Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 129


__ADS_3

Menjelang magrib, Alby memasuki kompleks perumahan milik mertuanya. Tak berapa lama, sebuah mobil sport mengikuti nya di belakang.


Alby melihat sekilas saat mobil itu turut berhenti di halaman kediaman Hartama. Dari kaca spion, Alby ingin tahu siapa pengemudi mobil sport itu yang berada di belakang mobilnya persis. Tak mau ambil pusing, Alby memasukan mobilnya ke garasi depan. Karena mobil mertuanya sudah lebih dulu berada di sana. So...mobil yang Alby pakai benar-benar mobil baru yang mertuanya sediakan untuknya, oops... untuk Bia sebenarnya.


"Mas Alby!"


Alby yang merasa terpanggil pun menengok, sedikit terkejut ternyata si pengendara mobil sport itu adalah Malvin.


"Ya?"


"Bisa kita bicara?", tanya Malvin tanpa keraguan.


"Bicara apa?", tanya Alby datar.


"Kalo bisa, aku juga mau ngomong sama Silvy dan om Tama."


Alby sedikit ragu. Tapi akhirnya ia mengajak Malvin masuk kedalam rumah mertuanya itu.


"Ayo!", ajaknya. Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang tamu.


"Silahkan duduk, saya panggilkan Silvy dan papa."


Malvin mengangguk. Lalu ia pun menjatuhkan bobotnya ke sofa yang ada di belakangnya.


Alby memasuki ruang tengah. Ada Hartama yang sedang membaca tabloid bisnisnya. Kehadiran Alby menarik atensi Hartama.


"Bukankah kamu keluar kantor kamu sejak jam empat?", tanya Hartama.


"Iya. Saya dari kosan."


"Oh, gimana kondisi Bia?", tanya nya pelan. Cukup banyak perubahan yang Alby lihat dari papa mertua nya itu.


"Bia tidak ada kosan."


Hartama mengernyitkan alisnya.


"Kemana anak itu?"


"Ngga tahu. Maaf, kenapa anda sepertinya sekarang begitu perhatian dengan istri saya?", tanya Alby dengan heran.


"Karena dia anak mendiang sahabat ku!"


Alby tak menyahuti ucapan Hartama. Ia melangkahkan kaki menuju tangga. Sampai akhirnya dia mengingat bahwa ada Malvin di depan.


"Oh iya, di ruang tamu ada Malvin. Katanya mau ketemu papa dan Silvy juga."


"Ngapain bocah itu ke sini?", tanya Hartama.


"Dia juga bilang mau bicara sama saya juga, tapi ...tanggung. Saya mau bebersih dan solat magrib dulu!"


Alby melanjutkan langkahnya menuju kamar. Di kamar nya ia menjumpai istri mudanya yang sedang menikmati senja di balkon. Mendengar pintu kamar nya terbuka, Silvy pun bangkit.

__ADS_1


"Hubby!", sapanya riang. Alby yang sedang membuka kancing kemejanya pun berhenti, lalu menatap ke arah Silvy yang sedang berjalan perlahan mendekati nya.


Silvy mengulurkan tangannya pada Alby. Tapi Alby tak paham maksud Silvy.


"Kamu kan baru pulang kerja sayang, jadi...aku mau cium punggung tangan kamu!", Silvy meraih tangan Alby. Ia mengecup punggung tangan suaminya. Tak ada penolakan dari Alby. Toh memang seharusnya seperti itu.


"Oh iya sayang, eum...aku pengen kamu elus anak kita deh. Dia kangen sama papa nya!", kata Silvy dengan nada memohon. Silvy menuntun tangan Alby untuk menyentuh perutnya yang sedikit lebih berisi. Tangan istrinya membimbing Alby untuk mengusap perutnya. Tapi itu tak berlangsung lama. Alby kembali bersikap dingin.


"Aku mau mandi, solat!", kata Alby meninggalkan Silvy di samping ranjang. Silvy tampak bahagia, mungkin karena tak ada penolakan dari Alby tadi.


Setelah mengambil pakaian ganti, Alby melangkah kakinya ke kamar mandi. Tapi sebelum ia menutup pintu, ia berhenti.


"Oh iya, di depan ada tamu kamu dan papa!"


"Tamu ku? Siapa?"


"Malvin!", setelah menyebutkan nama mantan kekasih dari istri keduanya itu Alby masuk ke kamar mandi.


Silvy terdiam di tempat ia berdiri. Pikiran nya menjadi kacau. Tak ada pergerakan yang pasti hingga dia terduduk di ranjangnya.


Alby sudah berpakaian rapi saat keluar dari kamar mandi. Mata nya tertuju pada Silvy yang masih diam di ranjang. Tanpa memperdulikan Silvy, Alby mendirikan tiga rakaat nya.


"Kamu ngga mau nemuin teman kamu?", tanya Alby.


"A...aku... ngga mau ketemu dia", kata Silvy tergagap.


"Kenapa?"


"Temui Malvin, nanti aku menyusul. Dia juga bilang katanya mau ngomong sama aku!", lanjut alby. Setelah itu, ia melanjutkan dzikir nya. Mengharap ketenangan dalam batinnya dan menunggu kabar dari Bia.


Silvy masih diam di tempat sampai Alby selesai berdzikir. Ia melipat sajadahnya lalu bersikap ke luar dari kamarnya.


"Hubyy!", panggil Silvy. Alby menghentikan langkahnya.


Silvy menghampiri Alby yang sudah berdiri di depan pintu.


"Mau ngapain cowo brengsek itu ke sini? Kamu ngga usah nemuin dia!"


"Ngga tahu. Makanya aku mau tahu!"


"Hubby, please ngga usah temui dia!"rengek Silvy. Alby mengurungkan niatnya membuka pintu. Ia berbalik badan menghadap istri kecilnya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu harus melarang ku bertemu dengan nya? Dia juga masih kerabat Silvy, meski kerabat jauh! Itu artinya dia juga keluarga ku."


Silvy terkesiap. Ya, dia baru ngeuh! Meski tak sedarah, Malvin masih kerabat dari Bia.


"Terserah kalo kamu ngga mau nemuin dia."


Alby keluar kamar lebih dulu. Sampai di ruang tamu, Alby melirik mertuanya yang terlihat sedang menahan emosi.


Sebenarnya Alby sudah tahu niat Malvin ke sini. Dia pasti akan mengatakan kejadian yang ia dan Silvy lakukan beberapa hari yang lalu. Tapi, dia tak mau tebak-tebakan.

__ADS_1


"Kamu mau ngomong apa sama aku?", tanya Alby menghampiri mereka. Dia duduk di hadapan kedua pria beda usia itu.


"Cukup! Tidak usah mengatakan apa pun!", hardik Hartama pada Malvin.


Silvy turun perlahan menghampiri semua nya. Matanya fokus ke papa nya yang menatap penuh emosi pada nya.


"Papa...!", ucap Silvy lirih.


Malvin mengarahkan pandangannya ke silvy dan Alby bergantian.


"Apa yang mau kamu katakan padaku?", ulang Alby. Dia tidak tenang duduk di sana. Pikiran nya masih belum tenang sebelum tahu keberadaan Bia.


"Ini!", Malvin memberikan ponsel nya pada Alby. Alby pun menerima uluran tangan Malvin.


Alby melihat video berdurasi beberapa detik yang menunjukkan kebersamaan antara Silvy dan Malvin di atas ranjang. Tak ada reaksi berlebihan di wajah alby. Ia mengembalikan ponsel Malvin.


Hartama memegang dadanya yang sesak. Bagaimana bisa putri yang ia sayangi bahkan apapun permintaan putrinya di turuti tega mencoreng nama baiknya! Silvy tampak sekali menikmati momen bercinta dengan sang mantan pacar padahal dia masih berstatus istri Alby, lagi hamil pula!


Alby beralih menatap Silvy!


"Itu...kamu?", tanya Alby. Wajahnya datar, tak ada ekspresi apapun di wajah tampan itu.


Silvy tak memberi reaksi apa pun. Dia menahan rasa takut atau apa namanya, entahlah!


"Mas, maaf! Aku hanya ingin meluruskan di sini! Mungkin Silvy dan om Tama tak ingin aku mengatakannya padamu. Tapi...aku harap setelah kamu tahu seperti apa istri mu, kamu bisa melepaskan Silvy. Buat ku!"


Deg!


Wajah Silvy memucat, ia menggelengkan kepalanya.


"Lo ngga usah macem-macem ya Vin!", kata Silvy sambil berdiri.


"Kenapa Vy? Emang apa yang Lo dapet dari Alby? Dia bahkan sangat mencintai mba Bia. Lo hanya....!"


"Cukup! Gue minta Lo keluar!", bentak Silvy.


"Kenapa? Lo masih mau ngelak hah?"


Hartama bangkit dari duduknya, ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar nya. Dia yang memang sudah merasa sakit sejak pagi pun sekarang merasa semakin parah.


"Selesaikan urusan kalian!", Alby bangkit dari sofa nya.


"Hubby!", rengek Silvy pada Alby. Malvin hanya menatap nya jengah.


"Aku sudah tahu sebelumnya, terserah kamu mau membela diri kamu seperti apa. Aku tak peduli!", setelah itu Alby meninggalkan mereka berdua. Di saat yang bersamaan, ada notifikasi di ponselnya. Pesan yang ia kirim ke Bia sudah di baca. Alby langsung menghubungi istrinya.


Meski pada akhirnya, ia hanya mendapatkan penolakan dari Bia. Setidaknya, ia merasa tenang saat tahu Bia ada di kampung nya.


****


Mon maap kalo GaJe atau banyak typo 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Makasih yang udah mampir 🤗🤗🤗


__ADS_2