngga usah takut, sepahit-pahinya kejujuran itu lebih baik dari pada kebohongan neng!"
"Iya Mak. Makasih ya Mak." Aku membalas merengkuh bahu Mak mertua ku.
__ADS_1